• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Mahkota Edelweis [1]

22 February 2012   Intan Purnama Sari
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 1
PoorBest 

“Kalau sudah besar, aku mau nikah sama kamu,” kata-kata polos itu meluncur begitu saja dari bibir mungil Kevin. Matanya memandang lekat ke arah gadis kecil di sampingnya.

Nadin tertegun. Tangannya yang tadi sibuk menyisir rambur barbie menggantung di udara. “Aku nggak mau nikah!” putus Nadin, lalu melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.

Kevin ngambek mendengar penolakan Nadin. Bibirnya mengerucut. “Kenapa?” dengan paksa Kevin menarik tangan Nadin, meminta perhatiannya.

Nadin kesal dipaksa-paksa seperti itu. Dihempaskannya tangannya sampai sisir di tangn kanannya terlempar. “Aku nggak mau nikah! Aku nggak mau kayak ayah sama bunda yang selalu bertengkar, lalu akhirnya berpisah. Aku nggak mau kayak bunda yang setiap malam selalu nangis gara-gara ayah. Puas!”

Kini giliran Nadin yang ngambek. Kevin kelimpungan bagaimana caranya membuat Nadin kembali tersenyum. Matanya mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk membujuk Nadin. Pandangannya tertuju pada segerombolan bunga edelweis. Dipetiknya satu bunga yang menurutnya paling cantik.

Nadin membuang mika saat Kevin menyodorkan bunga ke hadapannya.

“Kamu tau nggak, ini namanya bunga edelweis...”

“Aku tahu!” jawab Nadin ketus. Dia merasa dianggap bodoh tidak tahu nama bunga yang sudah dikenalnya sejak kecil itu.

Melihat respons Nadin, Kevin jadi salah tingkah. “Maksudku, kamu tahu nggak, kalau edelweis juga disebut bunga keabadian.”

Nadin mulai tertarik. Bunga keabadian? Pelan-pelan dia menghadapkan wajahnya ke arah Kevin.

Kevin girang dalam hati melihat Nadin tidak secuek tadi kepadanya. “Jadi gini, orang-orang menyebut  bunga edelweis adalah lambang keabadian, karena bunga ini nggak akan  layu meski disimpan berapa lama pun.”

“Meski dipetik?”

“Meski kamu memetiknya dan  menyimpannya tanpa akar.”

Nadin mengambil edelweis dari tangan Kevin. Diamatinya bunga mungil itu. “Cantik,” gumamnya.

“Aku punya yang lebih cantik dari itu,” Kevin meraih sesuatu dari punggungnya. Mata Nadin berbinar melihat apa yang ada di genggaman Kevin. Sebuah mahkota mungil yang terbuat dari sulur-sulur tanaman dengan hiasan bunga-bunga edelweis yang diselipkan di antaranya.

Mulut Nadin ternganga tapi tak mampu mengeluarkan satu kata pun. Kevin meletakkan mahkota yang telah dibuatnya sepanjang malam itu di atas kepala Nadin. Senyum puas tersungging di wajahnya.

“Selama kamu masih menyimpan mahkota itu, selama itu pula aku akan terus bersama kamu. Nggak  akan pernah  ninggalin kamu...”

 

 

“Aduh, sampai kapan sih kamu terus mandangin Kevin sama Putri jalan bareng sementara kamu yang sobat kentalnya Kevin nggak pernah berani ngomong cinta?” cerocos Ersa saat istirahat di dalam kelas yang hanya ada mereka berdua.

“Hah? Maksud lu?” Nadin kegap merasa dituduh seperti itu.

“Aduh, Say, kamu pikir selama ini aku nggak tahu kamu diem-diem ada hati sama Kevin?”

“Aku masih nggak ngerti.”

“Nggak usah pura-pura bego deh. Langsung samperin si Kevin, bilang cinta ke dia. Dan  aku yakin, Putri akan langsung ditendangnya jauh-jauh.”

Nadin menghembuskan napas berat. Menyadari tak mungkin menyembunyikan sesuatu dari Ersa yang sudah mengenalnya luar dalam itu. “Nggak mungkinlah, Sa. Kevin itu cinta banget sama Putri. Kalau aku ngomong jujur ke dia, yang ada malah persahabatanku sama dia terancam bubar.”

