RUMAH
Dengan kepala celingak celinguk ke kiri kanan Raya menuruni anak tangga rumah nya, dia baru saja mendengar suara adzan subuh tapi pakaian nya sudah rapi, menenteng tas pakaian di tangan dan tas ransel di gendong di pundak, dengan mengendap ngendap Raya menuju ruang tamu membuka pintu dan keluar rumah perlahan, jalan depan adalah jalan yang tepat untuknya keluar karena jika lewat pintu samping ataupun belakang dia takut salah seorang pembantunya sudah bangun walau dia yakin papa dan kedua kakaknya belum ada yang terjaga jam segini. Raya bergegas menuju pagar membuka kunci gembok yang sudah di duplikat nya dari kunci yang di pegang penjaga rumah.
TAKSI
Setengah berlari ke ujung gang dia menyetop taksi dan berangkat menuju bandara. Pikiran nya masih tidak tenang sepanjang jalan menuju bandara kepalanya terus tertuju ke arah jendela, dia sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan sang papa saat nanti tahu bahwa dirinya sudah tidak ada di rumah, nekat memang kabur dari rumahnya di Medan menuju bandara dengan tujuan Jogyakarta. Jalan masih gelap Raya berangkat dengan pesawat paling pagi, dia sudah mempersiapkan semuanya uang cash yang diambil dari seluruh uang tabungan nya, nomor ponsel yang sudah di ganti, pakaian, beberapa perhiasan jika nanti dia memerlukan tambahan uang, dan alamat, ya alamat rumah sahabatnya Ria, yang sebelas tahun lalu pindah dari Medan ke Jogyakarta, semenjak itu dia tidak pernah bertemu Ria, saat social network seperti facebook booming Raya berusaha mencari Ria tapi tidak ketemu Ria adalah satu satunya sahabat Raya.
PESAWAT
Saat pesawat take off Raya berusaha menutup mata , Ria memang satu satunya sahabat buat Raya, setelah Laura kakak perempuan Raya mengalami depresi akut dua belas tahun yang lalu akibat perkosaan yang menimpa. Raya masih Sembilan tahun waktu itu dia amat bingung melihat kepanikan seisi rumah saat mengetahui Laura belum pulang sekolah padahal hari sudah maghrib papanya menelepon teman laura, begitupun mama, sedangkan kedua kakaknya mencari ke tempat tempat dimana Laura sering bermaian, Laura masih lima belas tahun dan dia baru saja menjajal pengalaman menjadi anak putih abu-abu saat musibah itu terjadi.sampai hari berganti Laura tak juga di temukan, mama sudah terkapar di ranjang, Raya hanya memperhatikan nya dari jauh dan seisi rumah berhamburan ke luar saat polisi datang membawa Laura dengan kondisi mengenaskan, layu,pucat, air mata kering membayangi pipinya, bajunya tak lagi putih abu-abu dan betapa hancurnya keluarga Raya saat tahu Laura menjadi korban pemerkosaan preman . Laura adalah anak perempuan yang pemberontak, saat papa meminta nya untuk ikut ekstrakulikuler paduan suara di sekolah dia malah masuk ekstrakulikuler pencinta alam, hobinya naik gunung, dia adalah kakak perempuan yang tangguh, kuat, dan menyenangkan, tak jarang Laura mengajak Raya memanjat ke atap rumah untuk sekedar menatap bintang atau pelangi setelah hujan, kalau sudah begini mama akan ngomel tapi papa hanya tersenyum, saat itu sungguh berbeda.
Semenjak kejadian pemerkosaan yang menimpa Laura terjadi papa jadi sangat overprotective terhadap anak-anaknya khususnya anak perempuan, apalagi Laura jadi depresi dan tak lagi bisa berprilaku normal dan setelah Laura dinyatakan mengalalami gangguan jiwa oleh dokter mama kena serangan jantung , tak lama setelah itu mama meninggal. Raya hanya bisa menangis, menangisi karena tak ada lagi mama dan Kak Laura di rumah, Laura di rawat di rumah sakit jiwaa hingga kini sudah dua belas tahun berlalu tak ada kemajuan berarti, Raya menjengunknya sehari sebelum dia kabur dari rumah.
