• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Siluet [2]

09 November 2011   Nuzuli Ziadatun Ni’mah
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 4
PoorBest 

Aku berusaha mengingat lebih banyak. Namun aku tak mengerti, rasanya ingatanku putus sampai di sana. Aku tak ingat hal menyenangkan apa lagi yang kami lalui setelah hari itu. Padahal seharusnya masih ada.

Tap tap tap.

Suara langkah kaki itu semakin keras. Aku menoleh ke ujung lorong di sebelah kiri, dan akhirnya kulihat sebuah siluet di kejauhan. Wajahnya tidak terlihat sama sekali; terhalang oleh terangnya cahaya di baliknya. Ia terus melangkah ke arahku, dan aku pun terus mengamatinya.

Ah, aku mengenali caranya berjalan. Aku juga mengenali postur tubuh itu.

Aku tersenyum. Dengan tempo yang masih sama, siluet itu terus berjalan ke arahku. Ukurannya semakin lama semakin besar seiring semakin dekat pula ia denganku. Sesekali saat angin berhembus pelan dari ujung lorong aku dapat mencium wangi parfum yang kukenal sejak dulu. Wangi yang tidak dimiliki oleh orang lain selain olehnya, walau samar-samar wangi itu bercampur dengan bau lain yang aneh.

Aku menoleh ke atas. Bahkan sekarang pun lampu lorong ini tidak menyala, entah mengapa. Lalu aku memalingkan kembali wajahku ke arah siluet itu datang, dan dalam sekejap ia sudah terasa sangat dekat.

“Akhirnya kamu datang,” ucapku sambil tersenyum padanya. Entah ia melihat senyumku atau tidak mengingat lorong itu tidak cukup terang.

Tap tap tap.

Siluet itu tidak menjawab, terus mendekat, dan berhenti tepat di depanku. Apa dia tidak mengenalku?

“Ervan?” gumamku pelan. Yakin bahwa memang orang itu yang datang.

Keheningan tetap bertahan selama beberapa detik, dan aku tidak mengerti mengapa ia tetap diam.

Ah, mungkin ia menungguku pindah ke kursi sebelah.

“See, aku udah pindah,” ucapku lagi setelah duduk kembali di kursiku.

Bukannya duduk, sosok itu malah mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Mawar putih; bunga kesukaanku.

“Aina, Selamat Ulang Tahun sayangku….” Suaranya terdengar sedih. Membuatku ingin memeluknya saat itu juga.

Dan pada saat yang sama, cahaya matahari akhirnya berhasil menghindar dari mendung di langit dan menerobos masuk ke dalam lorong—jatuh di kursiku yang sudah berwarna hitam.

Cahaya itu semakin terang.

Memperlihatkan wajah sayang Ervan yang terlihat sedih. Lalu kulihat butiran-butiran air mata jatuh di kursi kami yang bentuknya juga sudah aneh.

Cahaya itu semakin lama semakin terang.

Dan sayangnya Ervan masih tetap tidak mengenaliku.

Kenapa? Aku melihat sekeliling, mencoba mencari kejelasan.

Dan akhirnya aku paham, ternyata waktuku sudah habis….

——–

||HEADLINE NEWS: Kebakaran telah Terjadi di Sebuah Rumah Sakit Umum pada….

 

- Tamat -

Comments (10)
 

Siluet [1]

02 November 2011   Nuzuli Ziadatun Ni’mah
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 4
PoorBest 

Lagi. Di hari yang mendung itu aku terjebak di antara dinding-dinding tinggi nan suram. Bau obat-obatan khas rumah sakit memenuhi lorong itu. Hanya saja, ada bau aneh lain yang menguar bersama dengannya. Sungguh bau yang nggak kusuka, lebih karena ‘aku nggak suka sakit’ dibanding karena tempatnya. Namun tetap saja aku merasa heran pada diriku sendiri, bisa-bisanya aku berada di sana dan belajar tentangnya.

“Aku mau masuk Kedokteran.”

Itulah yang diucapkan olehnya dulu, saat ia baru akan menghadapi ujian. Masih kuingat wajahnya yang penuh semangat saat mengatakan kalimat itu. Bayangan masa lalu yang selalu kuingat hingga saat ini, yang juga telah mengubah pandanganku tentang masa depan.

“Lalu aku?” tanyaku saat itu sebagai jawaban akan pernyataannya.

“Itu kan terserah kamu. Lagipula kamu masih punya waktu setahun lagi sebelum memutuskan, jadi dipikirin dulu aja.”

