| Book of The Month - Book of The Month |
“There’s nothing I can criticize about this book. Not one single thing. How can you write a balanced review when there’s nothing weak or flawed there to balance all the good? So I’m giving up—this is not a balanced review, I’m going to gush and praise like the most rabid of fangirls.” (Dear Author)
Apa yang kamu lakukan ketika mendapatkan tugas me-review sebuah buku yang tidak ada celanya di mata kamu? Pasti rasanya sulit sekali, ya. Padahal sebuah review harus lah seimbang. Tidak hanya menceritakan sisi positif dari sebuah buku, tetapi juga sisi negatifnya.

| Cerpen - Cerpen |
Kalau aku mati hari ini, sedihkah kamu?
Kalau aku meninggalkan kamu sendiri, menangiskah kamu?
Hari itu ada keinginan untuk mengirim pesan padamu. Sekadar ingin tahu apa reaksimu. Reaksi kamu kalau mendengar aku akan meninggalkanmu.
Sedihkah kamu? Menangiskah kamu?
Kalau aku sudah tak ada, masihkah kamu ingat aku?
...
| 1st Chapter - 1st Chapter |
Hari masih pagi, tapi cuaca terasa terik. Dengan malas kubawa langkahku bergegas. Ada setumpuk paket-paket undanagn yang harus kuantarkan hari ini. Bulan ini memang bulan menikah sepertinya.
Dengan setengah berlari, aku segera menuju halte bus yang selalu kudatangi setiap hari. Pagi saat hendak berangkat bekerja dan sore saat pulang dari tempatku bekerja. Aku menunngu angkutan umum yang akan membawaku menuju took sederhana bapak. Tempatku bekerja.
Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku semakin mempercepat langkahku. Kalau tadi setengah berlari, kini menjadi seperempat berjalan, tiga perempat berlari. Aku sudah telat satu jam! Bayangkan itu. Ayah memang tidak pernah marah, tidak saja padaku, pada karyawan lain juga begitu, tapi justru itu yang membuatku dan lima karyawan lainnya takut berbuat salah. Bahkan kami jarang sekali bicara. Bapak memang pendiam. Berbanding terbalik dengan ibu.
Akhirnya aku sampai di halte tempatku biasa berdiri menunggu angkutan yang akan membawaku ke tempat kerja. Halte terlihat sepi. Tak ada kerumunan anak sekolah, para pekerja, para ibu rumah tangga yang biasanya ikut menunggu ankutan umum yang akan membawa mereka ke tempat tujuan mereka masing-masing. Bahkan pedagang asongan pun tak tampak terlihat.
Halte hanya diisi seorang pria yang duduk di sudut halte sebelah kiri. Memandang ke arah arus lalu lintas yang memang sudah sepi. Aku memutuskan untuk mengistirahatkan kakiku. Aku duduk disana, disudut sebelah kanan. Kali ini tempat duduk di halte sangat-sangat leluasa. Lega karena akhirnya bias mengistirahatkan sejenak kakiku yang mulai terasa pegal. Tapi juga merasa tak sabar menanti datangnya bus angkutan.
| 1st Chapter - 1st Chapter |
Dijalan menuju pulang sehabis kuliah naek patas ac jurusan ciledug senen pada jam – jam sore pasti macet dan patas yang penuh sesak, ninu seorang mahasiswi yang dengan gaya cuek nya menaiki patas ac itu walaupun berdiri disepanjang jalan biar cepat sampe rumah karena kelelahan kuliah dari siang hari. Sepanjang jalan ninu mulai melihat sekeliling isi patas tersebut ternya semua orang pun dengan muka lelah dan lesu ada yang tertidur, ada yang sibuk sms dan juga ada yang mengobrol dengan teman mereka. Lalu ninu teringat akan jamboel yang tiba – tiba menghilang dari daerah nya yang ternyata kata teman – teman pun dia pulang ke Yogyakarta. Jamboel seorang teman dekat ninu dari sma sampe – sampe pernah di omongin klo ninu itu sama jamboel kata nya kakak dan adik ada juga yang berkata klo kita berdua itu pacaran. Tapi padahal kita Cuma temen yang emang deket dan itu bener cuma temen aja. Seketika ninu dalam kemacetan itu memikirkan jamboel, dan ternyata tanpa dia sadari dia sudah hampir mau sampai dia turun di bambu.
