Bukit-bukit berderet di sebelah kanan jalan. Tebing yang curam meliuk mengikuti pembatas jalan disebelah kiri sepanjang jalan Marnath menuju Kota Marsiona. Sebuah kota yang dijuluki Kota putih. Aku bisa menebak satu hal yang bisa menjelaskan kenapa kota ini mendapat julukan tersebut. Salju. Ya, salju turun hampir setiap malam di kota itu dan matahari jarang sekali menampakan diri, hanya guratan-guratan cahayanya yang selalu nampak pada siang hari.
Aku sedang menuju Kota itu. Kecepatan mobil yang dikendarai Ayah cukup lambat, mataku jelas terpikat oleh sebuah pemandangan diseberang pembatas jalan. Putih dengan beberapa cerobong asap yang tak henti-hentinya mengeluarkan sisa-sisa pembakaran. Ini masih pukul 7 malam, salju sepertinya datang lebih awal dari cerita-cerita yang biasa aku dengar tentang kota itu. Mataku masih terkunci oleh pemandangan disana dan aku sangat tidak sabar untuk segera menginjakan kaki di tanah putih yang beku. Merasakan dingin disekujur tubuhku dan membekukan beberapa sendi-sendi sehingga aku merasa kaku.
Ayah masih fokus pada pekerjaannya, menyetir, sedang ibu masih tertidur pulas dijok depan. Kakakku, Sandy nampak tak bisa mengalihkan pandangan sejenakpun dari layar notebooknya. Tebakanku karena Placefunia. Sebuah situs jejaring sosial yang sedang trend saat ini. Aku masih sibuk memanjakan mataku, menatap selama mungkin sampai aku benar-benar ingin berkedip.
“Belum mengantuk sayang?” Kata Ayah yang mengintip ke arahku melalui kaca spion dalam mobil, kemudian buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah jalanan di depan karena tak mau kehilangan fokus menyetirnya.
“Aku menyukai pemandangan kota itu.” Jawabku semabari menujuk ke arah kota Marsiona. “Aku harap kita akan secepatnya tiba disana Ayah.”
“Ya sayang, beristirahatlah dan ayah akan menaikan kecepatan mobil ini agar kita cepat sampai di kota itu.” Kali ini Dia tidak mengitip dikaca spion.
Aku tak bisa mengacuhkan pemandangan dibalik kaca mobil, aku terlalu jarang piknik. Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter dan hobi menulisnya. Ia menulis apa saja yang Ia ingin tulis, cerpen, essai dan novel. Aku tak pernah setuju dengan hobi menulisnya, alasanku karena hal itu sangat menyita waktu Ayah. Aku bahkan lupa sudah berapa kali Ia menolak permintaanku untuk libuan bersama mengunjungi nenek dengan alasan daedline yang sebentar lagi dan tidak bisa fokus di rumah nenek karena cuaca yang terlalu panas. Maka wajar jika aku sangat antusias melihat pemandangan ini.
“Tidurlah Amy, Ayah akan percepat jika kau mau menuruti perintah Ayah.”
Aku masih sibuk dengan kegiatan ‘mengamati pemandangan sekitar’ dan tak menghiraukan perkataan Ayah. “Amy, kau perlu istirahat. Perjalanan kita masih sakitar 3 jam lagi. Kau akan melihat pemandangan yang lebih indah setibanya disana. Tidurlah sayang.” Ayah mengulang kata-katanya. Kali ini Ia menatap langsung ke arahku. Aku mengangguk kemudian menurunkan kaki dari jok mobil dan kembali duduk. Aku menunduk, mungkin terlihat memprihatinkan bagi kakakku karena ia tiba-tiba bericara ditengah-tengah kesibukannya ber-placefunia.
“Mau bermain game? Aku punya banyak game dinotebook dan aku bisa mengajarimu, Amy.”
“Sandy! Ayah harap kau tak mengganggu waktu istirahat adikmu karena dia butuh istirahat sekarang.”
“Baiklah Ayah.” Jawabnya lemah. “Amy, tidurlah. Kau memang butuh istirahat.”
“Aku ingin melihat pemandangan diluar kak.” Kataku dengan nada lemah seakan tak mau kalau sampai Ayah mendengarnya. Aku menatapnya dengan mata yang memohon agar ia membantu aku mengatakan pada Ayah bahwa aku masih belum mau tidur.
“Besok aku akan mengajakmu berkeliling melihat-lihat kota. Bagaimana?”
Hore! Hatiku bersorak. Senyum mengembang dibibirku. Aku mengacungkan jari kelingking padanya dan berkata, “janji?”
“ya!” Dia tersenyum dan menjabat jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya yang lebih besar. “Tidurlah adikku yang cantik!” Katanya sambil mengacak pelan rambutku. Aku bergeser mendekatinya dan menjatuhkan kepalaku dipundaknya. “Baiklah, Kau ingin dipeluk? Ayo kita tidur!”
Dia sedikit tertawa dan mulai memelukku, Aku tersenyum. Aku melihat Ayah mengintip dan ikut tersenyum juga.
###
Aku berfikir mungkin Marsiona sudah dekat. Aku merasa tanganku kaku, Kakiku beku, bahkan gigi-gigiku bergeletuk. Aku terbangun, aku melihat lampu-lampu yang menerangi jalanan berharap mendapat sedikit kehangatan darinya, tapi tak berhasil. Aku menggerakan tanganku, menyentuh kaca mobil yang berembun dan mengusap - usap agar aku bisa melihat jelas pemandangan diluar. Gelap, aku tak bisa melihat apa-apa, hanya pohon-pohon pinus yang seperti berbaris disepanjang jalan. Aku mengalihkan pandanganku melihat kakak yang masih tertidur, kemudian ke arah ayah yang masih menyetir dan ibu yang baru saja menyadari bahwa aku baru saja terbangun.
