• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Deru Persahabatan di Dalam Seribu Ombak

19 January 2012   kandanGagas
E-mail Print PDF
Artikel
Kejadian yang benar-benar tak pernah diduga oleh Samihi Ismail adalah bertemu dengan Wayan Manik ketika sedang di dalam ancaman yang sangatlah serius. Si Perak, sepeda kesayangan Samii -begitu panggilan Wayan Manik untuk Samihi- terancam dicuri oleh preman Desa Kalidukuh. Siapa sangka, kenekatan Yanik begitu dikagumi oleh Samii dan mereka pun menjadi sahabat. Sahabat yang ada di dalam suka, maupun di dalam duka. Di dalam keberadaan mereka yang tidaklah sama. Samii seorang Muslim dan Yanik penganut Hindu.

Mereka belajar untuk saling berbagi sebagai seorang sahabat. Tanpa diinsafi oleh mereka, mereka sudah menjalin persahabatan yang begitu erat. Tak lagi dapat dipisahkan begitu saja dan ada keterkaitan di antara mereka. Sampai suatu hari, Yanik pun percaya bahwa Samii adalah orang yang tepat untuk mengetahui segala rahasia yang dipendamnya kini. Rahasia yang benar-benar melukai hatinya dan bila rahasia ini terbongkar, tentunya Yanik merasa harga diri Yanik pun terancam. Ia akan menjadi salah seorang anak yang paling malu dan muak dengan rahasia itu.
Mungkin dendam tak selamanya menjadi batu. Ketika dendam itu harusnya remuk, maka pelampiasan dan pembalasan pun akan dilakukan. Itulah yang dilakukan oleh Yanik. Ia membalaskan dendamnya kepada seorang warga asing yang telah membuatnya harus menderita dalam malu. Samii pun tanpa sengaja mendukung dengan apa yang dilakukan oleh Yanik.
Sampai suatu ketika, rahasia itu pun terbongkar dengan sendirinya. Tanpa sengaja, tanpa terucap dengan niat yang buruk.
Add new comment
 

Filosofi Memasak [2]

18 January 2012   Ana Fauziyah
E-mail Print PDF
Cerpen

Sendok demi sendok terigu telah ditaburkan hingga akhirnya habis tak bersisa, sekarang giliran mentega cair yang haru dituangkan. Teringat bahwa aku membutuhkan sebuah sendok lagi untuk melakukan pekerjaan itu, maka sekali lagi aku pergi ke ruang makan untuk mengambil sendok. Di sana aku bertemu dengan ibuku. Beliau tersenyum kepadaku.

“Tumben, pagi-pagi begini sudah membuat kue. Biasanya kalau Minggu pagi kamu susah sekali dibangunkan,” kata Ibu.

“Nanti jam sepuluh aku mau ke sekolah, Bu. Aku ada janji dengan teman. Tidak enak rasanya kalau tidak membawa apa-apa,” jawabku, tidak sepenuhnya jujur mengenai kepada siapa kue itu akan kuberikan.

“Oh, jadi karena itu kau bangun pagi dan membuat kue. Kamu membuat kue keju ya? Sudah beli kejunya?” tanya Ibu.

Aku tercenung mendengar kata-kata ibuku. Benar! Aku lupa membeli kejunya! Bodohnya aku, aku malah lupa dengan bahan utamanya. Aku cepat-cepat mengambil sendok dan mulai menuangkan mentega sesendok demi sesendok ke dalam adonan. Setelah semuanya tercampur rata, aku menuangkan adonan kue ke dalam loyang dengan hati-hati. Aku mengangkat loyang itu dan memasukkannya ke dalam oven yang sudah aku panaskan terlebih dahulu di atas kompor. Aku mengeluarkan telepon genggam dari saku celemek dan mengatur waktunya dua puluh menit. Sejurus kemudian, aku sudah menyambar jaketku dan berlari keluar untuk membeli keju.

Aku berlari sekuat tenaga, berharap aku bisa mengejar waktu sepuluh menit sebelum aku mengeluarkan kuenya dari dalam oven. Belum lagi memarut kejunya, apalagi jarak rumahku ke toko terdekat cukup jauh. Cukup memakan waktu dan tenaga tentunya. Aku melihat toko yang kutuju hanya tinggal beberapa meter lagi, namun aku benar-benar kecewa karena toko itu tutup. Aku terpaksa mencari toko lain. Peluh menetes membasahi dahiku. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, betapa mentari bersinar dengan teriknya. Sama teriknya ketika seluruh siswa kelas dua di sekolahku mengadakan acara darmawisata ke pantai. Di sana aku dan kau berlarian di sepanjang garis pantai, merasakan debur ombak di kaki kita. Aku masih ingat ketika kau memintaku untuk mengambil fotomu yang sedang bergaya dengan latar belakang laut yang begitu biru, namun kau mengerang kesal karena teman-teman yang lain tiba-tiba saja langsung memasuki area bidik kameraku dan merusak gaya yang sudah kau susun sedemikian rupa itu. Aku tersenyum geli, mengingat foto itu masih tersimpan di kameraku.

