• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Sempurna

17 May 2012   kandanGagas
E-mail Print PDF
Artikel

Aku tak akan membiarkan diriku jatuh cinta pada seseorang yang tak bisa kumiliki....

Kau adalah musuh bagi hatiku. Yang membuat aku waspada dan aku buru-buru membentengi diri agar tak terpikat pada pesonamu. Tapi, kau terus memaksa masuk. Seperti kuda Troya, kau sukses menyelusup ke ruang hatiku. Aku memang bertekad menjauhimu, tetapi jantungku ternyata tak cukup kuat untuk membendung setiap debaran yang tercipta karena dirimu.

Aku tahu akan menyesali semuanya, tetapi tak ada yang bisa kulakukan.... Aku telanjur menerjunkan diri ke dalam api cintamu. Terbakar bersama cinta yang kelak juga akan membumihanguskan kebahagiaanku. Aku nekat, mengambil risiko terluka lagi... dan kali ini karenamu.

 

 

Bunga untuk Sesiapa [2]

16 May 2012   Idham Padmaya Mahatma
E-mail Print PDF
Cerpen

Aku hanya tersenyum. Kau juga membalas senyum itu. Berbincang lama sepertinya adalah hal terindah kala lampau. Karena dengan begitu, aku bisa menatap matamu yang indah, mendengar suara lembutmu, serta deru tawa kecil dari balik bibir merah milikmu, Tya.

 

Kau tak curiga tentangku. Mungkin kau juga tak tahu jikalau bursa persaingan untuk menjadikanmu seorang kekasih bertambah satu orang lagi. Ya, aku. Satrya Sanjaya.

 

Menjadi wayang nyata memang tak selalu mengguratkan kesan mendalam. Ketika Dalang tak lagi memberikan skenario indah, seberkas tangis dan air mata layak untuk membayar sepi yang dirasa. Sering kumembujuk Dalang dalam sebuah panjatan agar menyatukan kami dalam sebuah kisah romansa, namun Dalang hanya membisu. Dia seakan memiliki rencana lain yang lebih indah untuk kami nanti, entah apa. Dalang tak berkata. Hanya diam. Terkadang aku meragu, apakah suaraku yang lantang ini terdengar hingga tempat Dalang berlagu, atau hanya memancar menuju relung panjang tak bertepi itu.

 

SENJA di pelataran taman budaya terlalu melankolis untukku yang termangu menatap lembayung sekat kesendirian, mematung tak bergerak, serta memutus berantai hamparan harap dalam raga olehmu cinta.

 

“Tya? Kau di mana?” dalam hati kuberteriak. Kencang. Namun, tak seorangpun mendengar jeritan ini. Mungkin hanya Tuhan serta aku, tapi pintaku, kau juga dapat menangkapnya.

 

Denganmu kuakui adalah perwujudan rasa yang positif. Aku bisa meraih semua yang kekasihmu punya, menyamainya, juga terkadang aku melampaui pencapaian itu. Bukan untukku, tapi untuk kita, kau dan aku dalam seruang nuansa.

 

Berpeluh di setiap waktu, tak henti kumengejarmu, memburu bayang terindah. Tak kusadari akulah pemeran wayang itu serta kaulah yang mewujud sebagai dalangnya. Mengombang-ambingkan sesuka hati dan meriwayatkan berbagai kisah tanpa tatanan mendasari.

 

Raga ini tak lelah. Namun, hati? Tak ada yang tahu apa yang dirasa oleh hati. Bukankah cinta itu tak mengenal lelah, melumpuhkan sejengkal logika, melambungkan asa hingga kau tersungkur, bersujud, memohon agar cinta mengasihi, memberi arti, dan menyatukan kami? Itukah sebuah analogi?

