Wah. Hujan. Ya. Hari ini hujan. Dan hujan turun tetes demi tetes. Rintik demi rintik secara berkala. Pelan-pelan. Tapi runtut berurutan tidak saling berebutan. Menimbulkan suara rintik di atas genting. Tik-tik-tik.
Ah, aku jadi ingat lagu yang sering aku nyanyikan pada zamanku kanak-kanak. Waktu itu, rasanya lagu-lagu seperti itu menjadi hits populer di kalangan kami, anak taman kanak-kanak. Entahlah dengan anak zaman sekarang, sudah berganti dengan lagu-lagu Peterpan, mungkin?
Aku menatap tetes-tetes air hujan yang mengetuk pelan melalui jendela kamarku. Di lantai dua. Aku selalu suka menatap rintik hujan seperti ini. Menikmati tiap jeda ketukannya dan bagaimana bulirnya menetesi jendela kamarku. Terlebih lagi, kamarku ini berada di lantai dua. Bukankah menjadi semakin dekat dengan hujan?
Aku melirik jam dinding berwarna ungu di kamarku.
15.13
Ah, dia sudah terlambat tiga belas menit. Gumamku. Sambil terus menerus memastikan bahwa handphone di genggaman tanganku tidak menimbulkan getar atau dering ataupun menampilkan layar message received atau missed call.
Hari ini, dia, seseorang yang entah bagaimana aku harus menjelaskan kepada kalian siapa dia bagi hidupku. Well, karena sungguh sulit menemukan kosakata yang pas untuk menggambarkannya. Dia seperti seorang kakak laki-laki baik hati yang selalu melindungi adik perempuan kecilnya dari berbagai macam hal buruk. Tapi dia juga seperti seorang pacar yang romantis dan kerap melontarkan kalimat-kalimat gombal.
Entahlah. Yang jelas aku menantinya sekarang.
Dia berjanji kepadaku akan datang menjemputku pada pukul 15.00. Dia bilang dia ingin mengajakku nonton lalu makan malam bersama.
Ketika dia menanyaiku: “Kira-kira mau nonton apa?”
Aku cuma terdiam. Memangnya aku mau menonton apa? Aku juga tidak tahu. Rasanya semua film akan menjadi sama bagusnya kalau aku menonton dengannya. Lalu pada akhirnya aku hanya mengangkat bahuku dan menggelengkan kepala.
“Ya sudah, besok kita mau ngapain dipikir nanti aja, ya,” lanjutnya sambil tersenyum.
Baguslah. Karena sejujurnya, aku lebih suka berbincang dengannya di rumah saja, sambil menonton hujan.
Tapi aneh. Dia sudah terlambat lima belas menit dari waktu yang ia janjikan. Ah, aku tahu. Pasti dia malas menyetir dalam keadaan hujan seperti ini. Atau mungkin dia takut swiftnya akan kotor terkena lumpur? Entahlah. Aku juga kurang tahu.
Yang jelas aku sudah menunggunya di sini. Di tepi jendela kamar ini. Terduduk termangu mengenakan skinny jins dan kaos berwarna putih kesukaanku. Aku kembali melihat layar hpku. Aku sudah menunggunya sejak tiga puluh menit yang lalu. Mengenakan yang terbaik yang aku bisa dan aku suka. Lalu mencoba tetap tenang sampai dia datang.
Sayangnya, dia masih belum datang.
Tik tik tik.
Hujan masih mengetuk-ngetuk jendela kamarku.
Ah, aku jadi ingin sekali ke beranda. Melihat hujan lebih dekat lagi. dan merasakan rintik-rintiknya. Tapi aku takut nanti bajuku basah atau wajahku jadi kumal dan berminyak. Aku tidak mau. Karena aku kan akan bertemu dengannya. Yang seharusnya terjadi lima belas menit yang lalu.
Tik tik tik.
Hujan masih saja merintik.
Aku gemas. Sekarang sudah pukul 15.25. Ah, dia sudah terlambat terlalu lama. Apa dia membatalkan janjinya karena hujan? Lalu, kenapa dia tidak menelepon atau sms seperti janjinya?
“Aku akan menelepon atau meng-sms-mu kalau ada apa-apa.” ujarnya sambil mengacungkan E65nya ke arahku. Lalu tersenyum dan menghilang di balik swift. Di balik jalanan perumahan ini. Kemarin, setelah dia membuat janji denganku.



-
