“Yap, thanks.” Ia berdiri dan berjalan beberapa langkah kemudian menoleh ke arahku, “Tadi siang saya ngajak kawan-kawan aksi di depan rektorat, kami minta AC perpus diperbarui,” ujarnya sambil tersenyum lalu berjalan menuju pintu.
Aku tertegun, “Nekat juga dia,” pikirku.
Hari ketiga dia datang lagi, kali ini ia membawa tas besar dan panjang yang aku tak tahu apa isinya. Di pintu masuk kucegat dia, “Maaf, tidak boleh membawa tas ke dalam ruangan,” tegurku.
Ia terhenyak sebentar kemudian berujar. “Ini isinya barang berharga. Kalo saya tinggal di luar terus ilang, Mbak mau gantiin?”
Aku langsung jiper dengan ancamannya itu sehingga kupersilahkan ia masuk ke dalam sambil menenteng tas besarnya. Ia langsung menuju kursi dekat jendela dan memandang lekat ke luar dengan tatapan penuh cinta. Menurutku, ia seperti orang yang sedang jatuh cinta. Aku mulai penasaran seperti apa gadis yang selalu ditatapnya di luar jendela.
Aku sedang menekuri layar komputer, membaca daftar mahasiswa yang minggu ini belum mengembalikan buku melewati tenggat waktu. Kemudian kudengar denting gitar dari arah pemuda itu duduk. Kutengok dia. Ia sedang memetik gitar yang mungkin ia bawa di tasnya. Matanya lekat menyapu kaca jendela di sampingnya.
Kudekati dia, “Maaf, mohon tidak berisik di ruangan ini,” tegurku.
“Maaf?” ia mendongak. “Mbak salah apa? Dari kemarin kok minta maaf terus?”
Aku tertegun sebentar kemudian berujar, “Tidak diperkenankan membuat kegaduhan di tempat ini,” jelasku.
“Musik itu relaksasi. Otak lebih mudah menerima informasi saat sedang rileks. Karena itu, baiknya di perpus ini diperdengarkan musik-musik yang lembut...” cerocosnya.
Aku mulai kehilangan kesabaran menghadapi pemuda di depanku. Dari kemarin ia melakukan semua hal yang dilarang dilakukan di dalam ruangan ini. Memang hampir semua yang dikatakannya sejak kemarin sangat masuk akal dan dapat diterima otakku. Masalahnya adalah ia mempermasalahkan perkara yang berada di luar wewenangku.
“Maaf, saya tidak punya waktu untuk berdebat. Sebentar lagi perpus akan ditutup. Saya harus bersiap-siap.” Kutinggalkan dia tanpa menoleh lagi.
Ini hari keempat pemuda itu memasuki ruangan ini, selalu ketika satu jam menjelang perpustakaan ditutup. Aku menduga di jam-jam seperti ini, gadis yang disukainya itu mempunyai kebiasaan nongkrong bersama geng-nya di luar sana. Gadis itu mungkin sedang bersenda gurau bersama teman-temannya di taman sebelah gedung perpustakaan ini sehingga pemuda itu bisa leluasa memerhatikannya dari dalam ruangan.
Sudah tiga tahun aku bekerja di tempat ini dan bertemu banyak macam mahasiswa, tapi pemuda yang satu ini benar-benar menarik perhatianku. Sudah empat hari ini ia selalu datang ke perpustakaan ini di waktu yang sama. Ia duduk di kursi yang sama, menatap jendela penuh binar cinta. Setiap harinya ia seperti sengaja melakukan hal-hal yang terlarang dilakukan di ruangan ini.
Diam-diam kuperhatikan pemuda itu. Ia memang mempunyai raut muka yang bisa dikategorikan cakep. Mungkin cukup untuk membuat gadis-gadis di fakultasnya berebut mencari perhatiannya. Lalu kenapa dia harus mencuri-curi lihat seperti itu? Apa ia tidak pede berhadapan langsung dengan gadis pujaannya?
