• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Hujan

27 April 2010   Written by Jacob Bashay
E-mail Print PDF
1st Chapter
User Rating: / 5
PoorBest 
Satu

Hujan mengguyur pinggiran Ibukota. Mengetuk atap-atap seng berkarat. Pintu-pintu kayu sempal. Dan jemuran yang belum diangkat. Mengguyur deras, amat deras.

Malam itu malam tahun baru. Seluruh orang digiring untuk berpesta. Berfoya-foya. Menghamburkan uang yang mereka himpun susah payah. Semua jerih payah mereka amblas menjadi percikan api di langit-langit Ibukota. Meletup seperti jagung letus. Kembang api terus menerus berpendar dari setiap sudut Ibukota. Dari setiap petak-petak orang kaya.

Merah. Kuning. Hijau.

Bunga api itu terkadang meloncat begitu cepat. Mendesing. Mengiris gendang telinga. Tapi semua orang menikmatinya. Biarlah, asalkan itu bukan uang mereka yang mendesing. Lagipula, itu gratis. Sesuatu yang langka.

Kembang api membentuk kebyar-kebyar raksasa. Seperti payung yang menghiasi langit. Seperti menempeli langit dengan payet-payet ekstra. Seakan bintang-bintang belum cukup untuk memperindah langit. Dan bulan seolah-olah dilupakan.

BYAR. BYAR. BYAR—.

Dentum menggema kembali. Mengoles setiap muka yang memandangnya dengan kilasan cahaya warna-warni. Wajah-wajah yang bergembira. Lupa sejenak akan kesusahan hidup. Entah apa yang dimakan besok, entah apa yang akan ditabung besok. Semua menguap bersama mekarnya bunga-bunga api.

Indah sekali.

Orang-orang menunggu di tengah lapangan, di depan katedral. Mengeset arloji mereka yang berpendar permata. Agar tepat waktu malam ini. Lupakan kebiasaan memajukan waktu lima menit lebih cepat dari sebenarnya. Mereka saling menunjukkan arloji mereka di lengan. Sengaja berpura-pura melihat jam berapa sekarang, padahal mereka memastikan pendaran permata arloji mereka lebih banyak dibandingkan milik orang di sebelahnya.

Mereka terus menunggu dentang lonceng katedral.

Semua orang berharap waktu dimajukan oleh Tuhan. Waktu yang selama ini mereka abaikan, sekarang tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan. Semua mengeluh, betapa lama menunggu hingga jarum menit dan jarum jam bersatu dalam satu garis!

Ujung terompet mereka membeku. Sisa air liur menetes. Entah itu liur siapa—bisa jadi pembuatnya yang memastikan terompetnya telah tersusun apik. Atau anak-anak yang iseng mencoba semua terompet di etalase. Orang-orang itu lebih senang membeli terompet kertas mengilat di pertokoan Ibukota.

Bukan di lapak kaki lima. Terlalu kotor. Terlalu panas. Terlalu menurunkan gengsi.

Padahal, bukankah yang dipajang di pertokoan itu sama pembuatnya dengan yang dijual di kaki lima?

Begitu lonceng dibunyikan, semua orang berteriak gembira. Terdengar pekak terompet membahana. Sumbang. Namun siapa yang memedulikan semua itu? Yang penting hanyalah kebahagiaan. Yang penting semua orang merasa senang.

Benarkah?

Meskipun banyak yang merindukan gegap gempita tahun baru, itu bukan berarti semua orang begitu. Ada yang tak pernah ambil pusing dengan urusan penanggalan masehi. Ada yang tak ikut merayakan pesta pora itu karena penyakit. Dan ada yang tersingkir dari kemeriahan itu.

Di situlah, tempat orang-orang terpinggirkan. Di pinggir Ibukota. Ditemani hujan.

***


Di lorong terujung, tempat dimana batas antara Ibukota dengan Kota sebelahnya kabur, di situlah seorang anak bermimpi. Anak yang sangat polos. Lugu.

Dia Jihan.

Di dalam rumah petak dua kali tiga meter dengan lantai tak terplester. Dan ayam yang masuk dan keluar sesuka hati.

Dia tahu euforia tahun baru membahana di seluruh pelosok Ibukota. Dia tahu bagaimana orang-orang di bus kota, di kereta, di lapak kaki lima dengan antusias membicarakan semua kegemerlapan itu. Semua mimpi itu.

Dia ingin ikut. Ingin berpartisipasi. Setidaknya menjadi saksi dari kegemeriahan perayaan orang-orang kaya. Hanya itu.

Gadis itu naik ke atap seng rumahnya yang berkarat. Tak nampak satupun kembang api. Bahkan letupannya sirna oleh terabasan hujan. Bau mesiunya musnah oleh aroma hujan. Bekas kerlap-kerlip warna-warni luluh lantak diterpa hujan.

Dia ingin memaki hujan! Tapi dia tak bisa melakukan itu. Nanti, kau akan tahu alasannya.

Jihan membiarkan hujan membasahi dirinya. Melayukan rambutnya. Menyusup ke celah pori-porinya. Inilah pesta yang disediakan Tuhan untuknya. Diguyur hujan deras.

“Masuk, Jihan!”

Suara seseorang yang dikenalnya memerintah. Berwibawa. Memiliki kekuatan. Namun kalah oleh nasib yang pahit. Dan terpinggirkan.

“Sebentar!” balasnya malas.

Dia meluncur dari atap. Mendarat dengan mulus.

“Jangan lakukan itu! Nanti atapnya jebol!” suara itu menjerit parau.

“Tak akan jebol!” Jihan melemparkan kerikil ke atap. Memantul mulus. Memekakkan penghuni di bawahnya.

“Jangan main-main! Cepat masuk! Hujan!”

“Tiap hari aku hujan-hujanan.”

“Jangan membantahku lagi..”

Setelah itu hening. Tak ada yang mengeluarkan suara. Bahkan hujan membisu.

“Kakek—,” rintih Jihan sesaat setelah kesunyian yang mencengkram. Kata-katanya tertahan. Aku ingin melihat kembang api..

Laki-laki yang dipanggil kakek keluar rumah dengan baju seadanya. Sarung lusuh dan singlet. Serta pecis tua yang tak berdebu sedikitpun.

“Masuk sekarang,” perintahnya. Nada bicaranya tegas. Tak ingin dibantah.

“Kenapa?”

“Keroki punggungku. Cepat.”

***

Comments  

 
0 # 2010-05-30 19:44
suka.... :)
keep writing ^_^
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # 2010-05-30 20:43
bagus. bahasanya tidak terlalu rumit dan juga tidak terlalu ringan. pengen baca lanjutannya..XD
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # 2010-06-10 11:32
terimakasih banyak :)
Reply | Reply with quote | Quote
 
Refresh comments list
RSS feed for comments to this post.

Add comment


Security code
Refresh

Send
Cancel
JComments

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top