• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Ashmina [2]

04 April 2012   Khairunnisa Putri
E-mail Print PDF
Cerpen

Jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul delapan tiga puluh. Siswa-siswi kelas sepuluh dan sebelas hari ini masuk jam sepuluh karena murid-murid kelas tiga sedang melaksanakan try out tingkat kota. Mina telah siap dengan seragamnya meskipun waktu sekolah masih sembilan puluh menit lagi. Setelah mematut diri di cermin, Mina bergegas turun untuk sarapan.

Kening Mina berkerut heran tatkala menemukan udara kosong di bawah tutup saji meja makan. Bunda nggak masak adalah fenomena langka yang hanya terjadi beberapa kali dalam sebulan. Penasaran, tungkai kembarnya dilangkahkan ke dapur. Alih-alih nasi goreng atau sandwich, yang ditemuinya hanya semangkuk bubur. Bukan bubur ayam biasa melainkan bubur yang dikenal Mina sebagai bubur merah putih. Ia mencoba menelaah maksud bunda menyediakan jenis masakan yang jelas-jelas tidak umum itu.

Terkesiap, Mina mengambil tiga langkah mundur. Bubur merah putih biasanya dibuat jika ada yang hendak mengganti nama. Ia mengerti maksudnya. Ia bergegas meninggalkan dapur untuk mencari bunda.

Dania menahannya. “Mau kemana kamu?” tanyanya.

Mina berdecak sebal. “Cari Bunda.”

“Sini, ikut aku dulu,” ujar Dania seraya menggiring Mina ke kamarnya. Dania membuka laci tempatnya menyimpan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan urusan kantor. Diraihnya sebuah amplop panjang yang tampak lusuh, kemudian ia serahkan kepada adiknya. “Baca ini dulu sebelum marah-marah sama Bunda,” titahnya.

Mina patuh dan menerima surat tersebut. Dania sama keras kepalanya dengan dirinya sendiri, melawan kakaknya hanya akan menambah rasa pusing di kepala. Ia membuka surat tersebut dengan sangat perlahan. Kertasnya yang terlihat rapuh membuat Mina yakin bahwa sedikit tarikan saja dapat membuat kertas itu sobek. Ia membaca tulisan tangan yang tertera pada surat tersebut. Ketika matanya telah sampai di akhir paragraf, setetes air mata jatuh dan membasahi kertas dalam genggamannya.

Surat itu berisi cerita mendiang ayahnya ketika menempuh ibadah haji lima belas tahun yang lalu, dialamatkan kepada bunda. Kala itu ayahnya sedang bermalam di terowongan Mina. “Mina adalah tempat yang sangat indah, tak peduli berapa juta orang yang sedang berada disini, aku tetap menganggapnya indah. Maukah kau menamakan putri kita dengan nama Mina? Aku akan sangat bahagia,” tulisnya.

“Surat itu ditulis dua hari sebelum ayah meninggal, dikirim melalui paket pesan super kilat dan sampai disini seminggu setelah ayah meninggal. Singkatnya, itu permintaan terakhir Ayah,” jelas Dania.

Hati Mina mencelos, ia benar-benar tertegun. bunda begitu mencintai ayah, ayah sangat menyukai nama Mina, dan Mina sendiri membencinya. Marah-marah ingin ganti nama dan membuat bunda sakit hati. Dadanya terasa sesak, bukan karena kamar Dania minim oksigen melainkan oleh penyesalan. Mina merasa sangat tidak bersyukur. Namanya bukan tidak berarti, tapi sangat berarti, terutama bagi bunda dan almarhum ayah.

Mina menghapus jejak tangisan pada wajahnya dan bergegas meninggalkan kamar Dania. Tujuannya? Kamar bunda. Ia akan memeluk bunda, minta maaf, dan meminta bunda menggagalkan rencana pergantian nama yang sedang dipersiapkan. Ia menyukai nama Ashmina apa adanya.


Add new comment
 

Ashmina [1]

28 March 2012   Khairunnisa Putri
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 3
PoorBest 

KRIIIIING!

