• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Si Pengemudi Sepeda Roda Empat

07 February 2012   Zulaikha Amalia Siregar
E-mail Print PDF
1st Chapter

“Huaaaah! Huaaaah! Huaaah!” Suara tangisan anak kecil membangunkan tidurku, sedikit mengganggu, pasalnya, baru saja aku tidur satu jam yang lalu, semalam aku harus mengerjakan setumpuk dokumen kantor yang harus dirampungkan hari itu juga. Padahal aku mengira hari ini aku bisa tidur dengan tenang, mengingat hari ini hari Sabtu, biasanya jam tujuh pagi sampai tengah hari lingkunganku sepi, anak-anak masih harus menyelesaikan hari terakhirnya dalam sepekan untuk sekolah. Dan sekarang hal yang harus aku terima adalah saat aku melihat tanggal dan hari ini tanggal merah, berarti tidurku tak akan pulas.

Aku mengintip lewat jendela, anak-anak kecil itu tepat di depan rumah ku, beberapa anak lelaki mengerubungi anak yang sedang menangis tadi.


“Hahahaha, Evan enggak bisa naik sepeda roda dua, Ais aja yang masih TK udah roada dua,” jar seorang anak sambil tertawa.
“Iya nih, ih, malu dooong, hahaha.” Sahut yang lainnya.
“Huaaaaaaaah!” suara tangisan anak yang ku duga bernama Evan semakin memekakkan telinga, dan aku pun sedikit iba kepadanya.


Aku keluar rumah, dan menghampiri mereka. “Eh ini kenapa? Temennya kok dibuat nangis?”
Anak-anak yang tadi mengerubungi Evan perlahan mundur serentak dan berlari meninggalkanku dan Evan.
Aku melihat Evan yang masih menangis sesenggukan, aku ingat, Evan adalah tetanggaku, namun aku jarang sekali berbicara dengannya. Setiap aku berangkat ke kantor, Evan belum terlihat, tapi saat aku pulang dari kantor, aku yakin Evan sudah tidur pulas di kamarnya.
“Kamu kenapa?” tanyaku.
Evan menghentikan tangisnya. “A.. aku di.. diejekin temen-temen, mereka bilang, aku udah kelas satu SD tapi enggak berani naik sepeda roda dua.” Jawab Evan terbata-bata.
Aku tersenyum, lalu menggendongnya.
“Kamu kok sendirian?”
“Enggak, itu Mbak Siti.” Evan menunjuk pengasuhnya yang sedang asyik menjemur sambil melenggang dengan headset tertempel di telinganya, jelas saja ia tak mendengar raungan anak majikannya.
“Ya udah, kamu ikut oom yuk,”
Tapi, Evan menggeleng cepat. “Enggak mau oom, kata Mama aku enggak boleh ikut sama orang asing,”
Aku tersenyum. “Oom kan tetangganya Evan.”
“Oom mau ngajak aku kemana?” tanyanya ragu-ragu.
“Enggak jauh kok, Cuma ke rumah oom.”
Evan berpikir sejenak, membuatku sedikit geli dengan raut wajahnya. “Oke oom.”
Kami masuk ke rumahku, langsung menuju meja persediaan makanan kecilku.
“Kamu mau?” tanyaku.
Mata Evan berbinar-binar, senyuman lebar tersungging dari bibir mungilnya. “Mauuu! Oom coklatnya banyak banget,”
Aku tersenyum. “Ya, untuk penghilang stress,”
Evan melihat wajahku. “Stress itu apa, Oom?”
Aku mengacak-acak rambutnya. “Kalo kamu udah dewasa, kamu pasti tahu kok.”
Evan mengangguk-angguk lalu mengambil coklat belgian berbungkus merah.
“Aku mau ini, Oom.” Katanya.
Aku mengangguk, tiba-tiba, tok, tok, rok, seseorang mengetuk pintu depan rumahku.
“Evaaaan! Evaaaan!”
Aku membuka pintu depan rumahku, ternyata pengasuhnya Evan.
“Aduuuuh, Van, mba cariin kok kamu ngilang, sih?” tanyanya panik langsung menggendong Avan.
“Haaah, Mbak Siti, sih, aku nangis, enggak tau, kan? Untung ada Oom ini.”
“Iya Van, jangan dibilangin sama Papa yaaa, o, ya, makasih ya, Mas.”
Aku mengangguk dan melihat pengasuh Evan beranjak dari teras rumahku.
Baru saja aku hendak menutup pintu, tiba-tiba Evan menarik tanganku.
“Oom, aku jago banget naik sepeda roda empat, tapi aku harus bisa naik sepeda roda dua, biar enggak diejek lagi, Papa sama Mamaku sibuk terus, Oom mau ngajarin aku naik sepeda roda dua enggak?”
Aku menggaruk kepalaku. “Gimana ya? Oom bisanya hari Minggu aja Van,”
Evan mengangguk-angguk. “Ya udah Oom, enggak papa, besok bisa, kan Oom?”


