Sendok demi sendok terigu telah ditaburkan hingga akhirnya habis tak bersisa, sekarang giliran mentega cair yang haru dituangkan. Teringat bahwa aku membutuhkan sebuah sendok lagi untuk melakukan pekerjaan itu, maka sekali lagi aku pergi ke ruang makan untuk mengambil sendok. Di sana aku bertemu dengan ibuku. Beliau tersenyum kepadaku.
“Tumben, pagi-pagi begini sudah membuat kue. Biasanya kalau Minggu pagi kamu susah sekali dibangunkan,” kata Ibu.
“Nanti jam sepuluh aku mau ke sekolah, Bu. Aku ada janji dengan teman. Tidak enak rasanya kalau tidak membawa apa-apa,” jawabku, tidak sepenuhnya jujur mengenai kepada siapa kue itu akan kuberikan.
“Oh, jadi karena itu kau bangun pagi dan membuat kue. Kamu membuat kue keju ya? Sudah beli kejunya?” tanya Ibu.
Aku tercenung mendengar kata-kata ibuku. Benar! Aku lupa membeli kejunya! Bodohnya aku, aku malah lupa dengan bahan utamanya. Aku cepat-cepat mengambil sendok dan mulai menuangkan mentega sesendok demi sesendok ke dalam adonan. Setelah semuanya tercampur rata, aku menuangkan adonan kue ke dalam loyang dengan hati-hati. Aku mengangkat loyang itu dan memasukkannya ke dalam oven yang sudah aku panaskan terlebih dahulu di atas kompor. Aku mengeluarkan telepon genggam dari saku celemek dan mengatur waktunya dua puluh menit. Sejurus kemudian, aku sudah menyambar jaketku dan berlari keluar untuk membeli keju.
Aku berlari sekuat tenaga, berharap aku bisa mengejar waktu sepuluh menit sebelum aku mengeluarkan kuenya dari dalam oven. Belum lagi memarut kejunya, apalagi jarak rumahku ke toko terdekat cukup jauh. Cukup memakan waktu dan tenaga tentunya. Aku melihat toko yang kutuju hanya tinggal beberapa meter lagi, namun aku benar-benar kecewa karena toko itu tutup. Aku terpaksa mencari toko lain. Peluh menetes membasahi dahiku. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, betapa mentari bersinar dengan teriknya. Sama teriknya ketika seluruh siswa kelas dua di sekolahku mengadakan acara darmawisata ke pantai. Di sana aku dan kau berlarian di sepanjang garis pantai, merasakan debur ombak di kaki kita. Aku masih ingat ketika kau memintaku untuk mengambil fotomu yang sedang bergaya dengan latar belakang laut yang begitu biru, namun kau mengerang kesal karena teman-teman yang lain tiba-tiba saja langsung memasuki area bidik kameraku dan merusak gaya yang sudah kau susun sedemikian rupa itu. Aku tersenyum geli, mengingat foto itu masih tersimpan di kameraku.
Untung saja, ada sebuah toko yang tidak begitu jauh dari toko yang pertama. Setelah mendapatkan sekotak kecil keju, aku bergegas pulang ke rumah. Aku melihat telepon genggamku, masih ada tujuh menit lagi. Sesampainya di rumah aku segera memarut kejunya. Setelah selesai memarut keju, aku segera ke dapur dan berdiri di depan oven sambil sesekali mengintip ke dalam oven melalui kaca. Kriiing… penanda waktu di telepon genggamku telah berbunyi. Aku membuka tutup oven perlahan dan mengeluarkan sebagian loyang. Kutusuk permukaan kue dengan sebatang tusuk sate, memastikan tidak ada lagi serat kue yang menempel. Aku lega karena kue yang kubuat matang sempurna. Kukeluarkan loyang itu dari dalam oven, dan membiarkannya mendingin sejenak selagi aku membuat butter cream untuk dioleskan di atasnya.
