• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Sianida Penawar Perih

15 July 2011   Furi Cahya Purnama
E-mail Print PDF
Puisi
User Rating: / 2
PoorBest 

/1/

Engkau lenyap bersama abu dari sesisa puntung rokok yang tak habis kau

hisap, dan aku terpaku diatas sebuah kursi sendu yang semakin rapuh

sejak entah hinggapi hadirmu. Semasa air mata yang tlah hilang

tercampur lumpur demi menyambung desah nafas yang tak bisa rehat walau

sejenak. Peduli? Hanya entahmu yang tersenyum getir – aku.

/2/

Rerintik hujan hadir bertandang, dimana dahulu kau eja sebagai

pengganti indahku dalam lantunan sajak paling merdu. Kini tiap

bulirnya adalah peluru tajam yang terus menyiksa dalam waktu yang tak

berbatas. Entah sampai kapan aku menjadi padma yang menahan nanar

perih segan dari segelintir kerabat, rekan atau sahabat. Berkali

kukatakan pada diri dengan nafas yang paling berat untuk bersandar

pada dinding basah yang temaram dan semakin pucat, meski hanya akan

menambah sakit di lukaku yang sudah busuk dan bernanah.

/3/

Sabarku tlah habis dimakan masa dalam asa yang nyaris putus, remuk

berserak dan bergelimang sesal seesaki setiap pembuluh darah yang

masih tersisa. Pilu yang paling maha adalah ketika menatap secarik

kanvas lusuh dari sebayang lukisan bertajuk esok yang semakin pudar.

Darahku menetes lambat dalam perih - buah hatiku.

/4/

Dalam segumpal sianida yang akan mejadi penawar perih, ku undang

malaikat maut lewat surat bersampul emas berpita ungu. Mencoba

berbisik dalam sebuah lamunan, semoga dapat segera pergi dari tarikan

gravitasi atas segala hitam, pun anandaku.

/5/

Sendiri terbaring lunglai meski gemetar atas takut yang paling akut,

dalam batas serupa ruang tunggu sembab oleh kabut pekat. Sejenak

terpikir apakah ini yang dinamakan kembali kepada rahim bumi. Namum

beberapa detik kemudian kutapaki diri yang masih tergagap - Aku hidup.

/6/

Adalah berharga setiap tetes detik yang kita helat. Laksana kerikil

penopang semesta, risalah kemarin ku genggam sebagai pondasi saat ini

dan esok, meski seutuhnya bumi masih menghunjam ringkih ragaku.

Puisi untuk 3 bulan









X











Inbox

X





yessy septiaminarty

Dear Mba Gita Ini Puisi untuk 3 bulannya :) makasih ya.. *peluk* --

Jun 14 (13 days ago)

Reply

|

gita romadhona to me

show details4:06 PM (1 hour ago) 

 

dear yessy, dari yang kamu kirim, cuma dapat ini doang, :(

 

Simfoni Pagi


Kepada pagi kutitipkan sepenggal romansa

Tentang bintang, juga beribu keindahan malam

Seraya menyesapi aroma bumi dan belajar bahasa hujan

Sebuah simfoni yang membuat aku mengerti

: Kita tidak pernah sendiri


Ruang Jeda, 02 Mei 2011

 


Nama            : Furi Cahya Purnama

Alamat          : Graha Praba Samanta, Gd Japfa IV

 Jl Daan Mogot KM. 12 No. 09 Jakarta.

Kode Pos        : 11730

Telepon : 0812 8175 6464

 

 


Sianida Penawar Perih

/1/

Engkau lenyap bersama abu dari sesisa puntung rokok yang tak habis kau

hisap, dan aku terpaku diatas sebuah kursi sendu yang semakin rapuh

sejak entah hinggapi hadirmu. Semasa air mata yang tlah hilang

tercampur lumpur demi menyambung desah nafas yang tak bisa rehat walau

sejenak. Peduli? Hanya entahmu yang tersenyum getir – aku.

