• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Hadiah Natal Terakhir

30 November 2011   hashella kostan
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 8
PoorBest 
Kotak musik itu, entah mengapa paling menarik perhatianku dari semua barang di kamarnya. Bentuknya hanya kotak dengan ornamen kereta rusa santa.Lagunya, Amazing Grace, juga bukan favoritku saat natal.

“Kotak musikmu lucu ya ?”kataku berbasa-basi padanya.Ia tersenyum pahit,”sebenarnya ini punya kakakku.”

---

23 Desember 2004.Malam itu lagi-lagi untuk ketiga kalinya dalam dua minggu terakhir,kakakku pulang dalam keadaan mabuk.Christian yang membawanya pulang dan membawanya ke kamar.Waktu itu salju sedang turun.

“Kakakmu ada masalah apa lagi?” tanya kak Christian.

“Apanya?” aku balas bertanya. Christian duduk di seberangku, terlihat cemas.

“Pemilik bar tadi meneleponku dan bilang, bahwa kakakmu mabuk lagi. Jadi,aku menjemputnya. Lalu kakakmu mulai ngomong sesuatu yang aneh padaku,” jelasnya.

Aku mematikan televisi dan mengambil biskuit dari dalam toples.”Apa katanya?”

“Ia bilang ia ingin putus denganku dan aku harus jauh-jauh dari dia,” jawabnya.

 Aku bingung harus geli, terkejut, prihatin atau apa, kadang-kadang aku tak begitu mengerti dengan masalah hubungan laki-laki dan perempuan seperti yang kakakku dan Christian jalani.

“Mungkin kakak tahu siapa pacar keduamu,” godaku.

“Aku tidak sedang bercanda, lagipula ia bilang sesuatu yang lain tentang dirimu, ia bilang kau harus benci padanya.I a juga menyuruhku membawamu ke rumah ibumu.”

Aku mengambil biskuit kedua dan menawarkannya, tapi ia kelihatannya tidak bernapsu untuk makan.

”Kakak pasti mabuk berat kalau begitu,” aku menyimpulkan.

“Ia memang kelihatannya mabuk berat. ”Ia bersandar pada kursinya.

”Memangnya kau tidak khawatir ?”

“Kakak juga dulu sering mabuk-mabukan sebelum kalian dekat, lagipula ia memang membenciku, jadi aku tak masalah,”j awabku santai.

”Kakakmu tidak membencimu,kok,” katanya.

Aku tidak menjawab. Christian sekali lagi masuk ke kamar kakak, sebelum pamit pulang.

“Jean?”panggilnya lagi,”ingatkan kakakmu ya, besok aku akan menjemput kakakmu ke dokter.”

Aku Cuma mengangguk. Dokter lagi, pikirku.

---

“Jeanette! Jean! bangun bodoh,” suara kakak tiriku membangunkanku. Aku menyisir rambutku dengan tangan, lalu turun dari ranjang.

”Ya ya aku bangun,” kataku.

Kakakku sudah berpakaian lengkap saat aku keluar kamar. Jaket kulit dan celana panjang seperti biasanya.

”Mau kemana?” tanyaku.

“Bukan urusanmu,” jawabnya galak.

“Oh.” Aku mengambil sepotong roti isi dari meja,  ”Omong-omong Christian akan menjemputmu ke dokter pagi ini.”

Wajahnya melunak.”Kalau ia datang bilang aku sudah pergi, lagipula aku sudah ke dokter kemarin.”

Aku menggigit rotiku. Selai kacang dan jelly. “jeanette,  tolong juga kemasi barang-barangmu,” katanya lagi,  ”nanti sore aku akan mengantarmu ke ibumu.”

Aku tersedak susu yang kuminum, mengotori meja kayu di hadapanku. “Apa ?”

“Aku bilang, aku akan mengantarmu ke rumah ibumu nanti sore,” ulangnya.

Aku tak mau, ”bentakku,” aku tak akan ke rumah ibu, aku akan tetap disini dan tak ada yang bisa memaksaku.”

“Aku tidak memaksa,” katanya cuek. Ia mengikat syal putih di lehernya, sepasang sarung tangan dijepit di siku tangannya. “Kau tidak harus ke rumah ibumu, karena teknisnya aku cuma ingin kau pergi dari rumah ini.” Pintu terbanting di belakangku sebelum aku sempat menjawab. Aku cuma diam, tak tahu harus berbuat apa. Ujung hidungku terbakar. Aku diusir, bagaimana ini ?

