• Home
  • Puisi
  • Cerpen
  • 1st Chapter
  • Syarat NgeblogKirimkan karya kamu
  • Agenda

Sunrise Bersamamu

15 May 2013   Rosemerry Fatmawati
E-mail Print PDF
Cerpen

Dini hari pukul setengah empat pagi. Fajar belum menyingsing, bulan masih terlihat menawan di sisi langit. Puncak Merbabu, sepi, hanya kami. Setelah semalaman mendaki, berpeluh dan hampir mati (Egy hampir saja terpeleset masuk jurang), akhirnya kami tiba juga di puncak ini.

Ini pertama kalinya aku merasakan tekanan udara yang semakin menipis di ketinggian 3.142 mdpl*. Kami berbagi nafas, sunyi. Mereka berempat sudah beberapa kali sampai di sini, hanya aku dan Laila yang baru sekali menapakkan kaki di puncak ini. Ingin sekali berteriak, meluapkan kepuasan telah menaklukkan puncak gunung setinggi ini. Namun, rasanya mencekat di pangkal lidah, yang tersisa hanya rasa bahagia, dan kecil. Kami hanya titik-titik kecil dengan keangkuhan yang nyata, berlagak seolah bisa menaklukkan alam. Kami hanya titik-titik kecil yang bukan siapa-siapa di hadapan Yang Maha Kuasa, karena digeser sedikit saja garis takdirnya, nyawa kami sudah berada di tepi jurang.

Fajar menyingsing di ufuk timur. Kami bertayamum, sebab tadi tidak sempat mengambil air wudhu. Adzan subuh dikumandangkan Fiyan di puncak Merbabu. Kami sholat subuh berjamaah diimami Abi. Sholat berjamaah di ketinggian, di antara awan-awan, benar-benar terasa luar biasa. Sekali lagi kami di sini hanyalah titik-titik kecil di tengah kebesaranNya.

Seusai sholat, kami berenam segera mengambil tempat terbaik menghadap timur. Sebentar lagi matahari akan menyingsing, langit berubah keemasan, dan segalanya tidak lagi samar-samar.

"Ingat tidak, saat kita pertama kali melihat matahari terbit bersama-sama?" tanya Fiyan. Aku menoleh ke kanan memandangnya, rupanya kami sama-sama mengambil tempat bersisian.

"Tiga bulan yang lalu, puncak Sindoro," jawabku mengenang pendakian pertama.

"Waktu Abi bilang ada temannya perempuan yang mau ikut, awalnya kupikir cuma bikin repot."

"Meremehkan perempuan," aku menggerutu padanya.

"Apalagi melihat badanmu yang kecil begitu. Sok-sokan banget mau ikut mendaki. Biar dibilang keren, hah?" kata-kata Fiyan mulai menyebalkan.

"Laila lebih tinggi dari kamu Fiy," balasku. Aku tahu sih, kata sok-sokan itu ditujukan padaku yang berbadan mungil, Laila kan atlet basket sekolah, tahulah badannya seperti apa.

Laila dan aku ikut pendakian Sindoro karena diajak Abi, teman SMA kami. Dulu kami sama-sama ikut klub pecinta alam di SMA. Abi sudah melanglang buana ke berbagai gunung di Jawa. Laila cukup sibuk dengan tim basketnya sehingga jarang ikut mendaki. Sementara aku yang berbadan mungil, jelas cuma ikut-ikutan saja tim pecinta alam semacam ini, karena tidak pernah sekali pun mendapat izin mendaki dari Ayah.

"Maksudku bocah kecil di sampingku ini," Fiyan tidak mempedulikan ejekanku.

Aku menatapnya sebal. Fiyan memang tidak pernah bosan mengejekku.

"Tetapi ternyata dugaanku salah," ia melanjutkan. "Bocah kecil ini begitu pantang menyerah," ia tersenyum kecil melirikku, "Tidak pernah sekali pun aku mendengar keluhan dari bibirnya. Di luar dugaan ia justru menyemangati kami yang hampir menyerah saat di kawah mati."

"Wow," komentarku pendek.

