• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Kisah Hujan

10 February 2012   Frida Kurniawati
E-mail Print PDF
Puisi
—saat hujan deras menggugah-lelapkan kantuk pelajaran kosong—
Hujan berlarian
Melompat di antara duri-duri pohon cemara
Yang membalasnya dengan senyuman
Goyang genit pada pucuk-pucuk daunnya
Hujan terpeleset
Mengaduh, berjongkok di atas payung bergaris-garis
Yang menerimanya dengan gelengan
“Jangan, mereka sedang tersenyum manis.”
Hujan berlinangan
Menjatuhi kaki-kaki beriringan rapi mereka
Payung bergetar. “Kubilang jangan!”
Namun kemudian mereka tertawa.
Hujan menghapus air matanya
Dan sekejap hilang ditelan rekahan mentari
Uapkan kehangatan di antara mereka
Basah kuyup, tertawa pada pelangi.
Add new comment
 

Unforgettable - Winna Efendi

09 February 2012   OceMei
E-mail Print PDF
Resensi Tamu


Yang mana yang lebih baik - pernah memiliki lalu kehilangan atau tidak pernah memiliki sama sekali? pg.153


Jika dihadapkan pada pertanyaan seperti itu, jawaban apa yang akan kita pilih?
Ingin bersama walau sebentar saja atau memilih tidak sama sekali?
Ingin merasakan apa yang namanya cinta lalu patah hati?
atau,
mencoba mengingatnya sebagai kenangan yang tak dapat diraih?

Cinta itu butuh keberanian. Jika kau rasakan, peganglah. Peganglah erat-erat karena ia belum tentu akan kembali lagi. Rasakanlah saja,Nak. pg.143




Hidup itu pilihan. Dalam setiap keputusan yang kita ambil, kita sebelumnya dihadapkan pada pilihan. Mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah. Sering kali kita salah memutuskan lalu menyesal pada akhirnya. Karenanya, tak banyak yang berani  melakukannya. Seperti halnya cinta, manusia cenderung takut tersakiti oleh karenanya lalu memilih untuk tak menyelaminya. Cinta tidak datang setiap saat, ketika ia menghampiri, kita harus memutuskan, apakah kita ingin membuka jalan baginya atau menutup pintu hati kita?


Bagi lelaki itu, waktu lebih baik tidak dapat diputar kembali. Kenangan lebih baik tidak dapat disimpan seperti kaset. Lebih baik apa adanya, mengalir seperti seharusnya. pg.26


Mereka adalah dua orang yang tidak saling mengenal. Tidak pernah menyapa, tapi selalu berada ditempat dan waktu yang sama, melakukan aktivitas yang berbeda. Menulis adalah kehidupan wanita itu. Bersama kakaknya, ia membuka usaha wine yang ternyata cukup banyak peminatnya. Dan pria itu adalah orang yang mencicipi wine di kedai Muse setiap harinya. Bermula dari tatapan yang tak sengaja bertemu, obrolan kecil pun terjadi. Obrolan mereka hanya seputar aktivitas keseharian mereka. Tidak pernah lebih dari itu. Tidak ada yang berani memulai tepatnya.



Cerita ini unik. Dari awal hingga pertengahan akhir, tempat yang menjadi lokasi pertemuan mereka selalu sama. Tak pernah berubah, seolah itu sudah menjadi bagian dari janji mereka yang tak terucap. Wine menjadi pilihan terbaik untuk menemani obrolan mereka. Tak ada yang menyadari jika wine-lah yang mempertemukan mereka berdua.
Add new comment
 

Kue Ulang Tahun [1]

08 February 2012   Gisantia Bestari
E-mail Print PDF
Cerpen

Aku melewati toko kue itu, untuk kesekian kalinya.

Berhenti sebentar, untuk kesekian kalinya.

Melihat-lihat kue yang dipajang di sana, untuk kesekian kalinya.

