Anak-anak bersorak sorai saat Miya masuk ke ruangan.
“HAPPY BIRTHDAY, MIYA, HAPPY BIRTHDAY, MIYA, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY, MIYA!” Mereka bernyanyi sambil bertepuk tangan.
Miya terlihat sangat terkejut. Matanya yang bulat membelalak kaget. Bibirnya yang tipis dan indah perlahan tapi pasti membentuk semburat senyum terharu. Belum pernah kulihat ia secantik ini.
Aku dapat melihat bahwa Miya lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa aku yang memegang kue ulang tahunnya. Dia sangat gembira.
Dia berjalan mendekatiku. Sesaat aku ingin mundur saja saking malunya, namun aku sadar bahwa ia ingin mendekati kue ulang tahunnya, bukan yang membawanya.
Miya meniup lilinnya. Anak-anak bertepuk tangan dan berteriak-teriak heboh.
Ia menatapku. Aku balik menatapnya. Aku tak bisa berkata-kata melihat kedua bola mata yang bersinar begitu menyejukkan ada begitu dekat dengan wajahku. Aku bahkan dapat melihat jelas setiap detail bulu matanya yang panjang.
Tiba-tiba..., PLOK! Miya mendaratkan krim kue itu tepat ke pipiku dengan jari telunjuknya. Pipiku jadi cokelat. Aku sebal, tapi dia malah tersenyum. Sementara anak-anak makin bersorak riuh rendah.
Miya mencolek kuenya lagi dengan jarinya, kemudian mendaratkannya ke wajah anak-anak yang berdiri dekat dengannya.
“Aaaaah, Miyaaaa!!!” Mereka langsung protes, namun tetap tertawa-tawa.
Miya makin melancarkan aksinya. Anak-anak mulai waspada. Satu persatu dari mereka mulai tercoreng kue. Miya tertawa kegirangan.
“Kita balas aja si Miya!” Teriak Roy kepada anak-anak. Semuanya setuju. Mereka mulai mencolek kue itu dengan telunjuk mereka, kemudian bersiap menyerbu Miya.
“Aaaaaahhh!!!” Miya berteriak sambil berlari keluar dari ruangan rapat, menuju lapangan tengah gedung.
Anak-anak sontak mengejarnya. Aku mengikuti mereka, sambil tetap membawa kue blackforestku.
Wajah dan rambut Miya penuh dengan krim cokelat. Anak-anak tertawa melihatnya. Miya berlari menghampiriku, mengambil sepotong kue dengan tangannya, kemudian melemparkannya ke wajah anak-anak. Terjadilah lempar-lemparan kue yang tidak terelakkan lagi.
Aku terdiam, menatap kue ulang tahun Miya yang sudah tidak jelas lagi bentuknya.
***
Jam lma sore. Aku duduk sendirian di ruang tengah gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa. Kusandarkan punggungku pada tembok dan kurebahkan kakiku.
Aku menunggu Miya yang sedang membersihkan diri di kamar mandi bersama anak-anak.
Ah, itu dia. Miya datang menghampiriku dengan wajah yang telah bersih dan rambut yang masih basah karena keramas.
Aku meraih tasku. “Miya, aku pulang dulu.”
“Lho, buru-buru amat. Kita belum ngobrol.”
Miya duduk di sampingku. Aku dapat membaui harum rambutnya.
“Makasih, ya, Abi, untuk kejutannya. Aku dengar, anak-anak udah kerjasama dengan kamu. Terima kasih, kamu baik sekali. Kamu tahu aja kue kesukaanku.”
Aku tersenyum hampa. “Iya, sama-sama, aku pulang dulu.”
“Kenapa buru-buru, sih? Kamu ada urusan lain, ya?”
“Enggak, kok.”
Lalu hening. Sunyi. Hanya ada sepasang insan yang saling menatap dalam kekosongan. Miya membuka mulutnya, seperti ingin bicara, namun tak ada satu kata pun yang keluar.
“Kamu mau ngomong apa?” Tanyaku datar.
Miya tampak kebingungan. “Hmmm..., ada yang mau kamu omongin, nggak?”
“Enggak, Mi.”
“Serius? Beneran, nggak ada yang mau kamu omongin, Bi?”
“Enggak, Mi. Serius.”
“Tapi...”
Aku tetap menggeleng. Tersirat sebuah makna dari wajah cantik Miya. Ia menatapku begitu lekat.
“Memangnya kamu ingin aku ngomong apa, Mi?”
Pengharapan dalam wajah Miya langsung padam. “Eh, enggak. Nggak apa-apa. Sekali lagi, makasih banyak buat kuenya.”
Aku mengangguk, meraih tas selempangku, kemudian berdiri. Bersiap pulang.
“Abi.”
“Ya?”
“Aku anterin, yuk. Kebetulan aku bawa mobil dan...”
“Nggak usah.”
Aku pergi meninggalkannya. Aku tak perlu berbalik untuk mengetahui bahwa Miya terus memandang punggungku sampai menghilang dari jangkauan matanya.
Aku tahu bahwa Miya tahu aku berharap padanya. Aku juga tahu bahwa Miya berharap padaku. Aku pun juga tahu bahwa ia kecewa aku tidak mengutarakannya padanya.
Namun rasa kecewa Miya tidak sebanding dengan rasa kecewaku. Aku begitu kecewa karena Miya menghancurkan skenario yang kuciptakan sedemikian rupa untuknya. Miya membatalkan rencanaku yang ingin menjadikan hari ini bersejarah untukku dan untuknya. Hariku dan harinya. Kami berdua.
Seumur hidup, aku belum pernah dapat kue ulang tahun. Tapi itu tak mengapa. Aku membayangkan, mungkin akan lebih membahagiakan bila memberikan ketimbang menerimanya. Tentunya kepada orang yang menghargai usahaku dalam memberikannya.
Dan itu bukan Miya.




-