---

24 Desember, malam. Aku duduk di atas koper. Pasrah menunggu kakakku, siap diantar ke rumah ibuku atau diusir kapan saja. Mataku bengkak, lelah karena terlalu banyak menangis. Aku menggenggam sebuah telepon selular dengan pesan yang tidak terkirim untuk Christian, isinya hanya dua kata: ”Pacarmu Gila.”

Angin malam yang beku menerobos masuk lewat sela-sela jendela tua yang sudah reyot. Lihat sisi baiknya, pikirku. Aku tidak perlu tinggal di rumah jelek ini, aku bisa tinggal di penthouse ibuku yang bersih dan mewah. Siapa juga yang mau tinggal disini ?

Telepon genggamku bergetar beberapa saat kemudian. Christian. Temui aku di rumah sakit,bawa obat kakakmu. Hanya itu isi pesannya, tapi entah mengapa aku punya firasat, bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada kakakku.

Lima belas menit kemudian aku sudah sampai di rumah sakit. Kamar nomor 183. Christian duduk di sisi ranjang memegangi tangan kakakku yang tertidur. Ya, ia Cuma tidur,  aku meyakinkan diriku.

“Kak,” panggilku. Christian berbalik, matanya terlihat lelah.

“Maaf Jean,” jawabnya, ”ia koma.”

“Tapi bagaimana?” tanyaku.

“Ia demam sejak kemarin, lagi ia terserang tipus.”

“Kakak tidak bilang!”

“Maaf,sekali lagi maaf,” katanya.

Aku terduduk di lantai,bersandar di tembok. ”Apa kata dokter ?”

“Mereka Cuma bilang kita harus banyak berdoa.”

---

Ini cerita dari nenekku :

“Albrecht, anakku, menyukai seorang gadis bernama Lila. Pada akhirnya, mereka berdua menikah. Mereka berdua dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Alice. Selama satu setengah tahun,Albrecht dan Lila hidup bahagia, hingga suatu hari diketahui, bahwa Lila mengidap HIV yang dicurigai didapatnya dari transfusi darah. Malangnya, Alice juga terjangkit penyakit serupa. Tapi, untungnya Albrecht selamat. Lila meninggal saat Alice menginjak usia empat tahun karena maag. Dua tahun kemudian, Albrecht menikahi ibumu Dianne yang dikenalnya saat pekerjaan dinas. Mereka menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan, yaitu kamu. Sisa ceritanya, kau tahu sendiri.”

Aku dan Alice menjadi cepat dekat, tapi ibuku Dianne tak suka aku berteman dengan seorang pengidap HIV. Ibuku tidak menunjukan sikap tersebut pada Alice secara terang-terangan, hingga ayahku meninggal. Aku disuruh memilih antara tinggal dengan Alice atau ibuku, entah mengapa aku memilih Alice.

---

25 Desember. Aku sudah ada di sofa saat aku bangun. Seseorang pasti sudah memindahkanku dari lantai ke atas dan menyelimutiku. Aku bangun dan menghampiri kakakkku Alice yang masih ‘tertidur pulas’.

“Aku bawa teh dan roti untukmu,” kata Christian yang tiba-tiba saja sudah muncul di depan pintu. Ia meletakkan sarapanku di atas meja. ”Selamat natal omong-omong,” katanya kemudian.

Aku mengangkat sebelah alisku,”kau masih bisa merayakan natal saat pacarmu koma ya?” Christian menyentuhkan tangannya ke kepala Alice,”dia sudah siuman kok tadi pagi, sekarang dia sedang tidur. Aku membuang napas merasa lega. Setidaknya, ini bisa disebut kemajuan.

“Jean, makanlah sarapanmu lalu pulanglah sebentar. Mandi, kemasi bajumu, lalu baru kemari lagi, aku yang akan menjaga kakakmu,” kata christian. Aku mengangguk,baiklah kalau kau tidak keberatan, aku akan pulang sebentar.”