Suara bel yang menandakan berakhirnya pelajaran hari ini membangkitkan kembali semangat murid-murid yang sempat hilang saking bosannya mendengar ocehan panjang lebar Pak Agus mengenai peradaban kuno. Guru senior yang satu itu benar-benar tahu cara jitu meninabobokan murid-muridnya. “Jangan lupa remedial sejarah hari Jumat setelah salat Jumat. Saya nggak mau lihat nilai di bawah lima lagi, terutama kamu Ashmina!” serunya pada seisi kelas sesaat sebelum meninggalkan ruangan.

Ashmina, Ashmina, Ashmina! Yang dimaksud hanya menggeleng ogah-ogahan. Kesal karena Pak Agus dengan seenak jidat menyindindirnya di depan kelas dan kesal karena Pak Agus melisankan nama lengkapnya. Ashmina. Selama lima belas tahun hidupnya, Mina tak pernah sekali pun menyukai namanya. Pernah sekali waktu ia mengetik namanya di sebuah search engine dan yang muncul adalah nama-nama perempuan dari Nepal. Ia sama sekali tak bangga akan hal itu.

Mina merasa namanya terkesan sangat kampungan, apalagi jika dibandingkan dengan nama teman-temannya. Mina sering kali bertanya mengapa bunda memberinya nama yang terdengar begitu aneh sedangkan nama kedua kakaknya normal, malah cenderung bagus—Dania dan Anggara. Namun, bunda tidak pernah benar-benar menggubrisnya.

“Eh Sarimin, gue pinjem catetan biologi lu ya, lengkap abis nih,” seru Leo, teman sekelasnya.

Nah, yang begini ini yang ia tidak suka. Mina hanya  memutar bola matanya. Gerah. Sarimin hanya satu dari banyak panggilan yang diberikan teman-temannya. Mulai dari Sarimin yang terkenal sebagai monyet, Amin yang namanya sama dengan tukang fotocopy sekolah, Mimin, sampai Minah yang kesannya pembantu banget.

Karena tidak direspon lawan bicaranya, Leo berkoar lagi. “Woy Sarimin! Boleh ngga nih gue pinjem buku lo?”

“Nama gue Mina!” sergah Mina, emosi. Leo hanya memasang wajah pura-pura takut, menyelipkan buku catatan Mina ke dalam tasnya kemudian bergabung dengan kumpulan cowok-cowok yang sedang asyik bermain kartu. Mina benar-benar senewen dibuatnya. Seenaknya saja ganti-ganti nama orang, Leo nggak tahu apa kalau Mina setengah mati pengen ganti nama?

“Jangan sewot gitu napa Min?” Kassandra mengambil tempat duduk di sisi Mina. Sekilas senyum jahil bermain di bibir Sandra tatkala melihat sahabat karibnya sibuk misuh-misuh sendiri.

“Leo yang nyebelin, San!” kilah Mina.

Sandra mengibaskan tangannya, “Really? Menurut gue, lo yang terlalu sensitif,” balas Sandra. “Come on Min, mau sampai kapan sih lo mempermasalahkan nama lo? It’s no big deal at all!” tandasnya.

Mendengar komentar Sandra, kontan emosi Mina terpancing. Intonasinya naik tatkala ia bicara pada Sandra. “Oh, jelas aja. No big deal karena nama lo bagus kan, Kassandra?” Tentu saja Sandra nggak ngerti, namanya bagus. Sangat jauh dari kesan kampungan. Belum sempat Sandra menanggapi ucapan Mina, suara lain datang menginterupsi perdebatan mereka—Lilian.

“Minah, ntar tugas kimia kita gue kirim ke e-mail lo aja ya, paling ntar malem,” ujarnya sambil lalu.

Mina sudah akan bangkit dan membentak Lilian kalau saja tangan Sandra tidak menahannya. Detik berikutnya Lilian sudah keburu pergi tanpa menunggu jawaban Mina. Dengan suara sarat kemarahan, Mina menatap Sandra lekat-lekat. “Lo liat kan?”