Sepi, itu yang di rasakan Raya, semenjak itu papanya sudah tidak seterbuka dulu, dua kakak laki-lakinya menyibuk kan diri dengan kegiatan masing-masing untuk menghindari kesedihan, Rio kakak tertuanya aktif di band, mangung sana sini, selalu di studio bahkan jarang pulang saat masih sekolah hingga kuliah mungkin karena perbedaan usia yang cukup jauh yaitu sepuluh tahun membuat Rio dan Raya hidup di masa yang berbeda, Raya masih terlalu kecil untuk menahan kakaknya keluar rumah,mereka jarang bercengkrama, apalagi semenjak Laura tak ada di rumah Raya di angggap seperti porselen oleh kakaknya ini tidak boleh keluar rumah, selalu diingatkan akan kejamnya para lelaki jahat di luar sana sampai Raya dilarang berpacaran walaupun Raya sudah duduk di bangku kuliah hal ini membuat Raya tidak menyukai Rio, walau kini Rio sudah bekerja di perusahaan ayah nya dan punya kehidupan yang jauh lebih teratur, tapi Raya seperti tidak punya kesempatan lebih banyak untuk akrab dengan sang kakak, hanya bertemu pada saat sarapan, Rio hanya menanyakan bagaimana kuliah Raya, setelah itu pergi.
Begitu juga Raymond kakak laki-laki Raya yang lain, mereka Cuma berbeda usia dua tahun, tapi Raymond adalah anak yang tertutup, jarang keluar rumh , dari SD hobi nya mengutak ngatik peralatan elektronik dari mulai dari telepon, komputer, tv, dan alat elektronik lain, Raymond jarang berkumpul dengan keluarga, tapi bedanya dulu dia masih mau bercanda dengan Raya, mengutak ngatik tv yang ada di kamar Raya hingga rusak, memperbaiki mesin di dalam boneka Raya yang bisa bicara, sampai membuat robot kecil yang bisa menari, karena kebisaan nya itu Raymond di kirim ke luar negri mewakili sekolahnya dalam ajang perakitan robot tingkat SMP, tapi saat mama meninggal Raymond menjadi amat sangat penyendiri, kerjaan nya hanya di kamar, mengutak ngatik mesin, sampai sekarang pun tetap di lakukan nya. Papa, Rio, dan Raya bukan tidak membujuknya untuk keluar kamar tapi Raymond selalu menolak kadang Raya sengaja masuk ke kamarnya tanpa izin, mengajaknya bicara karena kesepian di rumah, Raymond marah dan mengusirnya walau kini Raymond ahli di bidang permesinan tapi dia tak ingin bekerja, dia ingin bereksperimen sendiri, kakak nya yang ini memang sangat aneh. Raya pun kadang-kadang ngeri padanya.
Papa terlihat amat sangat keras terutama pada Raya, dia tidak igin hal buruk itu terjadi lagi pada anak perempuan nya, sejak umur Sembilan tahun Raya tidak pernah lagi keluar rumah sendirian walaupun hanya ingin bermain dengan teman di dekat rumah Raya harus di temani pembantu, pulang sekolah langsung di jemput tidak boleh keluyuran, kalaupun ada tugas kelompok teman-teman Raya yang harus datang ke rumah, kadang teman-teman nya protes karena rumah Raya jauh tapi Raya tidak bisa berbuat apa-apa, les pelajaran di lakukan di private dengan guru, papa tidak pernah mengijinkan Raya untuk datang ke acara sekolah/kampus, dari mulai kegiataan sosial, inagurasi kampus apalagi yang sifatnya perayaan seperti prom night sampai ulang tahun teman, bahkan pada saat pesta perpisahan dengan teman-teman nya sehabis mereka di wisuda pun tak di hadiri Raya, jangan kan punya pacar, cowok saja takut dengan sifat dingin Raya
Berada di situasi seperti ini dari SD sampai kuliah membuat Raya hampir gila, dia jadi takut akan dunia luar “Ahh seandainya mama masih ada, aku tak sanggup menghadapi laki-laki di rumah, jadi ku putuskan pergi” Raya berujar dalam hati.
***
JOGYAKARTA
Raya bingung, takut, tidak percaya bahwa dia sudah sampai ke Jogyakarta seumur hidupnya dia belum pernah berpergian sendiri, bahkan sampai dia lulus kuliah sekarang, sejak 12 tahun yang lalu papa Cuma sibuk bekerja tidak pernah ada lagi liburan keluarga, karena orang tua nya orang medan asli dan mereka tidak punya keluarga di luar kota Medan sehingga sangat jarang keluar kota, keluar kota atau ke luar negeri di lakukan ayahnya utuk kunjungan bisnis saja.
