Pria itu menggerakkan matanya perlahan, ia mendapati seseorang perempuan tengah berdiri disampingnya.
Perempuan itu berambut cokelat menguap sambil meluruskan kedua lengan. Model rambut gadis itu setengah terikat oleh pita berwarna orange. Tubuhnya terlihat bersinar memantulkan cahaya matahari, ia juga memiliki kulit berwarna kuning langsat seperti pria disampingnya.
Sosok itu cantik, matanya bundar berwarna cokelat, ia mengenakan kaos polos putih diselingi celana hitam yang agak mengetat. Ia melangkahkan kakinya lalu berdiri di samping pria barusan. Wajahnya tampak acuh sambil memandangi panorama kota.
Gadis berambut cokelat lalu menoleh kearah pria disampingnya, ia memperhatikan secarik foto lusuh ditangan pria itu, “Leon, lagi-lagi kau memikirkan dia..” ucapnya mengawali pembicaraan.
“bukan urusanmu..” balas pemuda bernama Leon. Ia melepaskan sandarannya sambil memasukkan foto tadi ke dalam saku baju. Didalamnya terlihat potret wajah gadis cantik berambut biru panjang, matanya indah seperti ukiran kristal berwarna biru.
”tak ada yang bisa kita lakukan, dia sudah..”
”Raica!” potong Leon. Ia lalu berbalik sambil memandangi sosok disampingnya, “jangan pernah mengungkit soal Fia denganku..” pria itu lalu melangkahkan kakinya dari balkon diatas kastil.
Sosok bernama Raica terdiam memandangi Leon dengan pandangan iba. Ia terhenyak melihat setetes air mata yang jatuh di pipi pria itu. Leon selalu saja meratapi sosok dalam foto itu di pagi hari.
Leon baru saja melangkahkan kakinya dan tiba di sebuah lorong, namun dinding di hadapannya jebol dihantam dari dalam.
(duaar..!) Seseorang terlempar dari balik dinding, sosok itu lalu bangkit sambil membersihkan debu kotoran yang melekat pada baju.
“yang benar aja dong..!” teriaknya ke arah tempat ia terlempar, “masa, Cuma gara-gara pot pecah aku ampe di lempar gini”
“heh bego..! lo tau gak, tu pot harganya 5.000 gold tauk..‼” balas seorang perempuan. ia keluar dari dinding jebol lalu berjalan arah pemuda tadi. Caranya berjalan terlihat seperti seorang preman pasar.
“hei, hei.. Celine.. Ryo.. pagi-pagi gini kalian kok udah ribut sih..??” sela Leon. Pria itu mengusap matanya sebentar, ia lalu menatap keduanya dengan wajah ramah dan senyum dikulum.
“ah... Leon” kata cowok bernama Ryo.
Leon menghela nafas sesaat, “yang lebih penting lagi..” katanya dengan wajah semakin ramah, ia berdiri sambil berkacak pinggang ke arah cowok yang terduduk di hadapannya.
”BERAPA KALI GW BILANG KALO BERANTEM JANGAN SUKA NGERUSAK BARANG ORANG..‼” bentak Leon tiba-tiba, lengannya menunjuk-nunjuk tembok yang rusak dan perabotan lain di sekeliling.
“euh...” seru Celine gugup. Gadis itu berwajah kotak seperti orang eropa, rambutnya tergerai dipotong pendek berwarna pink. Kulitnya putih bersih dan tampak mengenakan seragam sekolah. Rok mini tergerai diatas lutut, ia mengenakan setelan berwarna cokelat dengan garis putih di sekitar lengan.
“iya tuh..! salah dia..! Masa Cuma gara-gara pot pecah aku di hajar ampe babak-belur gini” timpal Ryo. Pemuda itu memiliki mata kuning dan seusia dengan Celine. Kulitnya agak kecoklatan namun memiliki rambut putih seperti uban, ia mengenakan seragam yang sama dengan apa yang Celine kenakan.