Bodoh. Aku benci senyum itu. Senyum yang seakan terus berusaha mengikatku agar mengikutinya. Padahal aku ingin berjalan beriringan bersama impianku sendiri, dan bukannya mengikuti jalan yang telah ia buat. Hanya saja, pada akhirnya aku di sana. Di tempat yang seharusnya tidak kumasuki; itu kata orang-orang. Padahal dulu aku berusaha keras untuk memutuskan, dan akhirnya keputusan itu yang menang.

Ah, kesunyian selalu membiusku. Membuatku melayang-layang ke masa lalu, saat yang selalu bisa membuatku tersenyum bahagia.

“Aina, Aina!” suara itu kembali diputar di ingatanku. “Aku diterima di Kedokteran. Bagus kan?!” ucapnya bahagia. Wajah yang membuatku ingin langsung memeluknya. Dan sayangnya, ia melakukannya lebih dulu.

“Pasti nanti jadi sibuk deh…,” gumamku lebih pada diriku sendiri dibanding kepadanya.

“Nggak kok. Kan aku masih bisa main ke sini Ai. Lagipula walaupun nggak bertemu bukan berarti nggak sayang kan?!” sahutnya; membuat senyum malu-maluku terkembang dengan sendirinya. Dan pikiranku pun kembali ke dunia nyata.

Huuh, aku menghela napas.

Entah sudah berapa lama aku berada di sana; aku tidak ingat. Aku menoleh ke sekeliling dan tidak mendapati siapapun di sana. Setahuku tempat itu harusnya nggak sesepi itu saat biasanya aku menunggunya selesai studi. Tapi entah sejak kapan tak ada lagi orang yang mau duduk di sana. Padahal aku suka berada di sana bersama dengannya. Deretan kursi tunggu warna putih mengkilat yang menyimpan banyak kenangan milik kami.

Jika saja dulu aku nggak mengikuti keinginan hatiku, mungkin aku nggak akan berakhir di sana. Mungkin. Tapi pada kenyataannya, hati dan pikiran tidak akan pernah bisa sinkron. Karena rasanya memang keduanya ditakdirkan untuk selalu kontradiksi.

“Ayah, aku mau masuk Keperawatan.”

Seperti yang kuduga, wajah ayahku mengeras saat aku mengucapkan kalimat itu. 17 tahun aku hidup di lingkungan arsitek. Dibesarkan di antara kertas-kertas rancangan, bermain-main dengan desain, dan menelan banyak ‘pil’ ke-arsitek-an. Namun tiba-tiba aku membangkang dengan memilih Keperawatan dan bukannya Arsitektur atau Kedokteran. Yah, aku tahu Ayah tidak akan mengizinkan, atau jika pun mengizinkan kurasa kami tidak akan bicara selama beberapa hari.

“Bukankah lebih baik masuk Arsitektur, atau Kedokteran sekalian?” tanya Ibu setelah hening beberapa saat. Sementara Ayah hanya memilih untuk tetap meneruskan acara membaca korannya meskipun kuyakin dengan tidak konsen.

“Aku mau Keperawatan.”

Singkat. Seperti yang pernah diajarkan olehnya, katakan keinginan kita dengan singkat dan jelas, maka orang lain akan sulit untuk membantahnya. Ya, itu juga lah yang selama ini aku pikirkan.

“Tapi kamu masih bisa lebih Nak. Kamu masih bisa masuk Kedokteran kalau mau,” Ibuku kembali membujuk.

“Aina mau Keperawatan,” aku kembali mengatakan kalimat itu. Menatap mata Ibu dalam-dalam. Meyakinkan jika aku memang menginginkannya dengan sangat. Reaksinya hanya membalas tatapanku dengan iba, sedangkan Ayah memilih untuk beranjak dari ruang keluarga tanpa menungguku mengatakan sesuatu padanya.

BRAKK!!

Suara itu membawaku kembali ke lorong. Sepertinya seseorang sedang berusaha merobohkan pintu di kejauhan sana. Mungkin siang itu memang ada renovasi di ujung lorong itu. Tapi pertanyaanku tetap sama; padahal itu rumah sakit yang cukup besar, tapi mengapa lorong itu begitu suram? Bukankah seharusnya lampu-lampu di sana menyala? Dan bukankah harusnya ada mahasiswa Keperawatan yang sedang praktek seperti biasanya?

Tapi… lorong itu sepi.

Tap tap tap.

Kini kudengar suara langkah kaki di kejauhan. Tapi tak ada sosok yang muncul dari ujung lorong itu. Hanya suara langkah yang semakin lama semakin kedengaran seperti tempo sebuah lagu. Lagu yang sering kami nyanyikan bersama—atau lebih tepatnya ia nyanyikan untukku. Ia memang mahasiswa Kedokteran, tapi dia urakan. Membuatku selalu tidak bisa memalingkan wajahku darinya walau di saat kami sedang bertengkar.

