Langit sudah jingga oleh binar mentari yang meredup membelai bumi begitu hangat
Diantara lengan-lengan senja laksa butir debu tampak berterbangan
Satu sudut bumi yang tak tersentuh senja, aku melihat wanita itu menangis sayu
Menangis menatapku yang retak dimakan zaman dan usia
Aku ingat elusan tangannya dipipiku yang dulu begitu lembut, kini kasar
Aku pernah melihatnya menangis! Ketika dia sendiri sedang bercengkrama dengan nasib
Didalam kamar, aku menangis mendengar jeritan ari matanya...
...Yang dalam dan pilu
Bulan terbuai oleh remang-remang raut wajahnya
Bunda...
Ini aku! Duduk disampingmu menunggu raut nestapa lesap dari wajahmu
Kau tak sendiri bunda. Najam, bulan, angkasa dan aku memelukmu
Aku terbuai dengan binar jingga yang menari dalam matanya
Garis senyumnya yang berat mengucurkan air mataku, Kemudian dia memelukku sampai
haru benar-benar sirna
Cintanya mestika dari purnama, tidak remang, bercahaya
Bunda... Terima kasih, aku mencintaimu



-


Comments
RSS feed for comments to this post.