---

Kota jadi ramai saat natal. Beberapa rumah makan jadi penuh sesak.Tahun lalu, Aku, Alice, dan Christian merayakan natal bersama. Saling bertukar kado dan makan-makan. Hal yang mustahil dilakukan pada natal tahun ini. Tapi egoku bilang,  tepat atau tidak tepat waktunya,aku harus merayakan natal juga tahun ini. Berlawanan memang dengan kata-kataku tadi pagi saat mengejek Christian. Itu mengapa aku pergi dulu ke kota sebelum kembali ke rumah sakit. Aku ingin membelikan keduanya hadiah natal.

Aku membelikan Christian sepasang sarung tangan. Namun aku masih belum tahu hadiah apa yang kira-kira cocok untuk kakakku, sampai aku masuk ke sebuah toko. Kotak musik berhias ornamen kereta rusa santa terpajang di salah satu rak kaca.  Lagunya cukup familiar, aku tak tahu apa, tapi kukira ini cocok, jadi aku membelinya untuk kakakku.

---

Kakakku benar-benar dalam keadaan sadar saat aku kembali. Ia tersenyum lemah padaku. Aku mendekat dan berdiri di samping Christian. Bingkisan berisi kotak musik tersebut tersembunyi di balik punggungku.

”selamat natal,” kataku sambil menyerahkan bingkisan kecil tadi. Baik Christian, maupun kakakku nampak terkejut, namun kakakku hanya menerimanya sambil memberiku ucapan selamat natal. Lalu aku menyerahkan kado milik Christian.

Butuh lima menit bagi kakak untuk membuka bingkisanku, ia tersenyum senang saat kotak musik tadi mulai berbunyi lembut saat diputar. Ia bilang ia menyukainya.

Sepanjang hari itu, ia sama sekali tidak melepaskan kotak musik itu dari genggamannya, membunyikannya sesekali dan bersenandung mengikuti nadanya.

25 Desember malam. Senandung itu terhenti dan kotak musik tadi tidak lagi ia pegang, melainkan hanya tergeletak di atas tubuhnya. Christian yang pertama kali menyadari, bahwa ada sesuatu yang salah. Lalu dokter mulai berdatangan. Aku ditarik Christian keluar kamar. Kami berdua cuma duduk, hingga pukul 10 malam. Alice resmi meninggalkan dunia, menyusul Albrecht dan Lila. Saat itu aku kira kakak hanya tidur. Aku memukul-mukul tangan kakakku dan menyuruhnya bangun. Christian yang menghentikanku.

“Kakak bangun, kakak mau mengusirku dari rumah, ingat?” bisikku tak percaya. Christian cuma memegang tanganku dan untuk pertama kalinya, aku melihatnya menangis.

Kotak musik tadi tergeletak di lantai tepat di bawah ranjang kakak saat itu. Aku mengambilnya dan menyimpannya sampai sekarang. Kadang aku masih ingat kata Christian di pemakaman kakakku. Ia bilang saat kakakku mau mengusirku, itu bukan karena kakakku tak sayang padaku, tapi karena kakakku ingin aku membencinya, karena ia tahu waktunya sudah dekat dan ia tak ingin kematiannya menjadi beban untukku.

Ma, lihat kan apa yang seorang penderita HIV telah lakukan untukku? Apa mama masih tega memisahkan kami?

- Tamat -

Comments (9)
 

Coklatnya Magenta [2]

23 November 2011   Juwita Purnamasari
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 2
PoorBest 

Hanya hitungan minggu setelah tanggal satu itu. Ninta menerima pernyataan cinta Bara yang bertepatan dengan tanggal 14. Saat tanggal 13 setahun lalu Bara mengajakku muter-muter mall hampir tiga jam lamanya, cuma untuk sebuah boneka pink besar dan dua kotak coklat besar berbentuk hati. Untuk Ninta. Padahal awalnya aku pernah mengira itu untukku, selama ini Bara selalu memberi kotak coklat untukku di tanggal 14, dan aku selalu senang menunggu-nunggu tanggal itu. Bukan karena valentine tapi kerena coklatnya Bara. Tapi mungkin mulai saat ini tak ada lagi coklat untuk Magenta. Ya, Bara sepertinya lupa memberi coklat untuk seorang gadis di sebelah rumahnya, yang semalaman menunggunya mengetuk pintu dan membawakannya sekotak coklat.

