Dini hari pukul setengah empat pagi. Fajar belum menyingsing, bulan masih terlihat menawan di sisi langit. Puncak Merbabu, sepi, hanya kami. Setelah semalaman mendaki, berpeluh dan hampir mati (Egy hampir saja terpeleset masuk jurang), akhirnya kami tiba juga di puncak ini.
Ini pertama kalinya aku merasakan tekanan udara yang semakin menipis di ketinggian 3.142 mdpl*. Kami berbagi nafas, sunyi. Mereka berempat sudah beberapa kali sampai di sini, hanya aku dan Laila yang baru sekali menapakkan kaki di puncak ini. Ingin sekali berteriak, meluapkan kepuasan telah menaklukkan puncak gunung setinggi ini. Namun, rasanya mencekat di pangkal lidah, yang tersisa hanya rasa bahagia, dan kecil. Kami hanya titik-titik kecil dengan keangkuhan yang nyata, berlagak seolah bisa menaklukkan alam. Kami hanya titik-titik kecil yang bukan siapa-siapa di hadapan Yang Maha Kuasa, karena digeser sedikit saja garis takdirnya, nyawa kami sudah berada di tepi jurang.
Fajar menyingsing di ufuk timur. Kami bertayamum, sebab tadi tidak sempat mengambil air wudhu. Adzan subuh dikumandangkan Fiyan di puncak Merbabu. Kami sholat subuh berjamaah diimami Abi. Sholat berjamaah di ketinggian, di antara awan-awan, benar-benar terasa luar biasa. Sekali lagi kami di sini hanyalah titik-titik kecil di tengah kebesaranNya.
Seusai sholat, kami berenam segera mengambil tempat terbaik menghadap timur. Sebentar lagi matahari akan menyingsing, langit berubah keemasan, dan segalanya tidak lagi samar-samar.
"Ingat tidak, saat kita pertama kali melihat matahari terbit bersama-sama?" tanya Fiyan. Aku menoleh ke kanan memandangnya, rupanya kami sama-sama mengambil tempat bersisian.
"Tiga bulan yang lalu, puncak Sindoro," jawabku mengenang pendakian pertama.
"Waktu Abi bilang ada temannya perempuan yang mau ikut, awalnya kupikir cuma bikin repot."
"Meremehkan perempuan," aku menggerutu padanya.
"Apalagi melihat badanmu yang kecil begitu. Sok-sokan banget mau ikut mendaki. Biar dibilang keren, hah?" kata-kata Fiyan mulai menyebalkan.
"Laila lebih tinggi dari kamu Fiy," balasku. Aku tahu sih, kata sok-sokan itu ditujukan padaku yang berbadan mungil, Laila kan atlet basket sekolah, tahulah badannya seperti apa.
Laila dan aku ikut pendakian Sindoro karena diajak Abi, teman SMA kami. Dulu kami sama-sama ikut klub pecinta alam di SMA. Abi sudah melanglang buana ke berbagai gunung di Jawa. Laila cukup sibuk dengan tim basketnya sehingga jarang ikut mendaki. Sementara aku yang berbadan mungil, jelas cuma ikut-ikutan saja tim pecinta alam semacam ini, karena tidak pernah sekali pun mendapat izin mendaki dari Ayah.
"Maksudku bocah kecil di sampingku ini," Fiyan tidak mempedulikan ejekanku.
Aku menatapnya sebal. Fiyan memang tidak pernah bosan mengejekku.
"Tetapi ternyata dugaanku salah," ia melanjutkan. "Bocah kecil ini begitu pantang menyerah," ia tersenyum kecil melirikku, "Tidak pernah sekali pun aku mendengar keluhan dari bibirnya. Di luar dugaan ia justru menyemangati kami yang hampir menyerah saat di kawah mati."
"Wow," komentarku pendek.
"Dasar ngambekan," ujarnya lalu mentoyor kepalaku. aku balas mentoyor kepalanya.
"Ssstt... sunrise sedang bagus-bagusnya," ia menyuruhku diam.
Aku melihat ke depan. Garis langit nampak keemasan, cahaya matahari menembus awan-awan membentuk garis-garis sinar raksasa yang luar bisa indah.
