• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Hoping For A Definite Chance Encounter For Langit Biru

02 February 2012   Arlan Dwi Putra
E-mail Print PDF
Resensi Tamu
"We've learnt from Romeo and Juliet, right?"

Siapa yang tidak akan belajar dari kisah roman sepanjang masa itu? Hanya orang bodoh mungkin yang tidak belajar dari karya Pujangga itu. Langit, pertanyaan itu tidak seharusnya kamu ujarkan kepada seseorang. Tapi mengapa, saya cukup puas ketika kalimat itu terlontar dari bibirmu untuk Biru-mu? Kamu pergi. Sekarang, Langit sudah tidak bersebelahan dengan Biru, Ada mendung turut berpesta dalam perpisahan itu. Yogyakarta dan Mesir bukan jarak yang dekat untuk bisa bertatap muka. tapi kamu Langit tidak memilih untuk tinggal dan tetap memberikan Biru bagi Yogyakarta.

Wahai Langit, kamu tahu apa yang saat ini Biru-mu lakukan disela peninggalanmu?

Mungkin ia tidak menangis. Ia sibuk. Sibuk dalam untaian kalimat indahnya, bertutur akan aroma musim panasnya, bertutur tentang aroma kehilangan. Ya, namanya Faris. Masa lalu memang, namun apa bisa waktu menghilangkan seseorang yang selalu menjadi buah bibir yang tiba-tiba membuat kisruh di sekolah dan mengajak Biru-mu untuk pulang bersama? Kamu cemburu? tidak perlu. Kamu bisa percaya akan Biru-Layla-mu. Ia menolaknya, dan meninggalkan aroma pahit di hatinya. Biru-mu tidak tahu, hari itu hari terakhir ia bisa berbicara dengan aroma musim panasnya, Faris. Biru-mu hanya mendapat pesan bahwa aroma musim panasnya itu sangat ingin bertemu dengannya lagi. Entah kapan.

Sementara kamu? Ya aku tahu Langit, kamu tidak perlu berkilah atau menyembunyikannya. Kamu sibuk dengan dongeng musim gugurmu tentang teman-temanmu di sana. Aku ingat saat kamu bertutur tentang nasihat temanmu.

"Pada saat kamu jatuh cinta, jatuh cintalah. Karena, mungkin setelah itu, kamu tidak akan jatuh cinta sedalam itu lagi. Karena mungkin itulah yang akan menjadi cinta hidupmu."


Karena... karena... masih banyak alasan lain untuk bertemu dengan cinta. aku mengerti, Langit.

"Untuk Cinta yang mungkin menjadi cinta hidupku, Biru..."


Amin. hanya itu yang terucap dariku. semoga termasuk dalam daftar 40-amin mu.

Terima kasih..... sudah berbincang denganku, Langit.

***

Salju belum turun di halaman, tetapi sudah ada sonata menari di daun telinga saya. Di Musim dingin ini saya bertemu Layla. Si Biru yang biasanya mendampingi langit. Saya menyapa, basa-basi, sampai kepada bagian dimana saya bertutur bahwa saya bertemu dengan Langit tidak lama sebelum saya berjumpa Biru.

"Aku ingin bercinta denganmu dengan penuh dendam, Langit."


Itu respon pertama Biru dari cerita saya. Ada kerinduan yang membara. Benang merah itu belum putus, masih mengikat mereka berdua. Saya tidak ingin memancing kerinduannya pada Langit. Saya sudah tahu persis rasa itu. Saya justru sibuk bercerita tentang Sang Penguasa Angkasa, penguasa bernama Morra Quatro yang mengendalikan Langit dalam Kepercayaannya. Dia Believe terhadap anak didiknya Langit yang Biru. Saya bercerita akan kisah Sang Penguasa, tentang kisah cintanya yang terpisah jarak seperti Langit dan Layla, tentang keindahan kalimatnya yang membentang angkasa, dan tentang kekuatan cintanya, tentang kisah cinta indahnya yang terurai dalam sebuah plot sederhana namun terbungkus dengan untaian mutiara kata yang indah. Cerita yang sungguh sempurna untuk menguras hati. Barangkali, dengan itu saya bisa memberikan suatu yang membuat Layla-Si Biru merasa believe akan Langitnya di sana.

Langit.. yang mungkin sama, dan mungkin juga berbeda.

Saya dan Layla berbincang tidak ingat waktu. Salju sudah mencair, dunia sudah penuh dengan warna. angkasa bersemi di musim ini. Dan Saya baru menyadari akan perjalanan sang teman, Si Waktu, yang sudah berlari meninggalkan kami berdua. Saya membantu Layla dalam penantiannya menunggu Langit. Juga membakarnya kedalam rasa merindu yang semakin dalam.

"Langit... akan pulang pada Biru kan Pa?"


