Hye-Jin melirik jam tangan bulat kecil yang melingkar nyaman di pergelangan tangan kirinya. Gadis itu lalu mendesah. Sudah hampir satu jam dia menunggu pria itu namun pria itu belum menunjukkan batang hidungnya seinci pun. Apakah pria itu tidak akan datang seperti yang biasa pria itu lakukan?
Ketika Hye-Jin baru saja akan menyambar gelas berisi jus jeruk hangat yang dipesannya, ponselnya bergetar tak nyaman dalam saku kanan celananya. Tangan kanannya lalu bergerak masuk ke dalam saku celananya dan mengeluarkan benda kecil yang masih bergetar itu. Dengan satu gerakan, gadis itu membuka flat ponselnya.
“Yeoboseyo1,” sapa Hye-Jin setelah ponsel itu menempel di telinga kanannya.
“Hye-jin, kau masih di sana?” tanya seorang pria di ujung sana.
Kening Hye-Jin mengerut. “Yong-Joon?”
“Iya, ini aku. Kau masih di sana?” Yong-joon mengulang pertanyaannya.
Hye-Jin mengangguk. Sadar Yong-Joon tidak bisa melihatnya, gadis itu lalu bergumam pelan, “Mm.”
“Oh, Hye-Jin, maaf sekali. Aku tidak bisa datang ke sana. Ada banyak hal yang belum diselesaikan di studio. Kau makan siang sendirian saja ya. Tidak apa-apa kan?”
Hye-Jin menunduk lesu. “Ya, tidak apa-apa,” jawabnya lesu.
“Sekali lagi maaf. Aku akan menemanimu makan malam di apartemanmu malam ini,” janji pria itu.
“Ya, baiklah.”
“Oh, sudah dulu ya. Semua orang mulai sibuk kembali. Annyeong2.”
Hye-Jin menurunkan ponselnya dari telinga kanannya dengan lesu. Dia lalu mengangkat kepalanya dan menatap gelas di depannya dengan tatapan nanar. Kenapa hubungan ini tidak bisa sehangat jus jeruk di dalam gelas itu? Kenapa hubungan ini malah terasa sedingin udara di luar sana?
Hye-Jin lalu bangkit dari duduknya, menjejalkan ponselnya kembali ke saku celananya. Setelah itu tangan kanannya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari saku jaketnya dan meletakkannya di atas meja. Untuk kesekiankalinya, pria itu kembali membatalkan acara yang dia janjikan sendiri. Hye-Jin membuang nafas lalu melangkah keluar café itu.
Beberapa waktu kemudian, dia telah berjalan menelusuri trotoar di jalan Myung-dong yang saat itu cukup ramai. Banyak orang yang sibuk berjalan dalam balutan jaket tebal di sepanjang trotoar. Mobil berwarna-warni sibuk berlalu lalang di jalan besar itu. Hye-Jin mengeratkan jaketnya saat angin musim gugur yang sejuk menggelitik tubuhnya sesaat.
Berapa kali lagi dia harus mengalah? Sampai kapan dirinya mampu mengalah? Berapa kali lagi dia akan berakhir kecewa setiap kali pria itu membatalkan janji? Mengapa semuanya tidak berjalan seindah musim semi? Mengapa semuanya justru berjalan kaku seperti musim dingin yang akan datang sebentar lagi? Dia lelah menjalani ini semua. Sama lelahnya dengan berjalan dengan langkah-langkah panjang seperti yang dia lakukan sekarang. Dia butuh waktu untuk memikirkan ulang tentang hubungan ini, tentang semuanya. Ya, dia benar-benar membutuhkannya.
***
Yong-joon kembali menekan bel kecil di hadapannya ketika tidak ada tanggapan dari dalam apartemen itu. Dia lalu menunggu beberapa saat. Tidak ada reaksi apa pun. Yong-Joon mendesah. Tangan kanannya sesaat kemudian telah sibuk merogoh sesuatu dari dalam saku celana jinsnya. Dikeluarkannya kunci cadangan untuk unit apartemen di depannya dari saku celana. Dia tidak mampu berdiri lebih lama lagi di luar. Udara malam ini benar-benar akan membuatnya membeku kalau dia berdiri di luar lebih lama lagi.
Pria itu menjejalkan kunci dalam pegangannya ke dalam lubang kunci di pintu apartemen itu lalu memutar kuncinya dengan cepat. Diputarnya kenop pintu itu lalu didorongnya pintu itu dan segera melangkah masuk.
Ya, begini lebih baik, pikirnya. Pria itu lalu melangkah ke arah dapur saat dia menduga gadis penghuni apartemen ini pasti tengah sibuk di dapur.
“Hye-Jin,” panggil Yong-Joon sambil terus melangkah. Tidak ada jawaban. Sedetik kemudian, kedua alis pria itu saling bertaut. Tidak ada siapa pun di dapur. Pria itu kemudian menyisir pandangannya ke arah meja makan. Ada beberapa masakan di atas meja itu yang kelihatan masih hangat. Ada kepulan asap tipis di atas setiap masakan. Kemana gadis itu? tanya pria itu dalam hati.
Yong-Joon lalu melangkah ke arah meja makan. Saat pria itu hendak menarik kursi di dekatnya, matanya tertumbuk pada secarik kertas yang diselipkan di bawah mangkuk makan yang ditangkupkan. Yong-Joon menyambar kertas itu. Ada tulisan tangan Hye-Jin yang memenuhi kertas itu. Dengan masih berdiri, pupil mata Yong-Joon mulai bergerak membaca isi kertas itu.