Sandra menggeleng cepat, melempar pandangan skeptis seolah tingkah Mina benar-benar konyol. “Mau nama lo Inem, atau Juliet, atau Indah, lo bakal tetep lo kan Min? Ini tuh omong kosong!” tukasnya.

Mina bergeming selama beberapa detik kemudian dengan kasar melepaskan cengkraman Sandra pada pergelangan tangan kirinya. “Sampai kapan juga lo ga akan ngerti, San!” Mina menyandang tasnya dan melangkah keluar kelas. Meninggalkan Sandra yang tampak tak habis pikir dengan kelakuannya. What’s in a name, Min? Shakespeare aja bilang gitu, batin Sandra.

***

 

Sesampainya di rumah Mina menghempaskan tubuhnya di sofa terdekat di ruang tamunya. Lelah lahir batin. Lelah karena sekolah yang menyebabkan kelelahan lahir dan lelah karena pertengkaran-pertengkaran yang berkaitan dengan batinnya. Semuanya dilatarbelakangi oleh namanya yang konyol dan memalukan. Ashmina, diucapkan berkali-kali pun tak akan berpengaruh apapun kecuali membuat Mina semakin tak menyukainya. Hanya Ashmina saja, tak ada nama belakang apalagi nama tengah.

Kekesalannya pada Sandra jauh lebih besar dari yang ditunjukkannya pada perdebatan mereka tadi. Meskipun bersahabat, bisa dibilang Mina dan Sandra berbeda kasta. Sandra yang cantik, populer, dan kaya raya sementara Mina hanya anak dari pengusaha catering rumahan yang namanya biasa disamakan dengan nama pembantu. Mina sendiri tak yakin apakah ia iri pada nama Sandra yang terdengar lumayan classy atau iri pada sosok Sandra sendiri.

Ia mengerling ruang keluarga. Retinanya menangkap sosok bunda dan Dania, kakak perempuannya, sedang asyik membahas resep-resep baru yang akan diterapkan pada usaha catering bunda. Melihat suasana hati bunda yang sedang baik, Mina berinisiatif mengangkat topik yang sebisa mungkin selalu dihindari bunda: namanya. Setelah Dania menghilang dari pandangannya, Mina bergegas mendekati bunda yang masih sibuk membaca.

“Buuuun,” rajuknya.

Bunda tersenyum mendengar intonasi manja yang digunakan putrinya. Tanpa mengangkat kepala dari pekerjaannya, bunda bertanya lembut, “Ada apa sayang?”

Selama sesaat Mina berpikir untuk mengurungkan niatnya. Mina yakin, begitu ia mulai membuka pembicaraan, mood bunda yang sedang baik ini akan segera rusak. Ia menggeleng sekali, mengenyahkan pikiran tersebut. “Kenapa sih Mina dikasih nama Ashmina?”

Bunda tak lantas menjawab. Awalnya Mina pikir bunda tak benar-benar mendengarkannya tapi kemudian bunda menyingkirkan buku-buku resep dari hadapannya dan menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Kenapa Mina nanya ini lagi? Bukankah bunda sudah bilang berkali-kali kalau Ashmina itu nama yang bagus?” Bunda balas bertanya.

“Tapi Bun, bagus itu menurut Bunda. Menurut orang lain nggak gitu, menurut Mina ngga gitu!” jawab Mina, masih berusaha menjaga kesopanan dalam nada bicaranya.

Sebelah alis bunda melesat naik selama sepersekian detik sebelum kemudian menanggapi dengan santai, “Masa? Siapa yang bilang?”. Intonasinya membuat Mina semakin sewot.

“Banyak Bun! Leo bilang kaya Sarimin, monyet yang suka pergi ke pasar. Lili panggil aku Minah, memangnya aku pembantu?” Mina menjawab tak sabar. Dengan sorot mata menantang, ia menatap bunda lekat-lekat. Bersiap melontarkan sanggahan atas pembelaan-pembelaan Bunda.