“Kenapa sayang? Kau kedinginan?”
Aku mengangguk, “Ya bu. Aku harap kita akan segera sampai di rumah baru kita.”
“Iya sayang, kita akan segera sampai disana. Ibu menyimpan selimut di jok belakang, pakailah agar kau merasa hangat.” Ibu mengelus lembut pipiku. Aku mengambil selimut dan segera menutupi badanku dengannya.
Aku menatap kosong ke arah pohon-pohon pinus itu. Sekilas aku mengingat Sandland. Kota tempat tinggal nenek yang bertolak belakang dengan Marsiona. Disana panas sekali, Ibu bahkan tak mau repot-repot membawa selimut karena yakin kami tak akan membutuhkannya sekalipun pada malam hari. Satu hal yang aku suka dari sandland adalah hamparan pasir putih disepanjang garis pantai. Aku senang berada di kota itu, bermain bola di pantai, berlomba mencari kerang, berenang dan terkadang membuat barbeque bersama nenek dan kakek di halaman belakang pada sore hari. Banyak hal yang ingin aku ingat lagi tentang kota itu, tapi mobil tiba-tiba berhenti dan menghilangkan pikiran-pikiran tentang sandland.
“kenapa berhenti Ayah? Apa kita sudah sampai? Dimana rumahnya?”
“belum sayang. Ayah ingin membeli kopi di warung itu sebentar.”
“Apa aku boleh ikut?”
“tidak Amy. Diluar dingin sekali dan ayah pikir tubuhmu belum bisa menyesuaikan diri dengan salju-salju itu.”
“betul amy, lebih baik kita menunggu di mobil saja.” Dukung Ibu.
“baiklah Ayah aku menunggu di mobil saja.” Aku sedikit kecewa, tapi aku akui salju-salju itu memang membuat hidungku mati rasa. Ini rupanya si Kota Putih yang menjadi idaman teman-teman sekolahku untuk menghabiskan waktu liburan akhir semester nanti. Aku tak percaya ada kota yang selalu dikunjungi salju tiap malamnya, tapi inilah Marsiona dan aku telah melihat dan merasakan kekejamannya sendiri.
###
Aku tak bisa tidur, semakin aku memejamkan mataku semakin aku tidak mengantuk. Aku memutuskan untuk tetap terjaga sampai rumah nanti. Mobil melaju dengan kecepatan yang aku rasa jauh lebih cepat dari kecepatan mobil saat berada di jalan marnath beberapa jam yang lalu. Entah apa yang membuat Ayah melakukannya.
Aku mengamati jalan. Samar-samar mulai terlihat rumah-rumah penduduk, kepulan-kepulan asap dan cahaya orange dari lampu-lampu di jalan semakin dekat. Aku melihat orang-orang berlalu lalang di trotoar. Toko-toko berderet dengan lampu warna-warni yang berkelap - kelip, beberapa diantaranya terlihat tak berfungsi.
Menurut cerita Ayah, Marsiona adalah kota kecil yang tidak terlalu padat penduduknya, orang-orangnya ramah dan mudah bergaul, sekolah-sekolahnya pun jangan dianggap remeh. Menurut Ayah, Kota ini yang paling tepat untuk dijadikan tempat tinggal kami. Itulah kenapa ia melamar pekerjaan dibeberapa Rumah Sakit di Marsiona beberapa tahun belakangan, hanya saja baru tahun ini Ia diterima. Ayah tidak mau kehilangan kesempatan, jadi Ia langsung meminta temannya yang telah tinggal lebih dulu di Marsiona untuk mencarikan rumah dan setelah dapat, ia mengajak kami pindah. Aku tak keberatan, karena entah kenapa aku selalu menyukai tempat-tempat baru. Sedangkan kakak, sebenarnya tak rela meninggalkan teman-teman satu timnya hanya demi Kota sedingin es ini. Tapi bukankah anak tak punya banyak kekuasaan?
Semakin dalam mobil memasuki wilayah Marsiona, semakin aku merasa kaku. Ya, salju ini seperti membekukan semua persendianku. Jalanan terlihat semakin sepi, beberapa toko terlihat bersiap-siap untuk tutup ketika kami lewat. Ayah berbelok ke kanan, daerah ini terlihat lebih sepi karena tidak banyak toko-toko seperti sebelumnya. Ayah menepi dan mobil memasuki halaman depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan tidak kecil pula. Aku tak bisa mempresiksi warna catnya dengan jelas, tapi kurasa coklat muda. Entahlah ini sudah jam 10.23 pm.
Sandy terbangun, matanya masih terpejam sesekali. Ia mengangkat kakinya ke atas jok dan melingkarkan tangannya di kaki kemudian meringkuk di balik selimut, persis seperti posisiku saat ini.
“Sudah sampaikah Amy?” Tanyanya dengan mata yang masih terpejam.
“Iya kak. Sepertinya kau akan menyukainya. Ada perapian didalam.”
“Aku akan suka jika ada beberapa kayu di dalamnya. Ayo kita cek Amy!” Dia mulai bersemangat. Senyumnya terkembang, saat itu aku baru menyadari bahwa dia tak setampan yang ku pikirkan. Wajahnya terlihat lusuh dan sedikit pucat.



-