“Ai, kamu mau lagu apa?” tanyanya hari itu, di saat dia melupakan tanggal 17 kami yang penting.

“Iih, Aina marah. Aku marah juga ah,” ucapnya saat aku tak kunjung menjawab. Hal yang sering ia lakukan saat aku tak mau bicara padanya. Hingga akhirnya ia menyanyikan lagu untukku dengan gitar merahnya yang sangat kusukai. Mungkin itu lagu yang sederhana, tapi kami sama-sama menyukainya.

Ah, sekarang aku ingat mengapa aku datang ke sana. Hari itu adalah tanggal 17. Tepat 2 tahun sejak ia membuatku ingin terus bersamanya dan bersamaan pula dengan ulang tahunku.

Tap tap tap.

Suara itu masih tetap terdengar, meski sosoknya belum juga terlihat dari tempatku duduk. Membuatku ingin beranjak dari sana dan melihat siapa yang datang. Tapi aku mengurungkan niatku, karena aku harus menunggunya di tempat itu, seperti yang ia katakan, “Tunggu ya di tempat duduk kita.”

Huuh, aku kembali menghela napas. Ia tak kunjung datang, dan aku sendirian di sana. Maka aku pun beranjak ke tempat duduk di sebelahku, tempat biasanya ia duduk dalam setelan jas lab. Ia selalu terlihat bagus dengan pakaian putih itu. Dan aku selalu senang saat ia mengatakan hal yang sama padaku saat aku memakai setelan putih baju perawat.

Karena sejujurnya, kata-katanya telah membuatku ingin terus bertahan di lingkungan itu.

“Wah, hari ini Aina cantik,” komentarnya saat melihatku beberapa hari yang lalu; tapi aku lupa kapan itu tepatnya.

“Kamu lupa ya aku udah cantik dari lahir?”

Dan ia hanya menanggapi dengan mengacak rambutku yang baru saja kupotong sebahu. Kami hanya terus bercengkerama selama seharian itu. Bernyanyi bersama dan mengobrol hingga rasanya tidak ada lagi yang bisa diceritakan. Lalu memutuskan untuk mengulang cerita yang sama berkali-kali, yang entah bagaimana rasanya tetap tidak membosankan.

Seharusnya masih ada lagi hal yang menyenangkan.

- Bersambung ke Siluet [2]


Add new comment
 

Kembali

28 September 2011   David
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 2
PoorBest 

Hye-Jin melirik jam tangan bulat kecil yang melingkar nyaman di pergelangan tangan kirinya. Gadis itu lalu mendesah. Sudah hampir satu jam dia menunggu pria itu namun pria itu belum menunjukkan batang hidungnya seinci pun. Apakah pria itu tidak akan datang seperti yang biasa pria itu lakukan?

Ketika Hye-Jin baru  saja akan menyambar gelas berisi jus jeruk hangat yang dipesannya, ponselnya bergetar tak nyaman dalam saku kanan celananya. Tangan kanannya lalu bergerak masuk ke dalam saku celananya dan mengeluarkan benda kecil yang masih bergetar itu. Dengan satu gerakan, gadis itu membuka flat ponselnya.

“Yeoboseyo1,” sapa Hye-Jin setelah ponsel itu menempel di telinga kanannya.

“Hye-jin, kau masih di sana?” tanya seorang pria di ujung sana.

Kening Hye-Jin mengerut. “Yong-Joon?”

“Iya, ini aku. Kau masih di sana?” Yong-joon mengulang pertanyaannya.

Hye-Jin mengangguk. Sadar Yong-Joon tidak bisa melihatnya, gadis itu lalu bergumam pelan, “Mm.”

“Oh, Hye-Jin, maaf sekali. Aku tidak bisa datang ke sana. Ada banyak hal yang belum diselesaikan di studio. Kau makan siang sendirian saja ya. Tidak apa-apa kan?”

Hye-Jin menunduk lesu. “Ya, tidak apa-apa,” jawabnya lesu.

“Sekali lagi maaf. Aku akan menemanimu makan malam di apartemanmu malam ini,” janji pria itu.

“Ya, baiklah.”

“Oh, sudah dulu ya. Semua orang mulai sibuk kembali. Annyeong2.”

Hye-Jin menurunkan ponselnya dari telinga kanannya dengan lesu. Dia lalu mengangkat kepalanya dan menatap gelas di depannya dengan tatapan nanar. Kenapa hubungan ini tidak bisa sehangat jus jeruk di dalam gelas itu? Kenapa hubungan ini malah terasa sedingin udara di luar sana?