Raya bergegas keluar bandara Adi Sucipto dengan menenteng tas berusaha memberi kesan ketenangan di wajahnya dengan tergesa dia menaiki taksi yang menawari jasanya. “Alamat ini pak” Raya memberikan secarik kertas ke pada sang sopir, berusaha duduk tenang walau hatinya amat berkecamuk dia sangat takut ketahuan, apa jadinya jika papanya tahu mengecek ke sejumlah travel agent di sana dan tahu kalau Raya ke Jogyakarta, mengecek semua hotel, motel, dan losmen di Jogyakarta “Aduuh mati aku” katanya dalam hati, dia amat sangat yakin papa mampu melakukan apa saja, hanya alamat Ria lah satu satunya hal yang mungkin tidak di ketahui papanya.
Ria memberikan nya saat mereka akan pindah, sudah sebelas tahun lalu, terakhir Ria menelepon nya sepuluh tahun yang lalu, sejak itu tak ada lagi, berkali-kali Raya menelepon Ria tapi tak pernah tersambung lagi “mungkin nomor telepon nya ganti” kata papa waktu itu, sayang dulu anak seumur kami belum boleh pegang handphone,Ria teman kecil yang tinggal di sebelah rumah Raya, mereka bersahabat dari TK pada waktu itu Raya belum punya teman lain, mereka juga satu SD selalu bersama di rumah ataupun di sekolah.
RUMAH YANG DITUJU
“Sudah sampai Mbak” suara supir taksi membuyarkan lamunan Raya, dia segera turun, memperhatikan sekeliling rumah, lumayan besar, asri, dia berharap ada Ria di dalam ‘Tek tek tek” ketukan di pagar membuat seseorang keluar rumah, taksi yang di tumpanginya pun berlalu Raya berharap Ria benar-benar tinggal di sini “Maaf cari siapa ya?” Tanya perempuan paruh bayah, tidak berlogat jawa, tapi Sumatra ini membuat Raya yakin kalau ini benar rumah Ria arista siregar “ apa benar ini rumahnya Ria?” sang perempuan mengerutkan keningnya, tidak berkata tidak tapi raut kebingungan terpancar dari wajahnya “Kamu ini siapa ya?” kata perempuan itu bertanya terbata, “Saya teman nya dari Medan” sang perempuan terkejut segera membuka pagar dan mempersilahkan Raya masuk “Silahkan masuk dulu”
“Tapi Ria nya ada?” Raya kebingungan “Ini benar rumah nya Ria kan?, tante siapa nya?, mamanya Ria ada?” si tante hanya tersenyum sambil menggiring Raya ke dalam “Mari aku jelaskan di dalam” katanya. Raya masuk duduk di ruang tamu, sepi, tak ada tanda ini rumah Ria seperti foto, atau yang lain “ Saya buatkan minum dulu ya?”
Raya kembali mencari-cari tanda kehidupa Ria, “Ahh mungkin dia sedang ke luar?” pikirnya, tapi Raya sama sekali tidak mengenal wanita tadi, dia yakin dia bukan ibu Ria “Aku ini tantenya Ria namaku Maria , siapa nama kau? kau teman nya dimana?, setau aku Ria dan keluarganya sudah lama kali pindah dari Medan?” Raya semakin tak mengerti “Aku Raya tetangga Ria di Medan, kebetualan aku ke sini mau ke rumah saudara karena aku ingat Ria tinggal di sini dan aku masih menyimpan alamatnya jadi aku ke sini saja” Raya sengaja berbohong supaya tak ketahuan kalau dia kabur dari rumah “Begini Raya, orang tua Ria sudah lama pindah ke Jakarta, sudah Sembilan tahun yang lalu” Raya bigung “Jakarta??” sangat sulit bagi Raya dia amat takut, untuk minggat ke Jogyakarta saja dia harus berpikir lama sekali, berbulan bulan, “Sebelum pindah ke Jakarta, Ria tiba-tiba jatuh sakit, badan nya panas sekali sampai mengeluarkan darah dari hidung, keluarga Nya membawa Nya ke rumah sakit, tapi belum sempat di opname, Ria sudah tidak tertolong lagi” Raya terkejut, benarkah itu “ Kata dokter Ria kena demam berdarah” dengan tenang tapi masih terbata, tantenya Ria menjelaskan “Jadi Ria sudah meninggal?” Raya masih bertanya menegaskan, “Iya Sembilan tahun yang lalu, jenazah nya pun di makamkan di Medan, lalu ke dua orang tua Raya pindah ke Jakarta” kepala Raya pusing, matanya berkunang, percuma sudah dia ke Jogyakarta, apa yang akan di lakukan nya sekarang?, satu kebodohan sudah di lakukan nya, mengandalkan sesuatu yang tidak pasti.