“Tahu dari mana kamu kalau Kevin beneran cinta sama Putri?”

“Kevin sendiri yang cerita ke aku. Tiap kami jalan bareng, yang diomongin Putri, Putri, mulu.”

“Ye, itu elonya aja yang bego’. Kevin kayak gitu kan buat manas-manasin kamu aja. Kamu juga sih yang terlalu kaku sama Kevin. Sok jual mahal lah, sok mentingin pelajaran lah.”

“Aku emang menomorsatukan sekolah kok.”

“Iya, tapi bukan berarti nyuekin sobat kamu sendiri kan. Giliran dia pergi aja, kamu kelimpungan mencarinya.”

Siaul. Bener banget sih!

Nadin sendiri tidak tahu siapa duluan yang berubah. Tiba-tiba mereka dewasa dan sibuk dengan rutinitas masing-masing. Saat mereka SMP, dia merasa Kevin masih miliknya. Hanya ada mereka berdua dan tidak ada orang lain dalam obrolan mereka. Tapi Nadin peempuan. Perkembangan hormonnya tumbuh lebih cepat. Dia ingin lebih diperhatikan. Dan caranya menarik perhatian Kevin  adalah dengan marah. Itu yang biasa dia lakukan sejak kecil. Saat Nadin marah, entah karena dirinya atau sesuatu yang lain, Kevin  akan mati-matian mencari cara agar Nadin kembali tersenyum.

Tapi lama-lama jurus itu tak lagi ampuh. Kevin mulai bosan dengan sikap Nadin yang gampang ngambek. Setiap Nadin menunjukkan gelagat akan marah, Kevin langsung kabur. Lebih dari itu, Kevin sering membicarakan teman-teman mereka, khususnya cewek-cewek.

“Tau nggak, Nad, si Lala itu cantik banget ya. terus si Meggie itu, wuih, kalau senyum manis banget. Monic juga, udah cantik, pinter lagi, bla... bla... bla...”

Nadin kesal. Ternyata bukan hanya dia seorang satu-satunya cewek di mata Kevin. Ada Lala, Meggie, Monic, dan cewek-cewek nggak jelas lainnya. Setiap kali Kevin menyebut nama cewek-cewek itu, Nadin akan langsung kesal. Kevin yang tidak tahu penyebab Nadin marah membiarkan sahabatnya itu pergi begitu saja.

Tidak ada lagi permintaan  maaf. Tidak ada lagi rayuan. Tidak ada lagi bunga edelweis...

Nadin kesal bukan karena cewek-cewek yang disebutkan Kevin. Tapi dia merasa Kevin telah melupakan janji masa kecilnya untuk selalu bersama Nadin. Apakah janji itu tak pernah punya arti? Seperti rengekan bayi yang langsung lenyap begitu disodori lilypop? Atau, Kevin memang masih memegang janjinya? Buktinya mereka masih bersama kan? Kevin dan Nadin masih berangkat dan pulang sekolah bareng. Masih sering menghabiskan waktu luang bersama. Tapi tak pernah lebih dari itu...

 

 

“Ini satu-satunya kesempatan kamu,” Ersa menyodorkan selembar pamflet di meja yang di duduki Nadin. Nadin membaca judulnya: PROMNITE PARTY

“Maksudnya?”

“Ya elah nih anak. Ya kamu ajak Kevin lah buat jadi pasangan kamu.”

“Kevin pasti ngajak Putri.”

“Nggak bakal. Di sini persyaratannya cewek yang harus ngajak cowok.”

“Apa bedanya coba. Toh itu cuma buat seru-seruan aja. Lagian kalau hanya gara-gara persyaratan konyol itu Kevin nggak bisa ngajak Putri, Putri yang akan ngajak Kevin.”

“Taruhan, Putri nggak akan ngejatohin harga dirinya untuk ngajak cowok duluan.”

“Jadi maksud kamu, aku tipe cewek yang nggak punya harga diri, gitu?”

