• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Solilokui

06 April 2012   Putu Gede Pradipta
E-mail Print PDF
Puisi
User Rating: / 2
PoorBest 
aku pernah membacamu
di selembar kertas yang menghitam
dan seolah semuanya menjadi keraguraguan
bahwa apakah kita masih patut benar
sesekali mau untuk percaya pada tuhan
di setiap jengkal langkah masih ada harapan
Comments (1)
 

Langkah Kecil

30 March 2012   Adna Safira Amalya
E-mail Print PDF
Puisi
Deru angin yang menerpa
Membuat suasana silih berganti
Menegaskan langkah di siang itu
Langkah kecil kami
Bagaikan gelombang
Tawa kita membahana
Mengiringi derap langkah
Langkah kecil kami
Aku, kamu dan dia
Hanya bertiga di siang itu
Dan yang aku tau
Kita adalah sahabat
Hingga pada waktunya
Langkah kecil ini terhenti di ujung ambang batas waktu
Dimana ada hal baru dimulai
Dan hal lama yang diakhiri
Hingga sebuah kata datang menghampiri
Kata perpisahan
Dan perpisahan yang membuat langkah kecil kami terhenti
Dan kemudian membuat semuanya sirna
Comments (1)
 

Dua

23 March 2012   Fasih Radiana
E-mail Print PDF
Puisi
User Rating: / 5
PoorBest 
Sudut angka yang mengingatkan aku pada luka.
Melukiskan bagaimana caraku memanjakan hatiku dengan cinta.
Yang terbilang singkat itu menyakitkan, yang dianggap sebentar itu ternyata mematikan.
Dan yang memilukan itu karna aku terlanjur kecanduan,
dan kamu memaksaku menghentikan semua yang ku pikir tak akan bisa berhenti.
Seperti perputaran siang malam yang saling bergantian.
Senyummu yang hanya tersentuh airmataku, itu sekarang.
Dan dua, hanya seperti dua detik yang menyaksikan ketenangan,
dua abad selanjutnya aku hilang.
Dua hari aku terhempas sendiri,
mencoba menatap 200 balutan kata yang sudah dulu sekali.
Dua bulan saja menelan pil memabukkan,
dua tahun kemudian aku masih seperti ini.
Seperti di penjara kena hukuman.
Dua, begitu melekat, masih menghisap udara di sela rongga dada.
Dan diantara 2/3 lelahku, aku benci masih begini, seperti ini.
Aku dan kamu, adalah dua yang pernah menjadi satu dan tak lagi menyatu sebab mendua.
Comments (7)
 

Misteri

09 March 2012   Yopih Suprapta
E-mail Print PDF
Puisi
User Rating: / 7
PoorBest 
Kau sendiri tak kan mengerti
Tentang bisik di sela-sela,
Berkas sinar rembulan dan matahari
Seperti tengadahnya rerumputan.
Saat daun-daun kemarau jatuh

Kau sendiri tak kan mengerti
Akan misteri harap di setiap pori-pori syaraf,
Tanah dan seraya nafas pemijaknya
Selayak riuhnya katak dan ikan berpuji-pujian
Ketika tetes-tetes kemilau awan lebam datang

Dan aku seperti aku
Seperti kau, Seperti semua
Seperti manusia, Seperti hidup

Kau pun aku tak kan mengerti
Akan dan tentang sebab
Saat ketika kau ku jadikan,
Nafas doa'-doa' ku
Add new comment
 
Start Prev 12 3 4 5 6 7 8 9 10 Next End

Page 2 of 26

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top