"Dasar ngambekan," ujarnya lalu mentoyor kepalaku. aku balas mentoyor kepalanya.

"Ssstt... sunrise sedang bagus-bagusnya," ia menyuruhku diam.

Aku melihat ke depan. Garis langit nampak keemasan, cahaya matahari menembus awan-awan membentuk garis-garis sinar raksasa yang luar bisa indah.

"See, the sun is born. Mentari baru lahir," Fiyan melirikku lagi.

"I'm twenty two, and I'm not a baby," kataku sebal.

"Mentari, maukah kau melihat sunrise bersamaku di lain hari?" tiba-tiba Fiyan menatapku dalam-dalam.

"Bukankah ini memang rencana kita, one month one mountain?" kataku. Sejak awal keikutsertaanku dalam tim ini, kami sepakat untuk membuat sebuah program kerja yang kedengarannya tidak masuk akal. Setiap bulan sekali kami akan mendaki gunung yang berbeda. Kelihatan tidak masuk akal karena tiga di antara kami adalah the busy jobseeker sementara tiga yang lain baru saja mendapat pekerjaan di tiga kota yang berbeda. Namun entah bagaimana selama tiga bulan ini toh, kami berhasil juga muncak ke tiga gunung yang berbeda. Tidak tanggung-tanggung gunung kedua yang kami daki adalah Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa.

"Meskipun bukan di gunung," Fiyan tersenyum penuh makna. Aku terdiam demi melihat senyumannya yang tidak biasa. "Kamu kan tahu, bulan depan aku sudah pindah ke Makassar."

"Kamu sudah tidak bisa ikut muncak bareng-bareng lagi?"

"Akan selalu kuusahakan, tetapi aku belum tahu bagaimana pekerjaan di sana nantinya,"

"Lalu?"

"Rencanamu sendiri bagaimana?"

"Kau lihat sendiri aku masih jadi jobseeker,"

"Kalau bekerja di luar Jawa, bagaimana?" pertanyaan khas yang dilontarkan untuk anak jawa.

"Tergantung sih, pekerjaannya seperti apa. Aku rasa enggak masalah,"

"Kalau di Makassar?"

"Enggak masalah," jawabku, kemudian teringat sesuatu. "ng... tapi ntar tiap hari ketemu kamu dong Fiy,"

"Hahaha, mau enggak tiap hari ketemu aku?" Fiyan tertawa renyah. Aku masih belum menangkap maksud perkataannya. "Maukah kamu setiap hari melihat sunrise entah nantinya di gunung lain, di Makassar, Jogja, maupun di tempat-tempat lainnya bersamaku?" Fiyan mengeja satu per satu kalimat itu.

Angin mendesir, langit masih keemasan.

"Mentari Pramudya Siwi, maukah kamu...."

Matahari merangkak naik, merambah perbukitan, gunung-gunung, menjadikan yang semula gelap menjadi kian terang. Fiyan berkata-kata disaksikan gunung, awan, bebatuan, dan semilir angin pagi yang menghangat. Aku terdiam. Egy, Abi, Laila, dan Halim duduk agak jauh dari kami. Tidak mendengar percakapan ini, keempatnya masih khusyuk memandang fajar yang mulai memudar.

Ini adalah kali ketiga kami berenam menikmati sunrise di puncak gunung. Tiga bulan bukan waktu yang terlalu lama untuk mengenal seseorang, namun dengan Fiyan, apakah masih penting untuk bertanya-tanya?

“Mentari, katakan sesuatu,” kata Fiyan mengiba. Diamku ini rupanya membuatnya tersiksa.

Dengan Fiyan, apakah masih penting untuk bertanya-tanya?

Aku bingung harus berkata apa. Wajahku saat ini pasti sudah memerah, campuran perasaan malu, senang dan terharu. Lalu entah darimana keberanian itu datang, aku berbisik pelan mengatakan,

“Sepulang dari sini, mampirlah ke rumah. Aku tidak berani memutuskan tanpa izin dari Mama dan Ayah.”

Fiyan terkesiap, namun tetap menjawab dengan tenang, ”Jangan khawatir Mentari. Aku tidak akan membawamu kawin lari.”