“Loh kau kenapa?” Tanya tante Maria panik, “Ini minumlah dulu, ohhh aku tak menyangka kau begitu terkejut?’ Raya mengambil gelas dari tangan tante Maria dan menyeruputnya, “kau istirahat dulu di sini, jangan kemana-mana, aku takut kau kenapa-kenapa di jalan, Raya menyenderkan kepalanya di kursi, perutnya ternyata kosong dan berbunyi, “ waah kau lapar rupanya, aku memang sedang masak, sebentar aku siapkan makanan dulu, kau istirahat saja, aku tahu pasti capek menempuh perjalanan dari Medan ke Jogya”, “ Jangan repot-repot Tante, aku permisi saja” Raya baru mau bangkit, dengan sigap tante Maria menahan nya,”Ahh tak pa-pa, tunggulah dulu, kita makan sama-sama kebetulan hari ini tak ada orang, tante makan sendirian, jadi kamu bisa temenin”
Raya memijit kepalanya saat tante Maria beranjak ke dapur, sesal nya datang walau sedikit, keputusan pergi dari rumah bukan tidak di pikirkan matang-matang, dia sudah berencana pergi ke Jogya karena satu-satunya orang yang di kenalnya di luar kota hanyalah Ria, mana mungkin dia minggat ke rumah saudaranya yang semuanya di Medan. Sesalnya justru dia tidak mempersiapkan dengan matang akan kemana dia jika plan A nya gagal, sedih dan takut menyerangnya, dia harus kemana?
Tak lama tante Maria sudah memanggilnya untuk makan, rumah ini sepi hanya ada tante Maria dan pembantunya. “Tante tinggal di sini pada saat orang tua Ria pindah ke Jakarta, Tante membeli rumah ini karena kebetulan Tante pun harus pindah dari Medan ke sini” Raya mengangguk menyuap perlahan nasi ke mulutnya, pikiran nya masih berkecamuk, seharusnya dia berpikir akan adanya tempat tinggal yang bisa di tempatinya lama, “Tante bisa mengantarkan kau ke rumah saudara kau?, dimana?” pertnyaan tante Maria mengejutkan Raya “Oohh tak usah Tante, aku mau mampir ke tempat lain dulu” Raya menampakkan wajah keyakinan nya, seolah dia benar-benar paham dengan Jogya “Kalau ada apa-apa hubungi tante nanti” Raya tersenyum tante Maria terlihat amat baik, “Kau dekat sekali ya sama Ria?” “Iya dia sahabat aku waktu kecil’ tante Maria mengangguk “Baguslah, kau masih ingat dia” Raya tersenyum kembali, pastilah dia akan ingat Ria terus, karena Ria satu-satunya sahabat Raya, mengingat kondisi hidup Raya yang seperti itu mana mungkin Raya bisa punya banyak teman, karena terlalu di kekang oleh ayahnya Raya jadi tertutup, sepulang sekolah sampai kuliah selalu di antar jemput, tidak pernah jalan dengan teman-temannya, kalau teman-teman nya ke rumah selalu terganggu oleh omelan Raymond yang tidak suka kebisingan, hal itu membuat Raya malu tidak peranah mengajak teman ke rumahnya lagi.
“Aku permisi dulu tante”, Raya berpamitan setelah makan, “Dari sini kamu keluar komplek nanti ada persimpangan banyak kendaraan di situ” tante Maria menjelaskan dengan nada cemas “Iya tante tenang saja aku bisa kok”, Raya berjalan lunglai ke arah jalan, dalam pikiran nya dia akan menuju hotel terdekat untuk menginap, mungkin untuk sehari dua hari setelah itu dia akan mencari kost-san, Raya takut dia akan bisa di lacak oleh sang ayah kalau sampai kelamaan tinggal di hotel.
JOGYAKARTA KETIKA…..
