Kejadian yang benar-benar tak pernah diduga oleh Samihi Ismail adalah bertemu dengan Wayan Manik ketika sedang di dalam ancaman yang sangatlah serius. Si Perak, sepeda kesayangan Samii -begitu panggilan Wayan Manik untuk Samihi- terancam dicuri oleh preman Desa Kalidukuh. Siapa sangka, kenekatan Yanik begitu dikagumi oleh Samii dan mereka pun menjadi sahabat. Sahabat yang ada di dalam suka, maupun di dalam duka. Di dalam keberadaan mereka yang tidaklah sama. Samii seorang Muslim dan Yanik penganut Hindu.

Mereka belajar untuk saling berbagi sebagai seorang sahabat. Tanpa diinsafi oleh mereka, mereka sudah menjalin persahabatan yang begitu erat. Tak lagi dapat dipisahkan begitu saja dan ada keterkaitan di antara mereka. Sampai suatu hari, Yanik pun percaya bahwa Samii adalah orang yang tepat untuk mengetahui segala rahasia yang dipendamnya kini. Rahasia yang benar-benar melukai hatinya dan bila rahasia ini terbongkar, tentunya Yanik merasa harga diri Yanik pun terancam. Ia akan menjadi salah seorang anak yang paling malu dan muak dengan rahasia itu.
Mungkin dendam tak selamanya menjadi batu. Ketika dendam itu harusnya remuk, maka pelampiasan dan pembalasan pun akan dilakukan. Itulah yang dilakukan oleh Yanik. Ia membalaskan dendamnya kepada seorang warga asing yang telah membuatnya harus menderita dalam malu. Samii pun tanpa sengaja mendukung dengan apa yang dilakukan oleh Yanik.
Sampai suatu ketika, rahasia itu pun terbongkar dengan sendirinya. Tanpa sengaja, tanpa terucap dengan niat yang buruk.



-