“Bukan gitu, Say. Nih anak sensi banget sih. Maksud aku tuh, kalian kan udah lama berteman, jadi nggak ada gengsi-gengsian lagi dong. Tinggal membuat obrolan ringan, lalu ajak deh,” Ersa menaik turunkan alisnya. Merasa idenya ini brilian sekali. Urgh!

“Nggak!” tegas Nadin. Gila aja nurutin idenya Ersa. Mending nggak usah dateng sekalian ke acara dansa-dansi nggak penting kayak gitu.

Tapi ternyata Nadin salah. Tiga hari menjelang acara promnite itu, seluruh teman-temannya heboh membicarakannya. Mulai dari curhat belum nemuin pasangan yang pas, masalah gaun warna apa yang pantesnya dipakek, sampai janjian ke salon jam satu siang padahal acara baru akan dimulai pukul delapan malam. Helo... emang mau operasi plastik ya? heboh banget.

Dan sialnya hanya Nadin seorang yang berpikiran jelek tentang promnite. Teman-temannya malah berbalik menghina saat dia memaparkan betapa tidak pentingnya pesta dansa.

“Halah, Nad, jangan mentang-mentang nggak ada yang mau kamu ajak, nggak perlu sewot gitu kan.”

“Nadin, kamu tuh sebenarnya cantik. Tapi kamu terlalu kutu buku.”

Itu masih mending, ada hinaan yang lebih sadis. “Nadin nggak suka cowok ya?” jedieng! Nadin langsung mati gaya.

Tentang Kevin, dia hanya pernah sekali membahas soal promnite saat mereka pulang sekolah bareng. “Nad, temen-temen pada heboh ya membahas masalah promnite. Mungkin karena ini pesta dansa baru pertama ini diadain di sekolah kita kali ya. kamu kepikiran buat dateng nggak? Udah ngajak cowok belum?”

Nadin diam, tak menanggapi omongan Kevin. Kevin lalu menyingkap rambut yang menutupi telinganya. “Ya, pakek headset, pantesan aku dicuekin,” Kevin lalu mempercepat langkahnya.

Sebenarnya Nadin mendengar jelas setiap kata yang diucapkan Kevin, karena tidak ada satu lagupun yang dia putar. Itu hanya kamuflase karena Nadin sebenarnya tidak ingin mendengar cerita Kevin kalau Putri trlah mengajaknya ke pesta dansa itu.

Add new comment
 

Kue Ulang Tahun [2]

15 February 2012   Gisantia Bestari
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 5
PoorBest 

Anak-anak bersorak sorai saat Miya masuk ke ruangan.

“HAPPY BIRTHDAY, MIYA, HAPPY BIRTHDAY, MIYA, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY, MIYA!” Mereka bernyanyi sambil bertepuk tangan.

Miya terlihat sangat terkejut. Matanya yang bulat membelalak kaget. Bibirnya yang tipis dan indah perlahan tapi pasti membentuk semburat senyum terharu. Belum pernah kulihat ia secantik ini.

Aku dapat melihat bahwa Miya lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa aku yang memegang kue ulang tahunnya. Dia sangat gembira.

Dia berjalan mendekatiku. Sesaat aku ingin mundur saja saking malunya, namun aku sadar bahwa ia ingin mendekati kue ulang tahunnya, bukan yang membawanya.

Miya meniup lilinnya. Anak-anak bertepuk tangan dan berteriak-teriak heboh.

Ia menatapku. Aku balik menatapnya. Aku tak bisa berkata-kata melihat kedua bola mata yang bersinar begitu menyejukkan ada begitu dekat dengan wajahku. Aku bahkan dapat melihat jelas setiap detail bulu matanya yang panjang.

Tiba-tiba..., PLOK! Miya mendaratkan krim kue itu tepat ke pipiku dengan jari telunjuknya. Pipiku jadi cokelat. Aku sebal, tapi dia malah tersenyum. Sementara anak-anak makin bersorak riuh rendah.

Miya mencolek kuenya lagi dengan jarinya, kemudian mendaratkannya ke wajah anak-anak yang berdiri dekat dengannya.

“Aaaaah, Miyaaaa!!!” Mereka langsung protes, namun tetap tertawa-tawa.