Aku mengangguk pelan, lalu Evan beranjak dari hadapanku, ketika pengasuhnya memanggil-manggil namanya.

***

Tok, tok, tok. Aku meraih jam wekerku, jam enam pagi! Astaga tega nian yang mengetuk pintu rumahku sepagi ini.
“Oom! Oom!”
Aku langsung bangkit dari tempat tidur mendengar suara Evan, aku lupa, kalau hari ini aku berjanji mengajarinya mengendarai sepeda roda dua. Aku segera ke kamar mandi , mencuci mukaku dan segera membuka pintu.


“Ayoo Oom.”
Evan menarik tanganku, aku pun mengikutinya.


Hari Minggu ini, seharian aku mengajari Evan bersepada roda dua, hal yang tak pernah ku lakukan sebelumnya, hari Minggu-Minggu yang lalu hanya ku habiskan dengan tidur di kos-an temanku. Dan yang membuatku betah menemani Evan adalah dia selalu bercerita apa saja, tentang yang ia lihat, ia dengar dan ia rasakan, bahkan ia juga sesekali menanyaiku.


“Oom, Oom sayang enggak sama Papa dan Mama, Oom?”
“Sayaang dong, kamu? Sayang enggak?”
Evan berpikir sejenak, lagi-lagi ia membuatku geli. “Sayang Oom, tapi kok aneh, ya? Kalo Mbak Siti nonton tivi, kok malah anaknya jahatin Papa sama Mamanya, sih?”

Comments (1)
 

Behind The Scene of Before Us

06 February 2012   kandanGagas
E-mail Print PDF
Artikel

Halo! Selamat hari Senin. Pekan ini Blog Gagas akan diisi cerita dari Robin Wijaya, penulis Before Us yang bukunya baru saja terbit bulan ini. Mari disimak cerita-cerita dengan Robin Wijaya.

 

Dari mana ide dasar cerita untuk menuliskan Before Us ini?
Before Us awalnya sebuah cerpen berjudul ‘Radith’ yang saya tulis dalam buku kumpulan cerpen. Waktu itu iseng-iseng saya menantang diri saya dengan meminta teman-teman yang telah membaca cerita-cerita dalam kumcer tersebut untuk memilih satu cerpen yang ingin diangkat ke novel, dan cerpen ‘Radith’ yang mereka pilih. Kemudian pada pertengahan tahun 2010 naskah ini saya ikutkan dalam kompetisi GagasMedia, terpilih jadi finalis, dan akhirnya diterbitkan menjadi novel Before Us.

Berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk menulis Before Us?
Cukup panjang, mulai dari cari ide, membuat story line, dan lain-lainnya Sekitar 4 bulan. Ditambah lagi proses revisi naskah, kalau tidak salah nambah lagi sekitar 2 bulan sampai saya dan editor betul-betul yakin kalau naskahnya sudah final.

Apakah ada hal-hal unik yang kamu temukan selama penulisan Before Us?
Membangun karakter tokoh-tokoh dalam novel ini. Seperti yang kita tahu, menulis novel bukanlah perkara pekerjaan satu-dua jam. Tapi berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Saya bangun, makan, tidur, nonton, bahkan hang out dengan isi naskah ini dalam kepala saya. Karena proses yang panjang itulah saya merasa mengenal baik tokoh-tokoh dalam novel ini, mendengar mereka menceritakan keluh kesahnya, melihat pergumulan mereka, juga mendengar mereka berdialog satu sama lain.