Aku mengangguk, tersenyum mengiyakan. Menatap fajar yang semakin merekah, lalu terdengar suitan-suitan yang mulai berisik di samping kiri. Ah, rupanya sedari tadi mereka sibuk menguping!

 

*mdpl: meter dari permukaan air laut.

Add new comment
 

First Love

14 May 2013   Novia Suryani Dewi
E-mail Print PDF
1st Chapter

 

Apa itu hidup?

Itu adalah satu pertanyaan yang selalu muncul di kepalaku.

Tapi sekeras apapun aku berpikir, aku tetap tidak mengerti.

Untuk apa sebenarnya aku berada disini? Untuk apa sebenarnya aku terus menjalani hari-hari yang selalu sama?

Aku tidak punya alasan untuk hidup, sampai akhirnya aku bertemu denganmu.

Akupun tahu kenapa aku selalu membuka mataku di pagi hari, lalu terlelap di malam hari hingga esoknya terbangun lagi.

Apa itu hidup?

Perlahan aku mulai mengetahui jawabannya.

Mungkin jawabanku terlalu sederhana dan berbeda dari kebanyakan orang.

Bagiku, hidupku adalah dirimu.

Tapi, bagaimana jika suatu hari kau pergi dan menghilang?

Apakah itu berarti aku juga kehilangan hidupku?

 

 

 

 

Aku tidak suka pertukaran bangku.

Sejak SD, aku terbiasa duduk dengan teman dekatku saja. Tapi kenapa sekarang di SMA harus ada pertukaran bangku? Terlebih lagi, di tahun-tahun terakhirku bersekolah.

Bukannya aku tidak ingin berteman, tapi aku hanya kesal kalau aku harus duduk dengan orang-orang yang menyebalkan.

Seperti sekarang ini.

“Bi, pinjam bolpoin dong!”

“Buku teksku ketinggalan nih, boleh lihat?.”

“Udah buat PR kan, Bi? Bagi jawaban dong.”

“Tadi Pak Guru ngomong apa, Bi?”

“Eh,  jawaban yang nomor  12 apaan sih?”

“Malas nyatat nih, nanti pinjam catatanmu ya Bi!”

Keningku berkerut mendengar celotehan orang disebelahku yang kesekian kalinya untuk hari ini.

“Jangan panggil ‘Bi’ terus kenapa sih? Memangnya babi? Panggil aku Bitha, jangan setengah-setengah.” Gerutuku akhirnya.

Ken, laki-laki menyebalkan itu malah tersenyum lebar tanpa dosa.

“Nggak apa-apa dong, Bi. Kan kita duduk sebelahan, harus lebih akrab.” Ucapnya.

Aku mengibaskan tanganku tidak peduli, lalu melanjutkan mencatat materi  yang  ada di papan.

Kenapa banyak sekali? Guru Sejarah ini memang tidak pernah lelah memberi siswanya catatan.

“Bi, coba lihat deh.”

Meskipun kesal karena mendengar suara itu lagi, aku tetap menoleh juga.

Sebelum aku sepenuhnya sadar bahwa kami sedang ada di tengah-tengah jam pelajaran Sejarah, aku berteriak sekencang mungkin dengan nada yang entah berapa oktaf.

Ken, laki-laki sialan ini menaruh binatang paling menjijikkan di atas mejaku. Cicak.

Sekarang dia malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi  panikku, dan juga mendengar teguran dari Pak Guru Sejarah.

“Kenapa kalian malah main-main di tengah pelajaran saya? Sekarang juga, berdiri di koridor!”

 

 

 

 

***

 

 

Sementara teman-teman yang lain sudah pulang kerumah menggandeng tas masing-masing, aku masih harus mengerjakan essay hukuman di perpustakaan.

Moodku sudah cukup buruk dengan hukuman di koridor tadi, kenapa harus ada tambahan tugas juga? Sepertinya hari ini memang benar-benar sial.

“Jangan ngambek, Bi. Tadi aku cuma bercanda, benar deh.”  Ujar Ken dengan tatapan memelas.

Aku balas menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat. “Nggak usah ajak aku ngomong.”