Hati saya miris, mendengar dan menyaksikan percakapan anak-dan-ayahnya itu. Saya datang untuk membantu Biru. Kenyataannya saya datang untuk membantu Biru, sekaligus menghancurkannya. Seperti mengobati, lalu menaburkan garam diatas luka Biru.

Saya ingin menjawab.

"Hanya Morra Sang Penguasa angkasa yang tahu akan takdirmu Biru. Hal yang sama juga berlaku untuk Langit. Tapi percayalah, kisahnya selalu indah. Untukmu dan Langit."


Tapi saya hanya menahan dalam hati. Saya tahu, apapun itu hanya akan menambah kerinduan Layla. Obatnya hanya satu: A Chance Encounter, with Langit. Saya mengurungkan niat. Berbalik kembali ke angkasa.

Sudah saatnya Saya berhenti mengganggu Langit Dan Biru. Saya sudah harus membiarkan aroma Jasmine dan Faris mengharumkan perjalanan mereka. Juga Rara,Rasya,Attar dan Rein. Saya tidak bisa membocorkan kodrat Sang penguasa Angkasa untuk menentukan takdir anak-anak didiknya. Saya mungkin bahkan sudah melangkah terlalu jauh untuk mencampuri kehidupan mereka. Saya bukan Sang Penguasa Angkasa. Dan Saya harus berhenti disini, kembali menyerahkan wewenang pada Morra Quatro Sang Penguasa Angkasa.

Namun, Saya hanya bisa meninggalkan sesuatu. semoga Layla dan Langit Believe kalau akan ada A chance encounter buat mereka. Saya tahu itu. Saya tahu kapan. Saya hanya tidak boleh membocorkan bagaimana. Satu hal yang boleh saya bocorkan Sang Penguasa Angkasa Morra Quatro, sangat pintar untuk membungkus perjalanan anak-anaknya dalam suatu keindahan akan hidup versinya. Saya harap, Biru.. dan Langit.. Believe akan hal itu, dan berdoa untuk itu.

Saya juga turut mengucap untuk daftar 40-Amin Kalian berdua, La,Lang. Sampai bertemu di kemudian hari. Saya mungkin tidak akan bertemu kalian lagi, sampai Sang Penguasa Angkasa , Morra Quatro, memberikan kesempatannya.

"Tidak. Cinta tidak mengenal Waktu. Walaupun Hanya Waktu yang tahu seberapa berharganya Cinta itu."


Best Wishes. You Two.


~Scheduler.
Comments (3)
 

Gadis di Luar Jendela [2]

01 February 2012   Ana Fauziyah
E-mail Print PDF
Cerpen

“Yap, thanks.” Ia berdiri dan berjalan beberapa langkah kemudian menoleh ke arahku, “Tadi siang saya ngajak kawan-kawan aksi di depan rektorat, kami minta AC perpus diperbarui,” ujarnya sambil tersenyum lalu berjalan menuju pintu.

Aku tertegun, “Nekat juga dia,” pikirku.

Hari ketiga dia datang lagi, kali ini ia membawa tas besar dan panjang yang aku tak tahu apa isinya. Di pintu masuk kucegat dia, “Maaf, tidak boleh membawa tas ke dalam ruangan,” tegurku.

Ia terhenyak sebentar kemudian berujar. “Ini isinya barang berharga. Kalo saya tinggal di luar terus ilang, Mbak mau gantiin?”

Aku langsung jiper dengan ancamannya itu sehingga kupersilahkan ia masuk ke dalam sambil menenteng tas besarnya. Ia langsung menuju kursi dekat jendela dan memandang lekat ke luar dengan tatapan  penuh cinta. Menurutku, ia seperti orang yang sedang jatuh cinta. Aku mulai penasaran seperti apa gadis yang selalu ditatapnya di luar jendela.

Aku sedang menekuri layar komputer, membaca daftar mahasiswa yang minggu ini belum mengembalikan buku melewati tenggat waktu. Kemudian kudengar denting gitar dari arah pemuda itu duduk. Kutengok dia. Ia sedang memetik gitar yang mungkin ia bawa di tasnya. Matanya lekat menyapu kaca jendela di sampingnya.

Kudekati dia, “Maaf, mohon tidak berisik di ruangan ini,” tegurku.

“Maaf?” ia mendongak. “Mbak salah apa? Dari kemarin kok minta maaf terus?”

Aku tertegun sebentar kemudian berujar, “Tidak diperkenankan membuat kegaduhan di tempat ini,” jelasku.

“Musik itu relaksasi. Otak lebih mudah menerima informasi saat sedang rileks. Karena itu, baiknya di perpus ini diperdengarkan musik-musik yang lembut...” cerocosnya.

Aku mulai kehilangan kesabaran menghadapi pemuda di depanku. Dari kemarin ia melakukan semua hal yang dilarang dilakukan di dalam ruangan ini. Memang hampir semua yang dikatakannya sejak kemarin sangat masuk akal dan dapat diterima otakku. Masalahnya adalah ia mempermasalahkan perkara yang berada di luar wewenangku.