Dua hari sudah Raya menginap di hotel, pagi ini dia mau mencari tempat kost atau pun kontrakan, dengan berbekal ijazah SI Psikologi dia akan mulai mencari kerja, sampai siang meninggi Raya belum juga menemukan tempat kost yang cocok, tiba-tiba handphone nya berdering, “halo Raya ini tante Maria, barusan ada laki-laki, katanya namanya Rio, dia mencari kau, benarkah kau lari dari rumah?,kenapa” Raya panik ternyata Rio sudah ada di Jogyakarta, darimana mereka tahu?, rumah Ria?, yaa ampun. Raya langsung menutup handphone, aduuh sebuah kesalahan bertukar nomor handphone dengan tante Maria, dia pasti sudah memberikan nomor handphone nya pada Rio.
Bergegas Raya kembali ke hotel langsung chek out dari sana dan menukar kembali nomor handphone nya,dengan membeli nomor perdana yang baru. “Sebenarnya kita mau kemana mbak e” perkataan sopir taksi membuncah kegundahan Raya “Ke Malioboro pak!” Raya memegang perutnya yang lapar dia lupa dari tadi pagi belum makan, Raya tidak habis pikir kenapa papa dan Rio bisa tahu, langsung menyusul ke Jogya mungkin dari travel agentnya, dari mana papa tahu kalau Raya mau bertemu Ria di Jogyakarta.
Raya makan di Malioboro, laparnya sudah maksimal di tambah kepanikan membayanginya, dia juga takut jika pencarian sampai ke Maliboro sebagai sentral nya Jogyakarta, “Maturnuwun mbak” Raya melempar senyum ketika membayar makanan nya, aduuh kalau saja dia sudah menemukan kost san akan jadi lebih tenang, karena mana mungkin Rio akan mencari sampai ke semua Kost san se Jogyakarta.
Saat sedang menyusuri Malioboro Raya merasa di ikuti, senakin cepat jalan nya semakin cepat langkah orang di belakangnya, Raya diam yang mengikutinya pun seperti mundur, Raya takut itu adalah Rio, Raya panik berusaha menoleh walau gemetaran , sesaat dia menoleh ada dua pria seram, berambut panjang di kuncir, bajunya lusuh tapi gayanya garang, Raya tak berpikir lagi dia berlari sekencang kencangnya, ada dua kemungkinan kalau tidak orang suruhan dari Rio yaa preman yang mengincar hartanya, Raya ingat betul dia sedang membawa cukup banyak uang di tasnya, jika preman itu merampok tasnya, tamatlah riwayatnya, dia akan mati kelaparan, tak ada jalan lain selain menyelamatkan uang ini mati-matian.
Atau preman-preman itu ingin memperkosanya sama dengan apa yang menimpa Laura, Raya sudah tak menghitung helaan nafas yang seperti ingin berhenti, tak tahu mau ke arah mana Raya terus berlari, akan berlari sampai jalanan habis, karena panik dia naik jembatan penyebrangan, kakinya mulai lemas, sudah ingin sampai ke sisi tangga turun di tak bisa kontrol keseimbangan nya, kaki nya terkilir tubuhnya oleng, badan nya jatuh, kepalanya terbentur besi jembatan penyebrangan. “Sini kasih tasnya” samar samar Raya mendengar suara itu, sepertinya salah satu dari mereka mengajak Raya bicara Raya mundur ke pojokan jembatan,”Heh pada ngapain?” Raya mendengar suara lelaki lantang, dia mencoba mencari sumber suara yang membuat para preman mundur, sesosok tubuh seksi membuat Raya terkejut, dengan rok mini, tanktop, stocking, dan wajah menor, “Ora opo- opo, sing guyon wae” kata salah satu preman.
“Udah pergi sana?”
“Emang dia siapa mu sih, kenal?”
“Dia sepupuku, baru datang, kami janjian di Malioboro”
Raya tercengang tak mengenal siapa wanita bersuara laki-laki ini, “Yo wes pergi sana” dua preman itu pergi dengan kecewa, Raya kembali tercengang seakan tak percaya ada preman yang takut dan bahkan menurut pada wanita ehh Raya kembali memperhatikan manusia yang ada di di sampingnya astaga wadam, waria, whatever lah namanya, ini sangat mengejutkan, ahh tapi saat ini dia berada di jalanan dan mungkin saja bertemu waria.