Dia lupa… dan dia tak tau gadis itu mulai menangis sendirian di kamarnya.

 

B4R4… calling…

Nama Bara tertera di layar handphone. Jam 11.50 malam sepuluh menit lagi valentine selesai, akan masuk ke tanggal 15 Februari.

“Hallo?”

“Ta…! Hoi… gue diterima!! Makasiih banget ya mak comblang! Gue seneeeeng banget jadian sama Ninta!” Bara berapi-api. Aku menciut memeluk bantal kuat-kuat agar tangisku tak meledak saat itu juga.

“Wah…, selamat ya Bara…,” kataku tergetar, suaraku parau. Tapi Bara sepertinya gak dengar, dia sibuk teriak-teriak di ujung telepon sana. “Selamat hari kasih sayang…,” kataku pelan, masih belum telat kan belum tepat tanggal 15 masih tanggal 14, tapi rasanya Bara gak dengar.

Aku hanya bergumam di sela teriakannya.

Itu setahun yang lalu, mungkin tahun ini malah akan lebih buruk. Bahkan untuk menelpon pun Bara tak lagi punya waktu. Dan aku masih setia menunggu benda mungil di sampingku berdering sampai akhirnya tanggal 14 pun selesai. Tak ada ucapan apa-apa tanggal 14 februari kali ini.

 

___OoO___

 

“Ninta suka coklatnya?” aku duduk di teras rumah, Bara duduk di sampingku sambil menikmati sirup mangga kesukaannya.

Bara mengangguk, “thanks ya udah nemenin gue nyari coklatnya.”

“Biasanya juga gitu kan?” aku tak berani menatap wajah Bara.

Aku jahat! Harusnya aku senang Bara bisa bahagia dengan orang yang dia suka. Tapi hatiku malah gak rela dan kesal begini. Mungkin aku akan lebih senang jika Bara ditolak Ninta atau Ninta ngambek karena gak suka coklatnya. Aku jahat…!

“Eh, bentar ya Ta,” Bara bangun dan menuju sepedanya di halaman rumahku. Tak lama kembali lagi dengan tas ransel hitamnya.

“Apaan?” kataku menunjuk tasnya.

“Ihihi… gak, eh tanggal berapa sekarang?”

“lima belas,” aku pura-pura melirik arloji digitalku. Padahal aku hapal betul ini tanggal berapa. Valentine lewat satu hari. Tadi malam Bara sampai gak sempat bilang happy valentine atau apa pun, gak seperti tahun-tahun lalu, sebelum dia mengenal Ninta. Apa lagi untuk sekotak coklat, gak akan ada lagi hadiah dari Bara untukku.

“Nih,” Bara menyodorkan sesuatu. Sebuah kotak gak terlalu besar dengan warna magenta.

“Eh, apaan?”

“Buat lo. Sori ya Valentinenya lewatan sehari.” Bara menyinggungkan senyumnya. Ah, apa masih boleh senyum itu jadi milikku saja. Walau pun gak bisa milikin Bara jadi pacar aku, tapi aku masih boleh kan kapan aja mau lihat senyumnya itu tanpa harus izin sama Ninta.

“Bu… buat gue?”

Bara mengangguk yakin. Dan aku yang jadinya gak yakin, “Tapi…”

“Buka dulu deh baru pake tapi,” senyum Bara makin lebar.

“Makasih,” aku mengambilnya dan menyimpannya di sampingku duduk.

“Buka?”

“Sekarang?”

“Iya lah,” Bara mengambil kotaknya dan menaruhnya di pangkuanku, “gue kan mau liat lo suka apa gak?”

“Gue pasti suka. Apaan aja yang lo kasih.” Eh…, keceplosan aku…, aduuuh…, aku menggigit bibir bawahku pelan.

“Ya, gue tau, Magenta.” Gak tau kenapa suara Bara saat itu terdengat hangat dan manis. Aku pun membuka kotak berpita dan berbungkus kertas warna magenta itu.

“Coklat? Ini kan coklat magenta yang di mall waktu itu?” aku terpekik antara senang dan bingung. Kenapa Bara gak ngasiin ini ke Ninta. Ah, bukan itu yang penting. Aku gak peduli, gak terlalu peduli lagi. Yang penting coklat berkotak magenta ini jadi punyaku sekarang. Ternyata Tuhan selalu dengar doa-doa kita yah, hanya caranya mengabulkan kadang jadi kejutan.