Sepertinya Ken bisa mengerti seberapa marahnya aku, karena setelah itu ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun.

Aku melanjutkan essayku yang sudah setengah halaman portofolio.

Saya berjanji tidak akan berteriak pada saat jam pelajaran lagi. Saya berjanji tidak akan berteriak pada saat jam pelajaran lagi. Saya berjanji tidak akan berteriak pada saat jam pelajaran lagi. Saya berjanji……

Setelah beberapa saat tenggelam dalam kalimat-kalimat itu, aku merasakan sentuhan di bahuku.

Meskipun kesal, lagi-lagi aku tetap menoleh.

Ken menuliskan sesuatu di kertas, lalu memberikannya padaku.

Sorry?

Tiba-tiba saja aku merasa konyol melihat Ken yang biasanya tidak tahu aturan dan seenaknya, meminta maaf padaku seperti anak kecil. Aku ingin tertawa tapi berusaha menahannya, dan akhirnya bibirku malah membentuk lengkungan kecil tanpa bisa kucegah.

Mungkin duduk disebelahnya tidaklah seburuk itu.

 

 

***

 

 

Pagi ini, jam pelajaran pertama adalah olahraga. Salah satu pelajaran yang bisa dibilang bukan favoritku.

Aku bukanlah jenis orang yang kuat dan tahan lelah dengan kegiatan fisik, apalagi lari. Bahkan, sewaktu SMP aku pernah pingsan kelelahan  setelah berlari keliling lapangan dua puluh kali.

Sekarang, aku hanya berharap pelajaran ini cepat berakhir.

“Bitha, coba lihat itu!” seru Fiona, sahabatku. Kenapa ia tiba-tiba heboh?

“Ada apa?” sahutku, lalu mengedarkan pandanganku ke arah lapangan. Beberapa siswa laki-laki sedang berlari disana.

Akupun langsung mengenali sosoknya.

Ken berlari paling depan dengan bersemangat. Ia memimpin siswa-siswa lainnya.

Satu hal yang baru kuketahui, kelebihan Ken adalah berlari.

Ketika Ken berlari, Ia seolah-olah terbang  dengan bebas mengikuti angin. Tubuhnya ringan dan lincah.

Tanpa kusadari, aku tidak bisa berhenti menatapnya.

“Tuh, teman sebangkumu keren banget.” gumam Fiona disebelahku, menyadarkanku yang sedari tadi masih menatap Ken.

Aku tertawa mendengar pujian Fiona, namun dalam hati menyetujuinya.

Tiba-tiba saja Ken yang sudah selesai berlari berjalan ke arahku, membuat Fiona dan siswa-siswa perempuan yang lain langsung heboh.

Aku sendiri merasakan  jantungku mulai berdegup tidak seperti biasanya. Kenapa ini?

Sebelum aku sempat membayangkan hal-hal  yang tidak masuk akal, Ken membuka mulutnya.

“Bi, haus nih. Bagi air, dong.”

 

 

***

 

Mungkin karena sudah terbiasa, sekarang aku tidak merasa terganggu lagi dengan keisengan Ken.

Aku membiarkannya meminjam bolpoin-bolpoinku, meskipun ia akan menghilangkan tutupnya, atau bahkan bolpoinnya juga.

Aku juga membiarkannya melihat buku teksku ketika ia lupa membawa miliknya, membiarkannya meminjam catatanku berhari-hari karena ia malas mencatat, dan mencontek PR-PRku.

Aku juga sudah tidak mempermasalahkan panggilan ‘Bi’ yang Ia berikan.

Semakin lama, aku semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya kurasakan padanya.

Debaran-debaran atau perasaan senang setiap kali aku berada di dekatnya terasa konyol bagiku.

Apa mungkin aku bisa menyukai  seseorang  sepertinya?

Aku merasakan ponsel di genggamanku bergetar, membuyarkan lamunanku di malam hari. Kulihat nama Ken tertera di layar.

Lagi-lagi aku tersenyum.

“Halo?”

“Bi, sudah mau tidur?” tanya Ken langsung.

“Belum, sih. Memang kenapa?”

