• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Gadis di Luar Jendela [1]

25 January 2012   Written by Ana Fauziyah
E-mail Print PDF
Cerpen
User Rating: / 5
PoorBest 

Siapakah gadis yang selalu ditatapnya dari balik jendela itu? Pertanyaan itu selalu muncul di kepalaku ketika mendapati pemuda itu di sana, duduk menyendiri di sudut ruangan. Sudah tiga hari ini ia selalu datang ke perpustakaan ini satu jam menjelang ditutup. Ia duduk di kursi yang sama dan melihat ke luar jendela dengan tatapan mesra dan penuh cinta.

Sudah tiga tahun aku bekerja di perpustakaan ini. Setiap hari yang kutatap hanyalah rak-rak kayu dan susunan buku-buku berdebu. Perpustakaan ini sepertinya berada di urutan terakhir tempat-tempat yang ingin dikunjungi mahasiswa di kampus ini. Kebanyakan mahasiswa yang datang ke perpustakaan ini tidak benar-benar ingin membaca buku, mereka hanya ingin mencari tempat yang sepi agar mereka bisa saling membisikkan kata-kata cinta yang penuh gombal. Hanya beberapa yang kutahu memang berniat mencari dan membaca buku di sini.

Melihat pemuda itu berjalan memasuki ruangan ini tiga hari yang lalu adalah hal yang aneh. Ia sepertinya bukan tipe orang yang akan menghabiskan waktunya menekuri buku-buku kusam itu. Petinggi kampus ini menyediakan anggaran kerdil untuk pengembangan perpustakaan. Setelah dikurangi biaya perawatan ini-itu, tiap tahun kami hanya bisa menambah koleksi perpustakaan ini tidak lebih dari tiga puluh buku. Bayangkan tiga puluh buku untuk tiga ribuan mahasiswa. Tak heran jika hanya buku-buku kusam yang menghuni rak-rak kayu itu.

Ia bukan sejenis kutu buku. Melihat gayanya, orang pasti menduganya sebagai anggota grup band atau pembalap jalanan. Rambutnya dibiarkan berantakan tumbuh sampai ke telinga. Di kuping kanannya terselip dua buah anting perak. Jinsnya belel dengan sobekan penuh rumbai di kedua lututnya. Ia memakai kaos hitam dengan gambar besar tengkorak di dadanya. Selama tiga tahun aku bekerja di sini, baru kali ini kudapati orang berpenampilan seperti itu di ruangan ini.

Di hari pertama ia datang ke perpustakaan ini, ia berdiri di pintu masuk sejenak sambil matanya menyapu seluruh ruangan. Lalu dengan langkah mantap, ia menuju sebuah kursi di sudut ruangan yang dekat dengan jendela lebar. Jendela itu berada arah jam dua belas dari tempatku tanpa terhalang apapun, sehingga aku bisa leluasa memerhatikan gerak-geriknya.

Ia duduk di sana sambil memandang ke luar jendela. Benar dugaanku, ia memang tidak berniat membaca buku. Lebih dari sepuluh menit ia duduk di sana, tapi ia sama sekali tak menyentuh buku di rak-rak itu. Ia hanya terpekur menatap jendela dengan mata bersinar-sinar, dan bibir merekah senyum.

“Pasti ia sedang menunggu pacarnya, mereka pasti janjian di perpus ini,” aku menduga-duga di hati. Aku kembali meneruskan pekerjaanku mendata tumpukan buku baru untuk diberi label dan kemudian siap dipajang bersama susunan buku-buku kusam di rak-rak itu.

Tak tahu kenapa, aku tertarik menghampirinya, “Maaf, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku.

Ia mendongak dan tersenyum, “Ya,” jawabnya pendek.

“Mas mau nyari buku apa? Kalau perlu biar saya carikan?” tawarku.

“Tidak,” tolaknya sambil kembali memandang ke luar jendela. “Saya nggak mau nyari buku. Saya ke sini pengen liat cewek yang saya sukain. Diliat dari sini terlihat jelas,” ceritanya.

Aku mengangguk mengerti. “Baiklah.”

“Cantik,” komentarnya sambil menatap jendela di sampingnya.

Aku mengangkat bahu dan meninggalkannya. Betul dugaanku. Pemuda dengan gaya seperti itu tak mungkin berniat menjamah buku-buku di sini.

Kira-kira tiga puluh menit kemudian ketika kulirik pemuda itu di kursinya, aku mendapatinya sedang mengisap sebatang rokok yang asapnya menguar. Kudekati dia, “Maaf, ini ruangan ber-AC. Mohon tidak merokok,” ujarku dengan suara yang telah ku-set lembut dan simpatik.

Ia mendongak. “Oh maaf, habis gerah. Saya kira nggak ada AC-nya,” ia berkata sambil tersenyum.

Aku mencoba ikut tersenyum, “AC-nya agak rusak.” Kuucapkan kalimat tadi dalam ragu. Aku tahu pasti, dari lima AC yang terpasang di ruangan ini hanya satu buah yang masih berfungsi dengan baik. Sisanya hanyalah pajangan yang bisa meyakinkan tim penilai akreditasi bahwa fasilitas kampus ini sangat baik.

Ia mematikan rokoknya, “Apa semua AC di gedung ini agak rusak?” tanyanya. Ia memberi penekanan pada kata ‘agak’.

