• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Ashmina [2]

04 April 2012   Khairunnisa Putri
E-mail Print PDF
Cerpen

Jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul delapan tiga puluh. Siswa-siswi kelas sepuluh dan sebelas hari ini masuk jam sepuluh karena murid-murid kelas tiga sedang melaksanakan try out tingkat kota. Mina telah siap dengan seragamnya meskipun waktu sekolah masih sembilan puluh menit lagi. Setelah mematut diri di cermin, Mina bergegas turun untuk sarapan.

Kening Mina berkerut heran tatkala menemukan udara kosong di bawah tutup saji meja makan. Bunda nggak masak adalah fenomena langka yang hanya terjadi beberapa kali dalam sebulan. Penasaran, tungkai kembarnya dilangkahkan ke dapur. Alih-alih nasi goreng atau sandwich, yang ditemuinya hanya semangkuk bubur. Bukan bubur ayam biasa melainkan bubur yang dikenal Mina sebagai bubur merah putih. Ia mencoba menelaah maksud bunda menyediakan jenis masakan yang jelas-jelas tidak umum itu.

Terkesiap, Mina mengambil tiga langkah mundur. Bubur merah putih biasanya dibuat jika ada yang hendak mengganti nama. Ia mengerti maksudnya. Ia bergegas meninggalkan dapur untuk mencari bunda.

Dania menahannya. “Mau kemana kamu?” tanyanya.

Mina berdecak sebal. “Cari Bunda.”

“Sini, ikut aku dulu,” ujar Dania seraya menggiring Mina ke kamarnya. Dania membuka laci tempatnya menyimpan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan urusan kantor. Diraihnya sebuah amplop panjang yang tampak lusuh, kemudian ia serahkan kepada adiknya. “Baca ini dulu sebelum marah-marah sama Bunda,” titahnya.

Mina patuh dan menerima surat tersebut. Dania sama keras kepalanya dengan dirinya sendiri, melawan kakaknya hanya akan menambah rasa pusing di kepala. Ia membuka surat tersebut dengan sangat perlahan. Kertasnya yang terlihat rapuh membuat Mina yakin bahwa sedikit tarikan saja dapat membuat kertas itu sobek. Ia membaca tulisan tangan yang tertera pada surat tersebut. Ketika matanya telah sampai di akhir paragraf, setetes air mata jatuh dan membasahi kertas dalam genggamannya.

Surat itu berisi cerita mendiang ayahnya ketika menempuh ibadah haji lima belas tahun yang lalu, dialamatkan kepada bunda. Kala itu ayahnya sedang bermalam di terowongan Mina. “Mina adalah tempat yang sangat indah, tak peduli berapa juta orang yang sedang berada disini, aku tetap menganggapnya indah. Maukah kau menamakan putri kita dengan nama Mina? Aku akan sangat bahagia,” tulisnya.

“Surat itu ditulis dua hari sebelum ayah meninggal, dikirim melalui paket pesan super kilat dan sampai disini seminggu setelah ayah meninggal. Singkatnya, itu permintaan terakhir Ayah,” jelas Dania.

Hati Mina mencelos, ia benar-benar tertegun. bunda begitu mencintai ayah, ayah sangat menyukai nama Mina, dan Mina sendiri membencinya. Marah-marah ingin ganti nama dan membuat bunda sakit hati. Dadanya terasa sesak, bukan karena kamar Dania minim oksigen melainkan oleh penyesalan. Mina merasa sangat tidak bersyukur. Namanya bukan tidak berarti, tapi sangat berarti, terutama bagi bunda dan almarhum ayah.

Mina menghapus jejak tangisan pada wajahnya dan bergegas meninggalkan kamar Dania. Tujuannya? Kamar bunda. Ia akan memeluk bunda, minta maaf, dan meminta bunda menggagalkan rencana pergantian nama yang sedang dipersiapkan. Ia menyukai nama Ashmina apa adanya.


Add new comment
 

Putus

03 April 2012   Wida Zannah Zeila
E-mail Print PDF
1st Chapter

Konsentrasi menggenang, temperatur jadi keropos. Dan darah meledak – ledak di dalam kepala. Seakan – akan balon udara tak sanggup menampung baris kalimatnya. Ucapan dari mulutnya menggelinding seperti bola besi yang meluncur dari bukit pengharapan lalu menghantamku telah membuatku tersungkur.

Lama, aku limbung mencari – cari kesalahan dalam aliran udara yang baru saja lewat. Mungkin hanya sebilah polusi udara yang menggandakan bayangan suaranya. Tapi mataku tidak. Mataku melihat sejelas- jelasnya wajah yang masih kudamba tanpa cacat sedikitkpun oleh rasa benci. Rona wajahnya semburkan kedataran makna yang harusnya penuh penyesalan.

Bisakah aku mengakui ucapannya walau nanti malam aku mampu merenenunginya dibalik selimut dan mata sembab. Waktu selalu memberikan segalanya, tapi aku mengacuhkannya.

Rasanya tak pernah cukup baik untuk didengar, dipahami, lalu diterima. Karena jalannya begitu tergesa – gesa dan singkat. Dan kenikmatan dalam perjalanannya tak terecap bahkan saat aku berusaha mengingatnya setelahnya.

Tidak berharap ada siklus, yang mengaduk – aduk lemari hatiku dan kukeluarkan semua perkakas bahkan baju pestaku. Dan waktu kini menatanya.

Kan kututup dengan kunci ganda. Agar kau tak bisa lagi memasukinya. Tapi keacuhanmu akan perasaanmu membuatku membenci segala yang kau lakukan padaku. Tapi kepura- puraanku yang mampu berdiri tanpa dirimu membuatku semakin membenci diriku sendiri.

Dan dengan nanar, aku membaca layar ponsel yang berisi rangkaian huruf yang kubayangkan tanganmu mengetik kata – kata itu. Bertanya – tanya apa nama perasaanmu ketika kau mengetiknya lalu mengirimkannya kepadaku. Bahkan aku bertanya pada diriku, walau ini pertanyaan konyol, apakah nama kontakku masih sama dengan yang dulu. Dan jika telah kau ganti, tak adakah rasa tak wajar ketika kau mengirimkannya padaku. Hanya berandai saja.

“Semester ini nempuh berapa sks?”

Itu SMS mu kemarin setelah kau putuskan aku seminggu lalu.

Dan aku tak tahu bagaimana caranya air mataku telah membasahi pipiku.

Add new comment
 

Mimpi-mimpi Audine

02 April 2012   kandanGagas
E-mail Print PDF
Artikel
Bagi Audine, tidak dapat membedakan mana mimpi dan mana kenyataan adalah hal yang mengerikan di dalam hidupnya. Ia hanya ingin terjaga agar tetap bisa melihat kenyataan yang sebenarnya. Kerap kali ia merasa bingung apakah yang sedang dialaminya kini berupa mimpi atau kenyataan.
Raeli yang adalah sahabat baik Audine dan Mada yang adalah seorang peramal selalu membantu Audine untuk memecahkan apakah ia sedang menghadapi mimpi atau bukan. Untuk membantu membedakan mana mimpi dan kenyataan, Audine menggambar garis yang akan menyusun menjadi bentuk bintang.
Sampai akhirnya, ia menemukan bintang yang berbeda.
Bintang itu juga yang menjadi penunjuk apa yang selama ini dirahasiakan. Penunjuk yang membongkar rahasia antara Mada dan seseorang yang ada di dalam hidup Audine.

Add new comment
 
More Articles...
Start Prev11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Next End

Page 11 of 203

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top