• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Prologue [2]

10 January 2012   Galang Syahya
E-mail Print PDF
1st Chapter

“BODOH!” teriak orang tua tersebut hingga menggema ke seluruh ruangan.

“Sudah kuberikan kau waktu selama ini, apa saja yang telah kau lakukan dasar pemalas!” dia ayunkan tangan kanannya yang selama ini diam ke depan dadanya ke arah sosok misterius itu lalu merapal kata-kata dengan berbisik.

“ARRRGGGHHH‼!” jerit sosok misterius itu membuat Arven tersentak hingga membuat bulu kuduknya bergidik.

Sosok misterius itu langsung jatuh ke tanah. Menggeliat. Seperti cacing yang diberi sinar matahari musim panas. Tudung yang selama ini menutupi wajahnya tersikap hingga wajahnya sekarang dapat terlihat jelas.

“Tunggu dulu.” ucap Arven dalam hati.

Arven tidak percaya apa yang dilihatnya. Sosok misterius itu adalah seseorang yang dia kenal di familia.

“HENTIKAN!” teriaknya refleks tidak kalah kerasnya dengan jeritan yang terdengar di ruangan itu.

Orang tua itu tiba-tiba menghentikan mantranya lalu menoleh ke arah Arven. Sedangkan, sosok yang dia kenal itu tergeletak dilantai terdiam antara pingsan atau mati.

Arven sadar kini nyawanya menjadi terancam, sehingga dia kembali ke balik pilar dan memunggunginya.

“Hei, kau yang sembunyi di balik pilar!” orang itu berkata. “Jika kau ingin orang ini tetap hidup, maka tunjukkan dirimu!”

Perintah orang itu membuat Arven tidak mempunyai pilihan lain. Dia keluar dari balik pilar lalu mendekati orang itu.

“Apa yang kau mau? Biarkan kami hidup!” teriak Arven kepada orang itu.

“Apa yang aku mau?” tanya orang tua tersebut. “Yang aku mau hanyalah sesuatu yang ada di tangan kirimu.”

“Apa yang ada di tangan kiriku?” tanya Arven keheranan.

Lalu dia melihat tangan kirinya yang selama ini luput dari perhatiannya.

“APA INI?” sontak kaget Arven saat melihat sesuatu yang dia kenakan di tangan kirinya.

Terpasang suatu logam berbentuk seperti gelang namun menutupi lengannya dari siku hingga pergelangan tangannya yang biasa disebut Armilla. Di atasnya terdapat batu calculus atau kristal yang menjadi isi dari Armilla yang dia belum pernah lihat sebelumnya.

“Hmm. Aneh kau berkata seperti itu. Orang yang bisa masuk kesini hanyalah orang yang mempunyai ilmu sihir tinggi. Terutama kau mengenakan Armilla yang luar biasa itu. Armilla seperti itu bisa mengubah dunia ini menjadi lebih damai dan tak ada lagi peperangan. Pantas saja orang yang tidak berguna ini tidak bisa menemukannya, ternyata dia datang sendiri kepadaku” Dia meneruskan “Jadi serahkanlah itu kepadaku, maka nyawamu dan orang ini akan aku ampuni.”

“Tidak, aku tidak bisa.”

“Apa yang kau katakan?”

“Aku tidak bisa menyerahkannya begitu saja. Aku merasa bertanggung jawab dan tidak bisa menyerahkannya kepadamu. Setelah kau menyiksa orang itu, aku merasa kau tidak pantas mengenakannya.”

“Baiklah, kau tidak memberikanku pilihan lain.”

Orang itu lalu mengangkat tangan kanannya ke depan wajahnya seperti mengangkat gelas anggur sambil membaca mantra. Lalu tiba-tiba api dari cendawan tersebut berubah dari biru yang tenang menjadi merah membara.

“Akan kutanya kau sekali lagi” dia berkata. “Serahkan Armilla itu atau KAU akan mati!”

“Tidak, tidak akan kubiarkan kau mengambilnya dariku!”

Dengan seketika orang tua tersebut mengayunkan tangannya ke arah Arven.

Disaat bersamaan, api dari cendawan-cendawan tersebut berubah menjadi naga api dengan rahang besar dan gigi-gigi yang tajam siap menerkamnya dari empat penjuru ruangan.

Saat detik-detik terakhir naga api itu menerkamnya, terpancar sinar yang sangat terang.

Yang dilakukan Arven hanya berdiri dan berpikir:

“Aku akan mati.”

