KONTRAKAN DANIELLA
“Dua preman tadi kok bisa takut sama kamu?, kenapa bang?, ehh” Raya kagok takut salah harus memaanggil Daniela apa, “Udah panggil mbak Nela aja” jawab Daniella ketika mereka baru masuk ke rumah kontrakan nya
“Loh kamu kan sebenernya laki-laki” wajah Raya kembali memucat, takut Daniella tersinggung “Aku ini jadi wedok dari abg, jadi udah ndak tau lagi gimana rasanya jadi laki-laki” Raya mengangguk tak mengerti “Dua preman tadi itu tetangga ku, rumahnya dua rumah dari kontrakan ku ini, dulu mereka sering memalak ku kalau aku abis pulang kerja, tapi beberapa bulan yang lalu salah satu dari mereka ketabrak mobil, karena aku di tempat kejadian waktu peristiwa itu terjadi ya aku tolong saja, aku lunasi semua biaya rumah sakit, waktu itu aku punya tabungan, semenjak itu mereka baik sama aku”. Raya semakin kagum, Daniella sangat baik, pemaaf dan berjiwa besar
“Pokoknya kalau kamu sama aku, kamu aman, ndak kan ada preman yang gangguin lagi” Raya tersenyum saat Daniella memegang pundaknya dan duduk di sampingnya sambil memijit kaki Raya yang masih sakit lalu mengolesi keningnya dengan salep yang di beli di apotik tadi. “Semoga kamu nyaman nginep di sini, biarpun kontrakan ku ini kecil tapi bersih, aku ndak suka kotor” Raya mengangguk
“Yuk kita tidur” ajak Daniell sambil membawa baskom kecil berisi air dan es batu untuk mengompres benjol di kening Raya, setelah Raya duduk di ruang tamu dan sudah mandi “Aku tidur di sini saja Mbak” Raya merasa risih jika harus tidur dengan seorang laki-laki walaupun dia seperti perempuan “Loh jangan banyak nyamuk, di kamar ku saja sama-sama, tempat tidurnya lebar kok”, Raya bingung bagaiman cara menolaknya , dia sedikit menyesal minta pertolongan dengan orang ini , Daniella mendekatinya duduk di sampingnya mengompres kepala Raya dengan air dingin, hal ini membuat jantung Raya berdetak kencang karena panik atau… ah entahlah.
“Di ajak nginep di sini aja aku udah berterimakasih sama kamu Mbak, tak usah repot-repot Mbak” Daniella menarik nafas panjang, “Ndak usah ngomong gitu, aku ikhlas kok mau nolong kamu, yukk di kamar aja” Raya menampakan wajah kebingungan “Aku tahu kamu takut karena aku laki-laki, jangan takut aku ndak bakalan ngapa-ngapain kamu kok, aku ndak suka perempuan, secantik apapun perempuan ndak bakalan menarik perhatian ku, apalagi mau macem-macem, kamu tenang aja, udah ah udah malem, aku udah ngantuk” Daniella menarik tangan Raya masuk ke dalam kamar, bulu kuduk Raya merinding, membayangkan bakal sekamar dengan laki-laki pun tak pernah apalagi dengan waria.
Raya berusaha menutup matanya, dia bingung dengan keputusan nya hari ini, keputusan yang di ambil sangat cepat yang bermula dari adanya telepon dari tante Maria, panik karena sang kakak sudah di Jogyakarta, langsung keluar dari hotel dan menukar nomor handphone yang terakhir menginap di rumah seorang waria dengan semua cerita palsu untuk mengelabui sang waria sebelum nya, dia takut akan timbulnya masalah lain yang menambah masalah sebelumnya di hidupnya, atau jangan jangan ini adalah masalah baru dari awal hidupnya yang baru.
Raya sekuat tenaga berbalik ke arah Daniella, memperhatikan raut ketampanan di wajahnya waria itu tanpa make up , tanpa payudara buatan, astaga ini menyeramkan, Raya baru sadar kalau payudara itu palsu dia pikir Daniella sudah mengoperasi payudaranya dan merubah kelamin nya, terlihat jelas bentuk tubuh layaknya laki-laki. Raya seperti tidur dengan laki-laki berambut panjang dan memakai daster.
Raya langsung memunggungi Daniella tak sanggup membayangkan apa yang telah di lihatnya, berusaha keras menutup matanya, merapatkan setiap lekuk tubuhnya dan berdoa semoga akan aman dari hal hal yang menyeramkan.
