Dear Valiant... Kenapa Novel Joker begitu menyebalkan??
Sejak pertama menunjukkan antusiasku untuk pre-order di twitter, Kak Valiant sendiri pernah memperingatkan lewat mention, “novel ini berbeda dengan Kedai 1001 Mimpi, agak gelap”. Tahukah kakak, peringatan itu semakin membuatku penasaran, membuatku yakin bahwa buku ini tidak biasa. Seandainya waktu itu tidak ada peringatan, aku mungkin batal order, aku mungkin tidak mengenal cacat “penyempurna” dan tidak mencintai Nol.
Pada awalnya, kupikir maksud kata “gelap” di mention kak Valiant waktu itu terbatas pada latar lokasi atau latar belakang pergaulan tokoh-tokohnya. Namun ternyata, gelap dalam novel ini berarti sulit diraba, bila hanya berharap ini cerita roman picisan biasa. Bahkan menurutku, akan sangat tidak mudah bila ingin dituangkan dalam layar visual. Seperti yang pernah aku katakan Kak, membaca novel ini ternyata harus pakai hati, biar hati yang kadang naif bisa bercermin, bahwa tidak semua yang tampak itu seperti yang terlihat.
Biasanya aku akan membaca pelan-pelan setiap cerita fiksi, menikmati alurnya, menikmati imajinasi bayangan rupa dan sifat tokoh-tokoh utamanya, menikmati detail rasa yang muncul dari dialog mereka, hingga terbawa, terharu, tertawa. Namun hanya novel ini yang berhasil membuatku tidak bisa berhenti, jantungku berdetak lebih cepat, tiba-tiba merasa lapar, ingin melahap cepat-cepat, ingin segera menemukan yang belum terlihat.
Dua puluh bab awal sangat meyakinkan, bahwa novel ini baik-baik saja, bahwa novel ini kurang lebih sama dengan yang biasa aku baca, bahwa novel ini sudah bisa kutebak endingnya, pasti si Anu akan jadian dengan si Anu, dan si Anu akhirnya akan berlapang dada dengan segala kondisi si Anu yang dicintainya. Novel ini membius, menggiringku pada opini pribadi, meyakinkanku untuk konsisten dengan ending yang diterka sendiri, hingga tanpa sadar ketika dibangunkan pada halaman 220, “Alia itu siapa, ya?”, aku tersentak.
Aku kemudian membolak-balik lagi lembaran sebelumnya, mungkin ada halaman yang terlewatkan, atau ada dialog yang kurang aku perhatikan. Tidak, aku nyaris tidak mengabaikan satu kalimatpun, tapi mana mungkin sampai kalimat itu ending terkaanku menjadi berantakan? Entah, itulah “unique taste”-mu Kak, yang pasti sampai halaman terakhir kemudian, hanya bisa melongo, geleng-geleng kepala, endingnya berlawanan dengan yang kupikirkan. Aku kalah, prediksi yang aku muntahkan, dimentahkan.
Dear Valiant.. jadi kenapa Novel Joker begitu menyebalkan??
Karena membacanya, aku menjadi tidak seperti biasa, aku tidak baik-baik saja.
Leilaneranti Arsyana
Halo Leila si pecinta nol!
Maaf untuk peringatan gelap itu, karena aku takut banget kamu tersesat.
Tau gak sih, pernah ada pembaca maki-maki karena kecewa Joker tidak sama dengan Kedai 1001 Mimpi. Padahal dua-duanya bagai langit bumi dan daratan Mars. Mungkin planet yang masih tetanggaan, tapi ya tetep tidak bisa dijangkau ojek, kan.
Eh, ini ngomongin apa, sih?
Ah iya, aku inget mention twitter-mu yang ini: “membaca novel ini ternyata harus pakai hati, biar hati yang kadang naif bisa bercermin, bahwa tidak semua yang tampak itu seperti yang terlihat.” Hatiku berbunga-bunga sekali! Bunga yang penuh madu! Kebahagiaanku sebagai penulis adalah ketika pembaca benar-benar membaca dan menangkap isi buku. Andai semua pembaca kayak kamu.
Oh iya, baca suratmu aku jadi bingung kamu baca novel yang mana. Emang ada karakter bernama Alia ya?
....
...
Hush, aku bercanda. Cukup di novel aja kisah kelamnya.
Terima kasih, Leila, sudah sudi benar-benar melihat yang telah tampak :)
Vabyo
Si Pementah Muntah
Dear Valiant,
Kok kayanya di surat pertama aku salah ngarep yak? Hahahaha, yaudah sih namanya juga ngarep bisa dapet Joker, gak ada yang salah dengan itu kan? Udah lama banget soalnya pingin punya tapi gak kesampean juga.