Aku tersenyum masam, “Ya.” Bahkan di lantai tiga, hampir semua AC-nya tak berfungsi, bisikku di hati. Selama tiga tahun ini aku bersyukur ditugaskan mengurus koleksi buku di ruangan ini. Setidaknya masih ada satu buah AC yang bisa mengalirkan sedikit udara sejuk di dalam gedung tua berventilasi buruk ini.

“Kenapa tidak usul ke rektorat, minta AC diperbarui?” tanyanya.

Sambil tersenyum lagi aku berujar, “Saya cuma pegawai biasa di sini. Soal anggaran fasilitas itu urusan yang di atas.”

“Yang di atas?” potongnya cepat. “Maksudnya Tuhan?” tanyanya sambil tertawa.

Mau tak mau aku ikut tertawa kecil. “Kenapa tidak kamu saja yang usul ke rektorat? Biasanya rektor takut kalau mahasiswa demo,” usulku setengah menyindir.

Matanya berkilat. “Ide keren,” gumamnya.

Lalu aku permisi padanya. Kutinggalkan ia dan kembali meneruskan pekerjaan di mejaku hingga lima belas menit kemudian. Kubereskan mejaku dan bersiap-siap pulang. Saat kulirik ke kursi di dekat jendela, kudapati pemuda itu masih duduk di sana.

“Maaf, tiga menit lagi perpus tutup,” ujarku memberitahu.

Ia menoleh kemudian berdiri, “Yap, thanks,” ujarnya kemudian berjalan keluar ruangan.

Hari berikutnya ia datang untuk kedua kalinya ke ruangan ini. Sama seperti kemarin, ia muncul satu jam sebelum perpustakaan ditutup. Saat masuk, langkahnya mantap. Ia langsung menuju kursi dekat jendela besar itu. Kemudian memandang ke luar jendela dan tersenyum-senyum sendiri di sana.

“Apakah ia tidak punya keberanian bertemu dengan gadis pujaannya langsung? Sehingga harus mencuri-curi lihat dari balik jendela perpus?” pikirku.

Buku-buku yang telah selesai kudata dan kulabeli kuletakkan semuanya dalam keranjang dorong. Lalu kudorong keranjang itu sekeliling ruangan dan meletakkan satu persatu buku-buku tersebut di rak sesuai nomor klasifikasinya.

Kira-kira empat puluh lima menit kemudian, aku sampai di rak yang berjarak dua meter dari tempat pemuda itu duduk dan melihatnya sedang memakan snack keripik kentang. Kudekati dia, “Maaf, di dalam ruangan ini tidak diperkenankan makan dan minum,” tegurku mencoba simpatik.

“Kaku banget ya,” komentarnya.

Aku tersenyum kecut.

Ia mencondongkan tubuhnya, “Mbak tahu tidak ada toko buku merangkap kafe?” tanyanya. “Di sono, pengunjung bebas makan apa aja,” tambahnya lagi.

Aku mengangguk. “Maaf, tapi ini perpustakaan bukan toko buku,” balasku.

“Apa bedanya? Sama-sama tempat men-display buku?”

“Toko buku menyediakan makanan dan minuman sebagai strategi marketing. Perpus ini bukan tempat usaha, melainkan tempat baca.”

Ia menyela, “Apa salahnya nerapin strategi marketing di sini?” tanyanya.

Aku terdiam.

“Pasti bakalan rame. Terus banyak anak-anak nongkrong di sini,” tambahnya lagi.

Aku terdesak oleh pernyataannya. Kulirik arloji di tanganku dan bersyukur aku mempunyai alasan untuk mengusirnya keluar. “Maaf, sudah jam 5. Kami akan tutup.” Aku menganggukkan kepala, “Terima kasih atas kunjungannya.”

Comments  

 
0 # mutmainnah taufik 2012-01-25 11:09
maaf ini ceritanya bersambung?
aku pernah baca cerita seperti ini persis di komik. lanjutannya si cowo ternyata melihat cewe penjaga perpus dari jendela itu.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # mutmainnah taufik 2012-01-25 12:02
maksudku ternyata yang dilihat cowo itu (Wanita yang disukainya) adalah cewe penjaga perpus itu. di melihatnya dari jendela
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # Ana Fauziyah 2012-02-01 20:21
Quoting mutmainnah taufik:
maaf ini ceritanya bersambung?
aku pernah baca cerita seperti ini persis di komik. lanjutannya si cowo ternyata melihat cewe penjaga perpus dari jendela itu.


Betul, memang saya pernah membaca komik tersebut. Cerita di komik tersebut memang saya adapatasi hingga menjadi cerpen di atas. Saya memang mengadaptasi cerita tersebut tapi tidak memplagiat, sebab hanya ide cerita yang sama, tapi alur, karakter tokoh, dan dialog kesemuanya sangat berbeda. Salah satu sifat karya sastra adalah "Tidak ada yang baru di bawah langit, tiap karya sastra bermula dari karya sastra lainnya". Terima kasih. Salam menulis :)
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # ivana ignatia 2012-01-25 11:09
Sedikit membingungkan apa makna yang bisa diambil dari cerpen ini.
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # Ivan 2012-01-27 10:49
salam kenal semuanya "Ivan"
Reply | Reply with quote | Quote
 
Refresh comments list
RSS feed for comments to this post.

Add comment


Security code
Refresh

Send
Cancel
JComments

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Bloopendorse

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top