 

Lagi-lagi aku tak sanggup menjawab, Biarlah plot ini sejenak berputar-putar, agar kau bingung, agar aku bingung, agar semua bimbang membuat pengakhiran. Tak penting lagi bagiku apa arti penantian. Semenjak wajah ini tak kau toreh, semua membiru, mengharu, menghujam setiap desah napas akan semua cerita lalu. Bagimu aku tak bermakna, namun kaulah yang menjadikan sisa hidupku berwarna. Memainkan peran yang tak sanggup orang lain jalani, sebenarnya aku juga tak mau menghayati, namun bersamanya luka ini sejati membentuk sayatan perih dalam resap memori, dari sini suaramu terdengar lirih.

 

AKU terperanjat kala kau membenciku tanpa sebab. Apa salahku? Aku tak tahu. Aku juga tak berbuat apa-apa, hanya mencinta. Apakah haram hukumnya bagi lelaki mencintai wanita? Meski wanita itu memiliki lelaki lain yang dicintainya? Tolong jawab, aku butuh jawaban. Ini pertanyaan tentang keadilan dalam rasa, sepertinya undang-undang tak pernah dibuat untuk mengatur ini, tak ada pasal, tak ada ayat. Lantas, apa Satrya salah?

 

Kali lain mungkin harus bertatap dulu tentang apa maumu serta siapa yang tak kau mau. Agar jelas, agar tak terjadi seperti ini, mengasihi bayang yang indah tanpa mengerti kapan  menjelma menuju romansa.

 

Lantas, apa hadiah darimu untuk seseorang yang telah menunggu lama? Sebuah pelukan? Sebuah kedipan? Atau lambaian tangan tanda perpisahan? Bagiku ketiganya adalah omong kosong, sebab bukan ragamu yang ingin kuraih, tapi sifat serta perilaku yang kukagumi. Tak akan ada guna sepasang mata apabila hati telah merajam setiap cahaya. Tak bermakna lagi sebuah perpisahan jikalau pertemuan selalu menanti di depan. Seperti rembulan yang akan sia-sia bila berpinang di waktu fajar, seyogyanya berganti, saling serasi dalam menemani.

 

HINGGA bersambut alun simfoni, kau tak jua bisa kugenggam. Seperti buih saja, indah saat kau memandangi dari kejauhan, namun ketika kau dekati, kau sentuh, buih itu akan pecah karenamu. Barangkali kau menyesal karena itu buih idamanmu, pahlawanmu yang kautakzimkan mengisyarakatkan beribu keindahan, kau boleh bersedih, seperti aku kini. Tak ada larangan bagi lelaki untuk menangis, apa guna Tuhan memberikan perasaan? Bukankah perasaan tercipta untuk manusia, tanpa membedakan apakah kau lelaki ataukah wanita?

 

Bersama angan ini, kau kututup. Terima kasih kau telah memberiku hampa dimensi untuk mengukir setetes arti. Meski tak sampai, aku tak kecewa. Maaf, aku munafik. Bukan lagi ksatria seperti namaku. Menerimamu bersamanya memang tak semudah memberimu seberkas cinta, tapi percayalah, tak ada seseorang yang mampu memberi tanpa menanti segala akan kembali, kecuali mentari. Aku bukan matahari, Tya. Aku adalah bunga yang selalu bersemi kala rasa kasih lahir mewangi di bumi. Saat aku terjatuh, terlepas  dari dahan layu, seseorang mengambilku, bermaksud memberikan aku kepada seseorang, kamu.

 

Sayang, lelaki itu terdiam. Terus memegangi tangkai bungaku, berbisik dalam hati, mengucap semuanya dengan arti. Andai bunga ini menyaksikan pertalian kita yang merona, Tya-Satrya, pasti kelopaknya seketika merah, mengharum sejuta pesona, serta mekar abadi dalam naungan kita. Namun, bunga itu menghitam, terbakar, hangus tak bersisa kala dia menjamahmu di depan jasadku yang mati rasa.

 

Pantaskah bunga ini untukmu? Mungkin lebih indah untuk sesiapa.

Add new comment
 

Embrace of Memoria [2]

15 May 2012   Ichsan Leonhart
E-mail Print PDF
1st Chapter

Pria itu menggerakkan matanya perlahan, ia mendapati seseorang perempuan tengah berdiri disampingnya.

