Oleh Gama Harjono
Jalan-jalan akhir pekan yang unik selalu dicari. Tak beda untuk mereka yang kebetulan tinggal di kota Roma. Ibukota Italia ini juga dikepung oleh desa-desa medieval yang menggoda untuk dikunjungi. Belum lagi janji makanan khas Romana. Semua ini ditemukan di Calcata.
MUSIM semi mengetuk tak sabar pintu-pintu rumah di Italia. Kebetulan Sylvain, sahabat saya yang tinggal di kota Nice, Perancis, datang ke Roma dalam rangka liburan. Ide brillian saya adalah menciptakan weekend “alla romana”. Maka itu, saya minta pada Francesco, seorang teman yang warga asli Roma, untuk memilih satu lokasi di Lazio di hari Sabtu yang cerah ini.
Kami meluncur ke arah dataran tinggi di daerah utara Lazio. Lucunya, sepanjang jalan tol S.S. 2, yang lebih dikenal sebagai jalan antik Via Cassia pada era Kekaisaran Romawi, tak satupun amfiteater terlihat. Namun, pamer paha dan dada semok melimpah-ruah.
“Gadis-gadis ini lucciole,” ucap Francesco yang menjadi guide lokal. Dalam bahasa gaul, lucciole artinya PSK alias Pekerja Seks Komersial. Perempuan-perempuan di sepanjang via Cassia ini sepertinya berasal dari Eropa Timur. Mereka masih belia; tak sampai 20 tahunan. Bagi sebagian orang, prostitusi memang cara mudah mencari uang atau untuk sekadar bertahan hidup. Setelah kabur dari negaranya demi mencari kehidupan yang lebih baik, ataupun melarikan diri dari kerasnya realitas sisa-sisa kehidupan sosialisme-komunisme, mereka harus bisa “bergerilya” agar bisa hidup di Eropa Barat.
-