“Iya, masa dua kali valentine absen ngasih kado lo sih? Apa kata langit nanti?”

“Ah emang absen kan, sekarang kan tanggal 15 bukan 14 valentine itu. Udah basi valentine-nya?” Aku sok-sok ngambek tapi senang. Buatku gak ada bedanya 14, 15 atau 13 sekalipun yang penting dan yang selalu aku tunggu cuma coklatnya Bara, coklat untukku. Buatku valentine adalah hari saat Bara ngasih coklat padaku dan gak mesti tanggal 14 Februari. Kapan aja boleh. Hm…, setiap hari kalau perlu J

“Lo tau kenapa warna bungkus kadonya sama kotak coklatnya gue pilihin magenta?”

“Ya, karena nama gue kan?”

“Yee ge-er, bukan! Tapi karena warna langit kesukaan kita sama, magenta.”

“Apa?”

Warna langit kesukaan kita sama… magenta… kalimat itu menggema di langit, seolah ada beberapa malaikat cinta tampak mengirim senyumnya padaku dari atas langit sana. Dan saat itu langit seolah ikutan senyum melihat salah satu unsur warnanya sedang merona jingga di bawah langit. Warna langit sore 15 februari sangat cantik. Ya, warna kesukaan kami… magenta…

Aku tau… seperti langit, warna hati selalu berubah-ubah, tapi perasaan… cinta… dia punya warna-warninya sendiri.

 

- Tamat -

Comments (5)
 

Coklatnya Magenta [1]

16 November 2011   Juwita Purnamasari
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 2
PoorBest 

Syeeeebeeel… bener yah kata pepatah nyesel itu mesti deh belakangan datengnya. Ya iyalah coba kalo duluan gak ada deh orang di dunia ini yang bakalan punya rasa mumet, galau sampai mau bunuh diri, mungkin. Ini lah yang sedang aku alami sekarang.

Kurang satu hari lagi genap dengan tanggal sakral itu.

Kau tau, 14 Februari!

Yayaya… bukan! Bukan aku suka merayakan hari-hari yang tampaknya kurang jelas sejarahnya itu, Valentine. Bukan juga karena aku melaknat atau sebagainya. Setiap orang punya pemikiran masing-masing kan?

Awalnya aku pun tidak terlalu peduli dengan angka 14 atau 30 sekalipun di bulan Februari (kalau pun ada, tapi pun gak ada kan).

Yah, aku bukan orang yang jatuh cinta pada tanggalan atau angka-angka. Tapi semenjak setahun lalu angka 14 di bulan yang kata orang penuh cinta itu berubah jadi sangat sakral. Khusunya di tahun ini.

Bukan karena aku mau merayakan hari besar masyarakat Roma, atau hari pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera, atau malah merayakan hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Cerita cinta atau sejarah cerita yang terlalu banyak versi lainnya yang berhubungan dengan hari ‘kasih sayang’ itu.

Entah… nanti juga kau tau kenapa aku anggap ini tanggal sakral. Antara indah dan petaka, setidaknya sampai hari ini.

“Ta, udah siap?” Bara dengan jaket hitam menutupi kaos abu-abu di dalamnya sudah berdiri di depan pintu rumahku. Setelah beberapa kali dia mengetuk pintu rumah tadi.

“He-eh, gue lupa Ra, gue salin baju dulu ya?” aku menunjukan kaos oblong kegedean yang hampir menutupi celana pendekku. “tunggu di dalem aja, masuk.” Aku membuka pintu agak lebih lebar dan menyampingkan tubuhku membiarkan Bara masuk.

Dia tampak tampan hari ini. Harusnya dia pakai baju merah atau merah muda, kan valentine. Oiyaya, kan baru tanggal 13, mungkin ini bukan white day atau valentine day tapi black day. Entah rasanya aku juga ingin pakai baju warna hitam saat ini.

Tak langsung menuju kamar, aku melesat sebentar ke dapur dan kembali sambil membawa segelas sirup mangga kesukaan Bara, “sepuluh menit ya?” kataku sambil senyum dan langsung balik badan menuju kamarku di lantai dua.