Aku mencuci stik mikser dan mangkuk yang telah kugunakan sebelumnya, kemudian mengelapnya dengan bersih agar tidak ada kotoran yang menempel. Kuambil mentega putih, gula halus, dan susu kental manis. Aku mulai mengocok bahan-bahan tersebut hingga berwarna putih dan bertekstur lembut. Aku mencolek butter cream itu sedikit dan mencicipinya. Sangat lembut dan manisnya sudah pas. Rasa manisnya mengingatkanku ketika kita makan parfait di sebuah toko kue yang kita temukan dalam perjalanan pulang sehabis belajar bersama di rumah teman. Masih terbayang wajah bahagiamu ketika memakan parfait itu, menggugahku untuk membuatkanmu parfait yang sama suatu saat nanti.
Kukeluarkan kue dari loyangnya. Kertas roti yang menempel kulepas dengan hati-hati agar tidak banyak bagian kue yang ikut terlepas. Aku mulai mengoleskan butter cream di permukaan kue perlahan-lahan dan serata mungkin. Kuulangi berkali-kali hingga kurasa cukup rata. Aku mulai menaburkan keju di atasnya. Setelah itu, aku mengambil pisau dan memotong kue keju itu menjadi potongan-potongan kecil agar mudah memakannya. Kemudian kusemprotkan sedikit butter cream di atas kue menggunakan spuit dan plastik segitiga, serta potongan kecil buah ceri untuk mempermanis tampilan kue keju itu. Selesai! Aku mengambil sebuah kotak kue yang telah kubeli sebelumnya dan menempatkan kue keju itu ke dalamnya. Baguslah, semua telah siap. Sekarang aku tinggal mandi dan bersiap berangkat ke sekolah.
Empat puluh lima menit kemudian, aku telah berada di gerbang sekolahku. Aku melihat anak-anak OSIS sibuk mempersiapkan pentas seni yang akan diadakan lusa. Di sanalah aku melihatmu, bersama anggota OSIS yang lain sedang sibuk membuat dekorasi panggung. Banyak siswa populer yang aku tahu, tetapi tidak semuanya kenal. Aku merasa terasing, karena itu kuputuskan untuk tidak mengganggumu. Aku melangkah menuju loker dan menatap lokermu lekat-lekat. Meskipun sedikit ragu, kubuka lemari lokermu dan kuletakkan kotak kue itu di sana. Aku menghela napas, berdoa di dalam hati semoga kau merasa bahagia ketika memakan kue itu, lalu berjalan menjauhi area sekolah.
-----------------------------------------------------------------------------------
Seorang remaja laki-laki berjalan menuju lokernya untuk mengambil beberapa barangnya sebelum pulang. Ia ingin beristirahat setelah seharian penuh bekerja bersama anggota OSIS lainnya mempersiapkan pentas seni sekolah. Namun, ia mendapati sebuah kotak misterius di dalam lokernya. Rasa curiga menyelinap ke dalam benaknya, jangan-jangan isinya bom seperti yang marak diberitakan di media massa akhir-akhir ini. Ia cepat-cepat mengenyahkan pikiran buruk itu, membuka kotaknya, dan menemukan seloyang kue keju yang telah sipotong-potong di dalamnya, lengkap dengan butter cream dan buah ceri. Laki-laki itu mengambil sepotong, lalu menggigit sebagian kue keju itu. Rasa ini, rasa kue yang sudah lama dikenalnya, karena ada seseorang yang telah beberapa kali memberinya kue keju yang sama sebelum ini. Rasa lelah yang tadi mendera, entah sudah terbang ke mana, berganti dengan sebuah dorongan yang menggerakkan kaki lelaki itu untuk menemui gadis si pembuat kue keju. Gadis yang telah mengisi hati dan hari-harinya, sejak pertemuan pertama mereka ketika musim dingin di sebuah taman di Frankfurt.



-


Comments
RSS feed for comments to this post.