• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Peri Calcata (Italia)

17 December 2009   Gama Harjono
Artikel Artikel

Oleh Gama Harjono

 

Jalan-jalan akhir pekan yang unik selalu dicari. Tak beda untuk mereka yang kebetulan tinggal di kota Roma. Ibukota Italia ini juga dikepung oleh desa-desa medieval yang menggoda untuk dikunjungi. Belum lagi janji makanan khas Romana. Semua ini ditemukan di Calcata.

MUSIM semi mengetuk tak sabar pintu-pintu rumah di Italia. Kebetulan Sylvain, sahabat saya yang tinggal di kota Nice, Perancis, datang ke Roma dalam rangka liburan. Ide brillian saya adalah menciptakan weekend “alla romana”. Maka itu, saya minta pada Francesco, seorang teman yang warga asli Roma, untuk memilih satu lokasi di Lazio di hari Sabtu yang cerah ini.

Kami meluncur ke arah dataran tinggi di daerah utara Lazio. Lucunya, sepanjang jalan tol S.S. 2, yang lebih dikenal sebagai jalan antik Via Cassia pada era Kekaisaran Romawi, tak satupun amfiteater terlihat. Namun, pamer paha dan dada semok melimpah-ruah.

“Gadis-gadis ini lucciole,” ucap Francesco yang menjadi guide lokal. Dalam bahasa gaul, lucciole artinya PSK alias Pekerja Seks Komersial. Perempuan-perempuan di sepanjang via Cassia ini sepertinya berasal dari Eropa Timur. Mereka masih belia; tak sampai 20 tahunan. Bagi sebagian orang, prostitusi memang cara mudah mencari uang atau untuk sekadar bertahan hidup. Setelah kabur dari negaranya demi mencari kehidupan yang lebih baik, ataupun melarikan diri dari kerasnya realitas sisa-sisa kehidupan sosialisme-komunisme, mereka harus bisa “bergerilya” agar bisa hidup di Eropa Barat.

Read more... Comments (1)
 

Di antara Pena dan Mentari Sore

17 December 2009   Sendhy Octovan Dwiputra
Puisi Puisi

Dan mentari sore mulai bersenandung
Merindukan rembulan dan pergantian malam
Bersama angin dan napas alam yang mengiringinya
Berdesir di antara dedaunan dan pasir yang jatuh

Dan penaku mulai menari-nari malu
Merangkai kata demi kata, bait demi bait
Menyuarakan suara hati ini
Yang sepi tanpamu dan kosong

Terkadang mereka pun bertanya
Di sela-sela kesendirian ini
Apa yang kau cari dari semua ini?
Dan aku terdiam sepi
Aku malu, sebagaimana penaku mulai melangkah ragu...

Mungkin waktu yang memiliki jawabannya
Maka aku menunggu dan menanti
Namun,
Hanya kau yang dapat menyita seluruh hatinya
Maka aku pergi...

Comments (1)
 

Sebuah Ciuman (2)

16 December 2009   Calvin
Cerpen Cerpen

"Ya?" jawabnya lirih

"Kenapa kamu kikuk waktu ketemu dia tadi?" kutatap wajahnya, tapi ia memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.

"Aku... Aku..."

"Apa kamu belum bisa ngelupain dia?" Kuakui aku terdengar sangat curiga padanya. Aku tahu bahwa yang disayanginya kini hanyalah aku. Tapi ego seorang pria rasanya tidak terpuaskan jika tidak mendengar langsung kata-kata dari mulutnya. Dan satu lagi, aku cemburu. Hanya cemburu.

"Aku cuma keinget waktu dia dulu nyia-nyain aku meski aku udah korbanin temen dan keluarga aku buat fokusin hubungan aku sama dia. Aku udah kehilangan banyak demi cinta buta yang aku rasain. Aku bener-bener nggak mau ngerasain cinta buta nggak berarah itu lagi...," Ia kini menangis di pundakku.

Aku masih ingat detail-detail hubungannya dengan si pecundang itu. Aku tahu betapa ia sudah begitu banyak berkorban demi cinta butanya terhadap si loser itu. Aku tak akan membuatnya sedih. Aku harus bisa membuatnya bahagia. Kebahagiaan kami adalah yang terpenting.

Read more... Comments (11)
 
More Articles...
Start Prev 181 182 183184 185 186 187 188 189 190 Next End

Page 184 of 203

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top