Perempuan itu berambut cokelat menguap sambil meluruskan kedua lengan. Model rambut gadis itu setengah terikat oleh pita berwarna orange. Tubuhnya terlihat bersinar memantulkan cahaya matahari, ia juga memiliki kulit berwarna kuning langsat seperti pria disampingnya.

Sosok itu cantik, matanya bundar berwarna cokelat, ia mengenakan kaos polos putih diselingi celana hitam yang agak mengetat. Ia melangkahkan kakinya lalu berdiri di samping pria barusan. Wajahnya tampak acuh sambil memandangi panorama kota.

Gadis berambut cokelat lalu menoleh kearah pria disampingnya, ia memperhatikan secarik foto lusuh ditangan pria itu, “Leon, lagi-lagi kau memikirkan dia..” ucapnya mengawali pembicaraan.

“bukan urusanmu..” balas pemuda bernama Leon. Ia melepaskan sandarannya sambil memasukkan foto tadi ke dalam saku baju. Didalamnya terlihat potret wajah gadis cantik berambut biru panjang, matanya indah seperti ukiran kristal berwarna biru.

”tak ada yang bisa kita lakukan, dia sudah..”

”Raica!” potong Leon. Ia lalu berbalik sambil memandangi sosok disampingnya, “jangan pernah mengungkit soal Fia denganku..” pria itu lalu melangkahkan kakinya dari balkon diatas kastil.

Sosok bernama Raica terdiam memandangi Leon dengan pandangan iba. Ia terhenyak melihat setetes air mata yang jatuh di pipi pria itu. Leon selalu saja meratapi sosok dalam foto itu di pagi hari.

Leon baru saja melangkahkan kakinya dan tiba di sebuah lorong, namun dinding di hadapannya jebol dihantam dari dalam.

(duaar..!) Seseorang terlempar dari balik dinding, sosok itu lalu bangkit sambil membersihkan debu kotoran yang melekat pada baju.

“yang benar aja dong..!” teriaknya ke arah tempat ia terlempar, “masa, Cuma gara-gara pot pecah aku ampe di lempar gini”

“heh bego..! lo tau gak, tu pot harganya 5.000 gold tauk..‼” balas seorang perempuan. ia keluar dari dinding jebol lalu berjalan arah pemuda tadi. Caranya berjalan terlihat seperti seorang preman pasar.

“hei, hei.. Celine.. Ryo.. pagi-pagi gini kalian kok udah ribut sih..??” sela Leon. Pria itu mengusap matanya sebentar, ia lalu menatap keduanya dengan wajah ramah dan senyum dikulum.

“ah... Leon” kata cowok bernama Ryo.

Leon menghela nafas sesaat, “yang lebih penting lagi..” katanya dengan wajah semakin ramah, ia berdiri sambil berkacak pinggang ke arah cowok yang terduduk di hadapannya.

”BERAPA KALI GW BILANG KALO BERANTEM JANGAN SUKA NGERUSAK BARANG ORANG..‼” bentak Leon tiba-tiba, lengannya menunjuk-nunjuk tembok yang rusak dan perabotan lain di sekeliling.

“euh...” seru Celine gugup. Gadis itu berwajah kotak seperti orang eropa, rambutnya  tergerai dipotong pendek berwarna pink. Kulitnya putih bersih dan tampak mengenakan seragam sekolah. Rok mini tergerai diatas lutut, ia mengenakan setelan berwarna cokelat dengan garis putih di sekitar lengan.

“iya tuh..! salah dia..! Masa Cuma gara-gara pot pecah aku di hajar ampe babak-belur gini” timpal Ryo. Pemuda itu memiliki mata kuning dan seusia dengan Celine. Kulitnya agak kecoklatan namun memiliki rambut putih seperti uban, ia mengenakan seragam yang sama dengan apa yang Celine kenakan.

“kalo mau berantem.. lebih baik di luar aja…” ucap Leon jengkel, ia menyeret kedua orang itu lalu melemparnya dari balkon kastil lantai 3.

(byur..!) keduanya mendarat di sebuah kolam renang.