“kalo mau berantem.. lebih baik di luar aja…” ucap Leon jengkel, ia menyeret kedua orang itu lalu melemparnya dari balkon kastil lantai 3.
(byur..!) keduanya mendarat di sebuah kolam renang.
“dasar bocah..” ketus Leon sambil berjalan membalik, ia menepuk-nepuk tangannya sambil berlalu ke arah pemandian.
“pagi yang tenang ya..” kata seseorang di samping kolam. Ia tampak sedang duduk sambil menikmati segelas teh di pagi hari. Kulitnya putih pucat dengan rambut cokelat berdiri tajam, ia mengenakan jaket berwarna krem bermotif garis putih.
“betul Yuki…” jawab orang lainnya. Sosok itu juga sedang duduk menikmati teh sambil membaca koran pagi. Perawakannya agak besar, ia mengenakan jaket merah mencolok.
“akh..! Yuki, Adiw..!??” ujar Ryo sambil muncul dari permukaan air. Rambut putih Ryo basah kuyup. Mereka lalu berenang kepinggiran.
“heh! Bodoh..! tolongin aku dulu dong!” seru Celine.
Mereka berdua naik dari atas kolam, lalu mengeringkan diri menggunakan handuk.
“kena amarah Leon lagi..?” tanya Adiw dengan nada mencibir, pria itu memiliki rambut ikal sebahu. Mengenakan jaket berwarna merah dan sebuah tato di wajah kanan. Tubuhnya sesak berisi, memiliki kulit berwarna sawo matang. Ia sedang membaca koran dan menikmati segelas teh bersama Yuki tak jauh dari kolam.
“ngomong-ngomong.. kalian gak sekolah..?” tanya Yuki. Wajahnya datar tanpa ekpresi, rambutnya jabrik seperti bulu ayam, tatapannya datar dan dingin menusuk.
“............” Ryo dan Celine berpandangan sesaat. Keduanya terdiam tanpa sepatah kata, sejurus kemudian mereka langsung dilanda kepanikan.
“waaaaa...!! kau benar..! kita telaaat..!” seru Celine panik. Ia melonjak berdiri lalu berlari ke arah pintu kastil.
“ya..! dan itu semua gara-gara kau..!” seru Ryo menyalahkan sambil berlari mengejar.
“apa..!!? enak aja! Siapa suruh lo ngancurin vas kesayangan gue..!”
“yee.. suruh sapa lo naro nya sembarangan..!”
“gara-gara loe gue jadi basah kuyup begini..!”
Dan begitulah... perang mulut antar mereka terus berlangsung. Bahkan caci maki mereka berdua masih terdengar hingga radius 50 meter seperti memakai pengeras suara.
“dasar anak muda..” ujar Adiw. Ia tersenyum kecil sambil menyeruput segelas teh, lalu merebahkan jaketnya di kursi tempat ia bersandar.
“kau sendiri masih muda..” balas Yuki pelan dengan wajah malas. Ia kembali menuangkan segelas teh di cangkir kecilnya.
*********
Beberapa jam kemudian di aula castle..
“kita akan kedatangan tamu penting dari kota Twilight, cepat kumpulkan para maid dan butler..!” perintah Leon pada kepala maid. Ia memberi komando pada pasukan maid yang sedang hilir mudik di aula kastil, sebuah ruangan berukuran besar dengan tangga menuju lantai dua di tengahnya.
Leon lalu bergegas kembali ke ruangannya. Ia hendak mempersiapkan diri dan merapihkan penampilan. Ia sejenak memandangi kertas lusuh berisi foto gadis cantik berambut biru. Wajah Leon tersenyum kosong, lalu memasukan benda itu kedalam saku baju.
(DUAR..!) suara ledakan terdengar dari aula utama castle, Leon memutar arah dan kembali bergegas untuk mengeceknya.
Sesampainya di sana, seorang gadis berambut hitam acak-acakan tengah terbaring di lantai aula. Gadis itu mengenakan pakaian hitam kusut, kotor dan dikelilingi oleh serpihan mesin robot.