Sebelum ceritanya ada, yang duluan saya bikin pertama kali justru karakter tokoh utamanya. Mulai dari gaya, sifat, kelakuan tengilnya, sampai mencari nama yang unik. Nama yang mudah diingat, dan kalo diketik komposisi hurufnya keliatan khas banget gitu, pokoknya juga harus IRIT saat diucapkan.
Tuing…! !!
Dapatlah nama RIT, tapi dipikir-pikir kok kesannya jadi nama cewek gitu. Setelah diedit susunan hurufnya, ketemu deh nama RYD.
Itu belum pakai ve. Lalu saya dapat nama Elvera, barulah ditambahin namanya jadi Veryd, yang kemudian tanpa sengaja malah jadi bahan kisah mereka di bab “Seperti Katalisator”.
( Dulu kalau mereka manggil “Ver”, maka kita berdua pasti sama-sama noleh, anak-anak makin sering aja iseng sok manggil-manggil kita. Daripada diisengin terus sama anak-anak, saya kasih aja “Ver” itu buat kamu…) Hal.92.
Dari sebuah nama, ternyata bisa diolah jadi ide tuk bahan cerita kan tuh? :D
*
Suka nongkrong dan banyak lagu, sering aku dipanggil guru…
Iseng bikin ulah melulu, di delapan puluhan dulu…
(Rock in 82 – EDANE )
Penggalan lirik lagu itu adalah dasar dari inspirasi yang saya masukan ke dalam karakter seorang Ryd.
Nah, sebagai kerangka, lagu berikut ini adalah dasar ceritanya.
Di hatiku, kugenggam dirimu…
Walau aku sadari, jauhnya diri ini…
( Kau Kugenggam – EDANE )
Dua lagu itulah yang jadi pengantar kisahnya, yang kemudian berkembang jadi naskah panjang sebuah roman. Ditambah bahan baku yang bersumber dari celotehan ( eks) anak-anak KG, khususnya penghuni ruang #56, BT,GT, dan Curas. Tentunya setelah disortir, diendapkan, dan dirangkai menjadi susunan paragraf-paragraf.
Lalu kalo ada yang nanya , siapa cewek yang jadi inspirasi, jawabnya : nggak ada.
Sewaktu jaman SMP-SMA dulu, saya naksirnya ama kakak kelas terus tuh….;) Soalnya kliatan lebih menantang, dan juga lebih …hmm….menggairahkan!
Tahun 1998, saat liburan sekolah, saya avonturir keliling Jawa sendirian. Suatu sore ‘terdampar’ di Jombang, dan kehabisan duit. Sialnya, saya turun kereta bukan di stasiun kotanya, tapi cuma di stasiun kecil yang kumuh dan minim fasilitas. Parahnya, selepas maghrib di Jombang udah nggak ada angkutan umum kala itu. ( Nggak tau kalo sekarang )
Tanya sana-sini dimana letak ATM terdekat. Ternyata masih jauh, sekitar 5 km. Ya udah, terpaksa jalan kaki deh malam-malam, sambil bawa ransel gede pula.
Nekat aja waktu itu, padahal nggak hapal medan, nggak punya peta pula, sementara orang-orang sana kalo ditanya ngarahinnya cuma pakai arah mata angin…lor terus …kidul menggok ngulon…dsb.
Untungnya nguasai ilmu navigasi, jadi liat bintang aja buat acuan arah compass, juga sedikit main filing tentunya. Setelah satu jam lebih jalan kaki, dari kejauhan mulai keliatan sebuah neon box biru bertuliskan ATM BCA.
Dalam hati langsung bersorak. Bingo!
Begitu sampai di ATM, buka dompet dan….Waaa ternyata kartunya patah!
Langsung lemes dah, namun tetap tenang, walaupun dalam hati perasaan mulai nggak enak.
Periksa-periksa lagi dompet, ternyata nemu selembar duit 10 dolar amrik yang terselip. Kebetulan waktu itu dolar lagi melesat tinggi-tingginya, dari Rp 2000,- ke 12.000,-
Yes! Misi pun berganti, cari money changer!
Untungnya udah di daerah kota, jadi lumayan mudah nemunya.
Nah, kejadian Kartu ATM patah itu kemudian jadi pembuka cerita di novel JC yang digarap pada tahun 2010.
Bedanya, kalo dalam cerita di buku, Ryd tidurnya di Stasiun Tugu Jogja, sementara yang nulis dulu ngegembel di bangsal rumah sakit, dan belum ada pikiran tentang tokoh Sasa.
Waktu itu cuma ngeliat ada seorang anak muda yang stress gara-gara nggak lulus tes masuk AKABRI, yang kemudian peristiwa itu sempat saya tuangkan dalam cerpen berjudul “Ranting Patah” , untuk diikutkan dalam lomba nulis tingkat nasional. Alhamdulillah ya tidak menang, tapi itu cerpen kok ya nekat jadi juara favorit pilihan juri.