Untung saja, ada sebuah toko yang tidak begitu jauh dari toko yang pertama. Setelah mendapatkan sekotak kecil keju, aku bergegas pulang ke rumah. Aku melihat telepon genggamku, masih ada tujuh menit lagi. Sesampainya di rumah aku segera memarut kejunya. Setelah selesai memarut keju, aku segera ke dapur dan berdiri di depan oven sambil sesekali mengintip ke dalam oven melalui kaca. Kriiing… penanda waktu di telepon genggamku telah berbunyi. Aku membuka tutup oven perlahan dan mengeluarkan sebagian loyang. Kutusuk permukaan kue dengan sebatang tusuk sate, memastikan tidak ada lagi serat kue yang menempel. Aku lega karena kue yang kubuat matang sempurna. Kukeluarkan loyang itu dari dalam oven, dan membiarkannya mendingin sejenak selagi aku membuat butter cream untuk dioleskan di atasnya.

Aku mencuci stik mikser dan mangkuk yang telah kugunakan sebelumnya, kemudian mengelapnya dengan bersih agar tidak ada kotoran yang menempel. Kuambil mentega putih, gula halus, dan susu kental manis. Aku mulai mengocok bahan-bahan tersebut hingga berwarna putih dan bertekstur lembut. Aku mencolek butter cream itu sedikit dan mencicipinya. Sangat lembut dan manisnya sudah pas. Rasa manisnya mengingatkanku ketika kita makan parfait di sebuah toko kue yang kita temukan dalam perjalanan pulang sehabis belajar bersama di rumah teman. Masih terbayang wajah bahagiamu ketika memakan parfait itu, menggugahku untuk membuatkanmu parfait yang sama suatu saat nanti.

Kukeluarkan kue dari loyangnya. Kertas roti yang menempel kulepas dengan hati-hati agar tidak banyak bagian kue yang ikut terlepas. Aku mulai mengoleskan butter cream di permukaan kue perlahan-lahan dan serata mungkin. Kuulangi berkali-kali hingga kurasa cukup rata. Aku mulai menaburkan keju di atasnya. Setelah itu, aku mengambil pisau dan memotong kue keju itu menjadi potongan-potongan kecil agar mudah memakannya. Kemudian kusemprotkan sedikit butter cream di atas kue menggunakan spuit dan plastik segitiga, serta potongan kecil buah ceri untuk mempermanis tampilan kue keju itu. Selesai! Aku mengambil sebuah kotak kue yang telah kubeli sebelumnya dan menempatkan kue keju itu ke dalamnya. Baguslah, semua telah siap. Sekarang aku tinggal mandi dan bersiap berangkat ke sekolah.

Empat puluh lima menit kemudian, aku telah berada di gerbang sekolahku. Aku melihat anak-anak OSIS sibuk mempersiapkan pentas seni yang akan diadakan lusa. Di sanalah aku melihatmu, bersama anggota OSIS yang lain sedang sibuk membuat dekorasi panggung. Banyak siswa populer yang aku tahu, tetapi tidak semuanya kenal. Aku merasa terasing, karena itu kuputuskan untuk tidak mengganggumu. Aku melangkah menuju loker dan menatap lokermu lekat-lekat. Meskipun sedikit ragu, kubuka lemari lokermu dan kuletakkan kotak kue itu di sana. Aku menghela napas, berdoa di dalam hati semoga kau merasa bahagia ketika memakan kue itu, lalu berjalan menjauhi area sekolah.

-----------------------------------------------------------------------------------

Seorang remaja laki-laki berjalan menuju lokernya untuk mengambil beberapa barangnya sebelum pulang. Ia ingin beristirahat setelah seharian penuh bekerja bersama anggota OSIS lainnya mempersiapkan pentas seni sekolah. Namun, ia mendapati sebuah kotak misterius di dalam lokernya. Rasa curiga menyelinap ke dalam benaknya, jangan-jangan isinya bom seperti yang marak diberitakan di media massa akhir-akhir ini. Ia cepat-cepat mengenyahkan pikiran buruk itu, membuka kotaknya, dan menemukan seloyang kue keju yang telah sipotong-potong di dalamnya, lengkap dengan butter cream dan buah ceri. Laki-laki itu mengambil sepotong, lalu menggigit sebagian kue keju itu. Rasa ini, rasa kue yang sudah lama dikenalnya, karena ada seseorang yang telah beberapa kali memberinya kue keju yang sama sebelum ini. Rasa lelah yang tadi mendera, entah sudah terbang ke mana, berganti dengan sebuah dorongan yang menggerakkan kaki lelaki itu untuk menemui gadis si pembuat kue keju. Gadis yang telah mengisi hati dan hari-harinya, sejak pertemuan pertama mereka ketika musim dingin di sebuah taman di Frankfurt.