“dasar bocah..” ketus Leon sambil berjalan membalik, ia menepuk-nepuk tangannya sambil berlalu ke arah pemandian.

“pagi yang tenang ya..” kata seseorang di samping kolam. Ia tampak sedang duduk sambil menikmati segelas teh di pagi hari. Kulitnya putih pucat dengan rambut cokelat berdiri tajam, ia mengenakan jaket berwarna krem bermotif garis putih.

“betul Yuki…” jawab orang lainnya. Sosok itu juga sedang duduk menikmati teh sambil membaca koran pagi. Perawakannya agak besar, ia mengenakan jaket merah mencolok.

“akh..! Yuki, Adiw..!??” ujar Ryo sambil muncul dari permukaan air. Rambut putih Ryo basah kuyup. Mereka lalu berenang kepinggiran.

“heh! Bodoh..! tolongin aku dulu dong!” seru Celine.

Mereka berdua naik dari atas kolam, lalu mengeringkan diri menggunakan handuk.

“kena amarah Leon lagi..?” tanya Adiw dengan nada mencibir, pria itu memiliki rambut ikal sebahu. Mengenakan jaket berwarna merah dan sebuah tato di wajah kanan. Tubuhnya sesak berisi, memiliki kulit berwarna sawo matang. Ia sedang membaca koran dan menikmati segelas teh bersama Yuki tak jauh dari kolam.

“ngomong-ngomong.. kalian gak sekolah..?” tanya Yuki. Wajahnya datar tanpa ekpresi, rambutnya jabrik seperti bulu ayam, tatapannya datar dan dingin menusuk.

“............” Ryo dan Celine berpandangan sesaat. Keduanya terdiam tanpa sepatah kata, sejurus kemudian mereka langsung dilanda kepanikan.

“waaaaa...!! kau benar..! kita telaaat..!” seru Celine panik. Ia melonjak berdiri lalu berlari ke arah pintu kastil.

“ya..! dan itu semua gara-gara kau..!” seru Ryo menyalahkan sambil berlari mengejar.

“apa..!!? enak aja! Siapa suruh lo ngancurin vas kesayangan gue..!”

“yee.. suruh sapa lo naro nya sembarangan..!”

“gara-gara loe gue jadi basah kuyup begini..!”

Dan begitulah... perang mulut antar mereka terus berlangsung. Bahkan caci maki mereka berdua masih terdengar hingga radius 50 meter seperti memakai pengeras suara.

“dasar anak muda..” ujar Adiw. Ia tersenyum kecil sambil menyeruput segelas teh, lalu merebahkan jaketnya di kursi tempat ia bersandar.

“kau sendiri masih muda..” balas Yuki pelan dengan wajah malas. Ia kembali menuangkan segelas teh di cangkir kecilnya.

*********

Beberapa jam kemudian di aula castle..

“kita akan kedatangan tamu penting dari kota Twilight, cepat kumpulkan para maid dan butler..!” perintah Leon pada kepala maid. Ia memberi komando pada pasukan maid yang sedang hilir mudik di aula kastil, sebuah ruangan berukuran besar dengan tangga menuju lantai dua di tengahnya.

Leon lalu bergegas kembali ke ruangannya. Ia hendak mempersiapkan diri dan merapihkan penampilan. Ia sejenak memandangi kertas lusuh berisi foto gadis cantik berambut biru. Wajah Leon tersenyum kosong, lalu memasukan benda itu kedalam saku baju.

(DUAR..!) suara ledakan terdengar dari aula utama castle, Leon memutar arah dan kembali bergegas untuk mengeceknya.

Sesampainya di sana, seorang gadis berambut hitam acak-acakan tengah terbaring di lantai aula. Gadis itu mengenakan pakaian hitam kusut, kotor dan dikelilingi oleh serpihan mesin robot.

Add new comment
 
More Articles...
  • Memori
  • Pada yang Berkunjung begitu Kunjung
  • Heaven, Texas
  • Bunga untuk Sesiapa [1]
  • Embrace of Memoria [1]
StartPrev1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next End

Page 1 of 203

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top