Miya makin melancarkan aksinya. Anak-anak mulai waspada. Satu persatu dari mereka mulai tercoreng kue. Miya tertawa kegirangan.

“Kita balas aja si Miya!” Teriak Roy kepada anak-anak. Semuanya setuju. Mereka mulai mencolek kue itu dengan telunjuk mereka, kemudian bersiap menyerbu Miya.

“Aaaaaahhh!!!” Miya berteriak sambil berlari keluar dari ruangan rapat, menuju lapangan tengah gedung.

Anak-anak sontak mengejarnya. Aku mengikuti mereka, sambil tetap membawa kue blackforestku.

Wajah dan rambut Miya penuh dengan krim cokelat. Anak-anak tertawa melihatnya. Miya berlari menghampiriku, mengambil sepotong kue dengan tangannya, kemudian melemparkannya ke wajah anak-anak. Terjadilah lempar-lemparan kue yang tidak terelakkan lagi.

Aku terdiam, menatap kue ulang tahun Miya yang sudah tidak jelas lagi bentuknya.

 

***

 

Jam lma sore. Aku duduk sendirian di ruang tengah gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa. Kusandarkan punggungku pada tembok dan kurebahkan kakiku.

Aku menunggu Miya yang sedang membersihkan diri di kamar mandi bersama anak-anak.

Ah, itu dia. Miya datang menghampiriku dengan wajah yang telah bersih dan rambut yang masih basah karena keramas.

Aku meraih tasku. “Miya, aku pulang dulu.”

“Lho, buru-buru amat. Kita belum ngobrol.”

Miya duduk di sampingku. Aku dapat membaui harum rambutnya.

“Makasih, ya, Abi, untuk kejutannya. Aku dengar, anak-anak udah kerjasama dengan kamu. Terima kasih, kamu baik sekali. Kamu tahu aja kue kesukaanku.”

Aku tersenyum hampa. “Iya, sama-sama, aku pulang dulu.”

“Kenapa buru-buru, sih? Kamu ada urusan lain, ya?”

“Enggak, kok.”

Lalu hening. Sunyi. Hanya ada sepasang insan yang saling menatap dalam kekosongan. Miya membuka mulutnya, seperti ingin bicara, namun tak ada satu kata pun yang keluar.

“Kamu mau ngomong apa?” Tanyaku datar.

Miya tampak kebingungan. “Hmmm..., ada yang mau kamu omongin, nggak?”

“Enggak, Mi.”

“Serius? Beneran, nggak ada yang mau kamu omongin, Bi?”

“Enggak, Mi. Serius.”

“Tapi...”

Aku tetap menggeleng. Tersirat sebuah makna dari wajah cantik Miya. Ia menatapku begitu lekat.

“Memangnya kamu ingin aku ngomong apa, Mi?”

Pengharapan dalam wajah Miya langsung padam. “Eh, enggak. Nggak apa-apa. Sekali lagi, makasih banyak buat kuenya.”

Aku mengangguk, meraih tas selempangku, kemudian berdiri. Bersiap pulang.

“Abi.”

“Ya?”

“Aku anterin, yuk. Kebetulan aku bawa mobil dan...”

“Nggak usah.”

Aku pergi meninggalkannya. Aku tak perlu berbalik untuk mengetahui bahwa Miya terus memandang punggungku sampai menghilang dari jangkauan matanya.

Aku tahu bahwa Miya tahu aku berharap padanya. Aku juga tahu bahwa Miya berharap padaku. Aku pun juga tahu bahwa ia kecewa aku tidak mengutarakannya padanya.

Namun rasa kecewa Miya tidak sebanding dengan rasa kecewaku. Aku begitu kecewa karena Miya menghancurkan skenario yang kuciptakan sedemikian rupa untuknya. Miya membatalkan rencanaku yang ingin menjadikan hari ini bersejarah untukku dan untuknya. Hariku dan harinya. Kami berdua.

Seumur hidup, aku belum pernah dapat kue ulang tahun. Tapi itu tak mengapa. Aku membayangkan, mungkin akan lebih membahagiakan bila memberikan ketimbang menerimanya. Tentunya kepada orang yang menghargai usahaku dalam memberikannya.