“Mereka sirik sayang, Mina itu nama yang sangat bagus.”

Lagi-lagi, jawaban klise yang keluar dari mulut bunda. Benar-benar membuatnya semakin kesal apalagi diucapkan oleh bunda dalam cara yang santai. Bagaimana mungkin bunda bisa begitu tenang sementara dirinya sudah terbawa emosi? Kesal karena pembawaan bunda yang begitu in control dan terkesan tidak serius, Mina bicara lagi. “Bunda bilang gitu karena Mina anak Bunda kan? Bunda juga tahu kan kalau Mina itu nama yang jelek dan malu-maluin?!” tukasnya.

Mendengar tuduhan asal putrinya, Bunda terkejut. Belia menggeleng lembut sebelum menjawab. “Nggak gitu Mina, bunda bilang begitu karena memang—“

“Udah deh, Bun,” sergah Mina. “Dalam bahasa Jawa Mina itu artinya ikan Bun, ikan! Nama itu doa kan Bun? Orang tua mana yang ngasih nama anaknya ikan? Ngga ada, mereka semua ngasih nama yang bagus untuk anak-anaknya. Bahkan nama Kak Dania dan Kak Angga bagus, kenapa cuma Mina yang namanya kampungan?!” cerocos Mina panjang lebar.

Bunda tidak berkata apa-apa, terlalu terkejut akibat dibombardir pertanyaan oleh putrinya. Tatapan matanya berubah sendu dan butir-butir air mata mulai menggenangi pelupuknya. Bunda tak mengerti jalan pikiran putri bungsunya. Tak ada yang salah dengan nama kamu, Nak, batin bunda. “Lantas kamu mau Bunda melakukan apa sayang?” tanyanya lirih.

“Ganti nama kek, apa kek, akte kelahiran bisa dibuat lagi kan?! Mina capek Bun jadi bahan ejekan temen-temen!” tandasnya. Bersamaan dengan kata-kata tersebut, Mina bergegas naik ke kamar. Meninggalkan bunda yang hanya bisa mengelus dada akibat perkataannya.

Comments (1)
 

Ulang Tahun Nilam

21 March 2012   Winda Krisnadefa
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 4
PoorBest 


Sepuluh tahun menikah, hanya satu kali mendapat kado ulang tahun. Rasa-rasanya ada yang kurang, walaupun tak kurang-kurang perhatian Raja pada Nilam selama ini. Raja ibarat mesin canggih dengan satu kekurangan. Dia bekerja giat demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, memperhatikan semua kebutuhan Nilam, mencurahkan segenap kasih sayang untuk istrinya tercinta, selalu siaga setiap saat Nilam membutuhkannya, bercinta dengan penuh pengertian dan perasaan. Satu kekurangannya, Raja selalu lupa ulang tahun Nilam. Buktinya, baru sekali Nilam mendapat kado ulang tahun, di tahun kedua pernikahan mereka. Itu pun dengan diawali adegan merajuk Nilam karena Raja benar-benar lupa ulang tahunnya.

Raja tumbuh dalam keluarga yang tidak terlalu mementingkan perayaan-perayaan selain hari raya, sedangkan Nilam dibesarkan dalam segala rupa perayaan. Perbedaan sepele yang ternyata sering menjadi masalah saat waktunya tiba. Nilam tak pernah lupa menyiapkan makan malam istimewa dan kado untuk Raja setiap tahun. Awalnya Nilam melakukan hal itu tanpa pamrih, semata karena rasa cintanya pada Raja. Tapi lama-kelamaan, Nilam benar-benar berharap kalau Raja akan membalas perlakuan istimewa di hari ulang tahunnya itu dengan, sedikitnya, tidak lupa hari ulang tahun Nilam. Percuma saja. Raja selalu lupa. Sekali lagi, alasannya adalah karena dia tak pernah terbiasa dengan perayaan.

Tahun ini, ulang tahunnya yang ke-11 dalam tahun pernikahan mereka. Nilam tahu, kalau dia menginginkan sesuatu, maka hanya ada satu cara untuk mendapatkannya, bicara langsung pada Raja.