Bahan tulisan sudah terkumpul, property items yang bakal dipakai juga udah diset, cerita pun udah selesai duluan dalam kepala saya, namun untuk mulai menuliskannya masih dengan pergerakan yang slow motion, alias males-malesan…:D
Pertengahan 2010 kalo nggak salah, waktu itu saya masih ngelayap ke Semarang, cuma pengen liat festival band, dan kepengen jadi saksi comeback-nya Heydie Ibrahim di Powerslaves. Dia adalah rocker yang juga illustrator. Axl Rose pasti minder kalo liat Heydie nyanyiin lagunya Guns N’ Roses, soalnya suaranya Axl kalah keren.
Dua kata di atas yang di-bold itulah yang kemudian saya masukan juga ke dalam sosok Ryd, sebagai penyeimbang antara kebandelan dan prestasi...Ehm!
*
Siang hingga sore berada ditengah-tengah hingar-bingarnya music rock, malamnya kesepian di penginapan murah. Saat itu jarak antara matahari dan Semarang kayaknya emang lagi dekat banget tuh, panasnya sungguh jahanam. Saat tengah malam pun masih terasa gerah nggak karuan. Di kamar nggak ada AC, hanya ada benda yang mirip kipas angin. Cuma mirip, soalnya udah nggak berfungsi.
Daripada suntuk, mendingan keluar cari udara segar.
Jam satu dini hari melangkah santai di Jalan Pandanaran yang lengang, melewati Gramedia yang sudah tutup sejak beberapa jam yang lalu. Pikiran saya pun langsung teringat naskah yang sama sekali belum tergarap. Mendadak mood saya langsung bagus. Lalu Tanya Satpam, di mana ada warnet. Pak Satpam kemudian nunjukin arahnya.
Saya pun melangkah lagi menuju Ruko yang di maksud Pak Satpam tadi, yang ternyata jaraknya lumayan jauh kalo jalan kaki, kira-kira butuh waktu 15 menit untuk sampai. Lokasinya sekitar Lawang Sewu.
Begitu sampai warnet dan udah duduk di depan komputer, sempat diam beberapa jenak karena bingung mau ngerjain bagian mana dulu. Entah kebetulan atau emang hembusan ide dari langit, di warnet itu penjaganya nyetel lagu-lagunya Powerslaves yang rada manis.
Oh hangatnya dirimu…
Oh hangatnya cintamu…
Kita kan bersatu…
Berdua satu tujuan…
Lalu, berpacu dengan billing yang terus menambah ongkos, yang mulai saya ketik duluan justru bab terakhir, dan langsung selesai dalam satu sesi pengetikan itu. Tidak terlalu sulit merangkai sebuah jalan cerita, yang sulit bagi saya adalah saat membuat judul.
Nggak pengen juga pusing-pusing terlalu lama, maka biasanya saya pakai aja kalimat atau kata terakhir di karangan yang sudah selesai itu sebagai judul.
Bagian paling njelimet ketika mengerjakan naskah JC adalah ketika membagi jatah peran dan dialog dalam tiap scene. Siapa ketemu siapa, ngomong apa, ngebacot apa, nadanya gimana, suasananya, ngaco apa serius… semacam itulah. Semuanya dibikin senatural mungkin, dan disesuaikan dengan karakter yang ada.
Teby misalnya, dari segi postur tubuh dia yang terlihat paling jagoan, rada ngehe, tapi suka ngocol juga dengan lagak teaternya, dan suka ceplas-ceplos seenaknya. Apapun yang dia lakuin dan omongin sudah saya atur sedemikian rupa hingga menjadi sesuatu yang emang Teby banget.
Seperti : “Wah, tuh cewek ‘asetnya’ boleh juga tuh…” Atau “Eh, bapak saya Jenderal, lho! Punya bank tiga!”
Kalau Ryd dasarnya emang cuek standar seniman, agak keras kepala, namun juga suka iseng dan usil. Dan keusilannya itu yang kemudian jadi pengembang cerita. Seperti waktu dia ditanya nama sama adik kelasnya yang baru. Ryd ngejawabnya asal aja, “ Tuh, liat aja nomer absen 38 di tiga IPA 6.”
Padahal itu nomer absennya Teby…
.............
Hmm, lanjutanya baca aja di novel. Seru kok. ;)
Sementara Jimi, lebih santai dia pembawaanya, refleknya bagus, dan daya pikirnya cepet.
Itulah kenapa waktu Ryd kena sabet belati, Jimi langsung tanggap dan tau harus menuju kemana. Walaupun akhirnya ‘nyasar’ ke tempat praktek bidan. ( Bagian “Lupa Dengan Luka”. )
Sebenernya itu bukan buat lucu-lucuan lho, tapi saya menggunakan cara berpikir Jimi ketika berada dalam situasi darurat dan butuh P3K, sebagai Jimi yang spontan, namun tetap logis.