Hye-Jin lalu bangkit dari duduknya, menjejalkan ponselnya kembali ke saku celananya. Setelah itu tangan kanannya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari saku jaketnya dan meletakkannya di atas meja. Untuk kesekiankalinya, pria itu kembali membatalkan acara yang dia janjikan sendiri. Hye-Jin membuang nafas lalu melangkah keluar café itu.

Beberapa waktu kemudian, dia telah berjalan menelusuri trotoar di jalan Myung-dong yang saat itu cukup ramai. Banyak orang yang sibuk berjalan dalam balutan jaket tebal di sepanjang trotoar. Mobil berwarna-warni sibuk berlalu lalang di jalan besar itu. Hye-Jin mengeratkan jaketnya saat angin musim gugur yang sejuk menggelitik tubuhnya sesaat.

Berapa kali lagi dia harus mengalah? Sampai kapan dirinya mampu mengalah? Berapa kali lagi dia akan berakhir kecewa setiap kali pria itu membatalkan janji? Mengapa semuanya tidak berjalan seindah musim semi? Mengapa semuanya justru berjalan kaku seperti musim dingin yang akan datang sebentar lagi? Dia lelah menjalani ini semua. Sama lelahnya dengan berjalan dengan langkah-langkah panjang seperti yang dia lakukan sekarang. Dia butuh waktu untuk memikirkan ulang tentang hubungan ini, tentang semuanya. Ya, dia benar-benar membutuhkannya.

 

***

Yong-joon kembali menekan bel kecil di hadapannya ketika tidak ada tanggapan dari dalam apartemen itu. Dia lalu menunggu beberapa saat. Tidak ada reaksi apa pun. Yong-Joon mendesah. Tangan kanannya sesaat kemudian telah sibuk merogoh sesuatu dari dalam saku celana jinsnya. Dikeluarkannya kunci cadangan untuk unit apartemen di depannya dari saku celana. Dia tidak mampu berdiri lebih lama lagi di luar. Udara malam ini benar-benar akan membuatnya membeku kalau dia berdiri di luar lebih lama lagi.

Pria itu menjejalkan kunci dalam pegangannya ke dalam lubang kunci di pintu apartemen itu lalu memutar kuncinya dengan cepat. Diputarnya kenop pintu itu lalu didorongnya pintu itu dan segera melangkah masuk.

Ya, begini lebih baik, pikirnya. Pria itu lalu melangkah ke arah dapur saat dia menduga gadis penghuni apartemen ini pasti tengah sibuk di dapur.

“Hye-Jin,” panggil Yong-Joon sambil terus melangkah. Tidak ada jawaban. Sedetik kemudian, kedua alis pria itu saling bertaut. Tidak ada siapa pun di dapur. Pria itu kemudian menyisir pandangannya ke arah meja makan. Ada beberapa masakan di atas meja itu yang kelihatan masih hangat. Ada kepulan asap tipis di atas setiap masakan. Kemana gadis itu? tanya pria itu dalam hati.

Yong-Joon lalu melangkah ke arah meja makan. Saat pria itu hendak menarik kursi di dekatnya, matanya tertumbuk pada secarik kertas yang diselipkan di bawah mangkuk makan yang ditangkupkan. Yong-Joon menyambar kertas itu. Ada tulisan tangan Hye-Jin yang memenuhi kertas itu. Dengan masih berdiri, pupil mata Yong-Joon mulai bergerak membaca isi kertas itu.

 

Annyeong haseyo3 Kim Yong-Joon.

 

Saat kau membaca surat ini, aku pasti sudah tidak ada di apartemenku lagi. Aku pergi sebentar. Aku, kita perlu waktu untuk memikirkan tentang hubungan kita. Ada sesuatu yang berjalan dengan salah dalam hubungan ini.

 

Jujur saja, Yong-Joon, aku lelah dengan semua ini. Aku lelah harus menelan kecewa setiap kali kau membatalkan janjimu sendiri. Aku lelah harus berkata ‘tidak apa-apa’ dan berpura-pura tersenyum saat kau lebih mementingkan pekerjaanmu dibanding aku. Aku lelah harus terus mengalah kepada pekerjaanmu itu. Aku lelah, Yong-Joon. Pernahkah kau menyadari itu?

 

Aku juga manusia. Aku tidak bisa terus-menerus mengalami kekecewaan. Aku tidak dapat selalu tersenyum saat hatiku sebenarnya sangat nyeri. Aku tidak mampu sering-sering mengalah.