Pernahkah kamu menemukan kesulitan selama penulisan Before Us ini?
Pernah. Menulis sesuatu yang tidak pernah saya alami, saya dengar sebelumnya, dan saya rasakan adalah sesuatu yang benar-benar baru dan menuntut pemahaman yang baik. Ini adalah pertama kali saya menulis novel dewasa, terlebih background ceritanya adalah kehidupan rumah tangga dengan isu cinta segitiga di dalamnya. Bagaimana saya menceritakan hubungan dan ikatan emosional antara si suami dan isteri serta intrik dan konflik dalam rumah tangga mereka, juga hubungan yang terjalin antara si suami dengan orang ketiga dalam rumah tangganya, dan banyak hal lainnya yang memaksa saya harus merenung dan melihat ke dalam hidup tokoh-tokohnya.
Kesulitan lainnya adalah teknik menulis POV orang pertama dengan hanya satu pencerita tunggal dalam novelnya, dimana Agil – sebagai tokoh utama – harus menceritakan apa yang dia alami sekaligus menceritakan apa yang ada di sekeliling dia lewat penglihatan dan pikirannya, termasuk perasaan dan emosi tokoh-tokoh yang terlibat di dalam novel ini. Jujur, saya hampir putus asa saat mengerjakan bagian ini, bahkan hampir mau ganti POV. Tapi editor meyakinkan saya untuk terus melanjutkan menulis dengan POV yang sama, mengajarkan saya bagaimana menuangkan isi kepala dan perasaan Agil ke dalam bentuk tulisan, juga mereferensikan buku-buku bacaan. Sampai akhirnya… karakter Agil ‘muncul’ dalam novel ini  dan dia berhasil menceritakan keseluruhan cerita dari awal sampai ending.

Tulis dong salah satu quote kesukaanmu dalam Before Us.
Ketika kesenangan berganti dengan kehilangan, kita baru sadar kalau apa yang kita miliki terlalu berharga untuk ditukar dengan apapun.

Adakah riset khusus untuk keperluan Before Us ini?

Nggak benar-benar nyiapin waktu untuk riset khusus sih. Tapi lebih ke arah, kalau butuh informasi atau ada kesulitan, saya baru cari tahu. Saya bukan tipe penulis yang so-well-planned, jadi sambil menulis sambil mengumpulkan bahan dan informasi. Untuk plot dan konflik, saya minta referensi film dan buku dari teman-teman. Untuk setting lokasi dan deskripsi pantai-pantainya saya searching di google dan lihat video-video di youtube sebagai gambaran. Hal yang sama juga saya lakukan untuk pemetaan domisili Agil, orang tuanya, Kak Demas, Ranti dan Radith. Supaya perhitungan waktu mobilisasi mereka bisa terlihat akurat. Untuk membangun tokoh-tokoh dalam novel ini juga saya riset sesuai kebutuhan. Saya menulis karakteristik fisik, temperamen, pekerjaan, kebiasaan tokoh-tokohnya lebih dulu. Karena ini yang paling sulit, jadi saya banyak dibantu teman-teman dan minta masukan dari editor.

Adakah tokoh yang kamu sukai di dalam Before Us ini?

Suka? Dari segi apa dulu? Setiap tokoh dalam novel ini punya sisi baik dan buruk/ menyebalkan sekaligus. Saya suka Agil dari cara bicara dan sikapnya yang sopan, tapi saat mengambil keputusan sama sekali nggak bisa diandalkan. Saya suka Ranti karena perhatian dia terhadap keluarga dan suami, tapi sayangnya Ranti sangat emosional. Radith yang tipe manusia goal-oriented, tapi sekaligus impulsif. Atau Winnie yang berusaha mempertahankan apa yang dia punya, tapi saat bertindak seringkali tidak berpikir panjang lebih dulu.

Siapa inspirator terbesar sehingga kamu bisa melahirkan novel ini?

Mungkin bukan inspirator, tapi orang yang mempengaruhi cara menulis saya dalam novel ini. Ketika proses penulisan Before Us, saya membaca buku-buku Winna Efendi dan Sefryana Khairil berulang-ulang. Mungkin itulah yang membuat Before Us lebih cenderung drama dan diisi sisipan-sisipan quote dalam dialog dan monolognya.

Mengapa pada akhirnya novel ini diberi judul ‘Before Us’?

Judul Before Us diusulkan oleh editor saat kami sedang memilih-milih alternatif judul untuk novel ini. Ada beberapa judul lain yang sebenarnya terdengar lebih familiar. Tapi entah kenapa waktu saya mengucapkan kata Before Us itu berkali-kali, saya merasa ada sebuah makna yang tersembunyi dari kata tersebut. Sesuatu yang mengundang pertanyaan kita untuk mencari tahu ‘what was happened in the past?’. Ditambah lagi tag line novel yang diberikan redaksi membuat saya langsung setuju tanpa tawar menawar. Yep, redaksi GagasMedia memang paling jago merangkum isi novel ke dalam satu kalimat pendek. Jadilah judul novel ini: BEFORE US – Cinta di Belakangmu.