"See, the sun is born. Mentari baru lahir," Fiyan melirikku lagi.
"I'm twenty two, and I'm not a baby," kataku sebal.
"Mentari, maukah kau melihat sunrise bersamaku di lain hari?" tiba-tiba Fiyan menatapku dalam-dalam.
"Bukankah ini memang rencana kita, one month one mountain?" kataku. Sejak awal keikutsertaanku dalam tim ini, kami sepakat untuk membuat sebuah program kerja yang kedengarannya tidak masuk akal. Setiap bulan sekali kami akan mendaki gunung yang berbeda. Kelihatan tidak masuk akal karena tiga di antara kami adalah the busy jobseeker sementara tiga yang lain baru saja mendapat pekerjaan di tiga kota yang berbeda. Namun entah bagaimana selama tiga bulan ini toh, kami berhasil juga muncak ke tiga gunung yang berbeda. Tidak tanggung-tanggung gunung kedua yang kami daki adalah Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa.
"Meskipun bukan di gunung," Fiyan tersenyum penuh makna. Aku terdiam demi melihat senyumannya yang tidak biasa. "Kamu kan tahu, bulan depan aku sudah pindah ke Makassar."
"Kamu sudah tidak bisa ikut muncak bareng-bareng lagi?"
"Akan selalu kuusahakan, tetapi aku belum tahu bagaimana pekerjaan di sana nantinya,"
"Lalu?"
"Rencanamu sendiri bagaimana?"
"Kau lihat sendiri aku masih jadi jobseeker,"
"Kalau bekerja di luar Jawa, bagaimana?" pertanyaan khas yang dilontarkan untuk anak jawa.
"Tergantung sih, pekerjaannya seperti apa. Aku rasa enggak masalah,"
"Kalau di Makassar?"
"Enggak masalah," jawabku, kemudian teringat sesuatu. "ng... tapi ntar tiap hari ketemu kamu dong Fiy,"
"Hahaha, mau enggak tiap hari ketemu aku?" Fiyan tertawa renyah. Aku masih belum menangkap maksud perkataannya. "Maukah kamu setiap hari melihat sunrise entah nantinya di gunung lain, di Makassar, Jogja, maupun di tempat-tempat lainnya bersamaku?" Fiyan mengeja satu per satu kalimat itu.
Angin mendesir, langit masih keemasan.
"Mentari Pramudya Siwi, maukah kamu...."
Matahari merangkak naik, merambah perbukitan, gunung-gunung, menjadikan yang semula gelap menjadi kian terang. Fiyan berkata-kata disaksikan gunung, awan, bebatuan, dan semilir angin pagi yang menghangat. Aku terdiam. Egy, Abi, Laila, dan Halim duduk agak jauh dari kami. Tidak mendengar percakapan ini, keempatnya masih khusyuk memandang fajar yang mulai memudar.
Ini adalah kali ketiga kami berenam menikmati sunrise di puncak gunung. Tiga bulan bukan waktu yang terlalu lama untuk mengenal seseorang, namun dengan Fiyan, apakah masih penting untuk bertanya-tanya?
“Mentari, katakan sesuatu,” kata Fiyan mengiba. Diamku ini rupanya membuatnya tersiksa.
Dengan Fiyan, apakah masih penting untuk bertanya-tanya?
Aku bingung harus berkata apa. Wajahku saat ini pasti sudah memerah, campuran perasaan malu, senang dan terharu. Lalu entah darimana keberanian itu datang, aku berbisik pelan mengatakan,
“Sepulang dari sini, mampirlah ke rumah. Aku tidak berani memutuskan tanpa izin dari Mama dan Ayah.”
Fiyan terkesiap, namun tetap menjawab dengan tenang, ”Jangan khawatir Mentari. Aku tidak akan membawamu kawin lari.”
Aku mengangguk, tersenyum mengiyakan. Menatap fajar yang semakin merekah, lalu terdengar suitan-suitan yang mulai berisik di samping kiri. Ah, rupanya sedari tadi mereka sibuk menguping!
*mdpl: meter dari permukaan air laut.