“Besok aku ulang tahun, ya…Aku mau kado!”

“Hm? Oh, iya ya? Kamu mau apa?”

Nilam suka kado dan terlebih dari itu, dia menyukai efek kejutan saat membuka kado di setiap ulang tahunnya. Jadi sebenarnya tak masalah baginya, apa kado yang akan diberikan Raja untuknya, asalkan dia tidak tahu sama sekali apa itu sampai ia membuka bungkusnya. Ekstasi kejutan itu yang membuat Nilam menjadi pecandu perayaan, khususnya ulang tahun.

“Lho, ya terserah kamu! Kalau aku yang minta, itu namanya bukan kado, tapi minta dibeliin!”

Raja menarik nafas. Nilam kadang seperti seorang gadis kecil yang hidup dalam tubuh perempuan dewasa. Dia bisa menjadi kekanak-kanakan untuk hal-hal tertentu. Perayaan ulang tahun dan kado ini contohnya. Selain menjadi gadis kecil, Nilam juga bisa berubah menjadi gadis remaja jika sudah membicarakan artis idolanya, sampai sekarang. Dia akan dengan sangat bersemangat bercerita tentang lagu terbaru idolanya lengkap dengan kronologis pembuatan video klip sampai kehidupan pribadi sang idola.

Adalah Armando Zulman, penyanyi terkenal ibukota, sang idola istrinya tercinta. Beberapa minggu yang lalu, kantor tempat Raja bekerja mendapat job untuk pembuatan sebuah iklan garmen, dan Armando adalah si bintang iklan yang ditunjuk oleh pemilik usaha garmen tersebut. Baru seminggu yang lalu Raja bertemu muka dengan idola Nilam itu.

Jujur saja, Raja sama sekali tidak terkesan dengan penampilan si penyanyi terkenal itu. Dilihat-lihat dari postur tubuh, mereka hampir sama, walaupun Raja sedikit lebih pendek dibanding Armando. Wajah pun, walaupun mereka memiliki perbedaan dalam beberapa bagian, rasa-rasanya sama saja gagahnya. Mungkin bedanya, Armando sedikit lebih terawat dibanding Raja. Tentu saja, dia kan artis! Raja merasa seperti sedang mengelus-elus egonya ketika akhirnya dia bisa bertemu langsung dengan idola istrinya itu.

Bagaimana ya kira-kira reaksi Nilam kalau dia bisa bertemu dengan laki-laki ini? Sampai sekarang Nilam belum tahu kalau Raja sedang bekerja sama dengan Armando. Entah apa penyebabnya, beberapa hari dalam seminggu ini Nilam seperti selalu menampakkan wajah kusut dan bad mood setiap berhadapan dengan Raja. Sepertinya dia memang serius sekali dengan ancamannya jika sampai Raja lupa ulang tahunnya lagi tahun ini.

“Aku akan pulang ke rumah orang tuaku, dan kamu harus jemput aku dengan orang tuamu, dan minta maaf di depan mereka!”

“Jangan gila, Lam! Urusan sepele kayak gini sampai harus bawa-bawa orang tua kita? Lebay!”

“Lebay itu adalah kalau suami tidak pernah ingat ulang tahun istrinya! Iya, LE-BAY! BER-LE-BI-HAN! KE-TER-LA-LU-AN! Sama, kan?” Tukas Nilam dengan puas lalu berlalu dari hadapan Raja sambil mengibaskan rambutnya.

Pagi itu, sehari sebelum ulang tahun Nilam, Raja berdiri di dekat mobilnya di lapangan parkir kantor. Menatap sebuah Kijang Innova berwarna abu-abu yang terparkir di seberang mobilnya. Armando Zulman keluar dari mobil itu diikuti oleh pandangan mata memuja beberapa karyawati yang kebetulan berpapasan dengannya. Entah efek apa yang menempel pada selebriti-selebriti ini, sesaat Raja seperti melihat Armando berjalan dalam gerakan perlahan seperti dalam sebuah adegan film. Dan demi Tuhan, efek itu berhasil membuatnya tampak sepuluh kali lebih gagah dari biasanya. Sialan!