Gimana caranya bertanya tentang buku yang bahkan belum ku baca? Izinkan aku untuk menabak-nebak kalau begitu. Vabyo mungkin penulis yang gak akan segampang itu memberikan sajian ala kadarnya pada pembaca. Lagipula, judul Joker pasti diambil bukan tanpa alasan kan? Seharusnya sih buku ini manipulatif, lha sampe dapet penghargaan Penulis Muda Berbakat Khatulistiwa ini!
Aku pun ingin belajar menulis cerita. Pertanyaannya, boleh gak sih kita menetapkan segmetasi kita di awal? Somehow, aku merasa jauh lebih jago bikin cerita-cerita yang sedih dan kelam. Ide-ide pun jauh lebih banyak bertebaran di segmen ini daripada yang berbau-bau cinta bahagia happy ending. Bukan berarti pingin sok indie atau gimana, hanya saja memang itu yang lebih mudah kurasa. Biar bagaimanapun, tulisan seseorang mencerminkan dirinya bukan?
Kalau Vabyo sendiri merasakan apa ketika menulis Joker ini? Ada sentiment-semtimen khusus gak? Oh iya, I’m bad at describing. Ada saran? (malah jadi kelas writing 101 gini :P)
Dalam bayanganku sih Joker ini memiliki penokohan yang sangat kuat, maskudnya mungkin menelusuri tentang mereka merupakan inti dari buku ini. Pingin deh bisa bikin cerita dengan tokoh yang sangat sentral. Betewe, maafkan yak karena udah berani bikin judgement-judgement sebelum baca bukunya.
Sukses, Vabyo! Semoga bisa terus menghasilkan karya-karya yang fenomenal dan semakin dicintai masyarakat Indonesia. Sejauh ini, aku sih suka bahkan sampe lagu yang dibikin untuk boyband yang itu tuuuh. Hahahahaha
Semarang, kala angin berhembus kencang.
Mayang Dwi Astrini
Dear Mayang,
Apa kabar Semarang? Angin masih berembus kencang?
Kamu tau gak sih, selalu ada yang bergolak hebat setiap mendengar kata Semarang. Tiba-tiba teringat malam kelam menyantap lunpia, soto bangkong, wingko babat, tahu gimbal, bandeng presto, petis kangkung, mie kopyok, gilo-gilo, dan entah apa lagi yang aku telan saat itu. Jadi curiga mas-mas penjualnya juga aku telan, deh.
Kalo kamu, suka makan apa? Ya udah, sambil ngunyah, aku cerita dikit ya tentang novel pertamaku Joker. Pas pertama kali ngasih draft ke GagasMedia, judulnya adalah Kecoa Tuna Susila. Pihak penerbit, tentu saja keberatan. Aku keberatan juga, sih: keberatan badan.
Lalu, Icha Rahmanti, salah satu pembaca pertama dan sahabatku yang terkenal dengan novel Cintapuccino-nya itu memberikan ide judul Joker, karena salah satu karakter dalam novel ini penuh dengan humor yang tidak lucu dan misterius. Persis karakter Joker.
Eh, revisi dikit, aku bukan pemenang Penulis Muda Berbakat KLA itu loh! Cuma nominator doang. Saat itu aku dikalahkan Farida Susanty, penulis yang saat itu berumur 17 tahun dan memang benar-benar berbakat! Jadi aku ridho, tulus dan ikhlas dunia akhirat.
Oh ya, novel pertama ini sungguh berkesan bagiku. Ide awalnya datang pas umur 15 tahun. Saat itu aku menulis cerpen berjudul Kecoa Terbang. Lalu kukirimkan ke majalah pria remaja satu-satunya saat itu.
Eh, ditolak dong! Tapi aku gak kecewa. Biarpun gak mau nulis lagi. Ciee, marah.
Bukan marah sih, tapi era 90-an, cowok kalo hobi nulis suka diketawain. Beruntung deh hidup di era blog dan twitter ini, semua berlomba bikin 'buku harian.'
Aduh, kok jadinya curcol terus ya? Intinya sih, setiap menulis, emosiku selalu terlibat. Termasuk nulis menu. Emosi laper gitu, kan?
Kalo boleh ngasih saran dalam menulis, jangan dikasih banyak beban seperti 'tokohnya harus kuat' atau 'harus best seller.' Santai aja, tulis yang kita tau. Kalo gak tau, ya cari tau. Jangan lupa bikin tema dan kerangka-nya, biar gak ngalor ngidul. Kalo pondasi plot-nya udah kuat, bongkar-bongkar bangunan cerita gak akan masalah. Paling agak gerah. Kau buatku gerah rah rah raaah. Eh, kok jadi jualan lagu, ya?
Plus mesti banyak jalan-jalan dan perbanyak teman biar kaya raya akan pengalaman.
Segitu dulu aja ya, soalnya lagi nulis lagu buat album kedua boyband yang makin heits ituh lagih.
Sukses buat kamu juga, Mayang! Semanget nulis ya :)
Vabyo
Si Pembuat Gerah