Add new comment
 

Prologue [1]

03 January 2012   Galang Syahya
E-mail Print PDF
1st Chapter

Gelap dan dingin. Itu yang pertama kali Arven rasakan ketika dia membuka matanya. Dia merasa seperti di suatu ruangan dengan lantai marmer licin yang dingin dan udara yang lembab. Arven menegakkan badannya tanpa menggerakan kaki yang terlentang dari posisi tidur yang tidak nyaman, hanya untuk merasakan vertigo yang menyita perhatiannya untuk sementara dari kebingungannya dari pertanyaan “Dimanakah aku berada?”. Saat dia gerakan tangannya untuk meraba-raba di sekitar dirinya, tangan kanannya menyentuh batu besar yang tinggi dan terbentuk secara heksagonal,  disebelahnya terdapat sebuah cendawan besar yang terbuat dari batu kokoh di topang oleh batu lain yang berukuran kecil berbentuk segi empat.

Ketika dia masih memegang kepalanya yang pusing dan kebingungan, suara langkah terdengar masuk, suara langkah turun dari tangga dengan tenang dan pasti dan seketika itu pula, cendawan besar yang disebelahnya menyalakan api biru yang menyinari ruangan dimana dia berada saat ini. Saat itulah dia berdiri lalu bersembunyi di balik pilar dan melihat sekeliling bahwa dia ditempat yang belum dikenalinya.

Cahaya api biru dari cendawan besar itu membantunya melihat sekitarnya dengan lebih jelas, dia melihat sekeliling dan menyadari bahwa dia berada di ruangan besar, ditopang dengan empat pilar dan empat cendawan di tiap sudut ruangan. Pada dindingnya yang terbuat dari marmer berwarna hitam, tampak samar-samar baginya, terlihat sebuah tulisan-tulisan kuno yang menyala berwarna merah memantulkan warna biru dari cahaya api. Di tengah-tengah ruangan, lantainya turun tiga anak tangga dan terdapat batu bulat besar seperti kristal berwarna hitam yang terletak pada suatu bidang setinggi pinggang yang ujungnya masuk kedalam agar kristal tersebut tetap kokoh di tempatnya.

Suara langkah itu semakin jelas. Lalu muncul seseorang dari suatu lorong tangga di sisi kanannya dengan tinggi yang tidak jauh berbeda dengannya dan memakai jubah yang bertudung berwarna merah gelap yang setiap ujung kain terdapat garis hitam dengan tampak samar-samar terbaca tulisan Nun Lucerna yang mengelilingi ujung dari setiap jubah itu. Pada bagian punggungnya terdapat gambar mata yang sekelilingnya terdapat garis-garis berbentuk dua segi empat yang tidak saling tindih. Pada bagian wajahnya hampir tak terlihat, yang terlihat hanya mulut dengan bibir tebal berwarna merah pucat dan sebagian hidung yang berkulit putih pucat.

Orang yang misterius itu menghampiri kristal tersebut lalu menyentuhnya dan terdengar dengan samar-samar orang itu seperti merapal mantra namun mulai meracau dengan bahasa yang tidak jelas dan tidak dia kenali sebelumnya. Suara itu berat, seperti suara laki-laki yang pernah dia kenal, namun entah kenapa dia tak bisa mengingatnya. Setelah beberapa saat kemudian, dihadapan sosok misterius itu, muncul gumpalan asap sebesar ukuran manusia yang awalnya tipis, lalu mulai menebal dan menebal.

“Aku telah menantimu.”

Arven sangat terkejut. Tiba-tiba terdengar suara yang rendah sedikit berbisik menggema di seluruh ruangan, entah darimana asalnya. Ketika dia tersadar dari keterkejutannya, asap tebal itu membentuk sesosok manusia tua dengan rambut putih pendek, dengan muka pucat pasi dan kurus memakai jubah yang sama dengan yang dihadapannya namun dengan tudung yang dibuka dan postur tubuh yang lebih besar dan lebih tinggi dengan kedua tangannya dimasukan pada lengan jubahnya.

Masih dalam keadaan bersembunyi di belakang salah satu pilar, Arven terus memperhatikan mereka berdua.

“Hari ini adalah hari yang kau janjikan, serahkan Calculus itu padaku!”  perintah orang tua itu kepada sosok misterius tersebut.

“Ma-maaf tuanku. A-Aku sudah berusaha semampuku, seluruh familia sudah ku jelajahi namun belum kutemukan barang yang engkau mau” ucapnya dengan nada ketakutan yang teramat sangat.

Comments (1)
 
Start Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 910 Next End

Page 10 of 76

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top