Kue ulang tahun itu enak tidak, sih? Maksudku, kue ulang tahun yang memang dipersembahkan untuk kita. Bukan potongan kue yang dibagikan oleh teman yang sedang berulang tahun. Itu, sih, aku sudah sering.

Selama 20 tahun hidup di dunia, aku belum pernah dapat kue ulang tahun. Seperti apa rasanya, saat kamu membuka mata pagi-pagi di tanggal kelahiranmu, lalu melihat teman-teman atau keluargamu menghampirimu sambil membawa kue ulang tahun? Seperti apa rasanya, dinyanyikan lagu-lagu ulang tahun? Seperti apa rasanya, meniup lilin di atas kue? Aku tidak tahu, entah apa memang tidak akan pernah tahu, atau belum saja. Tidak tahu.

“Buru-buru amat, sih, kepengen pulang. Makan dulu lah, kita,” ajak temanku Ivan saat kuliah kelar tadi.

“Iya, ada urusan,” jawabku singkat. Ivan menghela nafas kecewa, kemudian pergi ke kantin menyusul teman-teman yang lain.

Tiga minggu terakhir ini aku memang memilih untuk langsung pulang. Biasanya, ada yang kurang bila pulang kuliah tidak main-main dulu. Tapi sekarang keadaannya sedang berbeda.

Dan di sinilah aku sekarang, di dalam toko kue yang ada di dekat kampusku. Aku selalu melewati toko kue ini bila pergi dan pulang kuliah.

Akhir-akhir ini aku selalu berusaha bawa bekal makan siang. Bekal itu aku makan di kelas saat menunggu jam kuliah selanjutnya, saat teman-temanku sibuk menyerbu kantin. Saat pulang kuliah menjelang malam pun, aku langsung pulang agar bisa makan di rumah.

Awalnya memang sulit, namun makin kesini aku makin terbiasa. Karena kalau tidak dengan cara begini, aku akan menghabis-habiskan uang hanya untuk makan. Uang yang tiga minggu terakhir ini aku tabung untuk membeli kue ulang tahun.

Aku keluar dari toko kue, lalu naik bus untuk pulang. Perjalanan ke rumah sekitar 30 menit. Aku sampai di rumah dengan senyum lebar. Kukeluarkan semua uang dalam dompetku dan dari celenganku.

Sebentar lagi cukup. Aku sudah tak sabar lagi.

Aku sudah tahu kue yang mana yang akan aku beli. Blackforest dengan hiasan ceri di atasnya. Hmmmm...., pasti enak sekali. Aku harap tidak ada yang membelinya duluan. Kue itu pasti bisa kubeli.

Aku menghampiri kalender dinding yang aku gantung di kamarku. Seminggu lagi adalah harinya. Jantungku berdegup kencang. Hari itu akan menjadi hariku yang paling indah.

Walaupun aku belum pernah merasakannya, aku yakin bahwa kue ulang tahun yang dipersembahkan untuk kita itu rasanya pasti nikmat sekali. Tapi, aku juga yakin, bahwa kue ulang tahun yang kita beli dari tabungan sendiri rasanya pasti jauh lebih nikmat. Lezatnya pasti tidak ada duanya.

 

***

Kuliah hari ini selesai.

Aku keluar kelas dengan langkah cepat dan semangat. Bibirku tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Biarlah orang yang melihat menganggapku gila karena jalan sendirian dengan wajah bahagia.

Aku sampai di toko kue. Kuhela nafas dalam-dalam sebelum kubuka pelan pintunya. Aku meminta pelayan untuk membungkus kue tart Blackforest itu untukku. Kubuka dompetku di depan kasir dengan rasa sukacita. Kue itu tidak murah, tapi aku mampu membelinya dengan menyisihkan uang jajanku! Aku patut bangga pada diriku sendiri.

Sampai di rumah, kumasukkan kue itu ke dalam kulkas. Kulkas yang nyaris rusak dan tak berfungsi dengan maksimal. Keluargaku belum cukup uang untuk membeli kulkas baru. Ya, sudahlah, tidak apa-apa, yang penting kue itu selamat.