/2/

Rerintik hujan hadir bertandang, dimana dahulu kau eja sebagai

pengganti indahku dalam lantunan sajak paling merdu. Kini tiap

bulirnya adalah peluru tajam yang terus menyiksa dalam waktu yang tak

berbatas. Entah sampai kapan aku menjadi padma yang menahan nanar

perih segan dari segelintir kerabat, rekan atau sahabat. Berkali

kukatakan pada diri dengan nafas yang paling berat untuk bersandar

pada dinding basah yang temaram dan semakin pucat, meski hanya akan

menambah sakit di lukaku yang sudah busuk dan bernanah.

/3/

Sabarku tlah habis dimakan masa dalam asa yang nyaris putus, remuk

berserak dan bergelimang sesal seesaki setiap pembuluh darah yang

masih tersisa. Pilu yang paling maha adalah ketika menatap secarik

kanvas lusuh dari sebayang lukisan bertajuk esok yang semakin pudar.

Darahku menetes lambat dalam perih - buah hatiku.

/4/

Dalam segumpal sianida yang akan mejadi penawar perih, ku undang

malaikat maut lewat surat bersampul emas berpita ungu. Mencoba

berbisik dalam sebuah lamunan, semoga dapat segera pergi dari tarikan

gravitasi atas segala hitam, pun anandaku.

/5/

Sendiri terbaring lunglai meski gemetar atas takut yang paling akut,

dalam batas serupa ruang tunggu sembab oleh kabut pekat. Sejenak

terpikir apakah ini yang dinamakan kembali kepada rahim bumi. Namum

beberapa detik kemudian kutapaki diri yang masih tergagap - Aku hidup.

/6/

Adalah berharga setiap tetes detik yang kita helat. Laksana kerikil

penopang semesta, risalah kemarin ku genggam sebagai pondasi saat ini

dan esok, meski seutuhnya bumi masih menghunjam ringkih ragaku.


Ruang Jeda,  April 2011

 

Hidup Baru


Seperti pagi yang kita inginkan.

malam terlalu suram

tak tau jendela mana

pengantar raut Surya

 

Hanya ada jantung

Sisa makan belatung

Ada hati yang tiada fungsi

Entah.


Ijinkan aku bunuh diri

Lalu reinkarnasi

Dengan organ transplantasi

Melanjutkan kisah lain lagi


Selamat menjemput  hidup baru

 

MK, Taipei, 13052011

 


Data Diri:

Nama Pena : Minie Kholik

Nama Asli :  Karmini

Alamat      :   Dsn. Cogreg RT 03 , RW 12, Desa; Cihonje,  Kec;

Gumelar Kab;Banyumas. Jawa Tengah . 53165


HP   ; +886930650461  (Taiwan)


Kabar Keadaan

 

apa kabarmu, cinta?

bagaimana keadaanmu, rasa?


Ungkapan yang terbungkam

Qalbu yang masih juga mendamba

Belum sepenuhnya aku terlalai

Atas rasa yang lama mengendap dalam jiwa

Haru ternyata tetap setia untukmu


mengapa aku tak bisa sepenuhnya melupa?

mengapa kepedulian masih enggan lepas darimu?


Aku bahkan sempat menyingkirkannya

Zona hijau yang selalu menyeretku pada kelabu

Ilalang tinggi yang menenggelamkan aku pada hampanya harapan

Ziarah singkat tak pernah pula mempertemukanku padamu


apa kabar, sayang?

bagaimana keadaanmu, kekaguman?


Hangat mentari masih tak enggan menyapa pagi

Intuisi kata tak juga habis diutarakan

Lukisan kedamaian masih tercetak jelas melalui wajah anggunmu

Manisan senyum belum juga hambar

Yang senantiasa ada ketika aku mulai lelah berdiri


mengapa tetap saja senyumku terlepas karenamu?

mengapa hujan masih indah di mataku untuk mengingatmu?