***
Perlahan Raya membuka matanya mendengar kegaduhan yang terjadi di depan “Kapan lagi toh kamu mau bayar, udah empat bulan ini, aku sudah sangat sabar” Raya duduk di tepi ranjang, mencoba menelaah apa yang terjadi, dan percakapan tentang apa yang memancing emosi sehingga harus teriak-teriak seperti itu “Maaf Pak De, aku belum ada uang, bulan depan pasti aku bayar”
“Apa bulan depan!!, lebih baik kamu segera berkemas saja, kalau besok kamu tak bayar, langsung ku usir kamu dari rumah ini” sumber suara itu berteriak lantang tetangga sudah pada keluar, Daniella memperhatikan sekitar dengan malu, semua mata tertuju padanya dan Pak De yang tak lain pemilik kontrakan, hari ini sudah tanggal 3 memang waktunya membayar kontrakan tapi sudah empat bulan ini Daniella sudah tak mampu membayar karena gajinya tak cukup untuk membayar kontrakan.
Raya mengerti dengan apa yang sedang terjadi, dia khawtir Daniella akan kehilangan rumahnya, tanpa pikir panjang Raya membawa tas ranselnya nya yang berisi uang dan keluar rumah “Maaf pak memangnya tagihan Daniella berapa?” Raya bertanya pada laki-laki yang menatap Daniella sinis “ Eh kamu ndak usah ikut campur, memangnya kamu mau bayar apa?, sanggup kamu? Heh” si laki-laki malah memarahi Raya juga, Raya langsung emosi dan melotot, “Bapak, saya tanya dengan sopan, bapak pikir saya tak mampu, akan saya lunasi sekarang juga!!!!” suara Raya yang keras mengagetkan Daniella, “Jangan Raya biar aku saja yang bayar, kamu ndak usah repot-repot” Daniella menenangkan “ Yaudah cepat Bayar semuanya dua juta, ada ?” si laki-laki masih saja nyolot ke arah Raya, Raya langsung membuka tasnya dan mengeluarkan uang dua juta dari sana tanpa perhitungan, Daniella berusaha menahan Raya untuk tidak mengeluarkan uang, tapi uang yang baru saja di pegang Raya untuk di di keluarkan langsung di rebut Pak De “Nah ini baru bagus, di bayar, di tagih kok susah bener, mesti nunggu sampai empat bulan” tanpa berterimakasih si Pak De ngeloyor begitu saja meninggalkan Daniella yang menatap Raya lesu.
WARUNG MAKAN
“Kamu tuh ada-ada aja, mbok di pikir dulu kalau mau mengeluarkan uang sebanyak itu, la wong itu bukan urusan kamu, sekarang aku jadi berhutang sama kamu?” Raya menatap Daniella tajam, sampai sekarangpun dia masih bingung kenapa sampai bertindak sejauh itu, itu akan membuatnya akan masih berhubungan dengan Daniella, apa di ikhlaskan saja uang itu “Aku ikhlas kok mbak?!” Daniella kaget, untuk orang macam dia, uang segitu adalah jumlah yang cukup banyak, Daniella heran kenapa Raya gampang saja memberikan uang sebanyak itu untuk orang yang baru di kenalnya, menginap di kontrakan nya saja baru semalam besoknya langsung bayar tunggakan kontrakan selama empat bulan “Aku ndak enak ee sama kamu, aku harus bayar utangku sama kamu, biar kamu sudah mengikhlaskan nya, aku tetap menganggapnya utang” sambil menyuap nasi ke mulutnya Raya memikirkan apa yang di katakana Daniella, kalau Daniella bersikeras untuk membayar utangnya berarti dia masih punya kesempatan untuk bertemu dengan Daniella “Baiklah akan ku tunggu” Raya ingin mengikat Daniella dengan hutangnya, dia senang masih bisa berhubunggan dengan Daniella walaupun dalam pikiran nya masih bingung kenapa dia merasa amat nyaman berada di dekat waria ini meskipun harus makan seadanya di warung makan sesempit dan sepanas ini.
“Tapi bagaimana aku membayar hutangku ?” Daniella kebingungan, makanan nya hanya di acak-acak saja, dia berusaha memikirkan sesuatu “Memangnya kerjaan mu apa mbak?” “Akuudah ndak kerja, kemarin kerja di salon, gajinya cuman delapan ratus ribu perbulan, sangat pas-pasan untuk bayar kontrakan lima ratus ribu perbulan, belum untuk makan, beli kosmetik, ongkos pulang pergi ke salon, huhh makanya kenapa aku nunggak bayar kontrakan,”
“Tapi kenapa sampai empat bulan sih Mbak?, kenapa tak cari kerjaan yang dekat dekat aja kan tak pake ongkos?”
“Nah itu dia kebodohan ku, empat bulan yang lalu aku kenalan sama cowok, dia baik sama aku aku di belikan nya macam-macam, rumah cowok itu dekat dengan salon tempat ku bekerja, mulanya aku ndak betah kerja di salon itu karena terlalu jauh dari kontrakan tapi setelah pacaran dengan nya aku sanggupi pulang balik tiap hari, tapi sialnya si cowok sering minta duit sama aku, katanya buat inilah, buat itulah, aku sing bodoh manut wae, sampai ndak bayar kontrrakan karena sudah tak cukup lagi uangnya” Raya bergidik ngeri membayangkan Daniella berpacaran dengan laki-laki, karena semenjak Raya menatap Daniella tanpa makeup semalam dirinya membayangkan Daniella adalah laki-laki normal.
