Kevin meraih hpnya yang berdering, “Yap?”
“Kevin, nanti malam kamu mau pakek baju warna apa?” terdengar suara nyaring Putri di ujung telepon. “biar aku bisa samain warnanya sama gaun aku.”
“Baju? Buat apaan?”
“Aduh, Sayang, kamu lupa ya? pesta dansanya kan ntar malam. Jangan-jangan kamu juga lupa buat nyiapin kostum ya?”
“Lho, emang kamu ngajak aku ya? Kapan ngomongnya?”
“Kamu gimana sih? Tentu aja aku akan pergi ke acara promnite sama kamu, kamu kan cowok aku. Nggak usah aku ajak pun udah pasti kan.”
“Tunggu, tunggu. Cowok? Kapan jadiannya?”
“Kamu nyebelin banget sih. Emang pacaran harus nunggu tembak-tembakan dulu ya? kita kan udah sering jalan bareng. Aku pikir selama ini kita...”
“maaf, Putri. Kayaknya kamu salah ngerti deh. Aku aja baru mau PDKT. Jadi kita belum pacaran.”
“Kamu jahat ya, Kev. Tau gini kemaren aku trima ajakannya Dion,” Putri menghentikan ucapannya sebentar. “Udah deh, batalin aja niat PDKT kamu itu, toh aku nggak bakalan nrima kamu!” tut... tut... tut...
Kevin tertegun, kaget juag denget Putri bisa ngomong kasar kayak gitu. Dia memandang ke jam dinding di kamarnya. Beberapa jam lagi pesta dansa di sekolahnya akan dimulai. Dan Kevin sama sekali tak mempunyai rencana. Sebenarnya ada satu cewek yang dia harap akan mengajaknya. Tapi seeprtinya cewek itu tak tertarik.
“Tapi aku hanya punya kesempatan malam ini saja,” putus Kevin akhirnya. Diraihnya kunci motor lalu melesat ke luar rumah.
Nadin kaget saat membuka pintu dan menemukan wajah Kevin di sana.
“Kamu mau kan jadi pasanganku di promnite?” todong Kevin seketika.
Nadin hampir kesedak, tapi dia berusaha memasang wajah tetap cool, “Bukannya diperaturannya cewek yang harus ngajak cowok ya?”
“Hah, persetan dengan peraturan. Kamu mau kan?”
Ingin sekali Nadin bersorak ‘aku mau’, tapi ego membuatnya menelan kata-kata itu. “Aku nggak punya gaun,” katanya datar.
“Sudah kuduga,” Kevin lalu memberikan bungkusan ke tangan Nadin.
“Ini...”
“Aku kasih waktu setengah jam, buruan dandan,” Kevin mendorong punggung Nadin agar masuk ke rumah.
Nadin sendiri baru menyadari kalau pakaian Kevin sudah sangat rapi, “Lima belas menit,” teriaknya.
Kevin tertegun. Dia seperti melihat kembali gadis kecil teman mainnya dulu. Dia berdiri di hadapan Kevin, mengenakan gaun ungu muda selutut dan di kepalanya terdapat mahkota dengan hiasan bunga-bunga edelweis. Hanya saja sekarang gadis itu lebih besar dan... semakin cantik. “Kamu masih menyimpannya?” Kevin menatap mahkota di kepala Nadin.
Nadin hanya menjawabnya dengan senyum manisnya.
Kevin lalu meraih tangan Nadin dan menuntunnya. “Lho, ini kan bukan jalan ke sekolah?” tanya Nadin saat mereka berjalan ke arah sebaliknya.
“Memang tadi aku bilang mau ngajak kamu ke sekolah ya?” Kevin tersenyum misterius.
Kebingungan Nadin terjawab saat mereka tiba di bukit kecil tempat dulu dia dan Kevin biasa bermain. Selama ini mereka tidak pernah ke sini lagi sejak usia mereka menginjak belassan tahun. Dan kini Kevin membangkitkan kenangan masa lalu itu.
“Tempat ini masih cantik ya,” gumam Nadin takjub.
“Nggak,” jawab Kevin. “ada yang lebih cantik dari ini,” Kevin memandang lekat ke mata Nadin yang memantulkan cahaya bulan.
“Will you dancing with me, Princess?”



-

Comments
RSS feed for comments to this post.