“Maaf, saya tidak punya waktu untuk berdebat. Sebentar lagi perpus akan ditutup. Saya harus bersiap-siap.” Kutinggalkan dia tanpa menoleh lagi.

Ini hari keempat pemuda itu memasuki ruangan ini, selalu ketika satu jam menjelang perpustakaan ditutup. Aku menduga di jam-jam seperti ini, gadis yang disukainya itu mempunyai kebiasaan nongkrong bersama geng-nya di luar sana. Gadis itu mungkin sedang bersenda gurau bersama teman-temannya di taman sebelah gedung perpustakaan ini sehingga pemuda itu bisa leluasa memerhatikannya dari dalam ruangan.

Sudah tiga tahun aku bekerja di tempat ini dan bertemu banyak macam mahasiswa, tapi pemuda yang satu ini benar-benar menarik perhatianku. Sudah empat hari ini ia selalu datang ke perpustakaan ini di waktu yang sama. Ia duduk di kursi yang sama, menatap jendela penuh binar cinta. Setiap harinya ia seperti sengaja melakukan hal-hal yang terlarang dilakukan di ruangan ini.

Diam-diam kuperhatikan pemuda itu. Ia memang mempunyai raut muka yang bisa dikategorikan cakep. Mungkin cukup untuk membuat gadis-gadis di fakultasnya berebut mencari perhatiannya. Lalu kenapa dia harus mencuri-curi lihat seperti itu? Apa ia tidak pede berhadapan langsung dengan gadis pujaannya?

Tiba-tiba ia menoleh ke arahku, “Mbak merhatiin saya?” tanyanya.

Aku tergeragap. “Tidak,” elakku serba salah. “Kamu tidak mau baca salah satu buku di ruangan ini?” aku menawarinya untuk mengalihkan topik pembicaraan. “Saya bisa pilihkan salah satu yang menarik buatmu.”

“Tidak perlu,” jawabnya cepat. “Buku-buku di sini nggak ada yang menarik. Kebanyakan cuma buku teks, buku pegangan kuliah, makalah...”

Aku tak bisa berucap apa-apa.

“Lagipula saya sudah bawa,” ia berkata sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah buku kecil berjudul The Mute’s Soliloquy.

“Ah, kamu baca karya Promoedya Ananta Toer?” tanyaku sangsi.

“Ya,” jawabnya pendek.

Aku tak percaya. Sejak hari pertama dia datang ke ruangan ini, aku terlanjur mencapnya sebagai cowok anggota grup band atau pembalap jalanan. Tak kusangka ia membaca karya sastra serius semacam The Mute’s Soliloquy. Benar-benar di luar dugaan!

“Benarkah?” tanyaku memastikan.

“Saya penggemar Pram. Tetralogi Pulau Buru-nya banyak menginspirasi saya...” kisahnya.

Aku masih sulit percaya. “Saya kira cowok-cowok seperti kamu...” aku tak melanjutkan kalimatku.

“Cowok-cowok seperti saya?” tanyanya penasaran. “Ah, pasti Mbak menganggap kami ini  hanya tukang bikin ulah,” keluhnya.

“Maaf,” hanya kata itu saja yang bisa keluar dari mulutku.

“Don’t judge the book but its cover,” desisnya.

Aku tersenyum kaku.

“Ngomong-ngomong, Mbak suka buku apa?” tanyanya dengan nada penuh ingin tahu.

“Saya suka baca komik serial cantik,” jawabku.

“Wow! Saya pikir orang seperti Mbak suka novel thriller macam The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Nggak tahunya...” ia tersenyum lebar.

“Tebakanmu nggak salah,” aku tersenyum nyengir. “Saya pecandu Dan Brown. Favorit saya Angels and Demons,” ujarku lagi.

Ia menatapku penuh binar. Lalu menit-menit selanjutnya, kami habiskan dengan memperbincangkan karya-karya Dan Brown hingga jam dinding menunjukkan pukul lima dan perpustakaan harus segera ditutup.

Hari kelima dia datang ke tempat ini. Siapakah gadis yang selalu ditatapnya dari balik jendela itu? Pertanyaan itu menjejali batang otakku. Ia sedang tersenyum-senyum sendiri di kursinya. Kuberanikan diri mendekatinya.

“Boleh aku duduk?” tanyaku sambil menunjuk kursi di sebelahnya.

Ia mengangguk. Sejak percakapan panjang tentang Dan Brown kemarin, sepertinya aku mulai merasa dekat dengannya. Dan sepertinya ia juga merasa bahwa kami telah berteman.

“Kenapa harus memandanginya dari sini?” tanyaku hati-hati. Kuharap ia tidak menangkap rasa ingin tahuku yang menggebu.