Comments (1)
 

Cinta yang Singkat

17 January 2012   Adelia Marista Safitri
E-mail Print PDF
1st Chapter

Parade kesenian itu membuka pintu ingatanku pada satu waktu yang telah lama ku lalui. Ya, waktu itu, sekitar satu tahun yang lalu di Senin senja. Masih melekat sekali di benakku bagaimana ia membawaku bertemu dengan Alan. 


Alan, pria berpostur tinggi dan rambut pendek namun rapi, menyenggol lenganku saat aku tengah menyaksikan parade itu berlangsung. Haha.. Seringkali aku tersenyum kecil ketika aku mengingat es krim yang ia tumpahkan ke blus hijauku waktu itu. Lucunya, dia meminta maaf kepadaku dengan es krim yang memenuhi mulutnya, belepotan. Namun, es krim itu lah yang menjadi saksi perkenalan kami. Singkat memang. Tak ada kecanggungan di antara kami saat dia mengucapkan kata, "Sorry. Siapa namamu?"sembari mengulurkan tangannya. Aku hanya tersenyum malu. "Oh, hai, aku Astari. Cukup panggil aku dengan Asta.", jawabku.

***

Sejak perayaan parade itu usai, aku tak lagi bertemu dengannya. Hmm.. mungkin ini hanya pertemuan singkat dan unik menurutku. Suatu malam di pertengahan bulan, aku mengunjungi pertunjukkan kesenian lainnya, di lain tempat tentunya. Aku melihat sosok pria cool dengan topi yang menutupi kepalanya sedang asik menunjuk-nunjukkan tangannya mengarahi beberapa orang di sekitarnya. Sepertinya aku mengenalinya. "Hey, iya, dia Alan! Loh, apa yang sedang ia perbuat?" batinku. Tau begitu, aku tak lekas memanggilnya. Aku mengalihkan pandanganku pada tari papua yang sedang berlangsung saat itu. Entah, aku memang begitu menyukai seni. Mungkin sifat lembut ibu menurun padaku. Ya, beliau memang menyukai seni, seni apapun itu.

Entah berapa banyak aku mengunjungi berbagai pertunjukkan seni di bulan itu. Saking seringnya, aku tak ingat berapa jumlah pastinya. Mungkin karena aku begitu menikmatinya. Malam itu, setelah acaranya selesai, aku duduk di halte menunggu bus yang akan mengantarkan aku pulang. Aku merogoh kantong celanaku dan kuraih handphone di dalamnya. 21.30. Malam sekali ini. Kapan aku bisa pulang? Ke mana bus yang hendak mengantarku pulang? Sudah jam berapa ini? Semua pertanyaan menggeluti pikiranku sendiri. Hampir saja aku kesal dibuatnya. "Huh..", aku mendesah keras. "Tenang saja, sebentar lagi busnya datang kok". Buru-buru aku menoleh mencari asal suara itu. Alan! "Tunggu lima menit lagi ya.", ujarnya lagi. Hey, apa dia sudah lama di sampingku? Bagaimana bisa aku tak melihatnya? Apa dia mendengar keluhanku sejak tadi?

***

Sejak pertemuan singkat kami di halte ujung jalan itu, kami bertukar nomor HP. Sejak saat itulah aku dekat dengannya. Dia mulai sering mengirimiku pesan singkat, seperti jadwal rutinitasnya ku . Ia kerapkali menanyaiku tentang apa yang ku lakukan seharian, jadwal makanku, hingga mengajakku ke pertunjukkan seni yang ada. Dia pakar seni buatku. Bagaimana tidak, dia tahu benar seluk-beluk seni. Jarang sekali aku menemukan laki-laki yang gemar akan beberapa seni di negeri sendiri. Namun sekarang aku menemukannya. Ya, sosok seniman yang telah mengubah hidupku. Seringkali aku merasakan jantungku berdegup secara tak wajar ketika aku ada di dekatnya. Inikah...

***

Perhatian-perhatian yang ia beri membuatku semakin nyaman. Baru kali ini ada orang yang baru saja kukenal namun mampu menarik atensiku begitu cepatnya. Dia pribadi yang unik. Hingga pada suatu malam di akhir tahun, handphone yang saat itu kutindih di tempat tidur bergetar. 1 new message. Alan. Mataku terbelalak membaca pesannya saat itu. Dia memintaku untuk menjadi pacarnya? Bagaimana mungkin? Baru satu bulan lebih aku mengenalnya, apa harus secepat ini? Apa yang harus kulakukan?

 

Add new comment
 
More Articles...
Start Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 910 Next End

Page 10 of 184

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Bloopendorse

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top