Apa yang mewajibkan orang tidak boleh melewatkan Before Us?

Pertama, pesan moral soal komitmen dan kesetiaan. Saat kita sudah mengatakan ‘ya’ terhadap sesuatu, seharusnya kita berusaha untuk tetap di jalur tersebut dengan alasan apapun. Kedua, intrik dan konflik antar tokoh dalam novelnya, dimana setiap tokoh berusaha untuk memperjuangkan cinta yang mereka miliki meskipun pada akhirnya saling melukai perasaan masing-masing.

Kalau dari sisi penulisnya, kesetiaan itu harus diwujudkan dengan cara yang seperti apa?

Kesetiaan = stand firm on your commitment.

Bagaimana kamu mendefinisikan cinta itu? Apakah di dalam Before Us bisa ditemukan jawabannya?

Cinta itu ketika kita nyaman berada di rumah sendiri meskipun rumput rumah tetangga lebih hijau, hehehehe. Sederhananya begini, saat kita merasa tidak kekurangan apapun, nyaman, dan lengkap bersama orang tersebut, itu lah cinta. Nggak peduli di luar sana banyak yang lebih-lebih dan lebih dalam banyak hal lainnya. Apakah di dalam Before Us ditemukan jawabannya? Pasti.

Maukah kamu berbagi tips bagaimana membuat novel dengan ending yang mengejutkan?

Wah, kalau tips, rasanya belum jago dalam menulis novel. Tapi mungkin saya akan sharing soal apa yang saya lakukan dengan novel Before Us ini atau tulisan-tulisan yang pernah saya buat. Sebelum mulai menulis, biasanya saya memikirkan dulu ‘sesuatu’ yang ingin saya berikan kepada pembaca. Mungkin story line-nya, quote-nya, cara bertuturnya, atau setting-nya, dan lain-lain. Setelah novel ditulis pun saya nggak langsung kirim ke penerbit. Biasanya saya akan minta teman-teman saya untuk baca dan nimbrungin naskahnya lebih dulu. Dari situ akan muncul komentar dan ide-ide lain yang kemudian bisa dikurangi atau ditambahkan ke novelnya. Atau kadang, saya mendiamkan dulu naskah yang sudah selesai tersebut selama beberapa hari, lalu saya baca ulang dengan ekspektasi yang besar (seolah-olah saya adalah pembaca, bukan penulisnya), setelah itu biasanya muncul catatan-catatan seperti; jenuh, kecewa dengan endingnya, gregetan dan lain-lain tentang naskah saya sendiri. Catatan itu yang kemudian saya pakai untuk mengedit ulang naskahnya.

Terima kasih , Robin. Teman-teman, Before Us sudah ada loh di toko buku. Silakan serbu dan mari romantis di bulan Februari bersama GagasMedia.

Dari mana ide dasar cerita untuk menuliskan Before Us ini?
Before Us awalnya sebuah cerpen berjudul ‘Radith’ yang saya tulis dalam buku kumpulan cerpen. Waktu itu iseng-iseng saya menantang diri saya dengan meminta teman-teman yang telah membaca cerita-cerita dalam kumcer tersebut untuk memilih satu cerpen yang ingin diangkat ke novel, dan cerpen ‘Radith’ yang mereka pilih. Kemudian pada pertengahan tahun 2010 naskah ini saya ikutkan dalam kompetisi GagasMedia, terpilih jadi finalis, dan akhirnya diterbitkan menjadi novel Before Us.

Berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk menulis Before Us?
Cukup panjang, mulai dari cari ide, membuat story line, dan lain-lainnya Sekitar 4 bulan. Ditambah lagi proses revisi naskah, kalau tidak salah nambah lagi sekitar 2 bulan sampai saya dan editor betul-betul yakin kalau naskahnya sudah final.