“Aku nggak bisa tidur nih.”

“Hitungin domba aja.” celetukku asal.

“Sudah, nggak mempan.”

Aku tertawa. “Memangnya kalau nelepon aku bisa bikin kamu tidur?”

“Nggak sih, mimpi buruk malah.” Sahutnya, lagi-lagi bersikap menyebalkan. “Bi, coba lihat keluar deh.”

Aku membuka jendela kamarku lalu mendongak.

Malam ini, di langit terlihat banyak bintang bersinar. Di kota yang padat, sangat jarang aku bisa melihat bintang di langit.

“Wah..” gumamku tanpa sadar.

“Bagus, kan?”

“Iya. Sudah lama aku nggak lihat bintang.”

“Bi, kalau malam ini ada bintang jatuh, apa permohonanmu?”

Aku berpikir sejenak. “Hmm, terlalu banyak. Nggak bisa disebutin satu-satu. Memang apa permohonanmu?”

“Kalau aku sih, sederhana.” Sahut Ken. “ I just want to be happy.”

Aneh. Aku menyadari  ada kesedihan di nada suara Ken.

Meskipun selama ini Ken bersikap menyebalkan dan sering tertawa, mungkin aku tidak cukup tahu banyak tentang dirinya.

Ia bahkan hampir tidak pernah bercerita mengenai hidupnya, ataupun keluarganya.

Kenapa Ken tidak pernah bercerita apa-apa?

Add new comment
 

Still

08 May 2013   Merina Ilmasari
E-mail Print PDF
Cerpen

“When people insist to reach their dream

It makes someone couldn't show you how they really love you”

 

"Gimana? Bagus, gak? Gue ngetik semaleman lho, kira-kira menurut lo mereka bakal tertarik gak sama naskahnya?" Sepasang bola mata besar menatap seseorang di hadapannya yang tengah membaca naskah. Pemilik sekaligus pengarang naskah itu Alin. Semaleman ia mengetik naskah cerita sampai jam 1 pagi. Walaupun sudah mencapai 60 halaman Alin gak segan-segan meminta pendapat sekaligus komentar ke Rangga, orang yang tengah membaca naskahnya sekarang.

"Kata-katanya udah lumayan, tapi lo harus menyisipkan kalimat kiasan di sini," ujar Rangga sambil menunjuk beberapa paragraf. "Menurut gue kalo lo mau bikin suasana romantis seenggaknya ada beberapa kalimat kiasan, jadi semakin memperkuat atmosfer diantara kedua tokoh utama ini."

"Hmmm," gumam Alin sambil mengangguk-angguk. "Jadi tinggal menambah kalimat kiasan trus gue bisa ngelanjutin ceritanya lagi?"

"Yep."

"Kira-kira menurut lo gue bisa gak jadi penulis terkenal?" tanya Alin.

"Kalo terkenal gue gak yakin lo bisa," kata Rangga yang langsung diserang pelototan Alin. "Tapi gue yakin lo bisa jadi penulis kayak Esti Kinasih. Karena lo punya selera humor yang gue suka." Tiba-tiba seulas senyum terukir di bibir Alin.

"Hehe, lo emang paling bisa bikin gue ngapung gara-gara pujian lo. Tapi jangan salah ya, gini-gini gue paling anti sama cowok gombal," kata Alin sambil berkacak pinggang. Rangga hanya tertawa.

"Kalo nanti ada cowok romantis yang nembak lo, apa lo mau nerima?" tanya Rangga.

"Tergantung cowok macam apa dulu, kalo kayak Edward Cullen sih gak usah mikir-mikir juga langsung gue terima. Tapi kalo tipe si Doni langsung gue kemplang tu anak. Udah playboy selingkuhannya tiga lagi!" kata Alin berapi-api. Rangga tertawa lepas mendengarnya.

"Parah lo, gitu-gitu Doni tipe yang setia lho."

"Iya, sekalian aja poligami. Jadi mau punya istri lima juga tetep rukun."

"Dan lo mau jadi salah satu istrinya?" tanya Rangga.

"Ya nggak lah! Gila lo."