“Aku pikir dia bakal bantu aku waktu aku susah, makanya semalem abis pulang kerja aku kerumah nya mau pinjem uang, tapi pas ku buka pintu rumahnya, eehh dia lagi pacaran sama perempuan, dasar laki-laki penipu!!!” ada amarah di mata Daniella sesaat Raya menatap tajam ke arah mata Daniella “setelah itu mbak?”
“kami berantem hebat, dia marah-marah padaku, dia bilang mana mungkin dia mau memacari banci kayak aku” Raya menarik nafas “kami putus dan aku pun memutskan untuk berhenti bekerja, aku ndak mau mengingat apalagi bertemu dengan dia lagi” Raya mengusap punggung Daniella lembut, “sabar mbak, mungkin belum jodoh, atau mungkin jodoh mbak perempuan” Raya kembali kelepasan bicara, untuk menutupi kebodohan nya dia menyunggingkan senyum nya. “Oaalahh ada-ada aja kamu nihh, mana ada perempuan yang mau sama aku, ahhh udahlah urusan jodoh bukan urusan ku, aku harus memikirkan utangku sama kamu, sekarang ini aku sudah tak ada pekerjaan, tak ada tabungan, lalu???... ohh iya aku ingat” Daniellla mengingat tawaran teman nya kemarin “ Apa mbak?” Raya kebingungan “Aku dapat tawaran bekerja di klub, jadi penyanyi”
“Ohh mbak Daniella bisa nyanyi toh?” Daniella mengangguk
“Tapi?”
“Tapi apa mbak?” Tanya Raya heran karena Daniella masih kebingungan
“Pekerjaan itu di Jakarta”
“Hah”
“Bagaimana ya?, masa kita mesti ke Jakarta sama-sama?, karena kalau ndak, aku ndak bisa bayar hutang ku sama kamu” Daniella berpikir, Raya beranggapan jika dia sama–sama ke Jakarta kesempatan untuk selalu bersama semakin besar, di Jogya pun sudah tidak aman Rio sudah ada di sini.
“Bagaimana kalau aku ke Jakarta dulu, bekerja di sana, nanti kalau uangnya sudah terkumpul, aku pulang lagi ke Jogyakarta, untuk bayar hutangku ke kamu”, Raya menggeleng, “kenapa? Kamu ndak percaya toh sama aku?” Raya mengangguk, “Yaa jadi bagaimana?” Tanya Daniella heran “Aku ikut ke Jakarta?” Raya bersuara lantang “lagian aku masih punya cukup uang untuk biaya ke Jakarta dan hidup kita di sana” Daniella menggeleng “Ndak boleh, nanti hutangku makin banyak sama kamu”
“Nah sekarang aku Tanya sama mbak Nela, mau ke Jakarta ada uangnya, tinggal di sana sama siapa?, untuk hidup sebulan sebelum terima gaji pake uang dari mana?”
Daniella menatap Raya
“Aku tak pa-pa mbak!, nanti kalau mbak sudah ada uang dan mau bayar ya aku terima, berapa pun jumlah nya” Daniella bingung “Aku ndak enak Ray, aku di Jakarta mungkin tinggal sama teman ku, dia juga sama kayak aku, aku takut kamu nanti risih”
Raya berusaha mencari akal, serumah dengan satu waria saja sudah membuatnya bingung apalagi dua. “Kalau kita berdua kan kita bisa ngontrak atau ngekost mbak?” sekali lagi mbak Nela tak usah khawatir, aku juga tak mau pulang mbak, , lagian kalau aku masih di sini aku takut kalau sampai ketemu lagi sama ibu tiriku di Jogya bisa mati aku”
Daniella heran kenapa Raya bisa sebaik ini padanya dan membawa banyak uang untuk kabur dari rumah, seperti sudah di rencanakan, bukan kah dia di usir dari rumah “ Kamu kok bisa bawa uang sebanyak itu? Padahalkan kamu di usir dari rumah”
Raya tercenung bingung mau jawab apa?, “eeehhhh, iya ini tabungan ku dari kecil, ayah ku yang menabungnya tanpa sepengetahuan ibu tiriku, pada saat aku di usir dari rumah untungnya aku tak lupa bawa buku tabungan nya, yaa begitulah, aku tak mau ibu tiriku tahu bahwa aku punya tabungan, jadi ku ambil saja semuanya, rencanaku mau ganti bank”
Daniella mengangguk, Raya sangat beruntung pikirnya, masih punya tabungan pada saat di usir dari rumah, tidak seperti dirinya dulu pada saat di usir dari ayahnya karena sang ayah tahu bahwa dia mengidap kelainan seksual, berprilaku seperti perempuan, dan menolak di masukan ke akademi kepolisian pada saat lulus SMA.
