“BODOH!” teriak orang tua tersebut hingga menggema ke seluruh ruangan.
“Sudah kuberikan kau waktu selama ini, apa saja yang telah kau lakukan dasar pemalas!” dia ayunkan tangan kanannya yang selama ini diam ke depan dadanya ke arah sosok misterius itu lalu merapal kata-kata dengan berbisik.
“ARRRGGGHHH‼!” jerit sosok misterius itu membuat Arven tersentak hingga membuat bulu kuduknya bergidik.
Sosok misterius itu langsung jatuh ke tanah. Menggeliat. Seperti cacing yang diberi sinar matahari musim panas. Tudung yang selama ini menutupi wajahnya tersikap hingga wajahnya sekarang dapat terlihat jelas.
“Tunggu dulu.” ucap Arven dalam hati.
Arven tidak percaya apa yang dilihatnya. Sosok misterius itu adalah seseorang yang dia kenal di familia.
“HENTIKAN!” teriaknya refleks tidak kalah kerasnya dengan jeritan yang terdengar di ruangan itu.
Orang tua itu tiba-tiba menghentikan mantranya lalu menoleh ke arah Arven. Sedangkan, sosok yang dia kenal itu tergeletak dilantai terdiam antara pingsan atau mati.
Arven sadar kini nyawanya menjadi terancam, sehingga dia kembali ke balik pilar dan memunggunginya.
“Hei, kau yang sembunyi di balik pilar!” orang itu berkata. “Jika kau ingin orang ini tetap hidup, maka tunjukkan dirimu!”
Perintah orang itu membuat Arven tidak mempunyai pilihan lain. Dia keluar dari balik pilar lalu mendekati orang itu.
“Apa yang kau mau? Biarkan kami hidup!” teriak Arven kepada orang itu.
“Apa yang aku mau?” tanya orang tua tersebut. “Yang aku mau hanyalah sesuatu yang ada di tangan kirimu.”
“Apa yang ada di tangan kiriku?” tanya Arven keheranan.
Lalu dia melihat tangan kirinya yang selama ini luput dari perhatiannya.
“APA INI?” sontak kaget Arven saat melihat sesuatu yang dia kenakan di tangan kirinya.
Terpasang suatu logam berbentuk seperti gelang namun menutupi lengannya dari siku hingga pergelangan tangannya yang biasa disebut Armilla. Di atasnya terdapat batu calculus atau kristal yang menjadi isi dari Armilla yang dia belum pernah lihat sebelumnya.
“Hmm. Aneh kau berkata seperti itu. Orang yang bisa masuk kesini hanyalah orang yang mempunyai ilmu sihir tinggi. Terutama kau mengenakan Armilla yang luar biasa itu. Armilla seperti itu bisa mengubah dunia ini menjadi lebih damai dan tak ada lagi peperangan. Pantas saja orang yang tidak berguna ini tidak bisa menemukannya, ternyata dia datang sendiri kepadaku” Dia meneruskan “Jadi serahkanlah itu kepadaku, maka nyawamu dan orang ini akan aku ampuni.”
“Tidak, aku tidak bisa.”
“Apa yang kau katakan?”
“Aku tidak bisa menyerahkannya begitu saja. Aku merasa bertanggung jawab dan tidak bisa menyerahkannya kepadamu. Setelah kau menyiksa orang itu, aku merasa kau tidak pantas mengenakannya.”
“Baiklah, kau tidak memberikanku pilihan lain.”
Orang itu lalu mengangkat tangan kanannya ke depan wajahnya seperti mengangkat gelas anggur sambil membaca mantra. Lalu tiba-tiba api dari cendawan tersebut berubah dari biru yang tenang menjadi merah membara.
“Akan kutanya kau sekali lagi” dia berkata. “Serahkan Armilla itu atau KAU akan mati!”
“Tidak, tidak akan kubiarkan kau mengambilnya dariku!”
Dengan seketika orang tua tersebut mengayunkan tangannya ke arah Arven.
Disaat bersamaan, api dari cendawan-cendawan tersebut berubah menjadi naga api dengan rahang besar dan gigi-gigi yang tajam siap menerkamnya dari empat penjuru ruangan.
Saat detik-detik terakhir naga api itu menerkamnya, terpancar sinar yang sangat terang.
Yang dilakukan Arven hanya berdiri dan berpikir:
“Aku akan mati.”



-