Dan mereka tenggelam dalam obrolan yang panjang.

 

***

 

"Ga! Gue udah beli buku baru nih. Judulnya The Hobbit karya J.R.R. Tolkien. Ini buku sebelum The Lord of The Ring lho. Gue ngebet banget nyari ni buku soalnya rata-rata udah dalam bentuk paket di Gramed.  Kebetulan gue nemu di loak. Lo mau minjem, gak? Tapi tunggu gue selesai baca dulu ya," cerocos Alin. Rangga membaca sinopsis di belakangnya.

"Berarti cuma nyeritain Gandalf sama Bilbo doang dong? Males ah, kalo ada Frodo dan lain-lain sih gue mau baca."

"Ah elo belum juga dibaca udah males duluan, gue jamin ceritanya gak kalah seru deh!"

"Ok ok kalo emang seru ntar gue baca biar lo seneng," kata Rangga. Alin hanya tersenyum lebar dan tiba-tiba jantung Rangga berdebar keras. Mungkin ini alasan ia gak pernah nolak kemauan cewek itu. Karena cuma cewek itu yang bisa membuatnya tertawa lepas.

Alin selalu meminta pendapatnya tentang naskah yang ia buat. Akhir-akhir ini cewek itu selalu begadang hanya untuk mengarang cerita. Dan rencananya kalau naskahnya sudah selesai ia mau mencoba ngirim ke redaksi.

Impian Alin dari dulu jadi penulis. Rak bukunya penuh sama novel, dari karya Indonesia asli sampai terjemahan. Gara-gara imajinasi gila para novelis itulah membuat Alin antusias membuat karya pertama. Baginya berimajinasi itu asik. Ia sampai bermimpi jadi penulis terkenal kayak J.K. Rowling lho. Dan Rangga gak bosen-bosen dengerin ocehannya.

 

"Ga, tahu, gak? Semalem gue mimpi ketemu J.K. Rowling! Serasa ketiban duren itu mah, gue ampe gemeteran lho minta tanda tangannya. Dan yang bikin gue hampir pingsan, pemain Harry Potter juga ada! Gila, kan?"

 

"Ga, udah baca Fairish belum? Seru lho. Ceritanya emang remaja cewek banget, tapi gue jamin lo pasti suka. Soalnya banyak hal-hal kocak yang bisa bikin lo ngakak. Ntar gue kasih pinjem deh ke lo, tapi lo harus baca, ya?

 

"Kalo aja tokoh Ari itu bener-bener ada, gue pasti langsung ngincer dia. Biar bandel tapi pinter, gak pernah lepas dari lima besar di kelasnya, gak playboy, trus tajir lagi hihi. Oya, ngomong-ngomong lo udah baca bukunya, kan?"

 

"Kayaknya otak gue udah terkontaminasi sama virus novel deh, soalnya tiba-tiba gue pengen bikin buku dan niat nerbitin. Kira-kira menurut lo gue bisa gak jadi penulis?"

 

Beberapa ocehan yang keluar dari mulut Alin membuat Rangga jadi doyan baca. Rangga ingat waktu pertama kali mereka ketemu di MOS. Seorang cewek bertampang polos dengan rambut dikucir dua memperkenalkan dirinya di depan kelas. Dengan tatapan penuh antusias ia bilang pengen jadi penulis terkenal. Rangga juga ingat Alin menawarkan buku padanya waktu mereka duduk berdua setelah Rangga tidak kebagian bangku dan cewek itu menawarkan duduk bersamanya.

Awalnya Rangga pikir Alin tipe cewek bawel, tapi ternyata asik juga diajak ngobrol. Sampai cowok itu menyimpan rasa padanya. Tapi Rangga tidak tahu apa yang dirasakannya sekarang benar atau tidak, karena  sepertinya orang itu lebih mementingkan impiannya.

 

***

Sebulan berlalu dan Alin baru menyelesaikan naskahnya yang sudah mencapai 200 halaman. Sambil tersenyum puas ia membacanya kembali. Selama sebulan ini ia sudah konsultasi sama Rangga buat ngecek naskahnya dan Rangga bilang naskahnya sudah sempurna dan rencananya besok naskahnya mau dikirim ke redaksi. "Mudah-mudahan naskah gue diterima," ujarnya sambil mengusap muka.

