• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Gerak Langkah

03 September 2010   Gratia M. Situmorang
E-mail Print PDF
Puisi

Gerak langkah, ke manakah kau akan pergi?
Kupikir kau hanya berputar-putar saja.
Gerak langkah, adakah kau miliki peta itu?
Kupikir kau memang harus memilikinya segera.

 

Jejak-jejak…
Mungkinkah ada gerak langkah tanpa jejak?
Lihatlah, begitu banyak jejak terdahulu!!
Tetapi, kupikir semua jejak itu tak membantuku sama sekali.
Hanya menambah kerumitan,
dan menimbulkan kebisingan dalam hati.

 

Rongga dadaku semakin sesak,
bukan karena tidak ada udara lagi,
tetapi kebisingan telah memenuhi seisi rongga.

 

Gerak langkah, tetapkanlah segera arahmu…
karena waktu tak bisa menunggu lebih lama lagi.
Waktu terus berjalan, maju, dan tidak akan pernah kembali.

Add new comment
 

Ini Rahasia

02 September 2010   kandanGagas
E-mail Print PDF
Book of The Month

Ssst, ini rahasia….

 

Jadi tutup bibirmu rapat-rapat karena bicara sepelan apa pun bisa membuat rahasia kita ketahuan.

 

Aku akan bicara jujur tentang semuanya, tetapi tidak di sini. Di sana saja—tak ada siapa pun yang memperhatikan. Tapi janji dulu, jangan pernah cerita kepada siapa pun. Tak ada pengecualian. Jangan cerita ke teman-teman segengmu, ibu—apalagi pacarmu. Jauhkan tanganmu dari godaan menulis message tentang ini di wall akun Facebook-mu.

 

Mendekatlah, karena aku akan membisikimu rahasiaku. Rahasia tentang hatiku; tentang aku dan mereka.

 

 

Judul: Ini Rahasia
Penulis: Netty Virgiantini
Harga: Rp. 36.000,-

 

Sahabat Sejati

01 September 2010   Tenni Purwanti
E-mail Print PDF
Cerpen

Marisca :

 

Aku tak bisa menunggu. Kau bilang baru saja menyelesaikan kuliahmu. Sekarang kau sedang berada di angkutan umum menuju apartemenku. Kau ingin aku berhenti menelepon karena kau sudah tahu aku sangat membutuhkanmu saat ini. Tapi mana? Kau tidak juga datang. Aku tak bisa lagi menunggu.

 

Sejak pertama kali kita bertemu, aku tahu kau sangat kesepian. Kau yang populer di sekolah dulu, lebih memilihku yang pendiam untuk jadi sahabatmu. Seringnya kita berbagi cerita, membuat kita semakin dekat, selalu saling membutuhkan. Kau selalu merasa bahwa aku kesepian dan butuh kehadiranmu, tapi aku yang paling tahu, justru kau yang selalu kesepian dan selalu butuh aku.

 

Ah, tak peduli siapa membutuhkan siapa. Sebagai sahabat kita memang saling membutuhkan. Tapi kau pasti tak mau mengakui, bahwa selama ini kau lebih butuh aku daripada sebaliknya. Kadang aku merasa bosan, karena kau akan mencariku setiap kali mendapat masalah. Kau tak pernah ingat padaku setiap kali hatimu berkata : bahagia.

 

Kau akan datang padaku setiap kali matamu ber-air mata. Kau tumpahkan semua kekesalanmu, kecewamu, sakitmu, kepadaku yang tak tahu apa-apa. Setelah itu kau akan tertidur di kasurku, tanpa pernah ijin. Pagi harinya kau akan terbangun, lalu mengajakku jalan-jalan. Kau seperti lupa pada masalahmu. Itulah sebabnya kau selalu mencariku setiap kali matamu ingin menangis.

