• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Cerpen

Hujan yang Mengetuk Jendela [1]

15 December 2010   Addina Faizati
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 1
PoorBest 

Wah. Hujan. Ya. Hari ini hujan. Dan hujan turun tetes demi tetes. Rintik demi rintik secara berkala. Pelan-pelan. Tapi runtut berurutan tidak saling berebutan. Menimbulkan suara rintik di atas genting. Tik-tik-tik.

Ah, aku jadi ingat lagu yang sering aku nyanyikan pada zamanku kanak-kanak. Waktu itu, rasanya lagu-lagu seperti itu menjadi hits populer di kalangan kami, anak taman kanak-kanak. Entahlah dengan anak zaman sekarang, sudah berganti dengan lagu-lagu Peterpan, mungkin?

Aku menatap tetes-tetes air hujan yang mengetuk pelan melalui jendela kamarku. Di lantai dua. Aku selalu suka menatap rintik hujan seperti ini. Menikmati tiap jeda ketukannya dan bagaimana bulirnya menetesi jendela kamarku. Terlebih lagi, kamarku ini berada di lantai dua. Bukankah menjadi semakin dekat dengan hujan?

Aku melirik jam dinding berwarna ungu di kamarku.

15.13

Ah, dia sudah terlambat tiga belas menit. Gumamku. Sambil terus menerus memastikan bahwa handphone di genggaman tanganku tidak menimbulkan getar atau dering ataupun menampilkan layar message received atau missed call.

Hari ini, dia, seseorang yang entah bagaimana aku harus menjelaskan kepada kalian siapa dia bagi hidupku. Well, karena sungguh sulit menemukan kosakata yang pas untuk menggambarkannya. Dia seperti seorang kakak laki-laki baik hati yang selalu melindungi adik perempuan kecilnya dari berbagai macam hal buruk. Tapi dia juga seperti seorang pacar yang romantis dan kerap melontarkan kalimat-kalimat gombal.

Entahlah. Yang jelas aku menantinya sekarang.

Dia berjanji kepadaku akan datang menjemputku pada pukul 15.00. Dia bilang dia ingin mengajakku nonton lalu makan malam bersama.

Ketika dia menanyaiku: “Kira-kira mau nonton apa?”

Aku cuma terdiam. Memangnya aku mau menonton apa? Aku juga tidak tahu. Rasanya semua film akan menjadi sama bagusnya kalau aku menonton dengannya. Lalu pada akhirnya aku hanya mengangkat bahuku dan menggelengkan kepala.

“Ya sudah, besok kita mau ngapain dipikir nanti aja, ya,” lanjutnya sambil tersenyum.

Baguslah. Karena sejujurnya, aku lebih suka berbincang dengannya di rumah saja, sambil menonton hujan.

Tapi aneh. Dia sudah terlambat lima belas menit dari waktu yang ia janjikan. Ah, aku tahu. Pasti dia malas menyetir dalam keadaan hujan seperti ini. Atau mungkin dia takut swiftnya akan kotor terkena lumpur? Entahlah. Aku juga kurang tahu.

Yang jelas aku sudah menunggunya di sini. Di tepi jendela kamar ini. Terduduk termangu mengenakan skinny jins dan kaos berwarna putih kesukaanku. Aku kembali melihat layar hpku. Aku sudah menunggunya sejak tiga puluh menit yang lalu. Mengenakan yang terbaik yang aku bisa dan aku suka. Lalu mencoba tetap tenang sampai dia datang.

Sayangnya, dia masih belum datang.

Tik tik tik.

Hujan masih mengetuk-ngetuk jendela kamarku.

Ah, aku jadi ingin sekali ke beranda. Melihat hujan lebih dekat lagi. dan merasakan rintik-rintiknya. Tapi aku takut nanti bajuku basah atau wajahku jadi kumal dan berminyak. Aku tidak mau. Karena aku kan akan bertemu dengannya. Yang seharusnya terjadi lima belas menit yang lalu.

Tik tik tik.

Hujan masih saja merintik.

Aku gemas. Sekarang sudah pukul 15.25. Ah, dia sudah terlambat terlalu lama. Apa dia membatalkan janjinya karena hujan? Lalu, kenapa dia tidak menelepon atau sms seperti janjinya?

“Aku akan menelepon atau meng-sms-mu kalau ada apa-apa.” ujarnya sambil mengacungkan E65nya ke arahku. Lalu tersenyum dan menghilang di balik swift. Di balik jalanan perumahan ini. Kemarin, setelah dia membuat janji denganku.

Comments (5)
 

Dara Putriku [2]

08 December 2010   Ami Rahmiana Utami
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 1
PoorBest 

Jarak di antara kita semakin membentang. Jika aku melihat seorang ibu dan seorang putrinya berjalan bergandengan, aku begitu iri. Kenapa aku tak pernah bisa menggandengmu, Nak? Bahkan untuk sekadar menyapamu lembut saja aku kelu. Kamu bisa begitu nyaman di samping orang lain. Kamu bisa begitu saja mencurahkan perasaanmu pada orang lain. Tapi pada ibumu sendiri, kamu menganggapku musuh. Oh Tuhan, apa yang telah ibu lakukan padamu, Nak?!

 

Ibumu ini terlalu egois. Ibumu ini terlalu menuntut sesuatu yang berlebihan padamu. Oh Nak, maafkanlah ibumu ini. Aku terbuang oleh nasib yang membenciku. Hingga kubertanya setiap malam, akankah kamu mau memaafkan ibumu ini?

 

Dara, putriku….

 

Sejak ibu tahu dari teman kosmu, kamu mengidap penyakit ganas itu. Ibu selalu ingin memelukmu, menciummu, memberimu segenap cintaku. Ibu baru tahu kamu mengidap kanker otak. Oh putriku, kenapa kamu menyembunyikan ini dariku? Aku tahu kamu pasti akan berkata karena aku tak pernah sedikitpun peduli padamu. Lalu mengapa kamu tak memberitahu ayah sayang?

 

Oh Daraku…

 

Apakah ini cinta atau sesal? Apakah ini damba atau pengampunan? Aku sangat merindukanmu sayang… Atas jarak di antara kita.

 

Dara sayang, bagiku kamu nyata karena kamu ada. Bagimu aku nyata tapi tak pernah ada. Putriku, cukuplah ingat aku ini ibumu. Sejahat apapun, aku ini tetap ibumu. Meski kita takkan pernah bisa bersisian. Meski aku tak pernah bisa mengungkapkan perasaanku sesungguhnya padamu. Sayang, hanya secuil harapan yang aku minta, izinkan aku untuk terus menjadi ibumu. Berikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu di sisa hidupmu kini. Dan kini aku terlambat. Kamu telah meninggalkanku untuk selamanya-lamanya.

Dara putriku…

 

Ibu amat merindukanmu. Apakah kamu pun merindukan ibumu di surga? Yang bisa ibu lakukan sekarang hanyalah menyesal dan terus menyesal. Oh sayang, seandainya waktu itu bisa kuputar kembali. Sayangnya, waktu tak bisa kuputar kembali.

 

Dara sayang, kunjungi ibu sekali-kali di rumah sakit ini ya?! Ibu banyak dikelilingi orang aneh disini. Ayahmu sudah lama tak menjumpai ibu. Ibu takut nak… Datanglah putriku… Ibu sayang padamu.

 

 

Ibumu.

Comments (1)
 
More Articles...
  • Dara Putriku [1]
  • Cemburu Mita [2]
  • Cemburu Mita [1]
  • Bukan Dongeng [2]
Start Prev 1112 13 14 15 16 17 18 19 Next End

Page 12 of 19

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top