***

Alin tengah berdiri di depan gedung Redaksi Gramedia dengan naskah yang dipeluk erat di dadanya. Di sebelahnya berdiri Rangga yang menemaninya. Sudah setengah jam mereka berdiri di sana sambil memandang gedung itu. "Mau masuk, gak? Atau lo mau ngabisin sisa hidup cuma untuk berdiri melototin ni gedung? Kaki gue pegel nih lama-lama," kata Rangga. Alin menatap gedung itu ragu, tapi karena ambisinya yang kuat ia bertekad memberi naskahnya.

"Yuk, masuk, sori ya jadi nunggu lama," kata Alin dan mereka pun masuk ke gedung.

 

***

"GA! Lo tahu, gak? Naskah gue diterima! Asiiiik!!! Dan katanya bakal diterbitin paling cepet sebulan. Gue udah gak sabar nama gue dipampang di buku hasil karya sendiri hihi," kata Alin histeris. Dan ia bercerita waktu ditelepon sama redaksinya setelah dua minggu berlalu. "Rasanya jantung gue mau copot detik itu juga. Oya, tapi lo harus beli buku gue ya, trus ntar gue kasih tanda tangan ekslusif gitu lho hehe."

"Lo yakin orang lain bakal seneng baca karya lo?" tanya Rangga.

"Dih, kok lo ngomongnya gitu sih? Mestinya kasih semangat gue kek biar lebih rajin lagi ngarang cerita," kata Alin sewot.

"Hahaha gitu aja marah, becanda kali," kata Rangga. "Oya, Sabtu ini lo ada acara, gak?"

"Hmmm, nggak. Kenapa emang?"
"Kita jalan, yuk, sekalian ngerayain karya pertama lo."
"Kayaknya nggak dulu deh, gue mau istirahat. Lagian sekarang ini gue lagi bikin karya kedua jadi istilahnya sambil menyelam minum air."

Mendengarnya Rangga kecewa. "Oh gitu, gapapa, mungkin lain kali."

"Eh, tapi lo gak marah, kan?"

"Nggak kok," kata Rangga lalu pergi meninggalkan Alin sendirian.

 

***

 

Rangga termenung di kamarnya. Mulai hari Minggu ia harus siap-siap pindah rumah karena faktor pekerjaan ayahnya yang sering pindah tempat. Biasanya Rangga gak keberatan sering pindah sekolah, tapi entah kenapa ia gak mau pindah sejak masuk SMA kelas satu. Sejak ia bertemu Alin. Tadinya ia ingin menyampaikan perasaannya ke cewek itu sebelum pindah, tapi sayangnya Alin lebih mementingkan hobinya. Kalo aja cewek itu mau meluangkan sedikit waktunya untuk menemaninya jalan-jalan, mungkin perasaannya sedikit lebih tenang.

Tiba-tiba  ada SMS dari Alin.

 

Gak sabar nunggu buku gue terbit. Ntar kita rayain bareng-bareng. Tapi lo harus beli ya, awas kalo nggak! Hihi.

 

Rangga membaca SMS itu dengan pandangan kosong. "Sori, Lin, kayaknya gue gak bisa ikut ngerayain karya pertama lo," gumamnya sambil memejamkan mata.

 

***

 

Sebulan berlalu dan buku Alin terbit. Seharusnya ia senang bukunya terbit dan sudah dipasarkan ke toko buku, tapi kali ini ia kecewa. Sudah hampir sebulan lebih Rangga pindah sekolah dan ia baru tahu infonya dari temen sekelas tiga hari setelah cowok itu gak masuk. Ia benar-benar kecewa, kalo aja Rangga bilang mau pindah mungkin ia bakal bikin pesta farewell kecil-kecilan. Tapi tu cowok malah ngilang tahu ke mana dan sumpah bikin ia kesal.