Apakah ada hal-hal unik yang kamu temukan selama penulisan Before Us?
Membangun karakter tokoh-tokoh dalam novel ini. Seperti yang kita tahu, menulis novel bukanlah perkara pekerjaan satu-dua jam. Tapi berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Saya bangun, makan, tidur, nonton, bahkan hang out dengan isi naskah ini dalam kepala saya. Karena proses yang panjang itulah saya merasa mengenal baik tokoh-tokoh dalam novel ini, mendengar mereka menceritakan keluh kesahnya, melihat pergumulan mereka, juga mendengar mereka berdialog satu sama lain.

Pernahkah kamu menemukan kesulitan selama penulisan Before Us ini?
Pernah. Menulis sesuatu yang tidak pernah saya alami, saya dengar sebelumnya, dan saya rasakan adalah sesuatu yang benar-benar baru dan menuntut pemahaman yang baik. Ini adalah pertama kali saya menulis novel dewasa, terlebih background ceritanya adalah kehidupan rumah tangga dengan isu cinta segitiga di dalamnya. Bagaimana saya menceritakan hubungan dan ikatan emosional antara si suami dan isteri serta intrik dan konflik dalam rumah tangga mereka, juga hubungan yang terjalin antara si suami dengan orang ketiga dalam rumah tangganya, dan banyak hal lainnya yang memaksa saya harus merenung dan melihat ke dalam hidup tokoh-tokohnya.
Kesulitan lainnya adalah teknik menulis POV orang pertama dengan hanya satu pencerita tunggal dalam novelnya, dimana Agil – sebagai tokoh utama – harus menceritakan apa yang dia alami sekaligus menceritakan apa yang ada di sekeliling dia lewat penglihatan dan pikirannya, termasuk perasaan dan emosi tokoh-tokoh yang terlibat di dalam novel ini. Jujur, saya hampir putus asa saat mengerjakan bagian ini, bahkan hampir mau ganti POV. Tapi editor meyakinkan saya untuk terus melanjutkan menulis dengan POV yang sama, mengajarkan saya bagaimana menuangkan isi kepala dan perasaan Agil ke dalam bentuk tulisan, juga mereferensikan buku-buku bacaan. Sampai akhirnya… karakter Agil ‘muncul’ dalam novel ini  dan dia berhasil menceritakan keseluruhan cerita dari awal sampai ending.

Tulis dong salah satu quote kesukaanmu dalam Before Us.
Ketika kesenangan berganti dengan kehilangan, kita baru sadar kalau apa yang kita miliki terlalu berharga untuk ditukar dengan apapun.

Adakah riset khusus untuk keperluan Before Us ini?
Nggak benar-benar nyiapin waktu untuk riset khusus sih. Tapi lebih ke arah, kalau butuh informasi atau ada kesulitan, saya baru cari tahu. Saya bukan tipe penulis yang so-well-planned, jadi sambil menulis sambil mengumpulkan bahan dan informasi. Untuk plot dan konflik, saya minta referensi film dan buku dari teman-teman. Untuk setting lokasi dan deskripsi pantai-pantainya saya searching di google dan lihat video-video di youtube sebagai gambaran. Hal yang sama juga saya lakukan untuk pemetaan domisili Agil, orang tuanya, Kak Demas, Ranti dan Radith. Supaya perhitungan waktu mobilisasi mereka bisa terlihat akurat. Untuk membangun tokoh-tokoh dalam novel ini juga saya riset sesuai kebutuhan. Saya menulis karakteristik fisik, temperamen, pekerjaan, kebiasaan tokoh-tokohnya lebih dulu. Karena ini yang paling sulit, jadi saya banyak dibantu teman-teman dan minta masukan dari editor.

Adakah tokoh yang kamu sukai di dalam Before Us ini?
Suka? Dari segi apa dulu? Setiap tokoh dalam novel ini punya sisi baik dan buruk/ menyebalkan sekaligus. Saya suka Agil dari cara bicara dan sikapnya yang sopan, tapi saat mengambil keputusan sama sekali nggak bisa diandalkan. Saya suka Ranti karena perhatian dia terhadap keluarga dan suami, tapi sayangnya Ranti sangat emosional. Radith yang tipe manusia goal-oriented, tapi sekaligus impulsif. Atau Winnie yang berusaha mempertahankan apa yang dia punya, tapi saat bertindak seringkali tidak berpikir panjang lebih dulu.

Siapa inspirator terbesar sehingga kamu bisa melahirkan novel ini?
Mungkin bukan inspirator, tapi orang yang mempengaruhi cara menulis saya dalam novel ini. Ketika proses penulisan Before Us, saya membaca buku-buku Winna Efendi dan Sefryana Khairil berulang-ulang. Mungkin itulah yang membuat Before Us lebih cenderung drama dan diisi sisipan-sisipan quote dalam dialog dan monolognya.

