Prolog
Dia baru saja sampai di rumah. Seluruh badannya terasa capek, hasil dari mengantar Mama berbelanja dan ke salon.
Malam sudah semakin larut. Badannya juga sudah meminta untuk segera diistirahatkan. Namun, matanya masih belum mengantuk. Beberapa kali, dia mencoba memejamkan matanya, tapi pada akhirnya, kembali terbuka.
Pikirannya terus tertuju pada sosok gadis itu. Seseorang yang terus menemaninya dalam setiap mimpinya. Seseorang yang terus terbayang dalam pikirannya. Seseorang yang tidak pernah bisa digapai dengan cintanya.
Ah. Mengapa semuanya terasa begitu sulit. Seharusnya dia bahagia, karena semuanya sudah kembali seperti biasanya. Seharusnya dia merasa puas bisa tetap berada di samping gadis itu. Tapi, hati kecilnya tidak pernah merasa puas. Tidak sebelum gadis itu sepenuhnya menjadi miliknya.
Tanpa dia sadari, kedua kakinya membawanya ke rumah gadis itu. Di depan rumah bewarna putih itu, dia berdiri. Memandangi jendela yang terletak di lantai dua. Lampu masih bersinar dengan terangnya.
Menandakan bahwa orang yang berada di kamar itu belum tidur. Dia ingin mendengar suaranya. Saat tangannya sudah menekan no telepon yang sudah sangat dihapalnya, diurungkan kembali niatnya untuk menelepon.
Tidak ada gunanya, pikirnya.
-