Tiga tahun berlalu dan Alin sudah menjadi mahasiswi sekarang. Di usianya yang masih 20 tahun ini ia sudah menerbitkan beberapa buku. Karyanya cukup laris dan semakin membuat dirinya semangat menulis. Sore itu sepulang kuliah ia sempatkan ke Gramedia untuk melihat karya barunya yang kesepuluh dan baru diterbitkan hari ini.

Ia tersenyum lebar begitu melihat bukunya terpampang di sana. Diambilnya satu bersamaan dengan seseorang yang juga mengambil bukunya. Alin sempat teriak melihat orang yang baru saja  mengambil bukunya, tapi hanya pekikan tertahan yang keluar dari mulutnya. "Rangga!"

Cowok itu pun sempat kaget melihatnya dan berusaha menenangkan diri. "Hai, apa kabar?"

"Ini beneran elo? Rangga yang dulu sebangku sama gue?" tanya Alin tidak percaya.

Sebagai jawaban Rangga hanya mengangguk.

"Lo ke mana aja? Tiba-tiba ngilang gak jelas, mestinya lo bilang kalo mau pindah. Udah gitu gak SMS sama sekali lagi, gue kira lo udah ngelupain gue," cerocos Alin dan Rangga hanya tertawa.

"Malah ketawa lagi! Lo harusnya minta maaf udah ninggalin gue gitu aja."

"Sori, abis lo gak berubah dari dulu. Masih bawel aja, gue kira bakal jaim abis jadi penulis terkenal," kata Rangga.

Merasa gak terima, Alin cemberut.

"Iya sori, gue emang  pindah waktu itu dan sengaja gak ngasih tahu elo," jelas Rangga.

"Kenapa?"

"Karena gue tahu lo lebih seneng ngurusin naskah ketimbang nemenin gue jalan hari Sabtu."
Serasa ketiban palu Alin sadar. "Jadi maksud lo ngajak gue jalan waktu itu..."

Sebagai jawaban Rangga hanya tersenyum, sedangkan Alin cuma bisa nyengir kuda sebagai rasa bersalah.

"Trus gue  mesti gimana buat ngebayar kesalahan?"
"Lo harus nemenin gue makan. Mau, ya?"

 

***

 

"Sebenernya ada yang mau gue omongin dari dulu," kata Rangga ketika mereka sedang makan di sebuah restoran. Alin hanya diam mendengarkan.

"Lin, lo tahu kenapa gue gak pernah mau pindah bangku dulu? Padahal temen cowok lain udah nawarin bangku kosong buat gue."

Alin hanya diam tidak mengerti.

"Dulu gue dengan senang hati baca naskah lo padahal waktu itu lagi banyaknya tugas yang harus gue kerjain."

Kali ini alis Alin mengerut.

"Gue seneng kalo lo udah ngoceh nyeritain buku yang udah lo baca padahal gue yakin abis itu lo pasti nyuruh gue baca lagi."

Dan Alin hanya diam.

"Dan gue seneng kalo ngeliat lo tersenyum. Menurut gue lo satu-satunya cewek yang bisa bikin gue ketawa lepas."

Mereka berdua saling diam tapi jauh di dalam hatinya, Alin merasa jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya.

"Sayangnya lo lebih mentingin impian yang lo raih, gue kira gue gak bisa nyampein ini tapi gue rasa gak ada salahnya juga kalo ngomong sekarang," Rangga menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakan, "Alin, gue suka sama lo."

Rasanya detik itu juga waktu berhenti berputar. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Rangga tidak tahu apa yang Alin pikirkan saat ini. Dan seakan jantungnya mau copot Rangga mendengar cewek itu bilang, "Gue juga suka sama lo".
Add new comment
 
More Articles...
  • Prolog
  • Saat Hujan
  • Caffeine
  • Let You
  • Half Vampire [2]
StartPrev1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next End

Page 1 of 262

Book of The Month

 

Buku Baru

resize image

Fan Pages

Facebook

GagasMedia GagasMedia is a fan of

GagasMediaGagasMedia

Gagas Tweet

Gagas Shoutbox


feed-icon-28x28
Copyright © 2010 Gagas Media. All Rights Reserved.
Powered by Joomla! • Design by Joomlaku • Go to Top