| 1st Chapter - 1st Chapter |
-FIRST-
“Morning Class!” kata maam Rina pagi itu.
“Morning Ma’am!”
Pagi itu hari senin, seperti biasa setelah upacara adlh pljrn bhs. Inggris. Oh ya, kita adlh murid2 kls akselerasi di SMP Sudirman. Kami bisa dbilang pintar, tapi kami nakalnyaaaa… minta ampun deeehh!. Oke, tp crita ini bkn ttg sifat2 kami, cerita ini ttg pengalaman kami dan petualangan kmi setahun lalu saat pertukaran pelajaran di London.
Semua brawal dri pagi itu…..
“Okay Class! Today we’ll learn about….”
TOK! TOK! TOK! Perkataan maam rina terputus sewaktu mendengar suara pintu kelas diketuk. Oh…. Ternyata Bu Mar…
“Silakan masuk Bu…” kata Ma’am Rina.
“Terimakasih Ma’am. Assalamualaikum anak2!” kata Bu Mar.
“Walaikumsalaaam buu!” jawab kami.
| Artikel - Artikel |
Beberapa waktu lalu, salah satu pembaca gagas yang tulisannya dapat kamu nikmati di kandanGagas (The Devil's Eyes) bertanya kepada gagas, "gimana cara bagi waktu antara menulis dan kegiatan lainnya?"
Memang sih, kalau kamu bekerja, kuliah, atau melakukan aktivitas yang hukumnya wajib, menulis jadi terbengkalai. Udah dibela-belain mengatur waktu, tapi kok hal-hal yang menjadi aktivitas wajib tidak memberi izin bagi kita untuk menulis. Seolah-olah keadaanya begitu. Tetapi, kamu tahu nggak... bahwa desakan dan dorongan di hati untuk menulis yang begitu besar, mampu membuat kamu mampu membuat celah untu menulis.
Untuk itu, gagas sengaja mengutip kalimat yang ditulis oleh Tessa Intanya--penulis buku Reputation--sebagai judul tulisan ini: FIGHT FOR YOUR RIGHT TO WRITE!!!--dibaca aja bikin semangat =D
Untuk memberikan kamu tips bagi waktu antara menulis dna beraktivitas, Tessa Intanya dan Valliant Budi berbagi kita khusus yang mereka sering lakukan:
| Artikel - Artikel |
Menikah, berkeluarga, punya anak, ngurus suami... bukan perkara yang gampang, lho.
Setidaknya pengalaman Moza dan teman-temannya berkata demikian. Moza yang seorang ibu rumah tangga sekaligus penulis, sempat mengalami masalah dengan pola hidupnya yang begitu-begitu saja--tetapi susahnya bukan main.
Masalah yang terjadi di anatar Moza dan teman-temannya ini bermula dari K O N T R A S E P S I. Semua orang bilang, dengan menggunakan kontrasepsi dijamin nggak akan 'bocor'. Nyata-nyatanya, Moza sekarang hamil yang kedua karena ulah alat kontrasepsi itu. Padahal, Moza selalu berpesan pada teman-temannya untuk menggunakan alat kontrasespi. Haduh...
| Artikel - Artikel |
Hari itu, Sabtu, 30 Januari 2010 kemarin, Gramedia Matraman tiba-tiba penuh dipadati pengunjung dan wartawan. Pengunjung tampak penasaran dengan spanduk dan banner yang telah dipajang di tengah area promosi lantai 1 toko buku itu. Ya, hari itu, memang ada launching buku Do The Magic terbitan GagasMedia yang ditulis oleh Demian and D’Four. Akan ada pula magic performance dari Demian and D’Four.
| Cerpen - Cerpen |
Di tengah kebingungan kami, tiba-tiba Pak Dulah datang ke rumah sakit menemui ibu. Entah tahu dari siapa dia kabar sakitnya ayah.
Semua orang di kampung kami tahu, Pak Dulah seorang rentenir. Selama ini tak pernah sekalipun kami berpikir untuk meminjam uang padany karena bunganya sangat tinggi. Bayangkan, tiga puluh persen sebulan. Untuk kami, itu benar=benar tidak masuk di akal dan di kantong.
Pak Dulah ingin berbicara empat mata dengan ibuku, aku disuruhnya menunggu di luar. Setengah jam lamanya. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Ketika kulihat Pak Dulah keluar, buru-buru aku masuk dan menanyakannya pada ibuku. Beliau hanya diam saja. Kulihat matanya berair. Tapi aku tak mau mendesaknya terus. Esoknya, ayahku di operasi. Ayah mampu melewati masa kritisnya. Ibu tak pernah sekalipun membahas tentang pembicarannya dengan Pak Dulah sampai ayah pulang ke rumah.
Kuperhatikan ibu tak banyak bicara dan sering tak sengaja kulihat ia menghapus airmatanya yang terus mengalir. Pikirku pasti ibu sedang bingung bagaimana caranya membayar semua hutang kami. Hutang ke Pak Dulah. Tapi sampai ibuku melahirkan, Pak Dulah tak jua kunjung menagih--adikku laki-laki bernama Dimas Aryo Bimo.
Ibu terus-terusan menangis. Ayah berpikir ibu terlalu bahagia. Tapi aku merasa ibu menyimpan sesuatu. Sesuatu yang sangat berat. Ibu seperti menjaga jarak dengan Dimas. Ia bahkan tidak mau menyusuinya. Alasannya payudaranya sakit sekali. Ibu malahan memberinya susu kaleng.

![]()
![]()
Copyright © 2009 ---.
All Rights Reserved.
Joomla template created with Artisteer.