Wajah Nilam tiba-tiba melintas dalam benaknya. Nilam dengan mulut menganga menatap Armando berdiri di hadapannya. Matanya tak berkedip. Nafasnya tertahan dalam hitungan menit. Lalu dia akan berpaling pada Raja dengan pandangan…penuh rasa terima kasih. Dan kemudian berlari memeluknya.

Astaga! Astaga! Raja tahu kado apa yang akan diberikannya pada Nilam. Demi Tuhan, ini tak akan pernah dilupakan istrinya seumur hidup! Dan mungkin untuk tahun-tahun berikutnya Nilam akan memaafkannya jika kembali melupakan hari ulang tahun istrinya itu. Brilian!

Hari itu Raja mengatur pertemuan pribadi dengan Armando di ruangannya. Semua jadwal syuting akan diundur dua hari dari yang harusnya take besok. Ada sesuatu yang lebih penting dari pengambilan gambar iklan yang sudah hampir jatuh tempo itu. Raja pulang dengan perasaan puas. Nilam tak akan pernah berhenti berterima kasih kepada dirinya.

Keesokan harinya Raja berangkat kerja lebih pagi. Ada pekerjaan penting yang harus diselesaikannya hari itu. Raja bahkan tak sempat sarapan bersama Nilam. Begitu pakaiannya terpasang dengan sempurna, Raja langsung menyambar handphone yang masih tersangkut di charger-nya dan meluncur masuk ke dalam mobil. Nilam tak sempat berteriak memanggilnya. Raja benar-benar seperti dikejar setan pagi itu. Nilam sungguh-sungguh berharap, semoga Raja terburu-buru karena sibuk mempersiapkan kejutan untuk dirinya hari ini.

Sesampainya di kantor, Raja langsung menghubungi Armando. Lama sekali teleponnya tidak diangkat oleh artis terkenal itu. Raja nyaris membanting handphone-nya karena kesal. Akhirnya Armando mengangkat telepon darinya setelah beberapa kali berbunyi.

“Ya, mas Raja. Saya sudah on the way, nih! Jadi kan rencana kita?”

“Kok pake nanya lagi? Ya, jadi dong, seperti rencana awal!” jawab Raja dengan ketus.

Armando menjauhkan handphone dari telinganya, lalu menatap handphone itu sambil mengernyitkan dahinya, seolah-olah Raja bisa melihat mimik wajahnya saat itu. Benar-benar manusia aneh! Bukannya Raja yang memohon-mohon pada dirinya untuk bisa ikut memberikan kejutan di hari ulang tahun istrinya itu? Andai saja Armando tidak memikirkan dampaknya pada karirnya ke depan, ingin sekali dia menolak permintaan Raja. Tapi mengecewakan penggemar bagi orang terkenal seperti dirinya sama saja menenggelamkan karirnya secara perlahan. Apalagi kalau penggemarnya itu ada hubungan kerja dengan dirinya. Walaupun tidak secara langsung, tapi Armando cukup terkesan dengan cerita Raja tentang bagaimana istrinya begitu memuja dirinya selama ini. Ah, biarlah, cuma sebentar, kok, hiburnya dalam hati.

Armando sudah berdiri di depan pintu rumah Raja dan bersiap mengetuknya. Seikat bunga yang dibelinya dalam perjalanan tergenggam di tangan kiri yang disembunyikannya di balik punggung. Armando mengetuk dengan pasti.

Nilam berdiri terpaku di depan pintu rumahnya yang terkuak setengah. Tak percaya sama sekali kalau sosok itu yang sedang berdiri di hadapannya. Rahangnya turun beberapa sentimeter, matanya tak berkedip sedikit pun.

“Armando?” ujarnya dengan suara serak.

Armando berusaha memberikan senyumnya yang paling manis. Walau bagaimana, perempuan di hadapannya ini adalah penggemarnya.