Dan itu bukan Miya.

 

 

Add new comment
 

Kue Ulang Tahun [1]

08 February 2012   Gisantia Bestari
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 6
PoorBest 

Aku melewati toko kue itu, untuk kesekian kalinya.

Berhenti sebentar, untuk kesekian kalinya.

Melihat-lihat kue yang dipajang di sana, untuk kesekian kalinya.

Kue ulang tahun itu enak tidak, sih? Maksudku, kue ulang tahun yang memang dipersembahkan untuk kita. Bukan potongan kue yang dibagikan oleh teman yang sedang berulang tahun. Itu, sih, aku sudah sering.

Selama 20 tahun hidup di dunia, aku belum pernah dapat kue ulang tahun. Seperti apa rasanya, saat kamu membuka mata pagi-pagi di tanggal kelahiranmu, lalu melihat teman-teman atau keluargamu menghampirimu sambil membawa kue ulang tahun? Seperti apa rasanya, dinyanyikan lagu-lagu ulang tahun? Seperti apa rasanya, meniup lilin di atas kue? Aku tidak tahu, entah apa memang tidak akan pernah tahu, atau belum saja. Tidak tahu.

“Buru-buru amat, sih, kepengen pulang. Makan dulu lah, kita,” ajak temanku Ivan saat kuliah kelar tadi.

“Iya, ada urusan,” jawabku singkat. Ivan menghela nafas kecewa, kemudian pergi ke kantin menyusul teman-teman yang lain.

Tiga minggu terakhir ini aku memang memilih untuk langsung pulang. Biasanya, ada yang kurang bila pulang kuliah tidak main-main dulu. Tapi sekarang keadaannya sedang berbeda.

Dan di sinilah aku sekarang, di dalam toko kue yang ada di dekat kampusku. Aku selalu melewati toko kue ini bila pergi dan pulang kuliah.

Akhir-akhir ini aku selalu berusaha bawa bekal makan siang. Bekal itu aku makan di kelas saat menunggu jam kuliah selanjutnya, saat teman-temanku sibuk menyerbu kantin. Saat pulang kuliah menjelang malam pun, aku langsung pulang agar bisa makan di rumah.

Awalnya memang sulit, namun makin kesini aku makin terbiasa. Karena kalau tidak dengan cara begini, aku akan menghabis-habiskan uang hanya untuk makan. Uang yang tiga minggu terakhir ini aku tabung untuk membeli kue ulang tahun.

Aku keluar dari toko kue, lalu naik bus untuk pulang. Perjalanan ke rumah sekitar 30 menit. Aku sampai di rumah dengan senyum lebar. Kukeluarkan semua uang dalam dompetku dan dari celenganku.

Sebentar lagi cukup. Aku sudah tak sabar lagi.

Aku sudah tahu kue yang mana yang akan aku beli. Blackforest dengan hiasan ceri di atasnya. Hmmmm...., pasti enak sekali. Aku harap tidak ada yang membelinya duluan. Kue itu pasti bisa kubeli.

Aku menghampiri kalender dinding yang aku gantung di kamarku. Seminggu lagi adalah harinya. Jantungku berdegup kencang. Hari itu akan menjadi hariku yang paling indah.

Walaupun aku belum pernah merasakannya, aku yakin bahwa kue ulang tahun yang dipersembahkan untuk kita itu rasanya pasti nikmat sekali. Tapi, aku juga yakin, bahwa kue ulang tahun yang kita beli dari tabungan sendiri rasanya pasti jauh lebih nikmat. Lezatnya pasti tidak ada duanya.

 

***

Kuliah hari ini selesai.

Aku keluar kelas dengan langkah cepat dan semangat. Bibirku tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Biarlah orang yang melihat menganggapku gila karena jalan sendirian dengan wajah bahagia.

Aku sampai di toko kue. Kuhela nafas dalam-dalam sebelum kubuka pelan pintunya. Aku meminta pelayan untuk membungkus kue tart Blackforest itu untukku. Kubuka dompetku di depan kasir dengan rasa sukacita. Kue itu tidak murah, tapi aku mampu membelinya dengan menyisihkan uang jajanku! Aku patut bangga pada diriku sendiri.

