“Kotak musikmu lucu ya ?”kataku berbasa-basi padanya.Ia tersenyum pahit,”sebenarnya ini punya kakakku.”
---
23 Desember 2004.Malam itu lagi-lagi untuk ketiga kalinya dalam dua minggu terakhir,kakakku pulang dalam keadaan mabuk.Christian yang membawanya pulang dan membawanya ke kamar.Waktu itu salju sedang turun.
“Kakakmu ada masalah apa lagi?” tanya kak Christian.
“Apanya?” aku balas bertanya. Christian duduk di seberangku, terlihat cemas.
“Pemilik bar tadi meneleponku dan bilang, bahwa kakakmu mabuk lagi. Jadi,aku menjemputnya. Lalu kakakmu mulai ngomong sesuatu yang aneh padaku,” jelasnya.
Aku mematikan televisi dan mengambil biskuit dari dalam toples.”Apa katanya?”
“Ia bilang ia ingin putus denganku dan aku harus jauh-jauh dari dia,” jawabnya.
Aku bingung harus geli, terkejut, prihatin atau apa, kadang-kadang aku tak begitu mengerti dengan masalah hubungan laki-laki dan perempuan seperti yang kakakku dan Christian jalani.
“Mungkin kakak tahu siapa pacar keduamu,” godaku.
“Aku tidak sedang bercanda, lagipula ia bilang sesuatu yang lain tentang dirimu, ia bilang kau harus benci padanya.I a juga menyuruhku membawamu ke rumah ibumu.”
Aku mengambil biskuit kedua dan menawarkannya, tapi ia kelihatannya tidak bernapsu untuk makan.
”Kakak pasti mabuk berat kalau begitu,” aku menyimpulkan.
“Ia memang kelihatannya mabuk berat. ”Ia bersandar pada kursinya.
”Memangnya kau tidak khawatir ?”
“Kakak juga dulu sering mabuk-mabukan sebelum kalian dekat, lagipula ia memang membenciku, jadi aku tak masalah,”j awabku santai.
”Kakakmu tidak membencimu,kok,” katanya.
Aku tidak menjawab. Christian sekali lagi masuk ke kamar kakak, sebelum pamit pulang.
“Jean?”panggilnya lagi,”ingatkan kakakmu ya, besok aku akan menjemput kakakmu ke dokter.”
Aku Cuma mengangguk. Dokter lagi, pikirku.
---
“Jeanette! Jean! bangun bodoh,” suara kakak tiriku membangunkanku. Aku menyisir rambutku dengan tangan, lalu turun dari ranjang.
”Ya ya aku bangun,” kataku.
Kakakku sudah berpakaian lengkap saat aku keluar kamar. Jaket kulit dan celana panjang seperti biasanya.
”Mau kemana?” tanyaku.
“Bukan urusanmu,” jawabnya galak.
“Oh.” Aku mengambil sepotong roti isi dari meja, ”Omong-omong Christian akan menjemputmu ke dokter pagi ini.”
Wajahnya melunak.”Kalau ia datang bilang aku sudah pergi, lagipula aku sudah ke dokter kemarin.”
Aku menggigit rotiku. Selai kacang dan jelly. “jeanette, tolong juga kemasi barang-barangmu,” katanya lagi, ”nanti sore aku akan mengantarmu ke ibumu.”
Aku tersedak susu yang kuminum, mengotori meja kayu di hadapanku. “Apa ?”
“Aku bilang, aku akan mengantarmu ke rumah ibumu nanti sore,” ulangnya.
Aku tak mau, ”bentakku,” aku tak akan ke rumah ibu, aku akan tetap disini dan tak ada yang bisa memaksaku.”
“Aku tidak memaksa,” katanya cuek. Ia mengikat syal putih di lehernya, sepasang sarung tangan dijepit di siku tangannya. “Kau tidak harus ke rumah ibumu, karena teknisnya aku cuma ingin kau pergi dari rumah ini.” Pintu terbanting di belakangku sebelum aku sempat menjawab. Aku cuma diam, tak tahu harus berbuat apa. Ujung hidungku terbakar. Aku diusir, bagaimana ini ?
---
24 Desember, malam. Aku duduk di atas koper. Pasrah menunggu kakakku, siap diantar ke rumah ibuku atau diusir kapan saja. Mataku bengkak, lelah karena terlalu banyak menangis. Aku menggenggam sebuah telepon selular dengan pesan yang tidak terkirim untuk Christian, isinya hanya dua kata: ”Pacarmu Gila.”
Angin malam yang beku menerobos masuk lewat sela-sela jendela tua yang sudah reyot. Lihat sisi baiknya, pikirku. Aku tidak perlu tinggal di rumah jelek ini, aku bisa tinggal di penthouse ibuku yang bersih dan mewah. Siapa juga yang mau tinggal disini ?
Telepon genggamku bergetar beberapa saat kemudian. Christian. Temui aku di rumah sakit,bawa obat kakakmu. Hanya itu isi pesannya, tapi entah mengapa aku punya firasat, bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada kakakku.
Lima belas menit kemudian aku sudah sampai di rumah sakit. Kamar nomor 183. Christian duduk di sisi ranjang memegangi tangan kakakku yang tertidur. Ya, ia Cuma tidur, aku meyakinkan diriku.
“Kak,” panggilku. Christian berbalik, matanya terlihat lelah.
“Maaf Jean,” jawabnya, ”ia koma.”
“Tapi bagaimana?” tanyaku.
“Ia demam sejak kemarin, lagi ia terserang tipus.”
“Kakak tidak bilang!”
“Maaf,sekali lagi maaf,” katanya.
Aku terduduk di lantai,bersandar di tembok. ”Apa kata dokter ?”
