Aku melewati toko kue itu, untuk kesekian kalinya.
Berhenti sebentar, untuk kesekian kalinya.
Melihat-lihat kue yang dipajang di sana, untuk kesekian kalinya.
Kue ulang tahun itu enak tidak, sih? Maksudku, kue ulang tahun yang memang dipersembahkan untuk kita. Bukan potongan kue yang dibagikan oleh teman yang sedang berulang tahun. Itu, sih, aku sudah sering.
Selama 20 tahun hidup di dunia, aku belum pernah dapat kue ulang tahun. Seperti apa rasanya, saat kamu membuka mata pagi-pagi di tanggal kelahiranmu, lalu melihat teman-teman atau keluargamu menghampirimu sambil membawa kue ulang tahun? Seperti apa rasanya, dinyanyikan lagu-lagu ulang tahun? Seperti apa rasanya, meniup lilin di atas kue? Aku tidak tahu, entah apa memang tidak akan pernah tahu, atau belum saja. Tidak tahu.
“Buru-buru amat, sih, kepengen pulang. Makan dulu lah, kita,” ajak temanku Ivan saat kuliah kelar tadi.
“Iya, ada urusan,” jawabku singkat. Ivan menghela nafas kecewa, kemudian pergi ke kantin menyusul teman-teman yang lain.
Tiga minggu terakhir ini aku memang memilih untuk langsung pulang. Biasanya, ada yang kurang bila pulang kuliah tidak main-main dulu. Tapi sekarang keadaannya sedang berbeda.
Dan di sinilah aku sekarang, di dalam toko kue yang ada di dekat kampusku. Aku selalu melewati toko kue ini bila pergi dan pulang kuliah.
Akhir-akhir ini aku selalu berusaha bawa bekal makan siang. Bekal itu aku makan di kelas saat menunggu jam kuliah selanjutnya, saat teman-temanku sibuk menyerbu kantin. Saat pulang kuliah menjelang malam pun, aku langsung pulang agar bisa makan di rumah.
Awalnya memang sulit, namun makin kesini aku makin terbiasa. Karena kalau tidak dengan cara begini, aku akan menghabis-habiskan uang hanya untuk makan. Uang yang tiga minggu terakhir ini aku tabung untuk membeli kue ulang tahun.
Aku keluar dari toko kue, lalu naik bus untuk pulang. Perjalanan ke rumah sekitar 30 menit. Aku sampai di rumah dengan senyum lebar. Kukeluarkan semua uang dalam dompetku dan dari celenganku.
Sebentar lagi cukup. Aku sudah tak sabar lagi.
Aku sudah tahu kue yang mana yang akan aku beli. Blackforest dengan hiasan ceri di atasnya. Hmmmm...., pasti enak sekali. Aku harap tidak ada yang membelinya duluan. Kue itu pasti bisa kubeli.
Aku menghampiri kalender dinding yang aku gantung di kamarku. Seminggu lagi adalah harinya. Jantungku berdegup kencang. Hari itu akan menjadi hariku yang paling indah.
Walaupun aku belum pernah merasakannya, aku yakin bahwa kue ulang tahun yang dipersembahkan untuk kita itu rasanya pasti nikmat sekali. Tapi, aku juga yakin, bahwa kue ulang tahun yang kita beli dari tabungan sendiri rasanya pasti jauh lebih nikmat. Lezatnya pasti tidak ada duanya.
***
Kuliah hari ini selesai.
Aku keluar kelas dengan langkah cepat dan semangat. Bibirku tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Biarlah orang yang melihat menganggapku gila karena jalan sendirian dengan wajah bahagia.
Aku sampai di toko kue. Kuhela nafas dalam-dalam sebelum kubuka pelan pintunya. Aku meminta pelayan untuk membungkus kue tart Blackforest itu untukku. Kubuka dompetku di depan kasir dengan rasa sukacita. Kue itu tidak murah, tapi aku mampu membelinya dengan menyisihkan uang jajanku! Aku patut bangga pada diriku sendiri.