Tiba-tiba ia menoleh ke arahku, “Mbak merhatiin saya?” tanyanya.
Aku tergeragap. “Tidak,” elakku serba salah. “Kamu tidak mau baca salah satu buku di ruangan ini?” aku menawarinya untuk mengalihkan topik pembicaraan. “Saya bisa pilihkan salah satu yang menarik buatmu.”
“Tidak perlu,” jawabnya cepat. “Buku-buku di sini nggak ada yang menarik. Kebanyakan cuma buku teks, buku pegangan kuliah, makalah...”
Aku tak bisa berucap apa-apa.
“Lagipula saya sudah bawa,” ia berkata sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah buku kecil berjudul The Mute’s Soliloquy.
“Ah, kamu baca karya Promoedya Ananta Toer?” tanyaku sangsi.
“Ya,” jawabnya pendek.
Aku tak percaya. Sejak hari pertama dia datang ke ruangan ini, aku terlanjur mencapnya sebagai cowok anggota grup band atau pembalap jalanan. Tak kusangka ia membaca karya sastra serius semacam The Mute’s Soliloquy. Benar-benar di luar dugaan!
“Benarkah?” tanyaku memastikan.
“Saya penggemar Pram. Tetralogi Pulau Buru-nya banyak menginspirasi saya...” kisahnya.
Aku masih sulit percaya. “Saya kira cowok-cowok seperti kamu...” aku tak melanjutkan kalimatku.
“Cowok-cowok seperti saya?” tanyanya penasaran. “Ah, pasti Mbak menganggap kami ini hanya tukang bikin ulah,” keluhnya.
“Maaf,” hanya kata itu saja yang bisa keluar dari mulutku.
“Don’t judge the book but its cover,” desisnya.
Aku tersenyum kaku.
“Ngomong-ngomong, Mbak suka buku apa?” tanyanya dengan nada penuh ingin tahu.
“Saya suka baca komik serial cantik,” jawabku.
“Wow! Saya pikir orang seperti Mbak suka novel thriller macam The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Nggak tahunya...” ia tersenyum lebar.
“Tebakanmu nggak salah,” aku tersenyum nyengir. “Saya pecandu Dan Brown. Favorit saya Angels and Demons,” ujarku lagi.
Ia menatapku penuh binar. Lalu menit-menit selanjutnya, kami habiskan dengan memperbincangkan karya-karya Dan Brown hingga jam dinding menunjukkan pukul lima dan perpustakaan harus segera ditutup.
Hari kelima dia datang ke tempat ini. Siapakah gadis yang selalu ditatapnya dari balik jendela itu? Pertanyaan itu menjejali batang otakku. Ia sedang tersenyum-senyum sendiri di kursinya. Kuberanikan diri mendekatinya.
“Boleh aku duduk?” tanyaku sambil menunjuk kursi di sebelahnya.
Ia mengangguk. Sejak percakapan panjang tentang Dan Brown kemarin, sepertinya aku mulai merasa dekat dengannya. Dan sepertinya ia juga merasa bahwa kami telah berteman.
“Kenapa harus memandanginya dari sini?” tanyaku hati-hati. Kuharap ia tidak menangkap rasa ingin tahuku yang menggebu.
Ia mendesah, “Tadinya saya ingin nembak dia, tapi di luar dugaan ternyata saya nggak berani. Saya hanya bisa memandanginya dari sini,” ia berkisah. “Jangan tertawa ya...” pintanya.
Kupandangi dia dengan tatapan tak mengerti. “Kenapa malu? Kamu cakep, kritis, dan sepertinya cukup cerdas. Gadis itu tak punya alasan menolakmu,” kuungkapkan pendapatku dengan jujur.
Ia menoleh, “Begitu ya?” tanyanya sambil menatapku. Matanya menghujam ke dalam mataku.
Sesaat aku terpana, tanpa kusadari dadaku berdesir saat melihat bola matanya. Kupalingkan muka dan mengangguk.