Ia mendesah, “Tadinya saya ingin nembak dia, tapi di luar dugaan ternyata saya nggak berani. Saya hanya bisa memandanginya dari sini,” ia berkisah. “Jangan tertawa ya...” pintanya.

Kupandangi dia dengan tatapan tak mengerti. “Kenapa malu? Kamu cakep, kritis, dan sepertinya cukup cerdas. Gadis itu tak punya alasan menolakmu,” kuungkapkan pendapatku dengan jujur.

Ia menoleh, “Begitu ya?” tanyanya sambil menatapku. Matanya menghujam ke dalam mataku.

Sesaat aku terpana, tanpa kusadari dadaku berdesir saat melihat bola matanya. Kupalingkan muka dan mengangguk.

“Mbak benar-benar menganggapku cakep?” tanyanya. Bisa kudengar senyum dalam suaranya.

Kurasakan pipiku memanas. “Aku permisi. Banyak kerjaan...” pamitku kemudian beranjak menuju mejaku. Sepanjang sore itu, hatiku tak karuan dan sering berdegup hanya kerena mendengar suara dehemannya. Aku benar-benar tak habis pikir dengan diriku!

Keesokan harinya, hari keenam dia datang ke perpustakaan ini.

Dari meja kerjaku, kuperhatikan gerak-geriknya saat menatap kaca jendela di sampingnya. Sial, aku benar-benar penasaran dengan gadis di luar jendela itu. Kuhampiri dia, “Sedang apa gadis itu?” tanyaku sambil berdiri di belakang punggungnya.

Ia tak menoleh, masih tetap memandangi kaca jendela itu lekat-lekat. “Ia sedang berdiri,” jawabnya. “Ia punya mata yang cantik, selalu bergerak-gerak jika membicarakan sesuatu yang menarik...” gumamnya.

Aku kehabisan kata. Tiba-tiba merasa kesal sendiri mendapati fakta bahwa gadis yang sedang dibicarakannya bukanlah aku. Secantik apakah gadis itu?!

“Kamu pecundang!” tanpa sadar aku mengucapkan kalimat itu.

Ia mendongak ke arahku.

“Kamu penakut! pengecut, yang tidak berani mengakui perasaannya.”

Entah kenapa aku merasa berhak memarahinya seperti itu. Namanya saja aku tak tahu. Kenapa aku bisa begini?

“Kalau kamu menyukainya, kenapa tidak terus terang saja?!”

Apakah yang terjadi dengan diriku? Apa urusanku dengan kehidupannya?

“Jangan berlindung dari balik jendela ini!”

Oh, tidak! ini harus dihentikan. Aku terlalu banyak melantur.

“Temui dia sekarang dan katakan kamu menyukainya!” Kurasakan nyeri di sudut hatiku ketika mengatakan kalimat barusan. Tuhan, apakah ini yang namanya cemburu?

Ia menatapku nanar. Lama sekali sehingga membuatku salah tingkah.

“Ah, maaf... maaf sekali. Aku tak bermaksud...” ujarku merasa bersalah.

Tapi akhirnya ia tersenyum. Ia berdiri dari kursi favoritnya dan mempersilahkan aku duduk di sana. “Duduklah.”

Ragu-ragu aku duduk di kursi itu. Saat kutengok ke luar jendela, kudapati beberapa pemuda sedang bersenda gurau di taman. Anehnya tak kudapati satu orang gadis pun di sana.

Ia berjalan ke arah mejaku yang berada kira-kira lima meter dari tempatku duduk. Sampai di sana, ia duduk di kursiku. Dari tempatku aku bisa melihatnya berpura-pura mengetik sesuatu di komputerku.

“Jangan coba main-main dengan komputerku!” aku berseru.

Ia balas berseru, “Lihat jendela. Apa yang kamu lihat di sana?”

Saat kupalingkan mukaku menghadap jendela. Aku menyaksikan lewat kaca, ia yang sedang duduk di mejaku, berpura-pura mengetik sesuatu di komputerku, kemudian terseyum dikulum ke arahku. Aku mematung dengan dada bergemuruh penuh desir.

Bayangan di kaca itu berujar, “Hai, namaku Algad Lombaya. Boleh kenalan? Ah, tidak... Mau nggak jadi pacarku?”

Pipiku bersemu dan memanas. Aku tak ingat apakah saat itu aku mengangguk atau tidak. Yang kutahu, pemuda dengan rambut berantakan dan telinga bertindik, dengan jins belel berumbai-rumbai itu sudah berada di dekatku dan berbisik di belakangku, “Sudah jam 5. Ayo kita kencan,” ujarnya.