Diam-diam aku telah terbang jauh

Zirahmu kulepas agar aku bisa bebas

Untaian kebaikanmu perlahan menyembuhkan aku

Lisanmu yang tak henti berceloteh menyadarkan aku

Quote yang kau paksakan telah meresap dalam nadiku

Orbitmu yang tegas semakin meyakinkan aku pada kilau cahaya

Rinai-rinai ini tetap menjadi kenanganku akanmu

Nada-nada itu tetap menjadi indah dalam gendangku

Akurasi cerdasmu tetap menjadi decak kagum dalam fikirku

- namun,

Ijinkan kali ini aku menatapmu dengan biasa saja

Nestapa tak akan lagi ada bagaimana pun keadaanmu

~ semoga

 

teruntuk hujan


sudah kutuliskan segala hal tentangmu dalam sebuah jurnal usang dan

menyimpannya ketika musim mulai membuat daundaun berwarna hijau. pada

malam, kutemukan percik yang berjingkat di matamu. aku menamainya

bulirbulir pereda untuk sebuah sakit rindu semusim lalu; kau tak

sekedar terbias pada cermin.


aku pun lelap dalam deja vu biru. kau masih berjingkat sejauh malam

melarut, entah selarut apa. ah, aku terlalu lelah menggelandang rindu

ini untuk sebuah mimpi yang lain. hingga pagi tiba, masih kutemui sisa

percikmu berjingkat lirih.


barangkali tak seutuhnya jurnal usang itu tersimpan. barangkali juga

ada lembarannya yang terpisah, entah hilang atau sengaja kau bawa

pulang untuk dijadikan ingatan akan sebuah kisah tentang hujan,

tentang aku, juga tentang kau. maka bawalah lembaran itu dalam

hidupmu. nanti, jika kau bosan, hanyutkan saja di riak samudera. di

bibir pantai ini aku menunggunya terdampar.


teruntuk hujan, tak pernah habis kutulis tentangmu dalam jurnal

usangku, pun selalu ada lembaran yang singgah di berandamu.


Batavia, 090511


Data penulis:

Nama: Ibnu Purdiavril Nugroho / Uti

Alamat: Jl. Moh. Khafi II

         Gg. Johar, Rt. 003, Rw. 005, No. 29

         Kel. Srengseng Sawah

         Kec Jagakarsa

         Jakarta Selatan 12640

No Telp: 087888703178


SEPOTONG RINDU TERUNTUK BIDADARI YANG MENCINTAI KEHENINGAN

:Ria Aprilia

Demikianlah keheningan menjadi guru paling bijak teruntuk gundah yang

merayap dalam kepalamu. Gelisah yang menggaduh menjadi baitbait petuah

dalam ruang sempit tak kasat mata. Menyerah bukan berarti kalah,

sayang, sepotong kalimat itu telah menjadi jimat yang kerap kurapal

menjelang malam.

Waktu telah mengajarimu bagaimana merenda air mata, menjadi sejaring

kenangan yang memang tidak selalu buruk. Bahkan kau telah fasih, cara

paling lembut mengelus dada saat kecewa menghantam. Hidup terlalu

indah untuk disajakkan dengan nada minor, sayang… Padahal aku tahu

pasti, matamu telah letih meruahkan gerimis, bahkan tak jarang

menjelma hujan.

Tiaptiap kita memiliki sepasang sayap yang tidak terlihat tersebab

kita lebih memilih menangisi takdir yang terkadang suka mempermainkan

sabar.

Sepasang sayap yang perlahan rekah dan kau mulai mahir mengepakkannya.

Mari sayang, kita jelajahi megamega yang menyimpan sejuta misteri.

Tanpa beban seolaholah masalah hanya setitik debu yang segera purna.

Perjalanan masih panjang. Bukan tak mungkin di depan sana, bebatuan

terjal, onak, mungkin jurang paling suram menganga, memantulkan

ketakutan paling maut. Seperti kuatir yang akhirakhir ini menghantui

tiap helai mimpimu.

 : Rindu adalah kau yang belajar menjejak hari dengan tabah

 


BIODATA PENULIS

 

Nama                            : Lamhot Susanti H S

Nama Pena                       : Fairynee

Alamat                          : Perumnas Indah Permai

                                 Jl. Nusa Indah No. 13B

                                Perdagangan

Tempat/ Tanggal Lahir   : Pem. Siantar, 2 Juli 1985

No. Telepon                     : 081370815715

Email                           : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Homepage                        : http://katalaseku.blogspot.com


Tentang saya:

Ayu


tiga buah tangga tiap

pekannya mengantar kita

lamatlamat ke puncak

singgasana keheningan

sudah berapa lama kita sua

memandang muka menggores luka

meraut senja nan jingga?