 

Tapi hari ini, tak bisakah kau luangkan waktu untuk mendengarku? Aku butuh hadirmu disini. Aku ingin menangis, seperti kau yang selalu menangis di kamar ini. Aku memang salah karena aku tidak menemuimu seperti kau yang selalu menemuiku. Tapi kau sudah menyatakan kesediaan akan datang kemari. Maka aku menunggu. Tahukah kau, aku tak bisa menunggu lebih lama dari ini.

 

Aku selalu bilang padamu, bahwa tidak semua orang bisa menanggung masalah yang sama dengan sikap yang sama. Bisa jadi, menurut orang lain masalah itu sangat ringan, tapi bagi yang merasakannya, justru teramat berat. Itu sebabnya aku selalu mendengarkanmu mencurahkan isi hati. Meski kadang aku anggap itu semua terlalu mudah dan aku juga sering menganggap kau terlalu mendramatisirnya, tapi aku tetap menemanimu. Minimal itu yang bisa kulakukan untukmu agar kau tidak menyelesaikan masalah dengan masalah.

 

Dan hari ini, aku sedang mengalami masalah yang cukup rumit. Ayahku terbukti melakukan tindak pidana korupsi dan rumah serta seluruh aset kami harus disita oleh negara, termasuk apartemen yang sekarang aku tempati. Aku malu, teramat malu untuk menghadapi dunia, apalagi harus melanjutkan hidup dengan fasilitas apa adanya. Aku ingin kau disini. Minimal menemaniku meski tak bisa memberi solusi. Tapi sudah lima jam aku menunggu, kau tidak juga datang. Alasanmu macam-macam, kuliah, jalanan macet, ditangkap polisi. Kini aku tidak bisa menunggu lebih lama. Aku akan selesaikan semua ini dengan caraku sendiri.

 

Sejak kecil aku tak pernah hidup susah. Aku tak akan sanggup menjalani hidup tanpa harta orang tuaku. Tapi mungkin aku masih bisa melakukannya kalau kau mendukungku. Ternyata kau tidak datang. Aku tak bisa menunggu lebih lama.

 

Aku memutuskan untuk terjun bebas dari jendela apartemenku. Aku ingin merasa lepas, ringan, lalu pergi meninggalkan dunia ini dengan damai.

 

Mungkin kau akan mengejekku karena menganggap aku terlalu mendramatisir masalah ini. Tapi asal kau tahu, tidak semua orang punya sikap yang sama pada masalah yang sama. Kau telah gagal mencegahku mengambil jalan yang mungkin kau anggap salah.

 

Aku mendengar suaramu memanggilku dari pintu kamar yang sengaja ku buka. Ternyata akhirnya kau datang juga. Aku juga mendengar kau berteriak mencegahku terjun bebas.

 

Aku hanya tertawa melihatmu panik. Sayang sekali sahabatku, kau datang terlambat. Apakah kau memang benar sahabat sejatiku? Aku tidak butuh jawabannya. Aku tidak bisa menunggu lebih lama ...

 

 

 


Diva :

Aku tidak pernah menyangka kamu akan memilih jalan ini. Kamu sering menasehati aku bahwa bunuh diri adalah pilihan paling bodoh dalam menyelesaikan masalah. Berulang kali kamu berhasil mencegahku bunuh diri hanya karena diputusin cowok aku atau karena aku sedang bermasalah dengan orang tua dan kuliahku. Setiap kali berpikir untuk melakukannya, kamu selalu ada untuk mencegahku.

 

Kita memang sepakat bahwa tidak semua orang punya sikap yang sama pada masalah yang sama. Oleh karena itu aku selalu membutuhkanmu di sisiku setiap kali masalah menghampiriku. Kamu selalu bisa membantuku menghadapi masalah, tanpa masalah. Kamu juga tak pernah mengeluh ketika aku melupakanmu di saat-saat hatiku berkata : bahagia.

 

Kemarin pagi aku terkejut menerima telepon darimu. Kamu ingin aku segera datang ke apartemenmu karena ada masalah yang menimpamu. Kamu tak ingin menceritakannya di telepon, maka aku berjanji untuk datang. Aku minta maaf karena terlambat datang. Seandainya kamu masih hidup, aku yakin kamu bisa mengerti.