Comments (2)
 

Satu [2]

31 January 2012   Wara Cempaka Syarif
E-mail Print PDF
1st Chapter

KONTRAKAN DANIELLA


“Dua preman tadi kok bisa takut sama kamu?, kenapa bang?, ehh” Raya kagok takut salah harus memaanggil Daniela apa, “Udah panggil mbak Nela aja” jawab Daniella ketika mereka baru masuk ke rumah kontrakan nya


“Loh kamu kan sebenernya laki-laki” wajah Raya kembali memucat, takut Daniella tersinggung “Aku ini jadi wedok dari abg, jadi udah ndak tau lagi  gimana rasanya jadi laki-laki” Raya mengangguk tak mengerti “Dua preman tadi itu tetangga ku, rumahnya dua rumah dari kontrakan ku ini, dulu mereka sering memalak ku kalau aku abis pulang kerja, tapi beberapa bulan yang lalu salah satu dari mereka ketabrak mobil, karena aku di tempat kejadian waktu peristiwa itu terjadi ya aku tolong saja, aku lunasi semua biaya rumah sakit, waktu itu aku punya tabungan, semenjak itu mereka baik sama aku”. Raya semakin kagum, Daniella sangat baik, pemaaf dan berjiwa besar

“Pokoknya kalau kamu sama aku, kamu aman, ndak kan ada preman yang gangguin lagi” Raya tersenyum saat Daniella memegang pundaknya dan duduk di sampingnya sambil memijit kaki Raya yang masih sakit lalu  mengolesi keningnya dengan salep yang di beli di apotik tadi. “Semoga kamu nyaman nginep di sini, biarpun kontrakan ku ini kecil tapi bersih, aku ndak suka kotor” Raya mengangguk


“Yuk kita tidur” ajak Daniell sambil membawa baskom kecil berisi air dan es batu untuk mengompres benjol di kening Raya, setelah Raya duduk di ruang tamu  dan sudah mandi “Aku tidur di sini saja Mbak”   Raya merasa risih jika harus tidur dengan seorang laki-laki walaupun dia seperti perempuan “Loh jangan banyak nyamuk, di kamar ku saja sama-sama, tempat tidurnya lebar  kok”, Raya bingung  bagaiman cara menolaknya , dia sedikit menyesal minta pertolongan dengan orang ini , Daniella mendekatinya duduk di sampingnya mengompres kepala Raya dengan air dingin, hal ini membuat jantung Raya berdetak kencang karena panik atau… ah entahlah.

“Di ajak nginep di sini aja aku udah berterimakasih sama kamu Mbak, tak usah repot-repot Mbak” Daniella menarik nafas panjang, “Ndak usah ngomong gitu, aku ikhlas kok mau nolong kamu, yukk di kamar aja” Raya menampakan wajah kebingungan “Aku tahu kamu takut karena aku laki-laki, jangan takut  aku ndak bakalan ngapa-ngapain kamu kok, aku ndak suka perempuan, secantik apapun perempuan ndak bakalan menarik perhatian ku, apalagi mau macem-macem, kamu tenang aja, udah ah udah malem, aku udah ngantuk” Daniella menarik tangan Raya masuk ke dalam kamar, bulu kuduk Raya merinding, membayangkan bakal sekamar dengan laki-laki pun tak pernah apalagi dengan waria.


Raya berusaha menutup matanya, dia bingung dengan keputusan nya hari ini, keputusan yang di ambil sangat cepat yang bermula dari adanya telepon dari tante Maria, panik karena sang kakak  sudah di Jogyakarta, langsung keluar dari hotel dan menukar nomor  handphone yang terakhir menginap di rumah seorang waria dengan semua cerita palsu untuk mengelabui sang waria sebelum nya, dia takut akan timbulnya masalah lain yang menambah masalah sebelumnya di hidupnya, atau jangan jangan ini adalah masalah baru dari awal hidupnya yang baru.


Raya sekuat tenaga berbalik ke arah Daniella, memperhatikan raut ketampanan di wajahnya waria itu tanpa make up , tanpa payudara buatan, astaga ini menyeramkan, Raya baru sadar kalau payudara itu palsu dia pikir  Daniella sudah mengoperasi payudaranya dan merubah kelamin nya, terlihat jelas bentuk tubuh layaknya laki-laki. Raya seperti tidur dengan laki-laki berambut panjang dan memakai daster.


Raya langsung memunggungi Daniella tak sanggup membayangkan apa yang telah di lihatnya, berusaha keras menutup matanya, merapatkan setiap lekuk tubuhnya dan berdoa semoga akan aman dari hal hal yang menyeramkan.