“Mereka Cuma bilang kita harus banyak berdoa.”
---
Ini cerita dari nenekku :
“Albrecht, anakku, menyukai seorang gadis bernama Lila. Pada akhirnya, mereka berdua menikah. Mereka berdua dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Alice. Selama satu setengah tahun,Albrecht dan Lila hidup bahagia, hingga suatu hari diketahui, bahwa Lila mengidap HIV yang dicurigai didapatnya dari transfusi darah. Malangnya, Alice juga terjangkit penyakit serupa. Tapi, untungnya Albrecht selamat. Lila meninggal saat Alice menginjak usia empat tahun karena maag. Dua tahun kemudian, Albrecht menikahi ibumu Dianne yang dikenalnya saat pekerjaan dinas. Mereka menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan, yaitu kamu. Sisa ceritanya, kau tahu sendiri.”
Aku dan Alice menjadi cepat dekat, tapi ibuku Dianne tak suka aku berteman dengan seorang pengidap HIV. Ibuku tidak menunjukan sikap tersebut pada Alice secara terang-terangan, hingga ayahku meninggal. Aku disuruh memilih antara tinggal dengan Alice atau ibuku, entah mengapa aku memilih Alice.
---
25 Desember. Aku sudah ada di sofa saat aku bangun. Seseorang pasti sudah memindahkanku dari lantai ke atas dan menyelimutiku. Aku bangun dan menghampiri kakakkku Alice yang masih ‘tertidur pulas’.
“Aku bawa teh dan roti untukmu,” kata Christian yang tiba-tiba saja sudah muncul di depan pintu. Ia meletakkan sarapanku di atas meja. ”Selamat natal omong-omong,” katanya kemudian.
Aku mengangkat sebelah alisku,”kau masih bisa merayakan natal saat pacarmu koma ya?” Christian menyentuhkan tangannya ke kepala Alice,”dia sudah siuman kok tadi pagi, sekarang dia sedang tidur. Aku membuang napas merasa lega. Setidaknya, ini bisa disebut kemajuan.
“Jean, makanlah sarapanmu lalu pulanglah sebentar. Mandi, kemasi bajumu, lalu baru kemari lagi, aku yang akan menjaga kakakmu,” kata christian. Aku mengangguk,baiklah kalau kau tidak keberatan, aku akan pulang sebentar.”
---
Kota jadi ramai saat natal. Beberapa rumah makan jadi penuh sesak.Tahun lalu, Aku, Alice, dan Christian merayakan natal bersama. Saling bertukar kado dan makan-makan. Hal yang mustahil dilakukan pada natal tahun ini. Tapi egoku bilang, tepat atau tidak tepat waktunya,aku harus merayakan natal juga tahun ini. Berlawanan memang dengan kata-kataku tadi pagi saat mengejek Christian. Itu mengapa aku pergi dulu ke kota sebelum kembali ke rumah sakit. Aku ingin membelikan keduanya hadiah natal.
Aku membelikan Christian sepasang sarung tangan. Namun aku masih belum tahu hadiah apa yang kira-kira cocok untuk kakakku, sampai aku masuk ke sebuah toko. Kotak musik berhias ornamen kereta rusa santa terpajang di salah satu rak kaca. Lagunya cukup familiar, aku tak tahu apa, tapi kukira ini cocok, jadi aku membelinya untuk kakakku.
---
Kakakku benar-benar dalam keadaan sadar saat aku kembali. Ia tersenyum lemah padaku. Aku mendekat dan berdiri di samping Christian. Bingkisan berisi kotak musik tersebut tersembunyi di balik punggungku.
”selamat natal,” kataku sambil menyerahkan bingkisan kecil tadi. Baik Christian, maupun kakakku nampak terkejut, namun kakakku hanya menerimanya sambil memberiku ucapan selamat natal. Lalu aku menyerahkan kado milik Christian.
Butuh lima menit bagi kakak untuk membuka bingkisanku, ia tersenyum senang saat kotak musik tadi mulai berbunyi lembut saat diputar. Ia bilang ia menyukainya.
Sepanjang hari itu, ia sama sekali tidak melepaskan kotak musik itu dari genggamannya, membunyikannya sesekali dan bersenandung mengikuti nadanya.
25 Desember malam. Senandung itu terhenti dan kotak musik tadi tidak lagi ia pegang, melainkan hanya tergeletak di atas tubuhnya. Christian yang pertama kali menyadari, bahwa ada sesuatu yang salah. Lalu dokter mulai berdatangan. Aku ditarik Christian keluar kamar. Kami berdua cuma duduk, hingga pukul 10 malam. Alice resmi meninggalkan dunia, menyusul Albrecht dan Lila. Saat itu aku kira kakak hanya tidur. Aku memukul-mukul tangan kakakku dan menyuruhnya bangun. Christian yang menghentikanku.
“Kakak bangun, kakak mau mengusirku dari rumah, ingat?” bisikku tak percaya. Christian cuma memegang tanganku dan untuk pertama kalinya, aku melihatnya menangis.
Kotak musik tadi tergeletak di lantai tepat di bawah ranjang kakak saat itu. Aku mengambilnya dan menyimpannya sampai sekarang. Kadang aku masih ingat kata Christian di pemakaman kakakku. Ia bilang saat kakakku mau mengusirku, itu bukan karena kakakku tak sayang padaku, tapi karena kakakku ingin aku membencinya, karena ia tahu waktunya sudah dekat dan ia tak ingin kematiannya menjadi beban untukku.
Ma, lihat kan apa yang seorang penderita HIV telah lakukan untukku? Apa mama masih tega memisahkan kami?
- Tamat -



-