--aku yakin sudah sangat lama, tak

  perlu angka pasti. semua dapat

  ditepis dapat disembunyikan.

  terangnya ribuan senja sudah kita lipat

  bersama.


hanya ada tiga pada tiap

jingga yang mengurung

kita; almanak yang merah,

hujan atau malas!

--ah, bilapun almanac merah

  tapi aku tetap bisa

  mendengar suaramu

  membisik di hati

  bila hujan turun dan

  pekarangan menggenang

  aku tetap bisa merasamu

  merasukku. sebab bukankah

  kau, aku (oh, kita)

  mencintai hujan?!

  lalu malas. ah, rasanya aku

  serupa membual tapi

  teranglah aku kadang cepat

  merindumu bahkan ketika

  di lengkung rangkul tanganmu


Palembang, 9 Juni 2011

 

Wendy Fermana, lahir di Palembang, 10 November 1994. Sedang

menyelesaikan kumpulan puisi pertamanya, Ranting-Ranting Kering. Saat

ini tercatat sebagai Siswa SMA Negeri 8 Palembang dan Kru Majalah

Delapan. Alamat: Jl. Jaya 6 No. 1313 A RT 23 RW 07 Kel. 16 ulu Kec. SU

2 Palembang 30265. Dapat dihubungi di This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it atau Akun

Fb: Wendy Fermana dan Hp. 08982385700. Beberapa karyanya dapat ditemui

di http://wendyfermana.blogspot.com

- Show quoted text -

 

 


On 6/14/11, yessy septiaminarty < This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it > wrote:

> Dear Mba Gita

>

> Ini Puisi untuk 3 bulannya :)

>

> makasih ya.. *peluk*

>

> --

> Yessy Septiaminarty

> GagasMedia

> Jl. H. Montong No. 57

> Ciganjur Jagakarsa

> Jakarta Selatan 12630

> Phone: *021 7888 3030* ext. 228

> Hp: *0821 109 59184*

> *www.gagasmedia.net *

>

Reply

 

Forward

 

 

 

Coba Browser Baru Google - Browser dengan desain praktis dan

Ad

sederhana untuk pengguna. Download.

www.google.com/chrome

Comments (3)
 

Simfoni Pagi

08 July 2011   Furi Cahya Purnama
E-mail Print PDF
Puisi
User Rating: / 3
PoorBest 

Kepada pagi kutitipkan sepenggal romansa

Tentang bintang, juga beribu keindahan malam

Seraya menyesapi aroma bumi dan belajar bahasa hujan

Sebuah simfoni yang membuat aku mengerti

: Kita tidak pernah sendiri

Comments (7)
 

Hidup Baru

01 July 2011   Minie Kholik
E-mail Print PDF
Puisi
User Rating: / 2
PoorBest 

Seperti pagi yang kita inginkan.

malam terlalu suram

tak tau jendela mana

pengantar raut Surya

 

Hanya ada jantung

Sisa makan belatung

Ada hati yang tiada fungsi

Entah.


Ijinkan aku bunuh diri

Lalu reinkarnasi

Dengan organ transplantasi

Melanjutkan kisah lain lagi


Selamat menjemput  hidup baru
Comments (9)
 

Jauh

24 June 2011   Ibnu Purdiavril Nugroho
E-mail Print PDF
Puisi
User Rating: / 2
PoorBest 

Seberapa angkuh debar jantungmu

Sampaisampai tak dapat lagi kukejar

Bahkan sekelebatmu pun tak ada

Padam begitu saja

 

Rupanya gerimis tak lagi mampu

Membuatmu menari di haluan

Padahal layar telah basah

Dan kapal berlayar tanpa angin

 

Sebegitu jauhnya debar jantungmu

Lampaui luasnya samudera

Jika saja orang lain

Mungkin sudah pulang sambil bergumam

 

Comments (5)
 
Start Prev 1 2 3 4 5 6 7 89 10 Next End

Page 9 of 26

Book of The Month

-

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top