***
Perlahan Raya membuka matanya mendengar kegaduhan yang terjadi di depan “Kapan lagi toh kamu mau bayar, udah empat bulan ini, aku sudah sangat sabar” Raya duduk di tepi ranjang, mencoba menelaah apa yang terjadi, dan percakapan tentang apa yang memancing emosi sehingga harus teriak-teriak seperti itu “Maaf Pak De, aku belum ada uang, bulan depan pasti aku bayar”


“Apa bulan depan!!, lebih baik kamu segera berkemas saja, kalau besok kamu tak bayar, langsung ku usir kamu dari rumah ini” sumber suara itu berteriak lantang tetangga sudah pada keluar, Daniella memperhatikan sekitar dengan malu, semua mata tertuju padanya dan Pak De yang tak lain pemilik kontrakan, hari ini sudah tanggal 3 memang waktunya membayar kontrakan tapi sudah empat bulan ini Daniella sudah tak mampu membayar karena gajinya tak cukup untuk membayar kontrakan.


Raya mengerti dengan apa yang sedang terjadi, dia khawtir Daniella akan kehilangan rumahnya, tanpa pikir panjang Raya membawa tas ranselnya nya yang berisi uang dan keluar rumah “Maaf pak memangnya tagihan Daniella berapa?” Raya bertanya pada laki-laki yang menatap Daniella sinis  “ Eh kamu ndak usah ikut campur, memangnya kamu mau bayar apa?, sanggup kamu? Heh”  si laki-laki malah memarahi Raya juga, Raya langsung emosi dan melotot, “Bapak, saya tanya dengan sopan, bapak pikir saya tak mampu, akan saya lunasi sekarang juga!!!!” suara Raya yang keras  mengagetkan Daniella, “Jangan Raya biar aku saja yang bayar, kamu ndak usah repot-repot” Daniella menenangkan “ Yaudah cepat Bayar semuanya dua juta, ada ?” si laki-laki masih saja nyolot ke arah Raya, Raya langsung membuka tasnya dan mengeluarkan uang dua juta dari sana tanpa perhitungan, Daniella berusaha menahan Raya untuk tidak mengeluarkan uang, tapi uang yang baru saja di pegang Raya untuk di di keluarkan langsung di rebut Pak De “Nah ini baru bagus, di bayar, di tagih kok susah bener, mesti nunggu sampai empat bulan” tanpa berterimakasih si Pak De ngeloyor begitu saja meninggalkan Daniella yang menatap Raya lesu.


WARUNG MAKAN


“Kamu tuh ada-ada aja, mbok di pikir  dulu kalau mau mengeluarkan uang sebanyak itu, la wong itu bukan urusan kamu, sekarang aku jadi berhutang sama kamu?” Raya menatap Daniella tajam, sampai sekarangpun dia masih bingung kenapa sampai bertindak sejauh itu, itu akan membuatnya akan masih berhubungan dengan Daniella, apa di ikhlaskan saja uang itu “Aku ikhlas kok mbak?!” Daniella kaget, untuk orang macam dia, uang segitu adalah jumlah yang cukup banyak, Daniella heran kenapa Raya gampang saja memberikan uang sebanyak itu untuk orang yang baru di kenalnya, menginap di kontrakan nya  saja baru semalam besoknya langsung bayar tunggakan kontrakan selama empat bulan “Aku ndak enak ee sama kamu, aku harus bayar utangku sama kamu, biar kamu sudah mengikhlaskan nya, aku tetap menganggapnya utang” sambil menyuap nasi ke mulutnya Raya memikirkan apa yang di katakana Daniella, kalau Daniella bersikeras untuk membayar utangnya berarti dia masih punya kesempatan untuk bertemu dengan Daniella “Baiklah akan ku tunggu”  Raya ingin mengikat Daniella dengan hutangnya,  dia senang masih bisa berhubunggan dengan Daniella walaupun dalam pikiran nya masih bingung kenapa dia merasa amat nyaman berada di dekat waria ini meskipun harus makan seadanya di warung makan sesempit dan sepanas ini.


“Tapi bagaimana aku membayar hutangku ?”  Daniella kebingungan, makanan nya hanya di acak-acak saja, dia berusaha memikirkan sesuatu  “Memangnya kerjaan mu apa mbak?”  “Akuudah ndak kerja, kemarin kerja di salon, gajinya cuman delapan ratus ribu perbulan, sangat pas-pasan untuk bayar kontrakan lima ratus ribu perbulan, belum untuk makan, beli kosmetik, ongkos pulang pergi ke salon, huhh makanya kenapa aku nunggak bayar kontrakan,”


“Tapi kenapa sampai empat bulan sih Mbak?, kenapa tak cari kerjaan yang dekat dekat aja kan tak pake  ongkos?”


“Nah itu dia kebodohan ku, empat bulan yang lalu aku kenalan sama cowok, dia baik sama aku aku di belikan nya macam-macam, rumah cowok itu dekat dengan salon tempat ku bekerja, mulanya aku ndak betah kerja di salon itu karena terlalu jauh dari kontrakan tapi setelah pacaran dengan nya aku sanggupi pulang balik tiap hari, tapi sialnya si cowok sering minta duit sama aku, katanya buat inilah, buat itulah, aku sing bodoh manut wae, sampai ndak bayar kontrrakan karena sudah tak cukup lagi uangnya” Raya bergidik ngeri membayangkan Daniella berpacaran dengan laki-laki, karena semenjak Raya menatap Daniella tanpa makeup semalam dirinya membayangkan Daniella adalah laki-laki normal.