Ahh… padahal sudah berdoa tujuh hari tujuh malam agar tak kan ada tanggal 14 atau 13 Februari atau kalau bisa tidak akan ada bulan Februari. Tapi ya, doa mustahil, Tuhan pun pasti aneh mendengar doaku ini. Mana bisa, bodoh!

___OoO___

 

Sudah kuduga isi mall penuh dengan warna pink dan ungu. Untung saja namaku bukan pink, merah atau ungu. Bisa tambah saja kepedihanku hari ini.

Ah, terimakasih Papa, kau memberi namaku Magenta saja, walau pun kadang aku masih aneh kenapa harus memberi anaknya nama salah satu unsur warna langit. Kenapa gak bunga atau cinta? Rasanya lebih enak di telinga.

“Ta kita ke tempat coklat dulu ya?”

Aku hanya mengangguk malas. Mataku berputar tanpa diperintah mengamati tiap sudut mall yang ramai dan warnanya sangat ‘ngejreng’ ini. Banyakan mereka berpasangan, bergandengan dan berwarna baju sama. Aku dan Bara juga, tapi bukan pink, merah atau ungu, tapi hitam. Mungkin hampir-hampir sama dengan warna hatiku kali ini, bukan hitam, tapi abu-abu gelap.

Bara menarik lembut tanganku menuju sebuah rak yang tersusun cantik kotak-kotak coklat di sana membentuk hati besar. Cantik. Bara mengambil sebuah kotak coklat transparan, di dalamnya ada coklat dengan warna putih dan merah muda berbentuk puzzle hati. Manis, pasti seperti rasanya.

“Bagus gak, Ta?”

Aku menggaguk dan berusaha keras untuk tersenyum semanis mungkin.

“Ninta bakal suka gak yah?”

“Mana aku tau,” kataku beralih ke kotak coklat warna magenta. Eh… kok ada kotak coklat nyasar warna jingga-jingga merah gini? Sejak kapan valentine punya koleksi warna baru, magenta? Tapi gak bisa bohong kotak coklat itu tampak lebih cantik dimataku. Dalamnya  ada beberapa potong coklat bentuk hati kecil-kecil warna-warni. Merah, biru, kuning, pink, ungu dan magenta.

“Eh, coklatnya ada yang warna magenta?” Bara langsung merebut kotak coklat manis itu dari tangaku.

Euh… aku mengeluh dalam hati.

“Yang puzzle tadi juga bagus buat Ninta. Dia pasti suka. Lagian harganya mahalan yang puzzle, yang itu sih jelek. Biasa banget bentuknya.” Cuma aku suka lihat coklat yang warnanya magenta. Baraa… aku gak rela kalau coklat yang magenta itu kamu kasiin ke Ninta. Aku cepat-cepat menelan ludah saat tahu, pikiran apa yang barusan mampir tanpa diundang.

“Gue ambil yang ini ah,” Bara memasukan si coklat berkotak magenta itu ke keranjang belanjaan di tanganku.

“Eh… tapi… yang puzzle aja Ra!”

“Gak ah.”

___OoO___

 

Beruntung banget kan Ninta dapet coklat berkotak magenta itu. Coklat warna magenta, mungkin rasanya akan sama seperti coklat biasanya tapi entah kenapa, mendadak hari ini aku suka warna magenta, aku suka namaku.

1 Februari yang lalu, Bara tiba-tiba memintaku untuk nyomblangin dia sama Ninta teman sekelasku di SMA. Bara sahabatku yang kebetulan juga tetanggaku dan… gebetanku selama kami kenal. Mungkin sekitar setahun lebih aku mulai menyukainya. Sayang kami gak pernah dapat kesempatan satu kelas di SMA tapi kami sering main bersama, mungkin karena kami tetanggaan.

Dan tanpa diundang perasaan itu datang begitu saja, ini kali yah yang disebuh cinta karena biasa. Tapi rasa-rasanya Bara gak pernah nyadar, karena aku pun gak pernah berusaha menunjukannya apa lagi mengatakannya.

Karena bodohnya, aku pernah yakin kalau perasaan gak mesti diungkapin tapi akan terasa dengan sendirinya. Ah, sekarang aku baru tau itu cuma statement bullshit! Gak tau… kepalaku serasa berputar jika memikirkan itu lagi.