“Ndak pa-pa dek?” Tanya si waria. Raya menatapnya lekat-lekat, baru kali ini dia berdekatan seperti ini dengan waria, takjub, dia merasa takjub, suatu rasa yang aneh, karena kebanyakan orang justru tak mau bertemu dengan waria, takut bahkan jijik, mereka selalu memandang sebelah mata kaum wadam, mendiskriminasi mereka dengaan perkataan dan perlakuan yang menyakitkan, tapi Raya seketika merasa takjub pada manusia yang ada di sebelahnya, ini mungkin bentuk kepolosan nya, tapi dia merasa pria dengan dandanan wanita ini sungguh sangat hebat bisa merubah dirinya sangat amat mirip dengan wanita, tapi dia masih punya kekuatan luar biasa dalam mengusir preman-preman tadi dengan sekali teguran. Luar biasa.
“Eh dek, ndak papa kamu, jidat kamu benjol tuh” kali ini dengan suara halus khas perempuan dengan logat jawa yang kental, Raya memegangi jidatnya yang benjol “Aduuh sakit” Raya oleng dan mau jatuh “Mari sini aku bantu” Raya memandang lemas “Aku pusing”
“Ayo kita ke warung itu dulu kita beli minum” Waria itu menggandeng Raya turun perlahan dari jembatam menuju warung tenda di bawah jembatan Raya terus terusan memandangi wajah dan kelakuan sang waria seakan terpesona, aneh memang baru kali ini dia merasa amat sangat mengagumi wajah cantik tapi menor dari orang itu. Raya seakan yakin bahwa orang yang menolongnya ini orang baik, di antar jemput kemana-mana dan bahkan di kerangkeng di rumahnya sendiri mungkin adalah bentuk perlindungan paling ampuh oleh papa dan kakak kakak nya, tapi kali ini dia mendapat bentuk lain dari sebuah perindungan.
“Nih minum dulu” Raya mengambil gelas dari tangan waria itu dan terus memandangi wajahnya “Siapa nama kamu?, sini aku pijit kaki mu” Raya terus berpikir, kenapa dia bisa sekagum ini dengan manusia yang setau dirinya sering di pandang negatif oleh masyarakat luas “Aku Raya” sambil dipijiti kakinya Raya baru sadar, Raya lupa kalau dirinya sedang minggat, bagaimana kalau waria ini bertemu dengan kakaknya di Jogyakarta, otak nya mulai berpikir untuk berbohong lagi, “Ohh aku Daniella, kamu dari mana?, trus kenapa kamu bawa gembolan segini gede?, kabur dari rumah ya” Raya langsung menggeleng tak terima,dia mencari-cari alasan supaya Daniella mau menampungnya malam ini, karena dia tak tahu akan kemana lagi,dengan kaki dan kepala yang sakit dia butuh tempat yang aman, jika dia kembali menginap di hotel, Raya takut persembunyian nya di ketahui oleh sang kakak.
“Aku di usir dari rumah, aku tak tau mesti kemana?”
“Dimana rumah mu” Raya memutar bola matanya
“Jalan anggrek” untung Raya masih ingat alamat rumah tante Maria “Sudah pulang saja bahaya di jalanan, orang tua mu pasti tak sengaja mengusirmu, tadi saja kamu sudah mau di rampok”
“Bagaimana aku mau pulang, aku di usir dari ibu tiriku, aku di pukuli sampai tak bisa bangun dari tempat tidur” mudah mudahan kebohongan ini membuat nya mau menampungku, pikir Raya “Nah rencana mu apa sekarang?” Tanya Daniella sambil menghidupkan rokok dengan sekali hisapan “Aku tak tahu?” kata Raya memelas berusaha menghilangkan logat bataknya tapi sulit “kamu sepertinya bukan orang sini?” aduhh apa lagi jawaban nya ini, Raya kebingungan, “Iya aku memang orang medan, tapi semenjak papaku meninggal, aku dan Ibu tiriku pindah dari Medan ke Jogya setelah menjual rumah papa di Medan, Ibu tiriku itu jahat, dari kecil aku sering di pukuli, bahkan tak di beri makan semua itu di lakukan Ibu tiriku tanpa sepengetahuan Papaku” Raya sengaja mengarang kisah sedih yang klise tentang ibu tiri supaya Daniella kasian pada nya “ ya sudah kamu tidur di tempatku saja malam ini” Raya senang dia berhasil menipu Daniella, “kita ke apotik dulu beli obat buat jidat kamu”
Raya mengikuti langkah Daniella walaupun senang bisa tinggal dengan Daniella tapi ketakutan timbul di hatinya, bagaimana kalau Daniella sebenarnya penjahat dan lalu merampok uangnya.




-