Sampai di rumah, kumasukkan kue itu ke dalam kulkas. Kulkas yang nyaris rusak dan tak berfungsi dengan maksimal. Keluargaku belum cukup uang untuk membeli kulkas baru. Ya, sudahlah, tidak apa-apa, yang penting kue itu selamat.
***
Sabtu yang cerah. Hari ini adalah harinya. Dan aku yakin, hari ini akan menjadi hariku yang paling indah.
Jam satu siang nanti ada rapat Badan Eksekutif Mahasiswa di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa. Di organisasi ini, aku menjabat sebagai staf Hubungan Masyarakat. Aku hampir lupa apa yang nanti akan dirapatkan, gara-gara sibuk dengan kue ulang tahun.
Jam 12 aku berangkat dengan membawa kotak putih besar berisi kue ulang tahun kesayanganku. Dadaku berdesir hebat saat berada di dalam bus.
Sampai di ruangan rapat, kusembunyikan kue itu di balik tas teman-teman BEM yang ditumpuk di sudut ruangan. Teman-temanku ramai memperbincangkannya, sedangkan aku senyum-senyum saja menanggapinya. Aku tak perlu bicara. Mereka sudah mengerti dengan sendirinya.
Rapat selesai jam setengah tiga. Aku mengawasi keadaan. Salah satu temanku mengajak Miya, temanku yang juga staf Hubungan Masyarakat, untuk ke kamar mandi. Miya mengikuti saja.
Sedetik setelah Miya pergi, aku melancarkan aksiku. Kuraih kue ulang tahunku. Kutaruh dua lilin yang merangkai angka 20 di atasnya. Salah satu temanku menyalakan korek. BLAS! Kue ulang tahun itu tampak sangat cantik dengan lilin-lilin yang menyala terang.
Oke, mungkin ini berlebihan, tapi aku sangat terharu melihat kue ulang tahun itu bersinar cantik di pangkuan tanganku. Aku ingin menangis.
Aku bukan anak yang berasal dari keluarga kaya raya. Keluargaku sangat sederhana. Miskin, tepatnya. Kalau bukan karena beasiswa, aku tidak mungkin kuliah di kampus sebagus ini. Aku memang anak ketiga sekaligus terakhir, tapi dengan penuh kesadaran aku tahu aku tidak boleh manja. Kedua kakakku sudah menikah, dan aku anak satu-satunya yang bisa meneruskan pendidikan sampai taraf kuliah.
Hidupku boleh sangat sederhana, tapi jangan remehkan cintaku pada Miya. Cintaku pada Miya tidak sederhana. Cintaku penuh dengan kekayaan.
Aku mengenalnya sejak masuk BEM setahun lalu. Kebetulan kami sama-sama staf Hubungan Masyarakat. Kami seangkatan, namun beda jurusan. Dia anak Komunikasi, sedangkan aku anak Teknik Sipil.
Bagaimana aku harus mendeskripsikan seorang Miya? Ah, lebih baik jangan. Akan terlalu banyak kata-kata indah yang nanti keluar dari mulutku. Aku tidak punya alasan untuk tidak mencintainya.
Seperti tipikal anak Komunikasi, dia sangat supel. Dia seperti magnet yang terus-terusan menarikku. Lagi dan lagi. Tidak pernah ada habisnya.
Aku tahu teman-temannya banyak, tapi aku selalu percaya diri. Aku memanfaatkan kesamaan jabatan kami untuk lebih dekat lagi dan lagi dengannya.
Seumur hidup, aku belum pernah dapat kue ulang tahun. Seumur hidup juga, aku belum pernah memberikan kue ulang tahun. Dan hari ini akan jadi sejarah baru bagiku. Bagiku dan perempuan yang sangat istimewa untukku.
Miya memberiku pengharapan bahwa cintaku akan berbalas.
Hey, lihat, Miya sudah kembali dari kamar mandi. Tiba-tiba tanganku gemetaran.