“Happy birthday, Nilam…” kata Armando sambil menyerahkan bunga di tangannya.

“Ya Tuhan! Ini beneran kamu? Armando?” Nilam masih butuh ketegasan, agar dia benar-benar yakin kalau dirinya tidak sedang berhalusinasi.

Bagaimana pun, pagi ini benar-benar pagi yang absurd baginya. Sepagian dia berharap-harap cemas, menanti-nanti apakah suaminya ingat hari ulang tahunnya. Lalu selama dia mandi tadi sibuk memikirkan kejutan apa yang akan diberikan Raja pada dirinya. Dan sekarang Armando Zulman berdiri di hadapannya dan memberikan seikat bunga untuk ulang tahunnya?

Bunyi lagu yang dibawakan oleh Armando tiba-tiba terdengar. Nilam dan Armando sama-sama terkejut mendengarnya. Ternyata handphone Armando yang berbunyi. Nilam mengerutkan keningnya sedikit. Agak aneh juga dia memakai lagunya sendiri untuk nada dering handphone-nya itu. Bagi Nilam, itu terlalu narsistik. Mendadak rasa sukanya pada Armando sedikit menciut. Ah, ternyata artis di mana-mana sama saja. Memuja diri sendiri. Padahal kalau dilihat-lihat di infotainment, Armando tampaknya seperti laki-laki yang rendah hati dan cool. Nilam menelan ludah.

“Halo!”

“Aku udah di sini, mas!”

“Lho? Kok malah nanya? Aku udah di rumahmu…”

Armando mematikan handphone-nya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Di kantor, Raja mematikan handphone-nya sambil memukul dahinya dengan keras.

“Astagaaa! Nilam ulang tahun! Dan aku lupa! Dan artis sok ganteng itu ingat sama janjinya? Mati akuu!” teriaknya sendiri di dalam ruangan besarnya itu.

Raja menarik-narik rambutnya dengan gemas. Satu-satunya alasan dia berangkat terburu-buru pagi ini adalah karena yang ada dalam pikirannya adalah hari ini adalah hari pertama shooting untuk iklan yang akan dibintangi oleh Armando. Itu sebabnya dia begitu cerewet memantau sudah sampai di mana penyanyi terkenal itu. Dan dia sama sekali lupa kalau kemarin mereka sudah sepakat untuk memberikan kejutan di hari ulang tahun Nilam dan mengundur waktu shooting sehari ke depan.

Nilam dan Armando sudah duduk di ruang tamu. Nilam diam mendengarkan penjelasan Armando tentang keanehan sepagi itu. Mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti sambil matanya tak lepas mengamati kebiasaan Armando yang setiap lima detik membenahi letak rambutnya itu. Nilam hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar melihatnya. Penyanyi idolanya itu terlihat sangat berbeda dari bayangannya selama ini.

“Jadi begitu, Lam…mas Raja minta aku datang untuk kasih kejutan di hari ulang tahunmu…” Armando menuntaskan laporannya. “By the way, kamu ada rencana apa sama mas Raja untuk merayakannya?” tanyanya lagi sambil mengoleskan lipbalm yang baru dikeluarkannya dari saku celana.

Dalam hati Nilam memaafkan Raja karena sudah melupakan hari ulang tahunnya hari itu. Dan akan memaafkan Raja untuk melupakan hari ulang tahunnya di tahun-tahun mendatang. Asalkan Raja tidak berpikir untuk mengirim artis ini lagi ke rumahnya. Benar-benar merusak image yang sudah terbentuk di kepalanya selama ini.

Nilam tidak menjawab pertanyaan Armando. Dia segera berdiri dan mengajak Armando keluar rumah.

“Tolong antar aku ke kantor suamiku!” katanya sambil tersenyum.

“Ow, romantis sekali!” Armando memekik dengan suara melengking yang belum pernah didengar Nilam selama ini.

Comments (4)
 
Start Prev 1 23 4 5 6 7 8 9 10 Next End

Page 3 of 38

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top