“Aku pikir dia bakal bantu aku waktu aku susah, makanya semalem abis pulang kerja aku kerumah nya mau pinjem uang, tapi pas ku buka pintu rumahnya, eehh dia lagi pacaran sama perempuan, dasar laki-laki penipu!!!” ada amarah di mata Daniella sesaat Raya menatap tajam ke arah mata Daniella “setelah itu mbak?”


“kami berantem hebat, dia marah-marah padaku, dia bilang mana mungkin dia mau memacari banci kayak aku” Raya menarik nafas “kami putus dan aku pun memutskan untuk berhenti bekerja, aku ndak mau mengingat apalagi bertemu dengan dia lagi” Raya mengusap punggung Daniella lembut, “sabar mbak, mungkin belum jodoh, atau mungkin jodoh mbak perempuan” Raya kembali kelepasan bicara, untuk menutupi kebodohan nya dia menyunggingkan senyum nya. “Oaalahh ada-ada aja kamu nihh, mana ada perempuan yang mau sama aku, ahhh udahlah urusan jodoh bukan urusan ku, aku harus memikirkan utangku sama kamu, sekarang ini aku sudah tak ada pekerjaan, tak ada tabungan, lalu???... ohh iya aku ingat” Daniellla mengingat tawaran teman nya kemarin “ Apa mbak?” Raya kebingungan “Aku dapat tawaran bekerja di klub, jadi penyanyi”


“Ohh mbak Daniella bisa nyanyi toh?” Daniella mengangguk
“Tapi?”
“Tapi apa mbak?” Tanya Raya heran karena Daniella masih kebingungan
“Pekerjaan itu di Jakarta”
“Hah”
“Bagaimana ya?, masa kita mesti ke Jakarta sama-sama?, karena kalau ndak, aku ndak bisa bayar hutang ku sama kamu” Daniella berpikir, Raya beranggapan jika dia sama–sama ke Jakarta kesempatan untuk selalu bersama semakin besar, di Jogya pun sudah tidak aman Rio sudah ada di sini.


“Bagaimana kalau aku ke Jakarta dulu, bekerja di sana, nanti kalau uangnya sudah terkumpul, aku pulang lagi ke Jogyakarta, untuk bayar hutangku ke kamu”, Raya menggeleng, “kenapa? Kamu ndak percaya toh sama aku?”  Raya mengangguk,  “Yaa jadi bagaimana?” Tanya Daniella heran  “Aku ikut ke Jakarta?” Raya bersuara lantang “lagian aku masih punya cukup uang untuk biaya  ke Jakarta dan hidup kita di sana” Daniella menggeleng “Ndak boleh, nanti hutangku makin banyak sama kamu”
“Nah sekarang aku Tanya sama mbak Nela, mau ke Jakarta ada uangnya, tinggal di sana sama siapa?, untuk hidup sebulan sebelum terima gaji pake uang dari mana?”


Daniella  menatap Raya


“Aku tak pa-pa  mbak!, nanti kalau mbak  sudah ada uang dan mau bayar ya aku terima, berapa pun jumlah nya” Daniella bingung “Aku ndak enak Ray, aku di Jakarta mungkin tinggal sama teman ku, dia juga sama kayak aku, aku takut kamu nanti risih”
Raya berusaha mencari akal, serumah dengan satu waria saja sudah membuatnya bingung apalagi dua. “Kalau kita berdua kan kita bisa ngontrak atau ngekost mbak?” sekali lagi mbak Nela tak usah khawatir, aku juga tak mau pulang mbak, , lagian kalau aku masih di sini aku takut kalau sampai ketemu lagi sama ibu tiriku di Jogya bisa mati aku”


Daniella  heran kenapa Raya bisa sebaik ini padanya dan membawa banyak uang untuk kabur dari rumah, seperti sudah di rencanakan, bukan kah dia di usir dari rumah “ Kamu kok bisa bawa uang sebanyak itu? Padahalkan kamu di usir dari rumah”
Raya tercenung bingung mau jawab apa?,  “eeehhhh, iya ini tabungan ku dari kecil, ayah ku yang menabungnya tanpa sepengetahuan ibu tiriku, pada saat aku di usir dari rumah untungnya aku tak lupa bawa buku tabungan nya, yaa begitulah, aku tak mau ibu tiriku tahu bahwa aku punya tabungan, jadi ku ambil saja semuanya, rencanaku mau ganti bank”


Daniella mengangguk, Raya sangat beruntung pikirnya, masih punya tabungan pada saat di usir dari rumah, tidak seperti dirinya dulu pada saat di usir dari ayahnya karena sang ayah tahu bahwa dia mengidap kelainan seksual, berprilaku seperti perempuan, dan menolak di masukan ke akademi kepolisian pada saat lulus SMA.