Rasanya mirip tersambar petir di siang bolong, saat satu februari malam, setahun lalu itu.

“Ta, lo kenal deket ya sama Ninta?”

“Iya, kenapa?”

Saat itu udara sore sangat sejuk, langit pun berwarna kemerahan, magenta. Kami berdua bersepeda di taman kompleks seperti pada hari minggu-minggu biasanya. Menghabiskan sore menunggu magenta menjadi gelap baru pulang ke rumah masing-masing sambil bilang, “good night”. Tapi hari itu rasanya akan berbeda.

“Ninta cantik ya?”

Kami meminggirkan sepeda dan duduk-duduk santai di rumput hijau rapih taman kompleks ini. Aku di sebelah kiri Bara. Bara menatap langit yang makin menjingga.

“Hm… iya, banyak yang bilang gitu,” entah kenapa jantungku mendadak seperti punya pertanda kurang baik. Aku malas menanggapinya.

Biasanya saat duduk di taman minggu sore kita akan banyak membahas cerita tentang aku dan dia saja, tidak ada tokoh tambahan. Tapi sekarang ada Ninta, nama baru, dan bukan juga tokoh tambahan obrolan kami, tapi sepertinya dia jadi tokoh utamanya.

“Gue suka Ta, sama Ninta.” Kata Bara to the point! Aku merasa langit mendadak mendung, warna jingganya tertutup abu-abu pekat. Seperti warna dalam hatiku. Bedanya kalau Bara dapat melihat jelas warna langit di atas sana tapi tak bisa melihat warna langit yang juga berubah di bagian dalam sini, padahal Bara sangat dekat. Seharusnya kan dia juga merasakannya.

Harusnya aku teriak “Ninta?” dengan histeris. Tapi tidak. Kata-kata teriakan itu meledak hanya dalam ujung tenggorokanku. Mataku mendadak sembab, aku memalingkan wajah dan menatap barisan pohon cemara di ujung trotoar sana. Berharap awan abu-abunya cepat saja hujan. Ya, hujan! Hujan tanpa pelangi, sepertinya.

“Kok lo diem sih, Ta? Dia udah punya cowok ya?” Bara menyentuh punggungku.

Aku cepat-cepat menyusut air mata yang hampir menetes. Dan menatap Bara lagi, “Gak kok masih jomblo, kenapa suka ya?  Ng… mau lo gue kenalin sama Ninta? Atau gue comblangin sekalian?”

Ya Tuhaaaan…! Itulah kalimat paling buruk yang pernah aku sesali yang pernah keluar tanpa permisi dari mulutku! Aku benci mulutku!

Aku melirik jam tangan digital yang juga menunjukan tanggal hari ini, satu februari. Bara masih diam sambil menerawang memandang langit, dia masih belum sadar langit sorenya gak lagi magenta, tapi hampir gelap entah karena mau hujan atau hampir lewat sore.

“Comblangin?” suaranya pelan. Eh… harusnya dia juga histeris ya lalu mengguncang tubuhku atau memeluk atau apa pun sambil teriak makasiiiiih begitu? Tapi dia malah menarik bibirnya kecil menatapku. Aku sangat menyukai senyuman Bara. Tapi… sepertinya hanya tinggal hitungan minggu lagi dan senyum itu gak akan lagi bisa aku monopoli.

“Ya, gimana mau?”aku tersenyum penuh arti, dan gak Bara tau.

“Boleh, rejeki gak boleh ditolak kan Ta?”

Aku mengangguk pias, doaku gak dikabulkan Tuhan… iya kah?

Samar-samar gerimis kecil turun, langit mendadak sangat gelap.

“Yah gerimis Ta, sebelum gede ujannya yuk ngebut pulang?” Bara menarik tanganku dan mengambil sepeda kami masing-masing, sebelum kami naik sepeda masing-masing, “Thanks ya Ta, lo emang paling ngertiin gue.” Dia mengelus lembut poniku.

Ah, langit makin gelap kan? Dan gerimis sebentar lagi berubah hujan deras. Entah lah…

 

- Bersambung Coklatnya Magenta [1] -

Comments (2)
 
Start Prev 1 2 3 4 5 6 7 89 10 Next End

Page 9 of 38

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top