“Mbak benar-benar menganggapku cakep?” tanyanya. Bisa kudengar senyum dalam suaranya.
Kurasakan pipiku memanas. “Aku permisi. Banyak kerjaan...” pamitku kemudian beranjak menuju mejaku. Sepanjang sore itu, hatiku tak karuan dan sering berdegup hanya kerena mendengar suara dehemannya. Aku benar-benar tak habis pikir dengan diriku!
Keesokan harinya, hari keenam dia datang ke perpustakaan ini.
Dari meja kerjaku, kuperhatikan gerak-geriknya saat menatap kaca jendela di sampingnya. Sial, aku benar-benar penasaran dengan gadis di luar jendela itu. Kuhampiri dia, “Sedang apa gadis itu?” tanyaku sambil berdiri di belakang punggungnya.
Ia tak menoleh, masih tetap memandangi kaca jendela itu lekat-lekat. “Ia sedang berdiri,” jawabnya. “Ia punya mata yang cantik, selalu bergerak-gerak jika membicarakan sesuatu yang menarik...” gumamnya.
Aku kehabisan kata. Tiba-tiba merasa kesal sendiri mendapati fakta bahwa gadis yang sedang dibicarakannya bukanlah aku. Secantik apakah gadis itu?!
“Kamu pecundang!” tanpa sadar aku mengucapkan kalimat itu.
Ia mendongak ke arahku.
“Kamu penakut! pengecut, yang tidak berani mengakui perasaannya.”
Entah kenapa aku merasa berhak memarahinya seperti itu. Namanya saja aku tak tahu. Kenapa aku bisa begini?
“Kalau kamu menyukainya, kenapa tidak terus terang saja?!”
Apakah yang terjadi dengan diriku? Apa urusanku dengan kehidupannya?
“Jangan berlindung dari balik jendela ini!”
Oh, tidak! ini harus dihentikan. Aku terlalu banyak melantur.
“Temui dia sekarang dan katakan kamu menyukainya!” Kurasakan nyeri di sudut hatiku ketika mengatakan kalimat barusan. Tuhan, apakah ini yang namanya cemburu?
Ia menatapku nanar. Lama sekali sehingga membuatku salah tingkah.
“Ah, maaf... maaf sekali. Aku tak bermaksud...” ujarku merasa bersalah.
Tapi akhirnya ia tersenyum. Ia berdiri dari kursi favoritnya dan mempersilahkan aku duduk di sana. “Duduklah.”
Ragu-ragu aku duduk di kursi itu. Saat kutengok ke luar jendela, kudapati beberapa pemuda sedang bersenda gurau di taman. Anehnya tak kudapati satu orang gadis pun di sana.
Ia berjalan ke arah mejaku yang berada kira-kira lima meter dari tempatku duduk. Sampai di sana, ia duduk di kursiku. Dari tempatku aku bisa melihatnya berpura-pura mengetik sesuatu di komputerku.
“Jangan coba main-main dengan komputerku!” aku berseru.
Ia balas berseru, “Lihat jendela. Apa yang kamu lihat di sana?”
Saat kupalingkan mukaku menghadap jendela. Aku menyaksikan lewat kaca, ia yang sedang duduk di mejaku, berpura-pura mengetik sesuatu di komputerku, kemudian terseyum dikulum ke arahku. Aku mematung dengan dada bergemuruh penuh desir.
Bayangan di kaca itu berujar, “Hai, namaku Algad Lombaya. Boleh kenalan? Ah, tidak... Mau nggak jadi pacarku?”
Pipiku bersemu dan memanas. Aku tak ingat apakah saat itu aku mengangguk atau tidak. Yang kutahu, pemuda dengan rambut berantakan dan telinga bertindik, dengan jins belel berumbai-rumbai itu sudah berada di dekatku dan berbisik di belakangku, “Sudah jam 5. Ayo kita kencan,” ujarnya.



-

Comments
RSS feed for comments to this post.