“Bagaimana mbak Nela?, aku boleh ikut tak ?, aku juga bisa kerja juga bantu-bantu Mbak Daniella, lagian lapangan kerja di Jakarta pasti lebih banyak dari pada di sini” Daniella menatap Raya, ada keharuan di matanya saat perempuan ini seperti ikhlas membantunya
“Kamu baik banget sih Ray?, kamu ndak kerja juga ndak papa?” Raya tersenyum “ aku tak tahu mbak, Mbak membuat aku nyaman berada di luar rumah, aku percaya kok sama mbak, tapi Mbak juga harus percaya dan tak menipu aku?” Daniella mengangguk, “Tunggu ya aku telepon teman ku di Jakarta dulu” Daniella bangkit dari duduknya “Eh mbak mau kemana?” Raya menahan tangan Daniella “Mau ke wartel, abisnya kalau pake handphone takut pulsanya abis” “Nihh pake handphone aku aja, kebetulan  baru isi pulsa!” Raya menyodorkan handphone nya, Daniella tersenyum “Terimakasih banyak ya Ray, aku ndak kan pernah ngelupain kebaikan kamu” Raya membalas senyum Daniella “Aku ikhlas kok mbak”.


KANTOR POLISI


Rio bingung bukan main, berhari-hari dia di kantor polisi menunggu kabar pencarian adik nya yang hilang tapi belum ada satu kepastian tentang keberadaan Raya, seluruh pelosok Jogya sudah di telusuri nya, nomor handphone Raya yang baru yang di beri oleh tante Maria pun sudah tak aktif, dia sebernarnya sangat mengeti dengan keputusan sang adik untuk kabur dari rumah, kalaupn Rio boleh memilih dia akan melakukan hal yang sama, terlebih dia tahu bahwa dirinya tak kan di terima di rumah dalam keadaan seperti ini.
Rio memencet nomor-nomor di handphone nya, bermaksud menelopon papanya di rumah

RUMAH


“Halo” Robert mengangkat handphonenya yang berbunyi
“Pa”. “Ada kabar Yo”
“Belum pa?” Robert memijit kepalanya
“Kalau sampai seminggu tak juga di temukan, polisi akan menghentikan pencarian pa”  Rober memejamkan matanya
“Ya kita cari sendiri saja kalau sampa tidak ketemu juga. Kalau sudah seminggu belum ada kabar pulang dulu ke Medan”
“Iya Pa” Robert menutup pembicaraan dengan menarik nafas panjang, dia sudah tak lagi pergi ke kantor semenjak Raya kabur dari rumah, hatinya hancur , semua yang dicintainya pergi begitu saja, dia paham mungkin Raya protes  dengan perlakuan nya selama ini, tapi Robert sama sekali tak pernah berpikiir Raya akan berbuat senekat ini, seberani ini, bahkan keluar rumah untuk ke kampus saja tak pernah sendiri apalagi ke luar kota, ke Jawa pula, Robert amat takut tak bisa lagi bertemu Raya.

KERETA API


Raya menatap lekat Daniella yang sedang terlelap duduk di hadapan nya, siang itu mereka berangkat ke Jakarta dengan kereta api kelas ekonomi, sumpek dan panas, Raya sama sekali tak bisa merasa nyaman, pikiran nya melayang masih belum paham benar akan keputusan yang di ambilnya, tercebak dalam lingkaran yang abstrak di mana dia sudah tak lagi bisa membedakan, mengikuti perasaan hati nurani ataukah logikanya. Keinginan untuk bebas dari rumah dan hidup bersama Daniella amat sangat menggebu gebu di hatinyam, mungkin jika dia ingin keluar dari rumah itu ada alasan kuatnya tapi untuk hidup bersama Daniella?, kenapa?, apa penyebabnya?, karena Daniella telah menolongnya ?, atau…?


Ahhh sudahlah


Yang penting dia sudah terbebas dari rumah, Raya pikir tak mungkin lagi Rio mengejarnya sampai ke Jakarta, dia tak lagi meninggalkan jejak di Jogyakarta, dia bebas sekarang, tak ada lagi larangan ini itu, tak lagi di antar jemput ke sana kemari, dia bebas melakukan apa yang dia suka, menentukan jalan hidupnya sendiri, bebas kemana saja, bertemu siapa saja, bebas ….
Selamat tinggal papa… selamat tinggal Medan….


Jakarta…. Ku berharap padamu…


Raya mengusap air matanya, dan tersenyum memandang Daniella yang memikatnya sedang tertidur.

Comments (1)
 
More Articles...
Start Prev 1 2 3 4 56 7 8 9 10 Next End

Page 6 of 184

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Bloopendorse

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top