 

Kemarin pagi, setelah menerima telepon darimu, aku terpaksa harus menunda kedatanganku karena aku ingat aku harus bimbingan skripsi. Aku terlambat datang ke kampus dan mau tidak mau aku harus menunggu dosen pembimbingku yang sudah masuk kelas. Dua SKS alias dua kali 45 menit aku menunggu Sang Dosen yang terhormat. Tadinya aku pikir lebih baik menemuimu dulu sambil menunggu dosen, tapi kalau kita ngobrolnya kelamaan, aku malah kehilangan dosenku dan entah kapan bisa bimbingan lagi.

Setelah urusan kampus selesai, aku memutuskan untuk meminjam motor teman agar cepat sampai ke apartemenmu. Celakanya, saking terburu-buru, aku lupa pakai helm. Hanya beberapa meter dari apartemenmu, aku ditilang oleh polisi, karena tidak pakai helm, plus tidak punya SIM dan tidak membawa STNK.

 

Dua jam lamanya aku berurusan dengan polisi. Temanku yang punya motor datang bersama orang tuanya untuk mengambil motornya sedangkan aku terpaksa harus mengambil uang di ATM untuk membayar semua biaya tilang yang sama sekali tak ku mengerti. Kamu harus tahu bahwa itu adalah uang kos aku bulan ini. Aku rela demi cepat-cepat bertemu denganmu, karena sepertinya masalahmu cukup berat. Belum pernah kamu meneleponku sampai sesering ini, di hari yang sama.

 

Setelah semua masalah selesai, akhirnya sampai juga aku di wilayah apartemenmu. Sialnya lagi, lift di apartemenmu sedang dalam perbaikan sehingga dengan sangat terpaksa aku harus naik tangga sampai ke lantai 15. Dengan susah payah aku berusaha mencapai lantai apartemenmu. Masih dengan nafas yang terengah-engah, aku masuk ke kamarmu yang pintunya ternyata terbuka.  Tapi apa yang terjadi?

 

Hari ini, di depan tempat peristirahatan terakhirmu ini aku masih menangisi pilihanmu untuk mengakhiri hidup dengan cara yang menurutmu adalah pilihan paling bodoh. Tidak semua orang punya sikap yang sama dalam menghadapi masalah yang sama. Kita sepakat akan hal itu, tapi hingga hujan membasahi makam-mu, aku masih belum tahu masalah apa yang sanggup merenggut nyawamu.

 

Kamu pernah bilang, setiap kali aku ingin mengakhiri hidup, aku harus ingat pada orang-orang yang menyayangiku. Aku harus bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka ketika melihatku mati konyol. Aku juga harus ingat bahwa kamu yang akan paling kehilangan dan paling menyesal jika aku benar-benar melakukannya.

 

Tapi kini, justru kamu yang terbaring di dalam sana. Justru kamu yang meninggalkan aku lebih dulu, dengan cara yang pernah kamu kutuk. Apakah kamu tidak ingat pada orang-orang yang menyayangimu? Apa kamu tidak bisa membayangkan perasaan kami? Apa kamu tidak ingat bahwa aku juga akan jadi orang yang paling kehilangan dan paling menyesal jika kamu benar-benar melakukannya?

 

Semua sudah terjadi. Aku tak akan mengakhiri hidup untuk menyusulmu. Justru karena aku sahabat sejatimu maka ini akan membuatku terus menghargai kehidupan yang diberikan Tuhan untukku, sepahit apapun.

 

Selamat jalan, Marisca …

Terima kasih untuk semua yang terbaik darimu untukku, dan maafkan semua kesalahanku, termasuk keterlambatanku, kemarin …

Comments (1)
 
More Articles...
  • A Long Dream [2]
  • Morning Light
  • Matahari
StartPrev1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next End

Page 1 of 72

Book of The Month

Buku Baru

Kompetisi Menulis 100% Roman Asli Indonesia

logo-kompetisi-menulis

Naskahmu Ditunggu

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Gagas Shoutbox

feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top