Tok – tok suara minta berenti untuk turun dari patas ac 44 jurusan ciledug senen yang penuh sesak orang..”bang bambu kiri bang…!!”. Setiba nya turun dari bus patas ac itu baru menjejakan kaki kiri nya turun seketika dari kejauhan melihat sosok teman lama yang baru datang dari Yogyakarta, dan ninu langsung teriak “ JAMBOEL…!!!!!!!” langsung lari kearah temannya itu dan memeluk nya “ gila gw kangen bgt sama loe…emang dasar kurang ajar loe pulang gak bilang – bilang sama gw….!! Betee gw sama loe aah…” sambil memeluk dan mencubiti pipi jamboel. Dengan muka yang riang pun jamboel hanya memberikan senyuman nya yang tampak bahagia juga “ mba gw juga tiba – tiba harus pulang dkabarin sama nyokap gw kata nya bokap sakit.. “ jamboel memberikan pembelaan atas diri nya dengan muka yang memelas.
| 1st Chapter - 1st Chapter |
1st Chapter : Caraveena
Caraveena itu adalah aku, gadis berusia dua puluh tahun, memiliki rambut panjang yang ikal seperti ombak, mata coklat yang cemerlang, raut wajah yang orang bilang seperti pahatan Tuhan yang paling sempurna. Itu artinya mereka bilang aku cantik. Yah, itu karena aku adalah salah satu putri dari pasangan Malaveena dan Antonius Veena, sepasang penyihir legendaris yang bukan hanya dikenal karena peran besar mereka di Pemerintahan. Mereka orang besar_kedua orang tuaku itu_ sangat disegani, dikagumi dan dihormati di negeri Merlin ini. Tapi mereka tidak bisa melawan takdir yang membiarkan mereka mendapatkan anak gadis seperti aku, karena aku tidak seperti kakak laki-lakiku atau adik perempuanku, tidak juga seperti semua penyihir di kota ini. Aku bukan penyihir, tapi aku seorang peramal.
Bukan berarti di negeri Merlin yang indah ini tidak ada peramal. Ada beberapa orang yang memang diberi kemampuan meramal, tapi tidak ada seorang peramal seperti aku. Kalau peramal biasa akan memfokuskan diri mereka dengan meneliti bola kristal, kartu tarot, garis tangan, zodiak atau semua jenis meramal lainnya, tapi untukku ada satu hal yang lebih menarik perhatianku, yaitu dunia kematian. Kedengarannya mengerikan, aku tahu. Tapi apa kau tidak tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi setelah seseorang meninggal dunia? Tidak ada satu penyihir, satu peramal atau satu orang pun di dunia ini yang bisa menjawabnya, dan itu malah membuatku semakin penasaran dan lebih tertarik untuk mencari tahu hal itu lebih lanjut.
Nah, itulah yang menjadikanku orang aneh, padahal aku tidak merasa aneh, aku hanya ingin tahu dan melakukan begitu banyak hal yang tidak biasa dilakukan orang lain untuk menemukan jawabannya. Mungkin itu yang membuatku kelihatan seperti orang aneh. Ayah dan ibuku sudah tidak mampu lagi melakukan apa pun untuk menyadarkanku. Kakakku_Carloveena_dan adikku_Ninavenna_juga sudah sangat lelah mengata-ngataiku aneh dan meledekku habis-habisan tapi aku sudah tidak perduli dengan pendapat mereka. Yang aku pedulikan hanyalah penelitianku.

Copyright © 2009 ---.
All Rights Reserved.
Joomla template created with Artisteer.