Annyeong haseyo3 Kim Yong-Joon.
Saat kau membaca surat ini, aku pasti sudah tidak ada di apartemenku lagi. Aku pergi sebentar. Aku, kita perlu waktu untuk memikirkan tentang hubungan kita. Ada sesuatu yang berjalan dengan salah dalam hubungan ini.
Jujur saja, Yong-Joon, aku lelah dengan semua ini. Aku lelah harus menelan kecewa setiap kali kau membatalkan janjimu sendiri. Aku lelah harus berkata ‘tidak apa-apa’ dan berpura-pura tersenyum saat kau lebih mementingkan pekerjaanmu dibanding aku. Aku lelah harus terus mengalah kepada pekerjaanmu itu. Aku lelah, Yong-Joon. Pernahkah kau menyadari itu?
Aku juga manusia. Aku tidak bisa terus-menerus mengalami kekecewaan. Aku tidak dapat selalu tersenyum saat hatiku sebenarnya sangat nyeri. Aku tidak mampu sering-sering mengalah.
Aku ini kekasihmu, Yong-Joon. Kekasih yang merindukan perhatianmu. Aku merindukan saat-saat dimana kau sangat memerhatikanku bahkan sampai hal terkecil. Aku juga menginginkan sebuah hubungan yang hangat, bukan sebuah hubungan yang dingin seperti yang sedang berjalan sekarang.
Aku mohon, jangan mencariku. Aku benar-benar membutuhkan waktu untuk sendiri. Aku pasti akan kembali suatu saat nanti, entah kapan itu. Entah pada saat itu kau masih mengharapkanku atau tidak, tetapi aku pasti akan kembali. Ini janjiku.
Makanlah masakan yang sudah kusiapkan untukmu.
Han Hye-Jin.
***
Jari-jari Yong-Joon masih saja diam, tak bergerak di atas tuts-tuts piano di depannya. Matanya masih saja memerhatikan satu kursi kosong di barisan paling depan itu. apakah gadis itu tidak akan datang? tanyanya.
Yong-Joon telah mengirimkan sebuah tiket untuk Hye-Jin untuk menghadiri pertunjukannya malam ini. Yong-Joon mendapat kabar kalau gadis itu tinggal di rumah neneknya 1 tahun belakangan ini. Seperti yang gadis itu minta, Yong-Joon berusaha menahan dirinya untuk tidak menghampirinya.
Yong-Joon membuang nafas panjang. Sepertinya gadis itu tidak akan datang. Sepertinya gadis itu belum dapat menepati janjinya malam ini. Baiklah. Pria itu kembali membuang nafas. Sesaat kemudian, jari-jari panjangnya telah menari lincah di atas tuts-tuts piano di depannya.
Setelah bernyanyi sekitar 4 menit, dentingan suara piano terakhir terdengar, menandakan selesainya lagu pertama untuk malam itu. Semua penonton di ruangan itu bertepuk tangan meriah, namun nyatanya Yong-Joon tidak merasakan setitik kepuasan sedikit pun. Gadis itu tidak datang. Bukankah dia bekerja keras selama 2 tahun ini agar bisa mempersembahkan pertunjukkan ini kepada gadis itu? Lalu apakah dia bisa tersenyum puas ketika gadis itu malah tidak datang?
Saat Yong-Joon baru saja akan beranjak untuk mempersiapkan penampilan selanjutnya, matanya terpaku pada seorang gadis yang sedang berdiri di dekat pintu masuk ruangan itu. Gadis itu? Yong-Joon memicingkan matanya. Tidak salah lagi. Gadis itu adalah gadis yang selama setahun ini selalu ditunggunya. Gadis itu hampir tidak berubah. Hanya saja rambutnya sedikit lebih panjang dari kali terakhir dia bertemu gadis itu.
Tanpa menunggu detik berikutnya berlalu, pria itu segera berlari ke arah gadis itu. Dia tidak akan membiarkan gadis itu pergi lagi darinya. Tidak akan pernah sekali pun. Yong-Joon menyambar tangan gadis itu lalu menarik gadis itu.
“Yong-Joon, bagaimana dengan pertunjukkanmu?” tanya gadis itu cepat.
“Saat ini tidak ada yang lebih penting daripada dirimu,” ujar Yong-Joon sungguh-sungguh.
***
Untuk beberapa saat, mereka berdua sama-sama membiarkan mulut mereka membisu sementara kaki mereka terus saja melangkah di sepanjang trotoar jalan itu. Tangan Yong-Joon masih menggenggam hangat tangan gadis di sampingnya.
“Jadi, ini saatnya kau kembali kepadaku?” tanya Yong-Joon setelah sebelumnya dia menoleh menatap gadis di sampingnya.
Hye-Jin menoleh, tersenyum lalu mengangguk.
“Percayalah, aku tidak akan pernah memberikanmu alasan lagi untuk meninggalkanku,” tutur Yong-Joon. Genggaman tangannya mengerat.
Keduanya mendongak ke langit malam saat salju pertama musim dingin tahun ini di Seoul mulai turun malam itu. Mereka berdua menurunkan kepala, saling menatap lalu tersenyum.
“Musim dingin tahun ini tidak akan kulalui sendirian lagi,” kata Yong-Joon.
SELESAI
Foot note :
1. Yeoboseyo : Halo (jika berbicara melalui telepon)
2. Annyeong : Sampai jumpa
3. Annyeong haseyo : Sapaan yang biasa digunakan orang Korea. Bisa berarti halo, selamat pagi, selamat siang atau selamat malam.