Sampai di rumah, kumasukkan kue itu ke dalam kulkas. Kulkas yang nyaris rusak dan tak berfungsi dengan maksimal. Keluargaku belum cukup uang untuk membeli kulkas baru. Ya, sudahlah, tidak apa-apa, yang penting kue itu selamat.

 

***

 

Sabtu yang cerah. Hari ini adalah harinya. Dan aku yakin, hari ini akan menjadi hariku yang paling indah.

Jam satu siang nanti ada rapat Badan Eksekutif Mahasiswa di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa. Di organisasi ini, aku menjabat sebagai staf Hubungan Masyarakat. Aku hampir lupa apa yang nanti akan dirapatkan, gara-gara sibuk dengan kue ulang tahun.

Jam 12 aku berangkat dengan membawa kotak putih besar berisi kue ulang tahun kesayanganku. Dadaku berdesir hebat saat berada di dalam bus.

Sampai di ruangan rapat, kusembunyikan kue itu di balik tas teman-teman BEM yang ditumpuk di sudut ruangan. Teman-temanku ramai memperbincangkannya, sedangkan aku senyum-senyum saja menanggapinya. Aku tak perlu bicara. Mereka sudah mengerti dengan sendirinya.

Rapat selesai jam setengah tiga. Aku mengawasi keadaan. Salah satu temanku mengajak Miya, temanku yang juga staf Hubungan Masyarakat, untuk ke kamar mandi. Miya mengikuti saja.

Sedetik setelah Miya pergi, aku melancarkan aksiku. Kuraih kue ulang tahunku. Kutaruh dua lilin yang merangkai angka 20 di atasnya. Salah satu temanku menyalakan korek. BLAS! Kue ulang tahun itu tampak sangat cantik dengan lilin-lilin yang menyala terang.

Oke, mungkin ini berlebihan, tapi aku sangat terharu melihat kue ulang tahun itu bersinar cantik di pangkuan tanganku. Aku ingin menangis.

Aku bukan anak yang berasal dari keluarga kaya raya. Keluargaku sangat sederhana. Miskin, tepatnya. Kalau bukan karena beasiswa, aku tidak mungkin kuliah di kampus sebagus ini. Aku memang anak ketiga sekaligus terakhir, tapi dengan penuh kesadaran aku tahu aku tidak boleh manja. Kedua kakakku sudah menikah, dan aku anak satu-satunya yang bisa meneruskan pendidikan sampai taraf kuliah.

Hidupku boleh sangat sederhana, tapi jangan remehkan cintaku pada Miya. Cintaku pada Miya tidak sederhana. Cintaku penuh dengan kekayaan.

Aku mengenalnya sejak masuk BEM setahun lalu. Kebetulan kami sama-sama staf Hubungan Masyarakat. Kami seangkatan, namun beda jurusan. Dia anak Komunikasi, sedangkan aku anak Teknik Sipil.

Bagaimana aku harus mendeskripsikan seorang Miya? Ah, lebih baik jangan. Akan terlalu banyak kata-kata indah yang nanti keluar dari mulutku. Aku tidak punya alasan untuk tidak mencintainya.

Seperti tipikal anak Komunikasi, dia sangat supel. Dia seperti magnet yang terus-terusan menarikku. Lagi dan lagi. Tidak pernah ada habisnya.

Aku tahu teman-temannya banyak, tapi aku selalu percaya diri. Aku memanfaatkan kesamaan jabatan kami untuk lebih dekat lagi dan lagi dengannya.

Seumur hidup, aku belum pernah dapat kue ulang tahun. Seumur hidup juga, aku belum pernah memberikan kue ulang tahun. Dan hari ini akan jadi sejarah baru bagiku. Bagiku dan perempuan yang sangat istimewa untukku.

Miya memberiku pengharapan bahwa cintaku akan berbalas.

Hey, lihat, Miya sudah kembali dari kamar mandi. Tiba-tiba tanganku gemetaran.

Add new comment
 
StartPrev1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next End

Page 1 of 34

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Bloopendorse

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top