“Bagaimana mbak Nela?, aku boleh ikut tak ?, aku juga bisa kerja juga bantu-bantu Mbak Daniella, lagian lapangan kerja di Jakarta pasti lebih banyak dari pada di sini” Daniella menatap Raya, ada keharuan di matanya saat perempuan ini seperti ikhlas membantunya
“Kamu baik banget sih Ray?, kamu ndak kerja juga ndak papa?” Raya tersenyum “ aku tak tahu mbak, Mbak membuat aku nyaman berada di luar rumah, aku percaya kok sama mbak, tapi Mbak juga harus percaya dan tak menipu aku?” Daniella mengangguk, “Tunggu ya aku telepon teman ku di Jakarta dulu” Daniella bangkit dari duduknya “Eh mbak mau kemana?” Raya menahan tangan Daniella “Mau ke wartel, abisnya kalau pake handphone takut pulsanya abis” “Nihh pake handphone aku aja, kebetulan baru isi pulsa!” Raya menyodorkan handphone nya, Daniella tersenyum “Terimakasih banyak ya Ray, aku ndak kan pernah ngelupain kebaikan kamu” Raya membalas senyum Daniella “Aku ikhlas kok mbak”.
KANTOR POLISI
Rio bingung bukan main, berhari-hari dia di kantor polisi menunggu kabar pencarian adik nya yang hilang tapi belum ada satu kepastian tentang keberadaan Raya, seluruh pelosok Jogya sudah di telusuri nya, nomor handphone Raya yang baru yang di beri oleh tante Maria pun sudah tak aktif, dia sebernarnya sangat mengeti dengan keputusan sang adik untuk kabur dari rumah, kalaupn Rio boleh memilih dia akan melakukan hal yang sama, terlebih dia tahu bahwa dirinya tak kan di terima di rumah dalam keadaan seperti ini.
Rio memencet nomor-nomor di handphone nya, bermaksud menelopon papanya di rumah
RUMAH
“Halo” Robert mengangkat handphonenya yang berbunyi
“Pa”. “Ada kabar Yo”
“Belum pa?” Robert memijit kepalanya
“Kalau sampai seminggu tak juga di temukan, polisi akan menghentikan pencarian pa” Rober memejamkan matanya
“Ya kita cari sendiri saja kalau sampa tidak ketemu juga. Kalau sudah seminggu belum ada kabar pulang dulu ke Medan”
“Iya Pa” Robert menutup pembicaraan dengan menarik nafas panjang, dia sudah tak lagi pergi ke kantor semenjak Raya kabur dari rumah, hatinya hancur , semua yang dicintainya pergi begitu saja, dia paham mungkin Raya protes dengan perlakuan nya selama ini, tapi Robert sama sekali tak pernah berpikiir Raya akan berbuat senekat ini, seberani ini, bahkan keluar rumah untuk ke kampus saja tak pernah sendiri apalagi ke luar kota, ke Jawa pula, Robert amat takut tak bisa lagi bertemu Raya.
KERETA API
Raya menatap lekat Daniella yang sedang terlelap duduk di hadapan nya, siang itu mereka berangkat ke Jakarta dengan kereta api kelas ekonomi, sumpek dan panas, Raya sama sekali tak bisa merasa nyaman, pikiran nya melayang masih belum paham benar akan keputusan yang di ambilnya, tercebak dalam lingkaran yang abstrak di mana dia sudah tak lagi bisa membedakan, mengikuti perasaan hati nurani ataukah logikanya. Keinginan untuk bebas dari rumah dan hidup bersama Daniella amat sangat menggebu gebu di hatinyam, mungkin jika dia ingin keluar dari rumah itu ada alasan kuatnya tapi untuk hidup bersama Daniella?, kenapa?, apa penyebabnya?, karena Daniella telah menolongnya ?, atau…?
Ahhh sudahlah
Yang penting dia sudah terbebas dari rumah, Raya pikir tak mungkin lagi Rio mengejarnya sampai ke Jakarta, dia tak lagi meninggalkan jejak di Jogyakarta, dia bebas sekarang, tak ada lagi larangan ini itu, tak lagi di antar jemput ke sana kemari, dia bebas melakukan apa yang dia suka, menentukan jalan hidupnya sendiri, bebas kemana saja, bertemu siapa saja, bebas ….
Selamat tinggal papa… selamat tinggal Medan….
Jakarta…. Ku berharap padamu…
Raya mengusap air matanya, dan tersenyum memandang Daniella yang memikatnya sedang tertidur.