Mengapa pada akhirnya novel ini diberi judul ‘Before Us’?
Judul Before Us diusulkan oleh editor saat kami sedang memilih-milih alternatif judul untuk novel ini. Ada beberapa judul lain yang sebenarnya terdengar lebih familiar. Tapi entah kenapa waktu saya mengucapkan kata Before Us itu berkali-kali, saya merasa ada sebuah makna yang tersembunyi dari kata tersebut. Sesuatu yang mengundang pertanyaan kita untuk mencari tahu ‘what was happened in the past?’. Ditambah lagi tag line novel yang diberikan redaksi membuat saya langsung setuju tanpa tawar menawar. Yep, redaksi GagasMedia memang paling jago merangkum isi novel ke dalam satu kalimat pendek. Jadilah judul novel ini: BEFORE US – Cinta di Belakangmu.

Apa yang mewajibkan orang tidak boleh melewatkan Before Us?
Pertama, pesan moral soal komitmen dan kesetiaan. Saat kita sudah mengatakan ‘ya’ terhadap sesuatu, seharusnya kita berusaha untuk tetap di jalur tersebut dengan alasan apapun. Kedua, intrik dan konflik antar tokoh dalam novelnya, dimana setiap tokoh berusaha untuk memperjuangkan cinta yang mereka miliki meskipun pada akhirnya saling melukai perasaan masing-masing.

Kalau dari sisi penulisnya, kesetiaan itu harus diwujudkan dengan cara yang seperti apa?
Kesetiaan = stand firm on your commitment.

Bagaimana kamu mendefinisikan cinta itu? Apakah di dalam Before Us bisa ditemukan jawabannya?
Cinta itu ketika kita nyaman berada di rumah sendiri meskipun rumput rumah tetangga lebih hijau, hehehehe. Sederhananya begini, saat kita merasa tidak kekurangan apapun, nyaman, dan lengkap bersama orang tersebut, itu lah cinta. Nggak peduli di luar sana banyak yang lebih-lebih dan lebih dalam banyak hal lainnya. Apakah di dalam Before Us ditemukan jawabannya? Pasti.

Maukah kamu berbagi tips bagaimana membuat novel dengan ending yang mengejutkan?
Wah, kalau tips, rasanya belum jago dalam menulis novel. Tapi mungkin saya akan sharing soal apa yang saya lakukan dengan novel Before Us ini atau tulisan-tulisan yang pernah saya buat. Sebelum mulai menulis, biasanya saya memikirkan dulu ‘sesuatu’ yang ingin saya berikan kepada pembaca. Mungkin story line-nya, quote-nya, cara bertuturnya, atau setting-nya, dan lain-lain. Setelah novel ditulis pun saya nggak langsung kirim ke penerbit. Biasanya saya akan minta teman-teman saya untuk baca dan nimbrungin naskahnya lebih dulu. Dari situ akan muncul komentar dan ide-ide lain yang kemudian bisa dikurangi atau ditambahkan ke novelnya. Atau kadang, saya mendiamkan dulu naskah yang sudah selesai tersebut selama beberapa hari, lalu saya baca ulang dengan ekspektasi yang besar (seolah-olah saya adalah pembaca, bukan penulisnya), setelah itu biasanya muncul catatan-catatan seperti; jenuh, kecewa dengan endingnya, gregetan dan lain-lain tentang naskah saya sendiri. Catatan itu yang kemudian saya pakai untuk mengedit ulang naskahnya.



Comments (1)
 

Ki Hajar Dewantoro, Pendidikan, dan Indonesia

03 February 2012   Frida Kurniawati
E-mail Print PDF
Puisi
Garis renta membungkus wajah itu
Tersia
sia
Semakin tebal mengaburkan wajah itu
Lebur terpuruk dalam tembok gedung sekolah
—cita-citanya dulu—
Hancur tertimpa kaki-kaki hujan
menjebol atap gedung
(gubuk) sekolah
juga angin yang haus mangsa
Sementara
uang-uang terbang
menggelitik orang-orang berseragam:
jadi dagangan
[inilah wujud cita-citanya sekarang]
Comments (1)
 
More Articles...
Start Prev 1 2 3 45 6 7 8 9 10 Next End

Page 5 of 184

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Bloopendorse

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top