 

Aku ini kekasihmu, Yong-Joon. Kekasih yang merindukan perhatianmu. Aku merindukan saat-saat dimana kau sangat memerhatikanku bahkan sampai hal terkecil. Aku juga menginginkan sebuah hubungan yang hangat, bukan sebuah hubungan yang dingin seperti yang sedang berjalan sekarang.

 

Aku mohon, jangan mencariku. Aku benar-benar membutuhkan waktu untuk sendiri. Aku pasti akan kembali suatu saat nanti, entah kapan itu. Entah pada saat itu kau masih mengharapkanku atau tidak, tetapi aku pasti akan kembali. Ini janjiku.

 

Makanlah masakan yang sudah kusiapkan untukmu.

 

Han Hye-Jin.

 

***

Jari-jari Yong-Joon masih saja diam, tak bergerak di atas tuts-tuts piano di depannya. Matanya masih saja memerhatikan satu kursi kosong di barisan paling depan itu. apakah gadis itu tidak akan datang? tanyanya.

Yong-Joon telah mengirimkan sebuah tiket untuk Hye-Jin untuk menghadiri pertunjukannya malam ini. Yong-Joon mendapat kabar kalau gadis itu tinggal di rumah neneknya 1 tahun belakangan ini. Seperti yang gadis itu minta, Yong-Joon berusaha menahan dirinya untuk tidak menghampirinya.

Yong-Joon membuang nafas panjang. Sepertinya gadis itu tidak akan datang. Sepertinya gadis itu belum dapat menepati janjinya malam ini. Baiklah. Pria itu kembali membuang nafas. Sesaat kemudian, jari-jari panjangnya telah menari lincah di atas tuts-tuts piano di depannya.

Setelah bernyanyi sekitar 4 menit, dentingan suara piano terakhir terdengar, menandakan selesainya lagu pertama untuk malam itu. Semua penonton di ruangan itu bertepuk tangan meriah, namun nyatanya Yong-Joon tidak merasakan setitik kepuasan sedikit pun. Gadis itu tidak datang. Bukankah dia bekerja keras selama 2 tahun ini agar bisa mempersembahkan pertunjukkan ini kepada gadis itu? Lalu apakah dia bisa tersenyum puas ketika gadis itu malah tidak datang?

Saat Yong-Joon baru saja akan beranjak untuk mempersiapkan penampilan selanjutnya, matanya terpaku pada seorang gadis yang sedang berdiri di dekat pintu masuk ruangan itu. Gadis itu? Yong-Joon memicingkan matanya. Tidak salah lagi. Gadis itu adalah gadis yang selama setahun ini selalu ditunggunya. Gadis itu hampir tidak berubah. Hanya saja rambutnya sedikit lebih panjang dari kali terakhir  dia bertemu gadis itu.

Tanpa menunggu detik berikutnya berlalu, pria itu segera berlari ke arah gadis itu. Dia tidak akan membiarkan gadis itu pergi lagi darinya. Tidak akan pernah sekali pun. Yong-Joon menyambar tangan gadis itu lalu menarik gadis itu.

“Yong-Joon, bagaimana dengan pertunjukkanmu?” tanya gadis itu cepat.

“Saat ini tidak ada yang lebih penting daripada dirimu,” ujar Yong-Joon sungguh-sungguh.

 

***

Untuk beberapa saat, mereka berdua sama-sama membiarkan mulut mereka membisu sementara kaki mereka terus saja melangkah di sepanjang trotoar jalan itu. Tangan Yong-Joon masih menggenggam hangat tangan gadis di sampingnya.

“Jadi, ini saatnya kau kembali kepadaku?” tanya Yong-Joon setelah sebelumnya dia menoleh menatap gadis di sampingnya.

Hye-Jin menoleh, tersenyum lalu mengangguk.

“Percayalah, aku tidak akan pernah memberikanmu alasan lagi untuk meninggalkanku,” tutur Yong-Joon. Genggaman tangannya mengerat.

Keduanya mendongak ke langit malam saat salju pertama musim dingin tahun ini di Seoul mulai turun malam itu. Mereka berdua menurunkan kepala, saling menatap lalu tersenyum.

“Musim dingin tahun ini tidak akan kulalui sendirian lagi,” kata Yong-Joon.

 

SELESAI

 

Foot note :

1. Yeoboseyo : Halo (jika berbicara melalui telepon)

2. Annyeong : Sampai jumpa

3. Annyeong haseyo : Sapaan yang biasa digunakan orang Korea. Bisa berarti halo, selamat pagi, selamat siang atau selamat malam.

Comments (4)
 
Start Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 910 Next End

Page 10 of 38

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top