 

***

 

Sabtu yang cerah. Hari ini adalah harinya. Dan aku yakin, hari ini akan menjadi hariku yang paling indah.

Jam satu siang nanti ada rapat Badan Eksekutif Mahasiswa di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa. Di organisasi ini, aku menjabat sebagai staf Hubungan Masyarakat. Aku hampir lupa apa yang nanti akan dirapatkan, gara-gara sibuk dengan kue ulang tahun.

Jam 12 aku berangkat dengan membawa kotak putih besar berisi kue ulang tahun kesayanganku. Dadaku berdesir hebat saat berada di dalam bus.

Sampai di ruangan rapat, kusembunyikan kue itu di balik tas teman-teman BEM yang ditumpuk di sudut ruangan. Teman-temanku ramai memperbincangkannya, sedangkan aku senyum-senyum saja menanggapinya. Aku tak perlu bicara. Mereka sudah mengerti dengan sendirinya.

Rapat selesai jam setengah tiga. Aku mengawasi keadaan. Salah satu temanku mengajak Miya, temanku yang juga staf Hubungan Masyarakat, untuk ke kamar mandi. Miya mengikuti saja.

Sedetik setelah Miya pergi, aku melancarkan aksiku. Kuraih kue ulang tahunku. Kutaruh dua lilin yang merangkai angka 20 di atasnya. Salah satu temanku menyalakan korek. BLAS! Kue ulang tahun itu tampak sangat cantik dengan lilin-lilin yang menyala terang.

Oke, mungkin ini berlebihan, tapi aku sangat terharu melihat kue ulang tahun itu bersinar cantik di pangkuan tanganku. Aku ingin menangis.

Aku bukan anak yang berasal dari keluarga kaya raya. Keluargaku sangat sederhana. Miskin, tepatnya. Kalau bukan karena beasiswa, aku tidak mungkin kuliah di kampus sebagus ini. Aku memang anak ketiga sekaligus terakhir, tapi dengan penuh kesadaran aku tahu aku tidak boleh manja. Kedua kakakku sudah menikah, dan aku anak satu-satunya yang bisa meneruskan pendidikan sampai taraf kuliah.

Hidupku boleh sangat sederhana, tapi jangan remehkan cintaku pada Miya. Cintaku pada Miya tidak sederhana. Cintaku penuh dengan kekayaan.

Aku mengenalnya sejak masuk BEM setahun lalu. Kebetulan kami sama-sama staf Hubungan Masyarakat. Kami seangkatan, namun beda jurusan. Dia anak Komunikasi, sedangkan aku anak Teknik Sipil.

Bagaimana aku harus mendeskripsikan seorang Miya? Ah, lebih baik jangan. Akan terlalu banyak kata-kata indah yang nanti keluar dari mulutku. Aku tidak punya alasan untuk tidak mencintainya.

Seperti tipikal anak Komunikasi, dia sangat supel. Dia seperti magnet yang terus-terusan menarikku. Lagi dan lagi. Tidak pernah ada habisnya.

Aku tahu teman-temannya banyak, tapi aku selalu percaya diri. Aku memanfaatkan kesamaan jabatan kami untuk lebih dekat lagi dan lagi dengannya.

Seumur hidup, aku belum pernah dapat kue ulang tahun. Seumur hidup juga, aku belum pernah memberikan kue ulang tahun. Dan hari ini akan jadi sejarah baru bagiku. Bagiku dan perempuan yang sangat istimewa untukku.

Miya memberiku pengharapan bahwa cintaku akan berbalas.

Hey, lihat, Miya sudah kembali dari kamar mandi. Tiba-tiba tanganku gemetaran.

Add new comment
 
More Articles...
Start Prev 1 2 34 5 6 7 8 9 10 Next End

Page 4 of 184

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Bloopendorse

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top